
Sementara itu di bagian Arya. Setelah anak buahnya pergi, Arya pun bergumam sendiri. "Semoga mereka berhasil?" Ujarnya lirih. Kemudian meninggalkan tempat itu untuk menuju ke tempat lain.
Sesampainya dia disana, Arga dan teman temannya sudah pada menunggu. Terlihat di depan mereka, bersimpuh belasan laki laki yang berbadan besar. Mereka rata rata berwajah sangar, kecuali dua orang pemuda berwajah pucat, yang kelihatannya bukan berasal dari kelompok orang orang tersebut.
Begitu Arya datang, sontak mereka menjadi ketakutan, karena sorot mata Arya sangat mengancam keselamatannya.
"Salam yang mulia!" Sapa Arga dan nak buahnya serempak, saat Arya baru menapakkan kakinya di depan mereka.
"Bangunlah!. Inikah pengacau yang kalian katakan itu?" Reaksi Arya langsung pada intinya.
"Benar yang mulia!. Yang paling tengah itu pemimpinnya. Salim namanya."
"Ternyata dia yang punya angkara, karena disuruh oleh seseorang, yang katanya sanggup membayar dengar harga tinggi, yaitu jika bisa membujuk penduduk desa untuk melakukan demo, menolak hadirnya perusahaan di desa ini, karena katanya bisa merusak tatanan yang sudah ada."
"Orang yang menyuruh itu ada di sebelahnya. Mendoza namanya." Jawab Arga apa adanya.
"Hemm!. Ternyata begitu. Lalu apa alasan mu mempengaruhi penduduk desa agar melakukan demo yang jauh lebih spesifik lagi Mendoza?. Apakah ini ada kaitannya dengan Tanu, Danu dan Teja?" Tanya Arya.
"Cuihh!. siapa kau? Berani beraninya memperlakukan aku begini. Apa kau tidak tahu siapa yang berada di belakang ku?" Reaksi Mendoza tidak terduga.
Bugh!
"Ugh!"
"Beraninya kau bersikap kurang ajar pada tuanku?. Apakah kau mau cari mati?" Respon Arga emosi, lalu menendang dada Mendoza cukup kuat
"Bunuh saja aku sekalian, jangan tanggung tanggung!" Jawab Mendoza menantang Arga.
"Oh kau mau mati ya? Baik, akan aku kabulkan." Respon Arga cukup mencengangkan. Kemudian mengeluarkan belati kecil dari balik bajunya, dan menyayat nyayat kulit lawannya, berniat akan ditaburi dengan garam dan perasan jeruk nipis, yang entah darimana Arga bisa mendapatkannya
Melihat tindakan Arga, tentu saja membuat Mendoza ketakutan. Dia menyadari apa yang akan terjadi. Jika luka sayatan yang cukup banyak itu ditaburi garam, serta air perasan jeruk nipis, tentu saja akan sangat pedih sekali.
Tidak mau mengalami itu. tidak peduli sekuat dan setegar apapun dia berusaha, namun akhirnya kalah juga dengan usaha dari Arga. Mendoza berusaha untuk mencegahnya. Lalu dengan suara terbata-bata dia berkata" To to tolong jangan lakukan itu, aku akan mengatakan yang sejujurnya!" Ujarnya.
"Yang menyuruhku bukanlah Tanu, Danu atau Teja, tapi orang lain. Dia yang selama ini bekerja di belakang layar untuk mencelakai anda."
"Berbekal pengaruh, harta, dukungan dan kekuasaannya, dia membayar kami untuk melakukan kekacauan, dengan menyebarkan fitnah ke mana-mana tentang anda, termasuk kepada penduduk desa, demi apa yang ia inginkan tercapai."
"Dia juga yang menyuruh saya untuk merongrong anda dan usaha anda, agar proyek besar yang seharusnya menjadi miliknya, tidak jadi dikerjakan oleh anda."
"Selain itu dia juga berencana akan membawa masalah ini ke jalur hukum, karena menurutnya, anda telah berlaku sewenang wenang pada banyak penduduk kampung dan desa, karena tanah yang anda gunakan untuk jalan, tidak dibayar lunas, dan harganya pun dibawah harga yang semestinya.".
"Oleh karena itu, dia berusaha untuk menyeret anda ke penjara, karena katanya dia adalah musuh abadi buat anda."
"Sampai kapan pun katanya. Anda tidak akan bisa hidup tenang." Ujarnya.
"Arga!, Apakah kau bisa melacak orang itu siapa dan dimana. Aku jadi penasaran siapa dia?"
"Setahu ku tidak ada pihak yang aku singgung, kecuali Tanu, Danu Teja dan..entah siapa itu aku lupa?"
"Tapi jika mereka, rasanya tidak mungkin, karena setahu ku anak yang bernama Tanu itu sudah lumpuh sejak lama?. Pamannya yang bekas kepala kampung juga sudah pergi dari kampung ini. Kepala desanya juga sudah diganti"
"Sementara Teddy dan ayahnya, dulu mereka sudah dikalahkan, dan sudah tidak tahu lagi kabarnya?"
"Para master yang dulunya menantang ku juga sudah dibereskan oleh Prana. Lalu siapa dia?" Ujar Arya penasaran.
"Yang mulia!, lebih baik kita tanyakan pada orang orang ini. karena saya yakin mereka pasti tahu siapa yang menyuruhnya?" Usul Arga pada tuannya.
"Namamu Mendoza kan?" Tanya Arya langsung menyetujui saran dari anak buahnya. Sambil mengintimidasi lawan Mendoza, dengan memperlihatkan siluet harimau dan naga dibelakangnya.
Melihat siluet yang sekilas itu, membuat Mendoza jadi ketakutan. Lalu dengan terbata bata dia berkata. "Be be benar anak muda! Eh yang mulia!. Sa sa saya Mendoza. Ketua preman di kota Kansha!" Jawabnya.
"Apakah kau masih ingin hidup?" Tanya Arya lagi.
"Ma ma mau tuan muda." Gugup terus dia menjawabnya. dan berganti ganti menyebut Arya.
"Ada syaratnya?" Respon Arya.
"Apa itu bang eh maksud ku tuan muda. yang penting saya masih bisa hidup. saya akan melakukannya untuk anda!" Jawab Mendoza terus mengganti sebutan untuk Arya.
"Apa mereka ini anak buah mu?" Reaksi Arya.
"Bu bu bukan tuan muda. Mereka dibayar oleh bos misterius saya. Tapi sumpah saya belum pernah melihat rupa bos itu. Ketika saya dihubungi hanya melalui perantara saja." Jawab Mendoza tidak berdusta.
"Lalu kalau mereka dibayar, tentu mereka pernah melihat rupa bos itu. Apa kamu mencoba membohongi kami Mendoza ?" Tanya Arya tidak suka.
"Siapa yang menyuruhmu berbicara?. Aku sedang menanyai Mendoza." Respon Arya tidak suka. Kemudian menyebarkan aura intimidasi agar Salim tidak berani berbicara.
"Ba ba baik tuan muda!" Respon Salim Chua langsung ketakutan.
"Biasanya dimana kalian bertemu, Apakah kau pergi ke rumahnya?" Tanya Arya.
"Di rumah ku. Dia datang pada pergantian senja ke malam. saat orang sedang melakukan tugasnya sebagai manusia."
"Tapi sejujurnya saya tidak begitu mengenal orang itu, tapi katanya dia kenal dengan ku sudah cukup lama. Jadi saya terima lah kedatangannya. Lagipula dia datang membawa uang, untuk diberikan padaku, ya aku terima." Jawab Mendoza.
"Lalu apa yang orang itu katakan saat memberi mu uang, apa dia ada menyinggung nama ku atau wangsa ku?" Penasaran Arya dibuatnya.
"Ya iyalah!. Tujuannya datang karena ingin menghancurkan mu, tentu saja dia menyebut nama mu. Lalu setelah itu, saya mencari tahu di kota Seraya orang yang bernama Arya. Kepada penduduk kampung pun saya bertanya tentang anda, dan tentu saja mereka mengenali anda?"
"Ya kebetulan. Pucuk dicita ulam pun tiba. Lalu saya bertanya-tanya siapa anda, dan apa latar belakang anda sebelum ini?"
"Mereka menjawab bahwa anda adalah pemuda terbuang, yang diusir dari kampung ini. karena kemiskinan anda. Tapi kini telah kembali."
"Ternyata setelah saya buktikan, anda bukan seperti yang sebagain orang katakan."
"Ternyata anda adalah tuan muda, dan sudah menjadi seorang pengusaha, berkuasa pula."
"Oleh karena itu saya tidak bisa berani bertindak sendirian. maka saya gunakan uang yang saya dapatkan dari orang itu untuk menyewa preman dari tempat lain, tapi tidak termasuk mereka, dan mereka inilah orangnya." Jawab Mendoza apa adanya. sambil menunjuk delapan pria berbadan tegap yang ada di sampingnya, tapi tidak termasuk dua pria yang berwajah pucat itu.
Mendengar penjelasan dari lawan bicara tuannya, Arga bisa menarik kesimpulan, bahwa orang yang selalu mendatangi Mendoza itu bukanlah manusia, tapi kemungkinan makhluk jadi-jadian. jin atau sebangsanya. Orang yang menjadi bosnya itu juga kemungkinan sama?
Untuk membuktikan rasa penasarannya, Arga mendatangi Mendoza, dan berkata." Apa saat orang itu datang, kau merasakan sesuatu atau mencium sesuatu yang tidak biasa?"
Mendoza tidak langsung menjawab, tapi sepertinya sedang berpikir, dan mengingat-ingat apakah yang ditanyakan oleh Arga itu memang pernah dia rasakan atau tidak?. Tapi tiba-tiba dia teringat, bahwa memang saat orang tersebut datang, ada tercium aroma harum dan busuk secara bersamaan di udara.
"Ya sekarang aku ingat!. saat orang tersebut datang, saya memang mencium dua macam bau, yaitu wangi dan busuk secara bergantian. Tapi karena menghargai orang tersebut, saya menahannya saja untuk tidak mengatakannya, atau sekedar hanya menutup hidung, karena rasa bau itu datang secara bergantian."
"Untuk kedatangannya yang kedua, ketiga dan seterusnya, saya sudah tidak mengambil pusing lagi, dan menganggap bahwa itu hal yang biasa. karena lama lama sudah terbiasa."
"Tapi untuk apa kau tanyakan itu apakah ini ada hubungannya dengan orang tersebut?" Tanya Mendoza merasa penasaran.
"Yang mulia! Sekarang saya baru ingat, bahwa orang yang sedang memusuhi anda itu adalah golongan jin Basa, suatu bangsa yang pernah dikalahkan oleh yang mulia Wangsa Baladewa."
"Berkat kekalahannya itu, yang mulia Baladewa mewajibkan mereka untuk bekerja padanya, dan menjadi prajurit atau pekerja di bawah komando anak buahnya."
"Lambat laun setelah mereka mengabdi, ada beberapa bangsa jin yang baru kembali dari tempat lain, dan mempengaruhi golongannya dengan tujuan untuk memberontak."
"Tapi ternyata pemimpinnya tidak mampu mengalahkan kesaktian Raja Baladewa, dan akhirnya mereka dimusnahkan"
"Tapi ada sebagian dari mereka yang melarikan diri, dan pergi ke tempat lain sejauh-jauhnya."
"Namun sebelum mereka pergi, ada salah satu dari mereka berkata, bahwa pada suatu saat nanti, setelah kekuatan mereka kembali dan zaman sudah berubah dan mereka menjadi kuat, maka mereka akan kembali dan menuntut balas atas kekalahannya, serta menghancurkan keturunan Raja Baladewa."
"Ternyata niat mereka itu sekarang baru bisa mereka laksanakan. dan kebetulan saat ini yang menjadi penguasanya adalah anda!"
"Oleh karena itu kami berharap, agar yang mulia mengantisipasinya sebelum terlambat." Ujar Arga menjelaskan duduk permasalahan apa yang sebenarnya terjadi sejak zaman dulu.
"Tapi apa hubungannya denganku? Kejadiannya juga sudah lama, berlangsung selama ratusan tahun pula? Apa benar mereka masih ada?" Tanya Arya dengan ekspresi penasaran.
"Itulah yang kami belum tahu yang mulia. Kemungkinan memang ada?"
"Namun jika yang mulia memerintahkan kepada kami untuk menyelidikinya, maka akan kami lakukan demi keselamatan anda."
"Jika meminta bantuan dengan orang-orang ini, tentu saja percuma, karena mereka hanya sebagai alat perantara saja, apalagi penduduk kampung dan desa-desa itu?"
"Jadi menurut hemat saya yang mulia. Rekrut orang orang ini untuk menjadi pengikut anda. Tapi rubah dulu sikap dan perilaku mereka, serta murnikan jiwa jahat yang ada di hati mereka." Jawab Arga memberikan masukan pada tuannya.
"Apa aku mampu melakukannya paman Arga?" Tanya Arya.
"Jelas saja anda mampu yang mulia, karena kekuatan yang ada pada yang mulia itu sebenarnya tidak terukur, apalagi hanya sekedar merubah mereka menjadi baik?" Jawab Arga.
"Ternyata begitu?. Baiklah, aku akan menjadikan mereka anak buah ku, sebagai umpan untuk menarik musuh misterius itu, agar mau menampakkan batang hidungnya!" Respon Arya penuh dengan rencana.
Door!
Bruk!