Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Keberuntungan Arya


Satu jam melakukan perjalanan, dan belum begitu jauh dari pantai. Tiba tiba kening Arya berkerut dalam. karena aura kesadarannya merasakan, ada segerombolan ikan yang sedang berenang menuju ke pantai. Padahal jarak pantai dengan kapalnya sudah mencapai 65 mil laut.


Jumlahnya sangat banyak sekali, dan besar besar pula. Sigap dia menghubungi Arga dan Yang Cha, untuk mengerahkan anak buahnya, guna mengurung ikan ikan itu di suatu tempat, karena posisi kapalnya yang paling dekat dengan ikan ikan tersebut.


"Arahkan kapal ke arah jam 3. Cepat!"


"Lima puluh meter lagi lepaskan jaring. Sekarang!" Teriak Arya cukup kuat, hingga mengejutkan. semua orang.


Dengan sigap. Para awak kapal yang ada di kapal itu melepaskan jaringnya, dan membentuk sebuah lingkaran besar, yang mengelilingi gerombolan ikan berwarna putih pipih tersebut.


Sekejap saja seluruh kawanan ikan-ikan itu sudah masuk ke jaring, dan tidak bisa kemana-mana.


"Yea berhasil!" Seru Arya.


"Bersiap untuk menarik jaringnya dalam hitungan 3. Tarik!" Serunya lagi.


"Apa? Kita baru sebentar melemparkan jaring, tapi sekarang diminta untuk ditarik kembali. Apa-apaan ini?" Reaksi seorang awal kapal meragukan instruksi Arya.


"Apa kamu mau aku pecat?. Kalau ketua sudah mengatakan tarik ya tarik, kenapa malah bengong?" Teriak pemilik kapal marah pada pekerjanya.


"Ma ma maaf saya bos!. Ta ta tapi...?"


"Tidak ada tapi tapi! Cepat lakukan sebelum ikan ikan itu lepas!" Hardik pemilik kapal marah pada anak buahnya.


"Baik bos!"Responnya. Kemudian berteriak lantang pada anak buahnya.


"Tarik!"


Segera setelah itu mesin otomatis penarik jaring pun bekerja. dan secara tiba-tiba terdengar teriakan dari arah ruangan kokpit atau ruang kemudi, yang dilakukan oleh seorang kapten kapal, yang biasanya menangani kapal besar tersebut.


"Bagaimana mungkin? Beratnya terus bertambah. Sebelumnya hanya puluhan kilogram, sekarang sudah mencapai 95 kilogram?"


"Eh. naik terus. 150. 200, 700 1000. Beratnya terus naik!"


"Bos ini luar biasa! Beratnya terus bertambah. 1500, 2700 4600, 7000 kilogram. Luar biasa!" Teriaknya cukup lantang.


"Apa? Tujuh ribu kilogram. Apa kapten yakin?"


"Lihat penghitung berat hasil tangkapan. Bukankah itu terus naik seiring semua jaring terangkat ke kapal?" Jawabnya.


"Kapten benar. Bahkan sekarang beratnya sudah mencapai 7.500 kilogram."


"Sebuah tangkapan awal yang sangat bagus! Aku tidak menyangka tuan muda itu bisa mendeteksi adanya ikan di lautan yang masih dangkal ini."


"Tapi ternyata sebuah keberuntungan besar, karena hasil tangkapan pertamanya sudah mencapai 7,5 ribu kilogram."


"Kalau ini diteruskan, aku yakin 6 buah kapal itu akan penuh semuanya dengan berbagai macam ikan."


"Ini adalah sebuah keberuntungan. Selama belasan tahun aku mengarungi lautan ini, belum pernah mendapatkan hasil tangkapan yang sebesar itu. apalagi ini bawal putih. Harga sekilonya saja sudah mencapai ratusan ribu rupiah. belum lagi ikan-ikan yang lain."


"Tuan muda itu benar-benar orang yang sangat beruntung." Ujar Rohan pada asistennya.


"Bawal putih! Ya ini benar benar bawal putih! Aku harus mendapatkannya!" Ujar seorang pengusaha pada teman sesama pengusaha ikan di atas kapal yang bersama dengan Arya.


"Tidak bisa! Setidaknya masing masing dari kita mendapatkan satu ton ikan segar ini. Aku sanggup membayarnya dengan harga mahal." Bantah temannya.


"Ketua!. Izinkan saya membeli semua ikan ikan ini. Harga perkilonya 250 rupiah. Bagaimana?" Tanya Jaka pada Arya dan merupakan statusnya terhadap Arya.


"Saya sanggup membayarnya dengan harga 265 ribu rupiah ketua. Bahkan jika ketua menaikkannya menjadi 275 saya sanggup." Ujar yang lainnya pula.


"Harga pasaran tidak serendah itu. Jika dikonversikan dengan harga pasaran dunia, harganya bisa mencapai 479 sampai 490 ribu. Apa kalian akan membohongi ketua agung kita?" Tiba tiba Dave tua maju menengahi perdebatan mereka.


"Tidak apa apa ketua. Toh hasilnya nanti 10% nya untuk organisasi juga. Jadi jika mereka membelinya dengan harga segitu. aku rasa masih pantas." Respon Arya.


Para awak kapal tentu saja terkejut. Mereka tahu harga bawal putih itu sangat tinggi. Sekilonya saja bisa mencapai 400 ribu rupiah. Jika Arya melepaskan ikan ikan itu dengan harga rendah apa dia tidak rugi?" Batin masing masing mereka dalam hati.


"Cepat masukkan bawal putih itu ke palka. Tempatkan pada masing masing tempatnya!" Ujar ketua awak kapal pada anak buahnya.


"Mohon maaf ketua!. Sesuai dengan kesepakatan kami, jika ketua tidak berkeberatan, maka kami akan mengambil ikan bawal itu seharga Rp.300.000. Itupun jika ketua mau menjualnya kepada kami?" Ujar Amarta pada Arya.


"Terima kasih ketua!" Respon Amarta cukup senang.


Kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening Arya.


Satu jam berikutnya. Persepsi Arya, Prana juga dua bawahannya kembali menemukan kawanan ikan dalam jumlah banyak. setelah mereka berlayar cukup jauh ke tengah lautan. Diperkirakan jumlahnya mencapai 3000 ekor, dan semuanya besar besar pula


Tapi ikan apa belum diketahui oleh mereka, kecuali setelah Arga datang melaporkan dari anak buahnya, bahwa ikan yang ada sekitar 700 meter dari kapal pertama adalah tuna sirip kuning, yang harga perkilonya sudah mencapai ratusan ribu rupiah.


Jika dikalikan dengan jumlah sebanyak itu. dikalikan pula dengan berat per ekornya 50 sampai 70 kilogram. Berapa uang yang akan Arya dapatkan?. Tentu sangat banyak sekali.


"Kapal dua dan empat.Tabur jaring mengelilingi perairan di depan sana, sejauh satu kilometer. Bertemu di titik pusat arah jam 9. Setelah mencapai 2000 meter, segera kembali dan tutup di titik tengah. Kerjakan!" Instruksi Arya pada dua orang kapten melalui Handi talky nya.


"Dimengerti tuan muda!" Jawab mereka serempak.


"Ayo arungi perairan ini, dan taburkan jaring setelah dekat dengan riak itu. Aku yakin itu kawanan ikan yang cukup banyak!" Ujar Sapta pada awak kapalnya sambil memperbesar objek yang ada di depannya tersebut, melalui teropong yang selalu di bawanya.


"Ayo kita bekerja! Tunjukkan bahwa kita juga akan mendapat keberuntungan." Respon mereka serempak, hingga menarik perhatian penumpang kapal lainnya.


"Lapor jenderal. Pemuda itu bukan orang sembarangan. Dari data yang kami temukan. Dia terlahir sebagai anak yatim piatu. Dipelihara oleh seorang nenek tua dekat kampung Jatimulya."


"Tidak ada yang sepesial darinya, kecuali suatu keajaiban saat dinyatakan hilang dulu dan ditemukan masih hidup."


"Akhirnya dia pindah dari kampung tersebut, dan menetap di kota Seraya. Berkawan baik dengan pak Satya, pengusaha berlian dari ibukota."


"Berkat kedekatan mereka, akhirnya pemuda tersebut berhasil mendirikan sebuah rumah makan, dan sekarang sudah berubah menjadi restoran yang cukup terkenal, berkat dua menu andalannya."


"Sebagai tambahan. Dia masih berstatus sebagai seorang siswa, di SMA Tunas Bangsa. dan sudah berada di kelas 12."


"Berkat ketekunan dan keahliannya. dia berhasil menyembuhkan beberapa orang kaya, termasuk tuan Dave yang kaya raya itu. dan beberapa bulan kemudian. ditetapkan sebagai ketua agung di sebuah organisasi perdagangan cukup besar di negara ini." Ujar kolonel Arma, melaporkan pada jenderalnya.


"Ikuti terus perkembangannya. Aku penasaran dengan ilmu yang dimiliki anak itu. Mata sakti ku tidak bisa menembus apa yang ada di dalam tubuhnya. Seperti ada lubang hitam tak berdasar di dalamnya."


"Kemungkinan pemuda itu yang sedang aku cari, untuk membantu ku menembus level langit puncak. Dikarenakan kultivasi ku mandek di tingkat itu, dan tidak bisa naik lagi." Jawab jenderal Reksa pada ajudannya.


"Benar seperti yang senior katakan. Kultivasi ku pun mandek di level langit pertengahan. Jika benar seperti yang senior Reksa katakan, maka level ku kemungkinan bisa naik setingkat lebih tinggi."


"Tapi yang aku herankan. Kenapa senior Reksa yang ilmunya paling tinggi di antara para Jenderal yang ada, tidak bisa melihat kedalaman ilmu yang dimiliki oleh pemuda itu. Ada apa sebenarnya?" Ujar jenderal Bima, menguatkan pendapat dari seniornya tersebut, sekaligus merasa penasaran


"Untuk itu aku sendiri tidak tahu. Jika kau bertanya padaku, maka aku bertanya pada siapa?" Jawab Reksa apa adanya.


"Ha....?"


"Lapor jenderal!. Searah jarum jam 12.00, di titik koordinat 360 lintang Utara, terdeteksi ada dua buah kapal besar yang sedang berlayar memasuki perairan kita."


"Bendera yang mereka gunakan bukan dari negara kita, dan ketika dihubungi mereka tidak merespon. Apa yang harus kita lakukan jenderal?" Ucap kapten kapal pada bosnya.


"Mau apa lagi? Kejar dan hadang mereka!" Jawab Reksa.


"Siap laksanakan jenderal!" Respon kapten kapal berpangkat mayor itu patuh. kemudian menginstruksikan kepada jajarannya untuk bersiap.


"Mohon maaf ketua!. Kami jalankan tugas dulu.Karena ada sedikit gangguan di depan sana." Ujar Reksa melalui saluran kapal pada Dave tua.


"Dimengerti jenderal!. Silakan laksanakan tugas dulu. Setelah selesai, dimohon untuk kembali ke sini." Jawab Dave tua menanggapi bentuk kesopanan, dari Jenderal Reksa sahabatnya tersebut cukup ramah.


"Oke terima kasih!" jawab Reksa senang. Kemudian memerintahkan pada anak buahnya, untuk menambah kecepatan, guna menuju ke dua titik kecil yang ada di koordinat yang baru saja di dapatkan.


Sementara itu di bagian Arya, atau tempatnya di kapal 2 dan 4. Apa yang telah diinstruksikan kepada mereka, sudah mereka lakukan.


Kapal pertama menaburkan jaring di titik koordinat 275, kemudian berlayar sekitar 899 meter. Dan berbelok ke kanan. Sementara kapal kedua.Berlayar dari titik dijatuhkan jaring pertama, berlayar ke arah selatan. Kemudian setelah mencapai 1 kilometer, mengarahkan kapalnya ke sebelah kiri, untuk bertemu di titik koordinat yang sudah mereka sepakati.


"Terus kurung ikan-ikan itu.Jangan biarkan mereka lepas!"


"Lihat kapal dua dan empat, keduanya sudah bertemu, dan sedang menarik jaring bersama sama. ikan apa yang akan mereka dapatkan?" Seru salah seorang pengusaha pada temannya.


"Senior Prana. Tolong gantikan posisi ku di kapal ini. Minta ketua dua untuk mengakomodir hasil tangkapan di sana." Bisik Arya pada anak buahnya. Kemudian menghilang dari hadapan Prana, dan muncul di atas kapal berbendera asing itu, bersama dengan ribuan anak buahnya.