
Pada malam harinya. "Sini sini sini, Ada berita bagus tentang teman kita Arya. Kalian pasti akan terkejut mendengarnya?" Ujar Noviana pada Natasya juga yang lainnya.
"Ada apa sih Vi?. Kok ribut amat?" Sambut Dadung jelas saja bertanya. Sambil menyantap makanan penutup hidangan malam yang masih banyak tersisa dibatas meja.
"Iya tuh Novi. Kumpul bukannya untuk membahas hari pertandingan besok, ni malah ngerumpi tentang Arya. Dosa tau?" Sambung Drajat pula.
"Aku bukan mau ngerumpi tentang Arya Jat?. Aku cuma mau bilang. bahwa hotel yang kita tempati ini milik Arya." Geram Noviana dibuatnya.
"Hahahaha!. Kalau hotel ini milik Arya, berarti kota ini milik aku?" Seloroh Drajat tidak malu malu.
"Ah kau ini Jat?. Di omongin malah ngeyel gitu? Ya terserah kau lah. yang penting aku sudah mengatakannya." Reaksi Noviana tidak suka.
"Terus, terus, kamu tahu dari mana Vi, apa kamu bertanya pada manager hotel ini, kalau Arya sebagai pemiliknya?" Tanya Natasha pula.
"Nah ini baru benar?. Dengar ya semuanya. Pas aku melewati kamar bu Siska. Secara tidak sengaja aku mendengar berita tentang itu. Dalam teleponnya dia mengatakan, kalau hotel ini milik Arya, gitu?" Jawab nya.
"Apa hubungannya?. kan bu Siska cuma telepon saja?" Tanya Drajat pula.
"Ah kau ini Jat?. Bu Siska saat itu sedang telepon teleponan dengan kepala sekolah kita, Saat itu dia mengabarkan, kalau kondisi kita disini baik baik saja, dan menginapnya pun di tempat yang sudah di tentukan."
"Terus?" Respon Natasha semakin penasaran.
"Saat telepon itu, pak Tanu mungkin bertanya, hotel apa, dimana, berapa sewanya dan siapa pemiliknya?"
"Jadi ya dijawab lah, kalau kita menginap di hotel Mandala, jalan Setia Budi, hotel milik Arya, bla bla bla?" Jawab Noviana apa adanya.
"Berarti..?"
"Apa?, masih meragukan Arya?. Bukankah kau tahu kalau Arya itu siswa terpandai dan terjenius di sekolah kita?"
"Kelompok Pramudya eh Badung maksud ku saja bisa ditundukkannya, apalagi cuma kita?"
"Lalu apa hubungannya dengan hotel ini. Nggak nyambung tau?" Protes Drajat pada Noviana.
"Eh benar juga ya. Tapi yang terpenting kita sudah tau kalau Arya itu bukan orang biasa. Wong hotel sebagus dan semegah ini saja miliknya. Berarti luar biasa kan?" Reaksi Noviana.
"Terus apa untungnya buat kita?. Kita ya tetap akan seperti ini juga?" Ragu Drajat untuk mengatakannya.
"Dasar kau ini!. lambat dalam berpikirnya. Udah jelas hotel ini milik Arya, ya tentu banyak lah keuntungannya buat kita?. Contohnya ini. Kita ditempatkan di kamar bagus, makanan mewah, enak dan ruang makannya tersendiri pula?"
"Harga sewa per malamnya saja 9,7 juta, layanan cuci gratis, siap diantar pula. Kan luar biasa itu namanya?" Jawab Noviana menjelaskan.
"Tapi bagaimana bisa ya? Di sekolah Arya itu berpenampilan biasa saja?. Pakaiannya standar macam kita. Sepatu pun itu itu saja yang dipakainya. Dari mana dia bisa kaya?. Apa dari calon mertuanya?" Ujar Dadung sekedar mengeluarkan uneg uneg nya saja.
"Sialan Dadung ini! Sengaja memanas manasi aku pula. Udah tahu kalau aku sedang mengejar Arya, malah di buat panas olehnya?"
"Pakal saja banyak orang, kalau sendiri sudah ku tendang dia?" Batin Natasha dalam hati, tapi tangan mencengkeram gelas yang sedang dipegangnya itu kuat kuat.
"Ish!. Ada yang cemburu nih?" Ucap Noviana.
"Siapa? siapa?"Sambung Drajat kepo pura pura.
"Tuh putri cantik jelita, Tasha!" Jawab Dadung datang menyela.
"Ih apaan sih?. Kampungan tahu?" Respon Tasha tidak senang. Kemudian berniat pergi karena perasaannya tidak tenang.
"Anak anak!. Sudah siap makannya?" Tanya seseorang mengagetkan mereka.
"Pak kepala sekolah?" Respon mereka serempak, lalu bergegas berdiri, termasuk delapan siswa yang juga ada di ruang makan itu berbarengan.
"Duduk lah kembali!. Bapak cuma ingin mengecek kondisi kalian saja. Kebetulan bapak ditunjuk untuk menjadi pengayom kalian, maka malam ini bapak disini." Reaksi Sentanu sedikit malu malu.
"Silakan duduk pak. bu, juga guru guru yang lain." Sambung Dadung tumben tumbennya bersikap baik. Kemudian mengambil kursi untuk pak Sentanu juga yang lainnya.
"Terima kasih Dung." Sambut mereka senang.
"Alhamdulillah!. Dadung sekarang sudah banyak berubah. Berkat sering bergaul dengan Arya." Batin bu Siska dalam hati, sambil terus memperhatikan murid muridnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan, kok serius amat?" Tanya kepala sekolah pura pura bertanya. padahal dia sudah tahu inti permasalahan itu dari Siska.
"Hemm gini pak. Ternyata hotel yang kita tempati ini milik Arya lho. Nggak nyangka kan?" Jawab Novi apa adanya.
"Dari mana kau tahu. kami saja belum?" Tanya Permana datang menyela.
"Em, dari..?" Jawab Novi terputus, tapi pandangan nya mengarah pada Siska.
"Dari ibu kan?" Sambung Siska.
"Hehehe, iya Bu." Jawab Noviana malu malu.
Terus setelah kalian tahu, kalau hotel ini milik Arya, apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Siska pula.
"Kami mau minta jatah bu, Masa pada teman saja main rahasia rahasia an. dosa kan?" Dadung begitu berbicara cukup mengejutkan yang ada.
"Hus!. Ngaco kamu!. Sudah syukur kita di inapkan di sini. lha peserta yang lain, kasihan dengarnya." Reaksi Siska menolak pendapat siswanya.
"Memang ada apa ya bu. memang mereka tidur di mana?" Tanya Noviana tiba tiba penasaran.
"Di rumah rumah rumah penduduk, di penginapan, di wisma, bahkan asrama mahasiswa dari masing masing kontingen." Jawab Siska berterus terang
"Berarti kita ini..?" Reaksi Dadung terus saja bertanya.
"Ya beruntunglah, apa lagi?" Jawab kepala sekolah datang menjawabnya.
"Hehehe, nggak jadi deh pak. ikhlaskan saja semua buat Arya." Jawab Dadung terkekeh sendiri tapi malu.
"Dari waktu kita datang, Arya dan Manda belum menemui kita. Memang dia menginap kamar mana ya?" Tanya Tasha.
"Kabarnya dia menempati kamar mewah di hotel ini? Dari yang ibu dengar. Harga sewa permalamnya saja sekitar 165 juta rupiah." Jawab Siska.
"Apa?. Semahal itu? Seberapa kayanya Arya, sampai tidur pun harus ditempat itu? Memang kamarnya macam surga ya?" Reaksi Noviana mewakili teman teman juga guru gurunya.
"Manalah ibu tahu?. Tidur di hotel bintang lima saja baru kali ini, mana ibu tahu macam mana mewahnya kamar itu?. Jadi ya..?" Jawab Siska tidak bisa menjelaskan kondisi yang ditempati oleh Arya yang sebenarnya.
"Tapi kok dia tidak bergabung dengan kita ya bu. tidak makan apa?" Tanya Tasha ingin tahu.
"Bagaimana mau makan dan gabung dengan kalian?. Makan dan minumnya saja diantar khusus ke kamarnya. Jadi itu alasan Arya tidak bersama kita malam ini."
"Memang bapak dan ibu sudah pada makan?. Kok kelihatan sudah fresh ya?" Celetuk Dadung lagi lagi datang menyela.
"Sudah. Makanan kami juga diantar langsung ke kamar. Macam makanan Arya." Jawab Madi berterus terang.
"Apa?. Ja ja jadi..?" Reaksi Noviana gelagapan.
"Kami juga di tempatkan dikamar mewah. Semua kebutuhan kami disediakan oleh pihak hotel, termasuk cuci baju dan pelayanan lainnya." Jawab Permana pula.
"Wah kalau begitu...?". Respon Tasha bukan main senang.
"Apa?. Mau numpang tidur di kamar ibu?. O tidak bisa?" Seloroh Siska membuat mereka semua tertawa.
"Halo semua!. Apa sudah pada makan?" Sapa seseorang cukup mengejutkan mereka.
"Arya? Eh tuan muda Arya. Benarkah itu kau?" Reaksi gurunya yang pertama melihat Arya.
"Ya ini saya pak Mana, memang ada apa?. Tapi eh tunggu dulu?. Kenapa pak Mana memanggil saya tuan muda?. Sejak kapan? "Reaksi Arya keheranan, sambil menyalami guru gurunya, termasuk pak Sentanu kepala sekolahnya.
"Sejak kami tahu bahwa kau adalah ketua organisasi besar di ibukota juga dunia." Jawab Siska mewakili semuanya.
"Ketua organisasi? organisasi apa?" Respon Arya malah berpura pura.
"Sudahlah Arya. Jangan berpura pura lagi.. Kami sudah tahu status mu, Sekarang kau adalah tuan muda sebuah organisasi bisnis besar dunia, bahkan kami tahu bahwa hotel ini juga milik mu, ngaku saja!" Ujar Siska secara tidak langsung membongkar status Arya.
"Hehehe. Maaf kalau selama ini tidak memberitahukan masalah ini pada kalian, termasuk kepada kepala sekolah juga pada guru guru yang ada."
"Saya cuma tidak mau pamer kekayaan, cukup restoran itu saja yang boleh kalian tahu. Tapi sekarang apa boleh buat, sudah terlanjur juga."
"Saya akui, memang benar saya sebagai tuan muda di organisasi itu. bahkan diangkat sebagai ketua agung mereka.Tapi disini saya hanya Arya biasa, yang masih tetap teman juga murid kalian."
"Memanggilnya pun bukan menggunakan tuan muda, tapi Arya saja, karena saya tetap Arya yang kalian kenal." Ujar Arya akhirnya berterus terang juga.
"Lalu hotel ini..?" Tanya Tasha.
"Kebetulan kepala keluarga besar di ibukota memberikannya pada ku, jadi ya terpaksa aku terima?"Jawab Arya apa adanya. .
"Sehebat apa diri mu sih, sampai hotel mewah seperti ini saja sanggup dia berikan pada mu?. Memang apa kepandaian mu selain olahraga dan ilmu pengetahuan?. Kok kami tidak tahu?" Celetuk Dadung cukup menggelitik telinga yang mendengarnya.
"Sudahlah!, jangan dibahas masalah itu lagi. yang penting sekarang kita sudah tahu siapa Arya dan apa statusnya dalam kehidupan?"
"Mulai sekarang, mari kita beri penghargaan tinggi pada Arya, dengan cara menjaga rahasia ini bersama, termasuk kalian dari kabupaten juga sekolah lainnya."
"Sekarang mari kita bahas langkah selanjutnya. yaitu...?"
"Salam tuan muda!. Mohon maaf kalau mengganggu." Ujar seseorang memotong pembicaraan Sentanu kepala sekolah Arya. sambil berlutut di lantai. ciri khas menghormat pada tuannya.
"Ada apa? Kenapa mengganggu acara ku?" Respon Arya sedikit tidak suka.
"Di luar ada sepuluh perwakilan dari negara tetangga, dengan di dampingi oleh tuan Dave. juga para petinggi organisasi lainnya. Katanya mereka ingin bertemu dengan anda?" Jawab orang tersebut masih dengan posisi berlututnya.
"Bangunlah!. jangan berlutut seperti itu,santai saja." Reaksi Arya segan dibuatnya.
"Terima kasih tuan muda!" Jawab orang tersebut patuh kemudian berdiri dan menunggu jawaban dari tuannya.
"Pergilah Arya, temui saja, karena kehadiran mu sangat dibutuhkan oleh mereka." Ucap Siska merelakan muridnya untuk untuk tidak bersamanya.
"Terima atas pengertiannya bu Siska juga yang lainnya. Nanti setelah selesai keperluan orang orang itu, saya akan menemui kalian lagi." Reaksi Arya.
"Tidak perlu!. Setelah ini pun kami akan istirahat di kamar saja. karena rugi fasilitas mewah yang ada untuk di lewatkan." Jawab Permana tiba tiba.
"Oh ya pak Sentanu. Kapan datangnya. Sudah dapat kamar belum?"Ujar Arya tiba tiba.
"Untuk sementara belum, biar bapak tidur dengan yang lainnya saja. Pun tak mau merepotkan nak Arya, tak enak pula." Jawab Sentanu nampaknya malu malu.
"Urus kamar untuk kepala sekolah ku. Berikan kamar suite ganda mewah pada pak Sentanu, agar beliau betah di dalamnya." Ucap Arya memberi perintah pada petugas hotel itu, yang kebetulan mengurus penempatan kamar untuk tamu.
"Siap laksanakan tuan muda!" Jawab petugas itu senang. Kemudian mengajak pak sentanu untuk ikut dengannya.
"Maaf semuanya saya terpaksa pergi dulu. Nanti kalau acara pertandingan sudah selesai, saya akan ajak semuanya untuk berbelanja sepuasnya."
"Masalah siapa yang akan bayar, jangan dirisaukan, saya yang akan membayarnya!" Ujar Arya pada pada guru juga teman temannya.
"Hore!. Hidup Arya, hidup Arya!" Reaksi teman teman sesama siswa merasa senang. Termasuk guru gurunya.
"