Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Masih beralasan


"Rasakan kau Arya!. Sekarang tempat usahamu sudah tidak bisa lagi digunakan!. Dengan demikian dendam ku pada mu sudah terbalaskan!"


"Dari mana lagi kau akan mendapatkan uang, untuk membangun ulang tempat itu?. Aku yakin kau akan mengemis dan memohon memohon padaku!" Ucap Alex merasa senang.


"Ternyata kalian di sini Alex, Bara juga yang lain?. Aku kira kalian dimana?" Sebuah suara dari orang yang sosoknya belum terlihat terdengar oleh mereka.


"Siapa kau?. Cepat tunjukkan diri!. kalau tidak?" Reaksi Bara tidak senang.


"Sabar sedikit kenapa?. Biar kalian menikmati masa masa jaya setelah menghancurkan usaha orang." Jawab suara tersebut cukup mengagetkan.


"Siapa kau sebenarnya?. Bagaimana kau tau tentang itu?" Tanya Bara sudah membuka rahasianya sendiri.


"Dari jawaban mu barusan." Jawab suara itu lagi.


"Kami tidak melakukan apa-apa, kau hanya mengarang cerita saja!" Reaksi Bara setelah sadar sudah masuk dalam perangkap orang misterius itu.


Blam!


Pemilik suara tadi segera memperlihatkan diri. Tapi membelakangi mereka. Sosoknya seperti mereka kenal, tapi wajahnya tidak.


Namun tak lama kemudian dia membalikkan badan.


"Master Prana?" Ucap mereka berbarengan.


"Ya, ini aku!. Kaget Bara dan juga kau Alex?" Jawabnya penuh penekanan.


"Ada apa master malam malam begini mengunjungi kami? Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan?" Tanya Alex yang maju duluan. karena perasaannya sudah mulai tidak enak.


"Ya jelas ada!" Jawab Prana singkat.


"Malam ini aku mewakili malaikat pencabut nyawa, untuk mencabut nyawa kalian." Sambungnya lagi.


"Mencabut nyawa kami? Memang kami salah apa?" Reaksi Bara mulai tidak tenang.


"Oh, kebetulan tempat usaha master kami telah dirusak oleh orang, dan itu disinyalir hasil dari perbuatan kalian. Jadi aku datang guna menagih janji, untuk mengganti kerusakan itu." Jawab Prana penuh dengan perumpamaan.


"Mana buktinya kalau kami yang merusak tempat itu? Jangan asal menuduh saja!. Dari tadi kami tidak kemana mana." Bantah Bara masih tetap dengan pendiriannya.


"Kau kenal aku Bara, juga kau Alex?"Tanya seseorang yang tiba tiba muncul dari balik bangunan itu.


"Gobang. Benarkah itu kau?. Bukankah kau sudah..?"


"Mati maksudmu?. agar perbuatan mu tidak ketahuan oleh orang lain. gitu?" Potong Gobang langsung pada intinya.


"Tidak mungkin?. Ini bukan kau tapi hantu!" Reaksi Bara tidak percaya.


"Tidak percaya juga?. Lalu bagaimana dengan kami?" Sela tiga orang lainnya.


"Bagaimana bisa?. Bukankah kalian sudah...?" Respon Bara keheranan.


"Nyatanya kami masih hidupnya kan?. Belum mati seperti yang kalian inginkan?"


"Kalian mau tahu?. Ini semua berkat bos Arya yang sakti itu. Jika tidak kami pasti sudah mati, dan kalian bebas melenggang tanpa ada tuntutan." Jawab Jodi berterus terang.


"Jadi sekarang bagaimana?. Apakah masih mau mengelak lagi?" Tanya Albi pula.


"Kebetulan kami pun sudah berkumpul. Jadi cepat beri keputusan. Mau bunuh diri atau kami yang akan menghabisi kalian?" Ucap Prana ingin ketegasan.


Alex dan Bara juga orang-orangnya tidak bisa menjawab pertanyaan Prana juga yang lain. Mereka hanya saling pandang satu sama lain, seperti mengisyaratkan untuk lari saja dari tempat itu.


Tapi belum juga mereka bergerak, datang seratusan orang lebih, yang dipimpin langsung oleh Arya juga Theo. yang membuat Alex dan Bara langsung menggigil ketakutan.


Dia tahu apa arti dari kedatangan mereka itu. pasti ujung ujungnya mati.


"Bos!. Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Kami hanya menjalankan perintah mu, yaitu membakar tempat usaha Arya dan menghancurkannya!" Ucap Bara mencoba menjelaskan duduk permasalahannya.


Arya yang mendengar itu langsung melihat ke arah Theo, dan seperti ingin meminta penjelasan darinya.


"Mohon dengarkan dulu penjelasanku master!. Awalnya aku memang dendam sekali padamu, karena gara-gara anda, tempat usaha itu tidak bisa kami dapatkan."


"Jadi aku menyuruh orang-orang ku untuk mendatangi tempat usahamu, dan membakarnya, tapi bukan pada malam ini."


"Termasuk rencana membakar rumahku kan?. tapi tidak bisa. karena di sana ada penjaganya?. Kalau tidak rumah ku juga sudah kalian bakar. benar kan begitu Theo?" Ucap Arya memotong penjelasan dari bawahannya tersebut.


"Benar master!. Mohon maafkan aku!. Aku bersedia dihukum." Jawab Theo berterus terang. Kemudian menjatuhkan lututnya ke tanah, pertanda siap untuk menerima hukuman.


Tapi Arya hanya diam saja. Dia sedang berpikir keras, apakah harus menghukum Theo atau tidak?. Namun tiba-tiba perhatiannya tertuju kepada Alex dan Bara, yang telah menganiaya anak buahnya itu.


Lalu dengan tegasnya dia berkata." Aku tidak akan menghukum mu Theo.Tapi dengan syarat?" Ujarnya, sambil memandang ke arah keduanya.


"Baik!. Aku akan melakukan sesuai dengan keinginanmu master!" Reaksi Theo jadi paham.


Kemudian mengalihkan pandangannya kepada 150 anak buahnya, lalu berkata. "Habisi Bara dan orang orangnya, Jangan beri ampun!" Perintahnya.


"Aku tidak mau mendengar alasanmu!. Sekarang terima saja hukuman yang akan aku berikan." Bantah Theo tidak mau tahu.


"Huh!. Percuma membela diri, kalau ujung-ujungnya tetap disalahkan!" Gerutu Bara tidak senang.


"Alex juga kalian yang lain! Kita sudah dalam posisi terkepung. Melawan mati menyerah pun juga mati!"


"Lebih baik kita berjibaku, dengan mengajak serta para badjingan itu untuk mati bersama kita!"


"Ayo kita lawan mereka, agar tidak mati secara sia-sia!" Seru Bara pada anak buahnya.


"Tidak!. Kami tidak mau melawan bos Theo, karena dia atasan kita, lagipula kami tidak setuju kalau harus mengkhianatinya!" Bantah seorang anak buahnya tidak terduga.


"Kurang ajar kau!. Percuma aku beri banyak uang, kalau ujung ujung kalian membelot juga!" Respon Bara tidak terima.


Lalu meluru ke arah mereka, dengan niat untuk memberikan pelajaran. Tapi belum juga langkahnya sampai, tubuhnya sudah dibuat terjengkang, akibat ditabrak oleh Jodi, yang memang sudah sejak awal sangat dendam padanya.


"Sekarang lawanmu adalah aku!. Ayo kita bertarung satu lawan satu, tidak keroyokan seperti tadi!" Ujarnya cukup jumawa.


"Huh siapa takut?"


"Alex!. Kau wakili aku untuk memberi pelajaran pada si Jodi ini. Patahkan tangan dan kakinya kembali, serta cabut nyawanya, agar tidak bisa ngebacot lagi." Respon Bara mengandalkan temannya.


"Aku tidak mau melawan Alex. Aku ingin melawanmu, karena saat merobohkan ku tadi, kau sudah berlaku curang."


"Kali ini aku ingin melihat, bagaimana kekuatanmu jika satu lawan satu dengan ku?" Reaksi Jodi tidak terima.


"Huh!. Kau pikir aku takut Jodi?. Jika ingin merasakan bogam mentahku lagi, majulah!" Respon Bara tidak terpengaruh atas ucapan dari Jodi tadi.


Tapi belum juga beraksi, tiba tiba berkelebat sesosok bayangan, dan langsung menuju ke arahnya.


Wus!


Plak!


Bugh!


Des!


"Banyak bacot lu!. Mati sana!" Ucap sosok bayangan itu, yang ternyata adalah Theo dengan ekspresi geram.


"Maaf Jodi!. Bara itu urusan ku, karena dia bekas anak buah ku yang sudah berkhianat. Maka aku yang harus membunuhnya." Ujarnya lagi.


"Bos Theo?"


"Aku bukan bos lagi, tapi wakil ketua. Bos kita adalah master Arya. Sekarang dialah pemegang kendali organisasi, sekaligus ketuanya." Ucap Theo menjelaskan apa adanya.


"Bagaimana dengan bara?. Apakah dia su..?"


"Ya!. Dia sudah mati, jadi jangan dihisaukan lagi. Sekarang tinggal Alex yang harus dihabisi." Jawab Theo berterus terang.


"Bos Theo!. Mohon pertimbangkan jasa ku pada mu selama ini. Gara gara aku dua buah hotel di kota sebelah berhasil kau kuasai dengan harga murah."


"Bukan hanya itu saja jasaku padamu. Tiga minimarket dan 4 penginapan yang kau dapatkan juga karena jasaku."


"Oleh karena itu mohon ampunilah aku, dan jangan bunuh aku. Setelah ini aku akan pergi, dan tidak akan mengganggu kalian lagi." Ucap Alex meminta pertimbangan dari bos besarnya dulu.


"Itu tergantung dari keputusan bosku!. Jika dia mengatakan iya, maka kau boleh pergi, tapi jika ia hanya diam saja, berarti kau harus mati!" Jawab Theo menggetarkan hati lawan bicaranya tersebut.


"Arya!. Eh bukan, bos Arya!. Mohon jangan bunuh aku. Aku tahu aku salah, karena aku telah mengkhianati mu. Tapi ampunilah aku untuk kali ini. Aku berjanji tidak akan berbuat jahat lagi." Ujarnya memohon ampunan dari Arya.


"Gobang dan juga kau Jodi, lakukan tugasmu!" Respon Arya tidak memperdulikan apa yang dimohonkan oleh Alex barusan. Kemudian memalingkan wajahnya ke tempat lain.


"Alex Kumang!. Walau beberapa hari yang lalu kita sudah jadi teman, tapi sekarang kau adalah musuhku!. Jadi Ayo kita bertarung!. Kita buktikan siapa yang lebih kuat di antara kita?" Reaksi Jodi langsung memahami apa yang dikehendaki oleh bosnya.


"Baiklah!. Mundur kena, maju pun kena. Aku akan bertarung denganmu, tapi dengan satu syarat!" Jawab Alex membingungkan semua orang.


"Sebutkan apa syarat mu? sepanjang tidak merugikan ku." Reaksi Jodi tidak senang.


"Tapi aku butuh persetujuan dari bos mu. Jika aku menang, maka bosmu harus melepaskan ku, dan jika aku kalah, terserah bosmu mau berbuat apa terhadapku?" Jawab Alex merasa mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri.


"Kau kalah atau menang, tetap harus mati!" Ucap Theo membuyarkan impian dari Alex.


"Jangan ikut campur urusanku Theo!. Ini pertarungan antara aku dengan Jodi. dan tidak ada hubungannya denganmu!"


"Aku hanya mengajukan syarat itu saja, dan terserah kalian mau menerimanya atau tidak?" Respon Alex tidak senang.


"Baik!. Aku terima syarat mu. Jika kau menang tanpa harus membunuh Jodi, maka kau boleh pergi. Tapi jika kau kalah, maka kau harus menghabisi diri sendiri." Ucap Arya mengagetkan semua orang.


"Oke siapa takut?. Jodi itu tidak ada apa-apanya buatku. Ayo maju!. akan aku tunjukkan kekuatanku yang sebenarnya pada mu!" Respon Alex merasa senang, karena dia yakin mampu mengalahkan Jodi.