
"Gawat yang mulia!. Jutaan pasukan asing telah mengepung areal istana raja dan benteng kita. Bahkan mereka sudah menduduki delapan pos penjagaan mata angin, dan memasang formasi disana."
"Yang lebih parahnya. Saat prajurit kita ingin keluar atau melarikan diri, roh mereka langsung terbakar dan mati seketika."
"Lalu apa yang harus kami lakukan yang mulia?" ucap seorang menteri pertahanan pada rajanya.
"Kapan itu terjadi? Kenapa tak seorangpun dari kalian menyadarinya? Apa kerja kalian disana?" respon Dasamuka murka.
"Ampun yang mulia!. Ka ka kami sudah melaksanakan tugas seperti yang digariskan. Tapi...?"
Boom!
"Ada apa?" respon Dasamuka semakin murka.
"Ada serangan yang mulia! Banyak pasukan kita yang mati terbakar!" jawab seorang jenderal perang apa adanya.
"Bagaimana bisa terjadi? Dimana para jenderal dan panglima kita?"reaksi raja merasa geram. Lalu pergi begitu saja, meninggalkan beberapa orang menteri dan panglima yang masih berdiri penasaran.dan langsung menemui keluarganya.
Sementara itu ditempat lain..
"Terus gempur pertahanan mereka! Jangan biarkan mereka lolos. Hancurkan semuanya!" teriak seorang komandan pihak Arya pada para pengikutnya.
"Sialan!" reaksi seorang panglima strategi perang denawa terlihat murka, saat pasukan yang disiapkannya jadi berantakan.
Dia sungguh menyangka, strategi perang yang selama ini dibanggakannya, bisa terlihat lemah dimata lawan. Padahal selama ini belum ada yang mampu mengalahkannya. Tapi sekarang jadi hancur berantakan. dan itu hanya dalam sekali serang.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Dimana mata mata kita?" tanya jenderal Bobla pada anak buahnya. Sambil terus memperhatikan jalannya perang yang ada di depan mata.
"Mereka tidak bisa masuk tuan panglima. Semuanya mati terbakar saat ingin memasuki areal istana. Maka serangan mendadak seperti ini tidak bisa kita antisipasi" jawab anak buahnya memberi alasan.
"Siapa yang memimpin mereka?" tanya Bobla.
"Seorang pemuda seusia tuan muda Boga. Tapi dominasinya sangat luar biasa sekali. Kalau tak salah namanya Arya?" jawab komandan tersebut menjelaskan apa adanya.
"Bagaimana mungkin anak seusianya bisa memimpin jutaan prajurit seperti itu? Siapa dia?" tanya Bobla tidak percaya.
"Seorang pangeran dari Negeri Awan. Putra pangeran Purbaya dan putri Kandita yang sudah lama hilang. dan sekarang muncul serta memimpin penyerangan."jawab anak buahnya.
"Kurang ajar! Gara gara tidak siap, semua formasi pertahanan kita jadi hancur. Bahkan sekarang mereka sudah mendekati Istana, dan mengancam keselamatan raja."
"Kalau ini dibiarkan.Aku yakin istana akan jatuh dan yang mulia akan binasa."
"Kalau begitu cepat keluarkan hewan spiritual, untuk membalikkan keadaan." reaksi Bobla sudah punya cara lain.
"Lapor panglima,! Kandang hewan spiritual sudah dihancurkan. Seluruh hewan peliharaan kita mati. Bahkan hewan surgawi juga musnah."
"Seribu empat ratus penjaganya juga binasa. Seluruh lokasi penangkaran rata dengan tanah!" ucap seorang mata mata dalam istana pada panglima Bobla.
"Sial! sial! sial! Bagaimana ini bisa terjadi? Mana komandan yang lainnya?" reaksi Bobla tidak berdaya.
"Mereka sedang berjuang mempertahankan posisinya panglima. Tapi rata rata dari mereka sudah tewas. Sementara pangeran Suma dan prajurit prajuritnya juga sedang terdesak."
"Aku yakin tidak lama lagi mereka akan menyerah." jawab Zuna apa adanya.
"Kenapa bisa begitu? Siapa lawan
nya?" Reaksi Bobla tidak percaya.
"Panglima Arga juga Yang Cha, dibantu oleh panglima panglima lain, yang kekuatannya diatas yang mulia pangeran." jawab Zuna ketar ketir dibuatnya.
"Gawat! Jika begini terus, tidak lama lagi negara kita akan hancur. Kekuatan mereka tidak bisa diremehkan!"
"Seluruh pemimpinnya rata rata berada di level langit puncak. Hanya beberapa komandan yang masih berada di level awan pertengahan. Tapi mereka selalu dilindungi oleh kekuatan yang tidak terlihat. Jadi sangat sulit untuk mengalahkan mereka."
"Para pengikutnya juga sudah tinggi tingkatannya. Rata rata mereka menempati posisi awan awal dan pertengahan. Prajurit kita dibuat kesulitan karenanya."
"Tapi yang aku herankan, kenapa yang mulia leluhur belum muncul juga. Apa menunggu sampai keturunannya mati baru datang?" ujar komandan mata mata pada Bobla juga yang lainnya.
"Mana aku tahu!. Kita bertugas hanya sebagai mata mata dan pengatur strategi saja. Urusan bertarung itu bagian mereka." jawab temannya.
"Lapor panglima! Yang mulia Ziangga saat ini sedang berhadapan dengan tiga raja, yang kekuatannya setara dengan leluhur kita."
"Berkali kali tubuhnya dibuat terbang, serta berkali pula menyemburkan darah segar dari mulutnya. Apa tidak sebaiknya kita keluarkan pasukan cadangan, untuk mengacaukan strategi mereka?" ucap seorang komandan bawahan Ziangga memberi usul.
"Jangan dulu! Kita tunggu...!"
Boom!
Boom!
"Markas kita diserang! Bangunan utama bagian selatan hancur, dan banyak prajurit kita mati terbunuh. Mohon petunjuk dari mu tuan panglima!"
"Perintahkan pada jenderal Kura Zuka, untuk mengeluarkan pasukan cadangan kuatnya, guna menggempur pertahanan musuh, dan menghancurkan mereka dari belakang!"
Tak lama kemudian.Tujuh ratus ribu pasukan cadangan pertama muncul dari retakan ruang, dan langsung mendominasi keadaan.
Sedetik kemudian. Muncul lagi tujuh ratusan pasukan dari ruang lain, dan menyebar ke segala arah. hingga membuat keadaan
menjadi kacau.dan pertempuran sempat terhenti karena itu.
Untuk sementara pasukan yang dipimpin oleh Arya menjadi kacau balau. Tapi cepat ditenangkan oleh komandannya.
Beberapa detik kemudian, pasukan cadangan yang dipersiapkan oleh Arya pun segera dikeluarkan, hingga membuat pasukan musuh jadi kelabakan, sebab pasukan tersebut dilengkapi dengan persenjataan lengkap, dan memakai armor pula.
Jumlahnya sekitar tiga jutaan. Berubah dari rencana semula yaitu satu juta. dan langsung membalikkan keadaan.
"Sialan! Kita dijebak! Cepat mundur dan bentuk formasi bertahan!" Teriak menteri pertahanan dengan suara lantang.
"Sudah terlambat Daman! Kalian semua sudah terkepung! Lebih baik menyerah saja dari pada kami habisi dengan paksa."ucap Yun Cha, pangeran lima pada calon lawannya.
"Kau..?" reaksi panglima, sekaligus menteri pertahanan denawa yang bernama Daman atau Banaspati itu ketakutan.
"Apa kabar mu Daman? Sudah lama kita tidak latih tanding. Terakhir kali kalau tak salah kau muntah darah, dan organ dalammu terluka?. Apa sekarang sudah sembuh?" jawab Yun Cha mengagetkan lawannya.
"Kurang ajar! Dia datang disaat yang tidak tepat. Mana luka ku belum sembuh, kultivasi ku tidak naik naik. Jika bertarung aku yakin pasti kalah!" batinnya.
"Kau takut Daman?.Masa iya?Atau begini saja! Kau lawanlah pengikut ku yang bernama Yang Cha. Aku jamin nasib mu akan sama saja jika kau melawan ku.Bagaimana?" tanya Yun Cha meremehkan.
"Bagaimana mungkin? Bukankah yang Cha sedang berhadapan dengan yang mulia pangeran Satan. Apa dia..?"
"Hahahaha. Kau tidak tahu ya? Pangeran mu yang penakut itu sekarang sedang minta perlindungan dengan Dasamuka dan masuk ke ruang jiwanya? Sungguh kasihan?"
"Tapi kau tenang saja! Pangeran Arya, leluhur bangsaku sekarang sedang menjemputnya kesana. Mungkin saat kita sedang bertarung. pasti nyawanya sudah melayang?" jawab Yun Cha berterus terang.
"Ah, sial! sial! sial!. Kenapa kalian menyerang kami? Bukankah kita sedang melakukan gencatan senjata.Tapi kenapa kalian menyerang juga?" reaksi Daman mencari pembenaran.
"Gencatan senjata kepalamu! Kesepakatan itu tidak pernah ada. Kalian saja yang merasa begitu. Jadi sekarang bersiaplah. Aku akan mencabut nyawamu, untuk ku hadiahkan pada yang mulia leluhur Arya!" bentak Yun Cha tidak suka.
"Sudah kepalang tanggung. Biar berputih tulang daripada berputih mata. Aku akan melawan mu Yun Cha! Hiaaaaaa!"
Bam! Bamm!
"Hebat juga kau Daman! Walau organ dalammu masih terluka. tapi pukulan mu masih tetap kuat. Tapi kau jangan senang dulu. Aku belum memulainya."
"Kau terimalah hadiah dari ku ini. Teknik penghancur tulang! Hiaaaa....!"
Bamm!
Bamm!
Krak!
Dhuar!
"Lari! Panglima perang Daman telah tewas. Cepat selamatkan diri. Jangan pedulikan perang!"
"Cepat sembunyi ke retakan ruang! Cepat! Teriak Bobla pada seluruh prajuritnya.
"Sudah terlambat Bobla! Tempat yang kau banggakan, sekarang sudah dihancurkan oleh yang mulia pangeran!"
"Kau lihatlah kesana. Bukankah itu Satan, Suma, Samudra dan entah nama apa lagi yang dia punya? Mungkin di luaran sana masih banyak nama namanya?
"Tapi sekarang jiwanya sudah berada dibawah kendali pangeran Arya. Dan sebentar lagi akan diadili!" ucap Yun Cha apa adanya.
"Tidak mungkin? Bagaimana bisa? Bukankah...?
"Maksud mu kekuatan?. Mimpi saja kalau dia berpikir mampu mengalahkan yang mulia pangeran. Kekuatannya sudah tidak bisa tertandingi lagi."
"Ziangga saja sudah tidak ada apanya dengan dia apalagi kau?" jawab Yun Cha.
"Ah sudahlah! Bosan pula jadinya!"
"Terimalah! Hentakan penggetar jiwa ku ini!"
"Hiaaaa!"
Bamm!
Boom!
Kraakk!
Seketika tanah yang dia pijak langsung terbelah. Tapi tidak membuat tubuhnya terperosok kedalam. Sebaliknya di pihak musuh, belasan ribu pasukan yang ingin melarikan diri masuk kedalamnya.