
"Selamat nak Arya, atas peresmian gedung baru restoran mu ini,"
"Bapak merasa bangga, dengan anak muda yang mempunyai visi seperti mu, yang bisa menciptakan lapangan kerja untuk diri dan orang lain."
"Kedepannya bapak berharap, agar usaha mu ini semakin maju, dan bisa menampung banyak tenaga kerja."
"Tapi kalau bapak boleh kasih saran, pekerjakan lah beberapa orang sekuriti, untuk menjaga tempat ini secara bergantian, agar tempatmu ini selalu aman."
"Selain itu, daftarkan juga perusahaan mu ke pihak terkait, dan buatkan akta notaris pembentukannya agar legal." Ucap pak Satya memberi masukan, sesaat setelah peresmian gedung baru restoran milik Arya itu selesai diresmikan.
Arya saat mendengarkan pujian dari pak Satya itu, hanya tersenyum manis saja. Baginya pujian dari pak Satya barusan, tidak pantas disandangnya, karena dia merasa tidak pantas mendapatkan pujian itu.
Tapi demi menghormati orang yang lebih tua, akhirnya Arya merespon juga. "Ini semua berkat campur tangan dari bapak juga, ditambah dengan keberuntungan dalam hidup, hingga menjadi seperti ini."
"Jika tidak ada itu semua, mana mungkin saya yang miskin ini, bisa mempunyai gedung bertingkat tiga untuk usaha. Itu semua, berkat adanya keberuntungan tersebut."
"Sementara di luaran sana, banyak anak muda yang sepertiku juga mereka, yang ingin membuka usaha, tapi tersangkut masalah biaya. Jadi ya seperti itulah adanya."
"Lagipula jika mereka mempunyai keberuntungan seperti ku, mana mungkin yang di luaran sana, mau menjadi pengangguran, bahkan preman yang meresahkan?"
"Itu semua berkat tidak adanya kesempatan dan keberuntungan, ya seperti itulah mereka." Ujarnya cukup bijaksana.
"Hemm!, cukup masuk akal." Respon pak Satya merasa bangga.
"Lalu apa rencana mu selanjutnya?. Apakah tetap seperti ini tanpa adanya inovasi?" Respon pak Satya bertanya lagi.
"Untuk sementara saya akan memperkejakan mereka dulu. dan menaikkan jabatan mereka sebagai orang penting di perusahaan baru ku. dua hari kemudian baru yang lain."
"Untuk yang bapak sarankan tadi, akan saya usahakan dalam dua atau tiga hari ke depan."
"Tapi bukan hanya mereka saja yang akan saya pekerjaan. Perusahaan baru ku juga membutuhkan karyawan, terutama chef yang bersertifikat dan berpengalaman."
"Untuk manajer restoran, keuangan dan pemasaran, cukup mereka saja, karena mereka juga ahli manajemen, dan yang saya sebutkan tadi. Sepertinya mereka cukup berpengalaman." Jawab Arya merasa bangga.
"Lalu apakah nak Arya butuh karyawan perempuan?. Kalau ada akan bapak carikan?" Tanya pak Satya mengejutkan.
"Oh itu sudah pasti!. tapi untuk saat ini belum ada gambaran. Kalau pak Satya memang ada stok ya boleh juga ditransfer ke saya." Jawab Arya berterus terang.
"Berapa orang yang nak Arya butuhkan, 5, 10, 30 atau 50?" Ujarnya.
"Untuk sementara cukup 10 orang dulu, guna ditempatkan di bagian keuangan, penerima tamu, dapur, pramusaji, dan lain sebagainya."
"Apabila dianggap kurang, masih bisa ditambah lagi." Jawab Arya menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu. 10 orang yang kau butuhkan, besok sudah akan ada di sini." Respon Satya cukup cepat.
"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih. Yang pertama atas dukungan juga saran dari pak Satya. yang kedua adalah masalah lain. Sementara masukan dari bapak tadi, pasti akan saya lakukan!" Jawab dengan ekspresi senang.
"Bagus lah!. Itu baru anak muda yang mempunyai visi ke depan. bapak senang mendengarnya."
"Kalau begitu kami permisi dulu. Kebetulan hari ini bapak dan ibu harus kembali ke ibukota." Respon pak Satya juga senang.
"Tidak mampir dulu ke rumah? siapa tau bapak mau..?" Tanya Arya tapi tidak jadi diteruskannya.
"Oh itu pasti!, tapi bukan hari ini. Bisa jadi besok atau lusa?" Reaksi pak Satya langsung paham, dengan kode dari Arya, yaitu tentang membeli emas emasnya.
"Siap!. Saya tunggu kabar dari anda." Jawab Arya malu malu.
"Oh ya, titip Manda dulu ya?, Jaga dia dari gangguan Radit dan orang orangnya itu!" Pesan pak Satya mengagetkan Arya.
"Siap laksanakan pak mertua!!" Jawab Arya tegas, Tapi dibuat bercanda,
"Bagus!. Itu baru menantu bapak!" Respon Satya membalas candaan Arya. sambil melirik ke arah istrinya, takutnya kalau dia marah. Tapi ternyata dia diam saja. maka tak lama kemudian dia berkata kembali.
"Kalau butuh dana besar kasi tau ya?" Ucap pak Satya tiba tiba, sambil menyalami Arya dan anak buahnya, lalu pergi menuju mobilnya.
"Eh, sudah berubah pula panggilannya?" Kelakar Satya menggoda anaknya.
"Hehehe!" Reaksi Amanda hanya terkekeh saja. Kemudian menarik tangan Arya agar mengikutinya.
"Ayo kita masuk!. Bantu bos kita membuat rencana besarnya untuk besok!" Ujarnya pada pada anak buah kekasihnya.
***
"Siapa anak itu? dan apa statusnya?" Tanya Raditya dengan ekspresi tidak suka.
"Arya, pemuda miskin yang pernah diusir dari kampungnya, juga yang pernah dikeluarkan dari sekolah, karena bolos dari pelajaran."Jawab anak buahnya mengarang cerita.
"Lalu apa hubungannya dengan Amanda?. Apakah mereka berpacaran?"Tanya Radit lagi
"Iya bos!. Mereka memang berpacaran, dan sepertinya sudah direstui oleh orang tuanya?" Jawab Jana apa adanya.
"Kurang ajar!. Apa kelebihan anak itu dari aku?"
"Aku tampan dan kaya, pengusaha besar lagi?. Sedangkan dia itu apa?. cuma bermodal tampan tapi tak berharta, buat apa?"
"Tapi walau begitu, bagaimana tuan Satya lebih memilih dia ketimbang aku?, apa kelebihannya?" Respon Raditya geram tiada terkira, sambil meremas tangannya erat erat.
"Kabarnya dia mempunyai usaha baru bos, yaitu restoran bertingkat tiga, yang baru tiga hari diresmikannya?" Ujar anak buahnya mengagetkan bosnya.
"Kau tau dari mana? dan kapan kau tahu itu?" Reaksi Raditya penasaran.
"Dari seorang teman, yang kebetulan waktu itu sedang menginap di hotel milik pak Satya, yang penasaran, kenapa pemilik hotel bintang lima seperti pak Satya mau menghadiri peresmian restoran kecil depan hotelnya itu?" Jawab Jana apa adanya.
"Hemm!" Itu rupanya?. Aku jadi ada ide. Bagaimana kalau kita hancurkan saja tempat itu, agar tidak bisa dibuka lagi?" Respon Raditya tiba tiba.
"Sepertinya akan sedikit sedikit sulit bos, karena pengawalnya cukup banyak?" Jawab anak buahnya berterus terang.
"Pengawal?. Bagaimana bisa?. Coba jelaskan lagi!" Respon Raditya kembali merasa penasaran.
"Tempat itu sehari harinya dijaga oleh enam orang pengawal, dan empat sekuriti, yang berjaga secara bergantian."
"Kabarnya mereka mantan tentara bayaran, yang direkrut oleh Arya untuk menjadi pengawalnya?"
"Tiap hari, keempat orang itu terus berada di samping Arya, dan mengikutinya kemana pun dia pergi, kecuali kalau dia sedang pergi ke sekolah!" Jawab anak buahnya meragukan rencana dari bosnya barusan.
"Kau salah!. Justru di situlah selah nya."Bantah Raditya merasa mendapatkan ide.
"Maksud bos?" Tanya Jana jadi penasaran.
"Saat orang orang tersebut sedang tidak ada, kita, atau orang bayaran kita mendatangi tempat itu, dan pura pura makan di sana?"
"Saat ada kesempatan, baru kita bertindak, kalau tidak bisa juga ya tunggu kesempatan lainnya?" Ujarnya.
"Menurut saya, akan lebih baik kalau bos mencari orang yang bisa dibayar, untuk meletakkan bahan peledak di sekitar gedung itu, saat pelanggan lagi ramai."
"Kalau tidak bisa juga, ya pura pura menumpang buang air kecil, yang tentunya ada ditempat itu."
"Nah!. saat ada kesempatan seperti itulah, orang bayaran kita beraksi, dan meledakkan bahan peledak itu sesaat dia sudah keluar dari tempat tersebut. dan boom!" Jawab Jana memberi usul.
"Boleh juga ide mu?. Tapi siapa yang mau melakukannya. Kamu?" Tanya Raditya ingin tahu.
"Kalau saya mungkin mereka sudah mengenalinya bos, apalagi kalau ada Manda?"
"Bagaimana kalau kita gunakan kelompok penyusup itu untuk melakukannya?. Bukankah mereka sudah cukup berpengalaman?"Jawab Jana dengan berbagai macam alasannya.
"Betul kata mu!, aku setuju!" Jawab Raditya