
Satu hari kemudian. Arya sudah berada di kota lain, atau tepatnya di ibukota negara, saat ini dia sedang diarahkan untuk bertemu dengan seseorang, tanpa sepengetahuan Satya juga anaknya itu.
Di ibukota, dia ditemani oleh enam orang master metafisika, yang kemampuannya cukup mumpuni. Salah seorang diantara mereka adalah master Prana, yang selalu setia mendampingi Arya kemanapun dia pergi. Sedangkan muridnya, yaitu master Teja, hanya ditugaskan mendampingi Jodi juga yang lainnya saja, untuk mengelola perusahaan Arya yang baru didirikan tersebut.
Di ibukota, Arya direkomendasikan akan bertemu dengan seorang kepala keluarga kaya raya, yang menguasai perdagangan terbesar di ibukota, juga di kota kota lain. bahkan hampir setengah ekonomi negara di pegang olehnya.
Namun sayangnya, saat ini dia sedang sakit parah. dimana penyakit tumor yang ada di kepalanya itu, terus menggerogoti kesehatannya, hingga membuat kesadarannya menghilang.
Sementara tiga anaknya, terus berebut pengaruh, agar perusahaan besar itu jatuh ke tangannya, kecuali seorang anak perempuannya yang tidak begitu peduli, tapi selalu melindungi ayahnya dari tekanan itu.
"Mohon maaf yang mulia!. nanti setelah berada di rumah mereka, saya sarankan, agar tuan berhati hati, karena tuan muda keluarga tersebut, sangat licik sekali. Dia selalu menghalalkan segala cara, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk jika harus membunuh seseorang, demi yang diinginkannya itu tercapai."
"Selama setahun ini, sudah banyak dokter, orang pintar, master metafisika serta paranormal yang menjadi korbannya."
"Jika mereka tidak mampu mengobati penyakit ayahnya, maka saat itu juga orang tersebut akan di bunuh, dengan cara diracuni, atau ditembak dengan menggunakan senjata otomatis. lalu dilemparkan ke kolam yang penuh dengan buaya, atau kandang yang penuh dengan harimau peliharaannya."
"Oleh karena itu. Mohon yang mulia menolak keinginan mereka, untuk mengobati penyakit ayahnya tersebut, agar yang mulia tidak celaka." Ujar Argani memberi saran pada tuannya.
"Paman tenang saja!. Selicik apapun mereka, aku pasti bisa mengatasinya, apalagi di situ ada paman juga yang lainnya." Jawab Arya, malah bereaksi tenang tenang saja.
"Tapi yang mulia?" Protes Arga tidak terima.
"Sudahlah!.Jangan dibahas lagi. Tugas mu adalah untuk melindungi ku. agar aku tidak celaka. Pun tidak mudah buat mereka untuk mencelakai ku."
"Jadi aku sarankan, agar sebelum aku sampai disitu, lihat ada apa sebenarnya di rumah itu, kenapa setiap dokter, atau seorang ahli yang datang mengobati, selalu gagal dalam usahanya."
"Aku yakin, ada sesuatu yang mereka sembunyikan?" Jawab Arya cukup bijaksana.
"Baik yang mulia. Saya dan anak buah saya, akan mengatasi itu, agar yang mulia tidak celaka." Jawab Arga dengan patuhnya pula.
"Bagus!. Aku tunggu kabar dari kalian." Respon Arya cukup senang. Kemudian menemui anak buahnya, untuk membicarakan sesuatu dengan mereka.
"Dari sini aku bisa merasakan, ada aura membunuh yang sangat besar, dari rumah tuan Dave itu, yang kemungkinannya sengaja dipasang di sana."
"Mungkin ini ada kaitannya, dengan usaha tiga orang anaknya, yang saling berebut pengaruh, untuk memiliki kuasa, atas perusahaan yang sangat besar tersebut."
"Oleh karena itu aku
ingatkan, agar kalian selalu waspada, karena aura negatif yang aku rasakan itu sangat berbahaya. Dia bisa melemahkan aura spiritual, yang ada di tubuh seseorang."
"Jika orang itu sudah terkena pengaruhnya, maka sulit untuk disembuhkan. kecuali oleh seseorang, yang mempunyai kekuatan yang lebih besar dari orang tersebut."
"Untuk itu aku sarankan, agar kalian memakai cincin ini, agar kekuatan negatif tersebut tidak berpengaruh pada kalian, dan bisa melihat apa sebenarnya yang terjadi di rumah itu?"
"Jadi sekarang ambillah masing masing satu, dan kenakan di jari tengah kanan kalian, supaya tidak terlalu mencolok." Ujar Arya memberi arahan.
Maka bergegaslah masing masing dari mereka, mengambil benda yang dimaksudkan, serta langsung dipasangkan dijari tangan mereka.
Begitu benda berbentuk cincin itu sudah berada di jari tengah mereka. Apa yang selama ini menghalangi pandangan mereka, langsung terbuka, dan sempat membuat keenamnya mundur ketakutan.
Lalu salah seorang dari mereka bertanya pada Arya, dengan pertanyaan yang membuat temannya jadi penasaran. "Master dewa, benarkah apa yang aku lihat itu?.Kenapa bentuknya sangat besar sekali, dan melingkupi seluruh bangunan rumah besar tersebut. Apakah itu ada kaitannya dengan aura negatif yang master katakan barusan?" Ujarnya penuh dengan rasa penasaran.
Mendengar penjelasan tersebut, membuat enam orang itu hanya bisa terdiam. dan mencoba mencerna dengan caranya masing masing.
Tapi setelah sekian lama terdiam, akhirnya salah seorang diantara mereka, bisa melihat seperti apa yang dilihat oleh Arya. "Bagaimana?. Apakah kalian sudah menemukan keanehan di rumah itu?" Tanya Arya tiba tiba.
"Sudah ketua!" Jawab Prana cukup berwibawa.
"Apa itu?. Coba jelaskan pada yang lain, agar kawan kawan mu jadi tahu, apa yang kau lihat barusan?" Reaksi Arya ingin tahu.
"Yang aku lihat barusan, adalah formasi berbentuk rune, yang di pasang di setiap sudut rumah dan tanah, yang terhubung dengan rune besar di tengah tengah rumah tersebut, hingga menciptakan siluet mahluk yang sangat menyeramkan."
"Aku yakin. Gara gara siluet itulah, aura negatif yang berbahaya tersebut berasal?. Tapi untuk membuktikannya, membutuhkan tenaga yang sangat besar, dan itu aku tidak sanggup untuk melakukannya." Ucap Prana menjelaskan seperti apa adanya.
"Lalu bagaimana ketua?, apakah kita batalkan rencana, dan kembali ke kota Seraya saja?" Tanya Dewanta ingin penjelasan dari tuannya.
"Tetap pada rencana semula, dan penuhi permintaan dari putri Kanaya, untuk mengobati penyakit ayahnya."
"Jika kita mundur, maka kita akan dicap sebagai orang pengecut, dan tidak bisa menyakinkan orang lain, kalau kita bisa. Oleh karena itu, mari kita bergegas datangi rumah tersebut, dan temui pemiliknya!" Jawab Arya cukup berwibawa.
Tak lama kemudian, Arya dan Rombongannya, sudah berada di depan pintu gerbang rumah bak istana itu, yang di depannya, dijaga cukup ketat, oleh belasan pengawal penjaga rumah tersebut.
Saat Arya ingin memasuki gerbang itu, seorang komandan jaga berteriak cukup lantang pada Arya, dengan perkataannya, yang terkesan sangat arogan sekali. "Berhenti!. Apa yang kalian lakukan?. Ini properti terlarang, dan tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya!" Ujar seorang petugas jaga pada Arya dan rombongannya.
"Tenang! Kami datang karena diundang oleh putri Kanaya, untuk mengobati penyakit tuan Dave, yang katanya mengidap penyakit yang..?"
"Cukup!. Jangan disebutkan lagi!. Kami tidak mau mendengar apapun alasan dari kalian!. Jadi cepat pergi dari sini sebelum kami hajar!" Sergah pengawal itu cukup lantang.
Prana yang mendengar hardikan tersebut tersinggung jadinya. kemudian maju mendekati pengawal itu, untuk memberinya pelajaran.
Namun belum juga terjadi, terdengar sebuah suara yang cukup keras, berasal dari seorang laki laki muda berwajah cukup tampan, tapi beraura negatif cukup kuat. Dia adalah tuan muda pertama keluarga kaya tersebut, yang paling sombong di keluarga itu.
Bentakannya, sukses membuat langkah Prana jadi terhenti, dan sukses pula membuatnya harus menoleh kearah orang yang berteriak berhenti barusan, dan segera mendapati, bahwa orang yang berteriak barusan itu, masih cukup muda, kisaran antara 23 sampai 25 tahun, dikawal oleh 20 orang anak buahnya, yang semuanya berbadan tegap, serta mempunyai pistol di pinggangnya.
Melihat hal tersebut, membuat Arya harus turun tangan juga, agar sesuatu yang tidak diharapkan, terjadi pada anak buahnya.
Lagi pula, situasi yang dihadapi kurang menguntungkan bagi pihaknya. Maka dengan perhitungan cukup matang, Arya mengirimkan kekuatan tidak terlihatnya, agar intimidasi yang berasal dari orang orang tersebut hilang, hingga membuat orang yang diserangnya, sempat mundur ketakutan, Tapi setelah itu, berhasil menguasai perasaannya kembali.
"Mau apa kalian datang ke sini?. Apakah ingin mengambil sisa sisa makanan anjing peliharaan ku?" Tanya Borga cukup mengejutkan.
"Jangan kurang ajar kau ya? Kami datang kesini, karena diundang oleh putri Kanaya, yang katanya ingin meminta bantuan dari master dewa, untuk mengobati penyakit tuan Dave dari pengaruh guna guna."
"Oleh karena itu, mohon beri jalan, agar kami bisa bertemu dengan adik mu itu!" Jawab Prana sudah emosi duluan.
"Beraninya kau?. Kau pikir kau itu siapa, ha?" Respon anak buah Borga tidak terima. Kemudian maju beberapa langkah, untuk memberi pelajaran pada master Prana, yang dia kira lemah itu.
Namun belum juga terlaksana. perempuan muda yang di panggil dengan putri Kanaya itu pun datang, dan segera mengatasi pertengkaran yang belum jadi itu dengan suaranya yang cukup lantang. "Apa yang kalian lakukan?. Cepat hentikan!"
"Mereka datang atas undangan ku, karena katanya, salah seorang dari mereka adalah master dewa, yang kemampuan pengobatannya cukup tinggi di negara ini."
"Oleh karena itu, aku mengundang mereka untuk datang, dan mengobati ayah ku agar sembuh dari penyakitnya!" Ujarnya terdengar garang.