Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Mengambil daun tulang naga


"Salam yang mulia!. Semoga panjang umur!" Sapa Arga pada Arya. Saat tuannya sedang mengerjakan sesuatu di rumahnya.


"Ada apa paman?. Datang tanpa dipanggil?" Reaksi Arya keheranan.


"Mohon maaf yang mulia, anak buahku melaporkan, katanya penduduk kampung sebelah, tempat yang mulia tinggal dulu, sedang mengumpulkan massa, dan berencana untuk ikut demo, karena menurut kabarnya, tanah mereka yang tidak seberapa itu, terkena proyek perluasan jalan yang menuju kota, tujuannya tak lain dan tak bukan karena ingin meminta ganti rugi yang lebih besar." Jawab Arga melaporkan apa adanya.


"Apakah paman sudah menyelidiki dari kelompok mana mereka itu, terutama yang menggerakkan massa, karena setahu ku, ganti rugi sudah diberikan, tapi kenapa masih menuntut juga?" Reaksi Arya keheranan.


"Itulah masalahnya yang mulia. sepertinya mereka kelompok baru, yang mengklaim bahwa tanah itu miliknya, dengan menunjukkan bukti bukti yang ada." Jawab Arga.


"Kelompok baru ya?. Coba kalian cari tahu siapa mereka?. Aku curiga mereka kelompok yang dimanfaatkan oleh lawan lawan bisnis ku?"


"Cari tahu juga mereka berasal dari mana, juga organisasinya? Jika sudah ketemu, bawa mereka ke suatu tempat, karena aku sedang ada keperluan, dan tidak boleh ditinggalkan." Respon Arya cukup berwibawa, dalam menyikapi informasi dari anak buahnya.


"Siap laksanakan yang mulia!" Jawab Arga tegas juga. Kemudian meminta izin untuk pergi dari situ, dengan membawa sebagian besar bawahannya. Sementara yang lain, pergi menjaga restoran milik tuannya, juga ke lokasi baru yang dibeli olehnya.


"Ada saja masalah yang timbul?, baru lah mau berusaha, eh banyak pula yang berusaha menghalanginya?"


"Kalau begini terus, kapan negaraku akan maju. Orang mau membuka lapangan kerja, malah dihalangi?. Dasar orang orang tidak berperasaan!" Monolog Arya dalam hati. sambil mengepalkan kedua telapak tangannya pertanda tidak senang. Kemudian menghubungi Yang Cha, panglima perang kerajaan naga, yang sudah ditaklukkannya itu, melalui tranmisi suara padanya.


"Panglima Yank Cha!. Sampaikan pada raja mu, katakan padanya, aku membutuhkan bantuan dari nya!"


"Bawa seribu prajurit pilihan mu, dan temui aku di batas desa!. Aku ingin meminta bantuan mu, untuk memberantas gerombolan pengacau keamanan di dunia manusia."


"Selain melakukan itu, aku juga ingin memberi misi pada kalian, mengenai misi apa itu, akan aku sampaikan kemudian!" Ucap Arya, melalui transmisi suara pada Yang Cha.


Sesaat setelah transmisi suara itu sampai, panglima Yang Cha, langsung termangu diam, karena leluhurnya meminta bantuan padanya, agar disampaikan kepada raja Yun Wangsa. Karena Arya hanya menghubunginya saja.


Tak menunggu lama, Yang Cha langsung terbang menuju istana, demi untuk melaporkan perintah dari leluhurnya.


Begitu sampai di istana, dan diizinkan masuk, Yang Cha langsung menuju ke balairung istana, untuk menemui rajanya. "Hormat pada yang mulia raja! Semoga panjang umur!"Ujarnya


"Ada apa panglima? Kenapa kau terburu-buru begitu? Apakah ada sesuatu yang terjadi, hingga raut wajah mu ketakutan seperti itu?" Tanya Yun Wa merasa heran.


"Ampuni saya yang mulia! Leluhur Baladewa baru saja menghubungi ku. katanya ingin meminta bantuan dari anda?"


"Dalam perintahnya itu dia mengatakan, agar kita mengirimkan seribu prajurit terbaik untuk membantunya. Entah untuk apa saya tidak tahu yang mulia?" Jawab Yang Cha melaporkan apa adanya.


"Ini aneh!. Leluhur yang sudah sekuat itu, masih juga butuh bantuan kita. Ada apa ya?" Respon Yun Wangsa merasa heran.


"Mau sampai kapan kalian mengabaikan perintah ku. apa ingin aku hukum?" Ujar Arya masih melalui tranmisi suaranya juga. Hingga mengejutkan semua petinggi kerajaan yang sedang menghadap raja tersebut. termasuk dirinya.


"Ba ba baik yang mulia, akan segera hamba kirimkan!" Reaksi Yun Wa ketakutan.


"Panglima Gang Dya, Dama, Yang Cha dan mau pangeran Yun Cha. Cepat kerahkan prajurit terbaik, untuk membantu leluhur Baladewa. Dia sedang membutuhkan bantuan kita." Ucap raja pada orang orangnya.


"Baik yang mulia!, kami akan segera melaksanakannya!" Jawab keempatnya patuh, kemudian menghilang dari tempat itu, untuk menuju barak prajuritnya.


Begitu mereka pergi. Raja Yun Wa berkata pada putranya, yaitu putra mahkota Yun Zuka."Mudah mudahan dengan membantu leluhur Dewa, adik mu bisa mendapatkan maaf darinya. karena kasihan juga, sebagian besar ilmunya, telah disegel oleh leluhur kita, karena dia telah berbuat kesalahan yang cukup besar"


"Mudah mudahan juga, leluhur Dewa mau memulihkan seluruh kekuatan adik mu, sebab dia merupakan pilar kerajaan kita juga. Jika dibiarkan terus begitu, ayah takut dia akan stress, karena kemampuannya kalah jauh dengan prajuritnya." Ucap raja Yun Wa sambil matanya menerawang jauh pada leluhurnya.


"Ananda juga berharap begitu ayahanda. Adikku itu sebenarnya baik, tapi karena ambisinya ingin meningkatkan kekuatan, maka dia tersalah jalan."


"Tidak disangka, orang yang ingin dicelakai nya itu, ternyata adalah leluhur kita. Jika dia tahu siapa orang itu, sudah pasti dia tidak berani mencari gara gara dengannya?" Jawab Yun Zuka seperti apa adanya.


"Sebenarnya seberapa sakti leluhur kita itu? Kekuatannya tidak bisa diukur. Ayah saja yang sudah mencapai level awan sempurna, tidak mampu melihat kekuatannya. Mungkinkah dia sudah mencapai level langit atau level yang lebih tinggi dari itu?" Tanggapan Yun Wa sedikit berlebihan.


"Ananda rasa juga begitu ayahanda? Aura intimidasi yang keluar dari tubuhnya, tidak bisa diukur. Baru merasakannya saja sudah kesulitan begitu, apalagi jika melawannya?"


"Tapi mudah mudahan dengan cara ini, leluhur akan menurunkan ilmu saktinya pada kita, dan mengembalikan kekuatan pangeran Yun Cha agar pulih seperti biasa." Respon pangeran mahkota setuju, dengan menguatkan pendapat dari ayahnya.


Sementara itu ditempat lain. Tiga orang jenderal dan satu pangeran mahkota lima, sedang membawa 1.500 prajuritnya, untuk menemui Arya, yang saat ini sedang berada di perbatasan desa tempat pintu masuk ke alam naga.


Saat menunggu itu, Arya tidak ditemani oleh siapa siapa, karena kepergiannya tidak diketahui oleh siapapun, termasuklah Arga. Karena dia tidak mau, rencananya diketahui oleh orang lain. Namun setelah mereka berhasil melaksanakan misi, barulah Arga akan diberitahu juga.


"Hormat pada leluhur dewa! Semoga panjang umur!" Sapa seluruh bangsa naga, sesaat setelah sampai dihadapan Arya. sambil menjatuhkan lututnya di tanah.


"Terima kasih!. Hormat kalian aku terima. Sekarang bangunlah, dan dengarkan titah ku!" Reaksi Arya sangat berwibawa.


"Aku tahu kalian telah membawa .1.500 prajurit, dan 6.000 prajurit bayangan. Tapi aku tidak akan marah pada kalian karena tindakan itu. Justru aku sangat terkesan." Ujarnya lagi.


"Sekarang dengarkan!. Di sebelah Utara desa Troja, Terdapat satu daerah yang sangat bagus sekali."


"Di sana terdapat banyak sekali tumbuhan herbal langka yang bernilai tinggi, yang bisa diramu menjadi obat obatan tingkat dewa."


"Di daerah itu juga, terdapat herbal yang sangat langka, yang keberadaannya hampir menjadi legenda. yaitu daun tulang naga."


"Tapi sayangnya, daerah itu sangat berbahaya sekali, karena dikuasai oleh siluman laba laba, kobra dan kalajengking merah. yang apabila digigit, susah untuk mendapatkan obatnya, kecuali dari daerah itu sendiri."


"Untuk itu, aku ingin kalian pergi ke sana, untuk mengusir atau menaklukkan penguasanya. Jika kalian berhasil, maka aku akan mengembalikan kekuatan pangeran Yun Cha, serta akan meningkatkan kemampuan kalian, satu sampai tiga tingkat tingginya."


"Sengaja ku pilih kalian, karena kalian rata rata memiliki antibodi, yang mampu menangkal kekuatan bisa dari para siluman itu. ketimbang pengikut ku yang lain."


"Tapi aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja. Seluruh tubuh jiwa dan kekuatan kalian akan aku lindungi, dengan cara memakan pil pil ini."


"Untuk itu kepada prajurit bayangan, segeralah menampakkan diri, agar mendapatkan bagiannya." Ujar Arya mudah sekali untuk dicerna.


Tak lama kemudian, 6.000 prajurit bayangan, yang seyogyanya dipersiapkan untuk melindungi 1.500 prajurit utama pun keluar, dan langsung memberi hormat kepada Arya.


Tanpa membuang waktu, Arya dengan kemampuannya, langsung mengeluarkan 7.500 pil tingkat tinggi, untuk dimakan oleh anak buahnya.


Begitu mendapatkan obat itu, mereka segera memakannya, dan duduk di tanah agar mudah berkonsentrasi.


Tiga setengah menit kemudian, terdengar bunyi terendam dari tubuh mereka masing-masing. Cahaya yang sangat menyilaukan, keluar dari tubuh mereka, pertanda apa yang mereka makan telah berhasil mereka serap.


Terlihat penampilan mereka sekarang menjadi lain. Seluruh prajurit yang memakan pil yang diberikan oleh Arya tersebut, kemampuannya naik setingkat lebih tinggi.


Selain kemampuan mereka meningkat, tubuh mereka juga mengeluarkan aroma yang sangat harum sekali, pertanda bahwa tubuh juga roh mereka, telah dilindungi oleh Arya. dan tidak mudah bagi pihak musuh untuk mengalahkannya.


"Sekarang bangunlah!. Aku akan membagi kalian menjadi empat kelompok besar. yang masing masing, akan bertanggung jawab atas keselamatan anak buahnya."


"Kelompok pertama akan dipimpin oleh pangeran Yun Cha. Kepada kalian, aku tugaskan untuk membasmi gerombolan pengacau di daerah Wijaya. Dimana terdapat banyak tumbuhan langka juga banyak emasnya."


"Bawa 3.000 prajurit. Rebut daerah itu, dan kuasai lahannya!"


"Kelompok dua, akan dipimpin oleh panglima Gang Dya. dengan membawahi 1.500 prajurit, yang tugasnya, untuk membuka jalan agar bisa masuk ke daerah berbahaya itu."


"Kelompok tiga, akan dipimpin oleh panglima Dama, yang akan diikuti oleh 1.500 prajurit juga, untuk menggempur pertahanan siluman laba laba, kobra dan kalajengking merah ."


"Kelompok keempat, akan dipimpin oleh panglima Yang Cha. Tugasnya adalah untuk mengambil berbagai macam daun dan tumbuhan obat, serta mengambil daun tulang naga sebanyak banyaknya."


"Bawa 1.500 prajurit juga, agar pekerjaan kalian menjadi lancar." Ucap Arya saat memberikan pengarahan pada mereka.


Tak menunggu lama, tiga orang jendral, dan satu pangeran mahkota lima. sudah membagi prajurit yang harus ikut dengannya. Dan tak lama kemudiannya lagi, mereka sudah pergi ke tempat tujuannya masing masing.