Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Terkejut semua


"Jangan banyak tanya!. Cepat buka pintu!. Awas kalau tamu agung ku tidak ada!. Akan ku hajar kau!" Jawab Dave tua tidak terima. dan sudah tidak sabaran lagi ingin bertemu dengan Arya.


Begitu dibukakan pintu. Ternyata Arya sudah tidak ada. Padahal belum lama tadi dia ada di sana. Namun setelah tidak diizinkan masuk, Arya langsung pergi dari tempat itu, dan ingin memasuki ruangan lain." Berhenti!. Siapa kau? Mau apa kesini?. Apakah kau Anggota yang diundang?" Ujar seorang petugas jaga pada Arya.


"Anggota?. Anggota apa?. Bukankah ini tempat umum, siapa saja bisa masuk?. Kenapa kalian malah menghalangi langkah ku?" Protes Arya tidak senang.


"Mulai sekarang sudah tidak lagi, karena tuan putri Meggi sudah menyewa tempat ini. Jadi silakan pergi sebelum tamu pentingnya datang!" Jawab orang tersebut cukup arogan.


"Ada apa ribut ribut?. Sekarang aku sudah datang. Kenapa tidak cepat menyambut ku? Sungguh berani kalian?" Ujar seseorang dengan suara lantang.


"Tuan muda!. maaf, sungguh kami tidak melihat anda datang. Mari silakan masuk. Masalah di depan biar kami yang urus." Reaksi Prema sedikit ketakutan.


"Apa yang terjadi?. Kenapa kalian marah marah tadi?. Apakah ada pengacau di tempat ini?" Tanya Dave Saga pada petugas jaga itu dengan ekspresi penasaran.


"Ya ada. tuh orangnya!. Datang datang main masuk saja. Padahal tempat ini sudah disewa oleh tuan putri kami. Tapi orang ini tetap memaksa, jadi kami halangi" Jawab Prema apa adanya.


"Sudahlah!. Mungkin dia orang udik, jadi tidak tahu aturan?. Cepat bawa kami masuk, karena kaki ku sudah pegal berdiri lama." Reaksi Dave Saga cukup jumawa. Kemudian pergi mengikuti langkah Prema, untuk bertemu dengan Meggia Shinta.


Namun begitu melewati Arya, Dave Saga tiba tiba berhenti, dan menatap Arya dengan perasaan bercampur aduk. Dia tidak percaya kalau ditempat mewah itu bisa bertemu dengan dewa penolong keluarganya. Sadar dalam bahaya, Dave Saga langsung menjatuhkan lututnya kelantai, diikuti oleh enam orang pengawalnya dengan ekspresi kesal.


"Tuan muda, apa yang kau lakukan?. Kenapa kalian berlutut seperti itu?. Siapa dia?" Reaksi Prema seakan tidak percaya.


"Kurang ajar kau!. Beraninya bersikap tidak sopan pada master dewa. Tak tahukah kau siapa dia?" Jawab Saga malah balik bertanya.


"Master dewa?. Siapa?" Sambung Prema masih tidak menyadari ucapannya. Lalu memandang sosok Arya penuh tanda tanya.


"Tuan muda Saga, apa yang kau lakukan? Kenapa berlutut seperti itu?. Cepat berdiri. Anda tidak pantas berlutut pada gem..?"


"Kau?. Bagaimana bisa?" Reaksi Meggia terkejut, sesaat setelah menatap wajah Arya.


"Apa kabar Gia? Lama tidak bertemu. Aku kira kau sudah lupa dengan wajah ganteng ku ini.Ternyata tidak ya?" Jawab Arya malah bercanda. Sambil mengamit tangan Saga agar cepat berdiri.


Melihat itu Shinta tentu saja keheranan. Bagaimana seorang tuan muda kaya raya, mau merendahkan diri seperti itu?. "Apakah status Arya lebih tinggi darinya?. Tapi bagaimana mungkin?" Batinnya dalam hati.


"Meggi, apa kau kenal dengan tuan muda Arya, atasan ayah ku itu. Sepertinya kalian sudah cukup akrab?" Ujar Saga sontak bertanya.


"Bukan kenal lagi. Malah akrab dulunya. Bahkan satu sekolah dan satu jurusan lagi?: Jawab Shinta berterus terang.


"Wah luar biasa!. Kalau begitu kau sangat beruntung sekali, bisa dekat dengan tuan Arya. Aku jadi iri dengan mu." Respon Saga senang tidak main main.


Tapi Shinta hanya diam saja. Dia tidak tahu bagaimana mulanya Arya bisa menjadi hebat seperti itu. Dihormati dan dipanggil tuan muda oleh orang sekaliber Saga.


Padahal dulu Arya itu pemuda miskin. Makan saja serba kekurangan. Tinggal di gubuk tua, mirip kandang kambing lagi.


Sekolah saja jalan kaki, ada kendaraan tapi sepeda butut, dan jarang dipakai karena sering dijahili oleh kawan kawannya, hingga membuat Arya lebih memilih jalan kaki, walau jaraknya sangat jauh dari rumahnya.


Tapi kini Arya sudah menjadi orang kaya, mamun Shinta tidak tahu itu. Dia masih menganggap bahwa Arya tetaplah pemuda miskin, walau namanya cukup dikenal di provinsi, terutama dalam cabang olahraga. Tapi kalau masalah harta Shinta belum tahu.


"Tu tu tunggu dulu tuan Saga. Bisa anda jelaskan kepada kami, kenapa tuan muda mau berlutut di depan Arya?. Apakah dia berani mengancam mu?" Ujar Shinta tiba tiba.


"Jangan sembarangan kalau bicara nona!. Beraninya kau memanggil namanya saja?"


"Tahukah kau, kalau dia tamu terhormat tuan Dave, yang sengaja diundang untuk menghadiri acara syukurannya?" Ucap master Prana membentak Shinta.


"Tamu terhormat?. Apa aku tidak salah dengar paman?. Arya yang miskin ini bisa menjadi tamu di acara penting itu?. Apakah kalian tidak salah dalam menilainya?" Reaksi Shinta tidak percaya.


"Itu bukan urusan mu, dan tidak ada sangkut pautnya dengan mu. Jadi jangan berani kurang ajar pada tamu penting ku!" Sergah seseorang dengan suara garang.


"Tu tu tuan Dave. Apakah itu anda?" Respon Shinta ketakutan.


"Kalau bukan aku siapa lagi?"Jawab Dave tua cuek saja. Kemudian memandang ke arah petugas jaga, lalu berkata. "Apa lagi yang kau tunggu?. Cepat minta maaf pada master dewa!"


"Kalau dia memaafkan mu, maka kalian selamat. Tapi kalau tidak, cepat angkat kaki dari sini!" Ujarnya.


"Jika dari awal memperkenalkan diri, mungkin hal ini tidak akan terjadi?" Ucap pengawal tersebut mencoba membujuk Arya.


"Huh! Aku bukan tak tahu?. Mulut mu saja yang manis, tapi hati mu pahit bak empedu." Batin Arya dalam hati. sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Dave Saga yang melihat itu langsung paham, lalu buru buru berkata pada orangnya agar Arya jadi nyaman. "Mulai hari ini kalian berempat aku pecat!. karena telah berani bersikap kurang ajar pada master dewa!. Jadi cepat pergi dari sini!. Master dewa tidak memaafkan kalian!" Ucap Dave tua pada orangnya.


"Tuan muda, mohon maafkan kami, sungguh kami tidak sengaja berbuat seperti itu?. Ini semua gara gara Govin. Dia yang menyuruh ku agar tidak mengizinkan tuan masuk."


"Jadi mohon tuan pertimbangkan penyesalan kami. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ujar Pama memelas sambil berlutut di lantai.


"Benar tuan muda. Kami juga mengaku salah, dan berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi." Sambung teman Pama menimpali.


"Pergilah!. Aku tidak ingin melihat kalian di sini lagi. karena jika berani mengulangi, maka kalian bisa mati." Respon Arya cukup mengejutkan.


"Kalian dengar itu?. Tuan muda Arya tidak mau melihat muka kalian lagi, jadi cepat pergi sebelum dia bertambah marah." Ujar Dave tua memperkuat keputusan Arya.


Maka lemah lah lutut mereka semua. Karena jika Dave tua sudah berkata begitu, tidak akan ada lagi harapan untuk kembali. Memaksa pun tetap tidak bisa. Malah akan memancing kemarahan yang lebih tinggi.


Kini mereka hanya bisa menyesali, kenapa harus bersikap tidak sopan pada Arya, hanya gara gara terprovokasi Govinda.


"Awas kau Govin!. Gara gara kau, kami sudah tidak ada kerja lagi."


"Jika kau tidak mau bertanggung jawab. maka kami akan menuntut keadilan!" Guman Pama lirih pada diri sendiri. Lalu pergi.


Sementara itu di dalam ruangan, Arya sedang di arahkan untuk menaiki mimbar kehormatan, karena Dave tua ingin memperkenalkan Arya pada tamu undangannya.


"Ayah, kenapa bocah itu ada bersama tuan Dave. Apakah..?" Bisik Govinda lirih di telinga ayahnya.tapi tidak jadi dilanjutkan.


"Sst, diam lah!. Kalau tuan Dave tahu, alamat ayah akan kena pecat. Jadi jangan berani berbuat yang macam macam!" Tegas orang tua Govinda mengingatkan.


"Gin. Siapa pemuda yang dibawa tuan Dave itu?. Apakah dia orangnya?" Tanya Rita tiba tiba, dan langsung saja duduk di samping Govinda.


"Entahlah, aku juga tidak tahu, tunggu saja apa yang akan tuan Dave katakan di sana ." Jawab Govinda apa adanya.


"Saudara saudara sekalian!" Ucap Dave tua memulai perkataannya." Di depan kita ada penerus ketua agung metafisika. Berkat dia, organisasi yang sudah lama dilupakan orang, kini telah kembali lagi."


"Berkat dia juga, penyakit yang ada di kepalaku bisa sembuh, dan telah sehat seperti sediakala."


"Untuk itu, mari kita beri penghormatan padanya, agar kedudukannya semakin tinggi. Kita sambut ketua agung itu, Master Dewa, tuan muda Arya, orang yang sedang berdiri di samping ku ini!" Ujar Dave tua bersemangat sekali.


"Apa?. Arya seorang master metafisika, sejak kapan?" Reaksi beberapa orang langsung tidak percaya, termasuk Meggia dan Govinda.


"Ayah!. Bagaimana bisa?. Bukankah Arya itu..?"


"Diam kau!. Aku dengar tadi kau membuat masalah dengannya?. Kalau sampai tuan Dave tahu habislah kita!" Reaksi Govin Sanjaya pada anaknya.


"Tampan sekali pemuda itu. Aku mau jadi simpanannya kalau dia mau?" Guman Rita pada diri sendiri.


"Apa kau bilang?. Jadi simpanannya?. Apa aku tak salah dengar?" Respon temannya keheranan.


"Sst, jangan kuat kuat! nanti orang lain dengar." Reaksi Rita pada temannya.


"Gin, bagaimana ini?. Tadi kita sudah menyinggungnya, apakah tidak bakalan membalas dendam?" Tanya Rita pada Govinda.


"Aku juga tidak tahu. Kita tunggu perkembangannya saja." Jawab Govinda apa adanya.


"Lihat!. Sepertinya kita kenal dengan pemuda itu?. Apakah dia yang telah kita tolong dulu?" Ucap seseorang pada temannya.


"Aku juga berpikiran demikian. Tapi dimana ya?" Jawab temannya menguatkan.