
"Berapa kalian dibayar oleh Teddy untuk menghancurkan tempat usaha ku?" Tanya Arya cukup tegas.
"Tidak ada yang menyuruh kami melakukan pengrusakan ini, kecuali atas keinginan kami sendiri."
"Jadi kau jangan mengada ada. Kami bukan kacungnya!" Jawab Teja cukup tegas dan berani pula.
"Benarkah?. Bagaimana kalau dengan yang ini?"
"Mungkin kalian akan berubah pikiran?" Reaksi Arya cukup mengejutkan mereka. Sambil memberikan saran kantong kecil berisi benda berharga.
"Apa ini?" Respon Teja mulai merasa penasaran.
"Kau buka saja!" Jawab Arya cukup cuek.
"Ha!, emas?"
"Darimana kau mendapatkannya?" Reaksi Teja kembali merasa penasaran.
"Dari mana aku mendapatkannya itu tidak penting. yang penting adalah, apakah benar kalian dibayar oleh Teddy untuk menghancurkan tempat ku ini?" Jawab Arya menolak menjawab pertanyaan dari Teja barusan.
"Apa jaminannya kalau aku menjawab iya?. dan apa jaminannya kalau kami menjawab tidak?" Ucap Teja butuh ketegasan.
"Kalau jawabannya iya, maka kau harus menceritakan pada kami alur-alurnya. Siapa dan berapa kalian dibayar oleh mereka."
"Jika jawabannya memuaskan, maka emas emas itu akan menjadi milik kalian."
"Tapi jika kau berbohong dan mencoba menipu kami, maka kondisi kalian akan tetap seperti itu. Lumpuh!. Bagaimana?" Jawab Arya menjelaskan apa adanya, tapi penuh dengan ancaman.
"Apakah kau sedang memaksa ku?"Respon Teja ingin penjelasan.
"Siapa yang sedang memaksa siapa, kita tidak tahu?"
"Kita sekarang sedang berbisnis. Kalau kau mau bekerja sama, ya selamat!" Tapi jika tidak, ya terima saja nasib kalian itu." Jawab Arya cukup tenang, tapi membuat lawan bicaranya menjadi ketakutan.
"Baik!. Aku akan menjawabnya dengan jujur."
"Sebenarnya ini bukan kerja dari Teddy, tapi langsung dari ayahnya."
"Dia mengetahui bahwa kau pindah ke kota ini, jadi dia menyuruh kami untuk mengikuti kalian."
"Ternyata kau sudah sukses, bahkan mempunyai tempat usaha pula?"
"Jadi sedikit keluar dari jalur. Aku hanya ingin membuat perintahnya tersebut terlihat dramatis."
"Maka aku dan anak buahku merusak tempat mu ini, dengan alasan itu perintah dari ayahnya Teddy."Jawab Teja berterus terang.
"Lalu siapa mereka?. Apakah dia juga anak buah mu?" Tanya Arya ingin tahu.
"Bukan!. Mereka adalah mata-mata yang disuruh oleh ayahnya Teddy yang aku tidak tahu siapa namanya?"
"Mereka yang telah menunjukkan tempat ini, dan langsung menghubungi kami untuk menghancurkannya. Itupun karena bayaran cukup tinggi."
"Tapi tidak disangka kalian bisa mengalahkan kami." Jawab Teja berterus terang lagi.
"Apakah kau heran?" Tanya Arya pula.
"Ya tentu saja kami heran?. Kenapa anak buah mu yang sebanyak itu tidak mencoba melawan, bahkan terkesan mendiamkan saja?" Jawab Teja ingin penjelasan.
"Itu memang sengaja mereka lakukan, karena jika mereka melawan, maka otomatis mereka akan terlibat juga. Berarti rencana ku tidak akan berhasil?" Jawab Arya terdengar masih mengambang.
"Maksudmu bagaimana?" Itulah reaksi dari Teja karena jawaban Arya belum memuaskannya.
"Dengan merusak tempat ku, berarti kalian sudah bisa dituntut di hadapan hukum, dan kalian tidak bisa menafikannya."
"Kebetulan aku kenal dengan petinggi dari kepolisian, hanya tinggal telepon saja, maka mereka berdua akan datang dengan ratusan anak buahnya."
"Jika mereka sudah datang karena adanya laporan, kau tentu tahu apa yang akan terjadi pada kalian?"
"Tapi sebelum itu terjadi. Aku tawarkan suatu kerja sama dengan ku." Jawab Arya memberikan penjelasan sekaligus memberikan penawaran.
"Bekerjasama bagaimana?. Apakah harus menjadi anak buah mu?. Jangan mimpi ya?" Reaksi Teja tidak terduga.
"Oh kalian belum pantas untuk menjadi anak buah ku!, karena aku lihat kalian begitu lemah. Apalagi setelah tubuh kalian itu lumpuh seperti itu."
"Jika ingin sembuh, maka hanya aku yang bisa menyembuhkan nya."
"Kalau kalian menganggap, bahwa kalian itu hebat, coba lah berdiri!. Aku jamin kalian tidak akan bisa." Reaksi Arya meremehkan mereka.
"Lalu apa yang harus kami lakukan agar bisa terbebas dari kelumpuhan ini?" Tanya Teja seperti mulai terpengaruh dengan ancaman Arya itu.
"Mudah saja!. Kembali ke tempat kalian, dan hajar orang yang bernama Teddy beserta ayahnya itu."
"Rusak juga rumahnya seperti kau merusak tempat ku ini.!"
"Jika kau tidak mau, ya teruslah dengan kelumpuhan kalian itu."
"Tapi jika kalian mau, maka buat lah perjanjian!" Jawab Arya berusaha menekan.
"Baik, baik, baik!. Kami akan melakukan seperti yang kau perintahkan itu!"
"Tapi tolong kami dulu. kami tidak mau selamanya lumpuh." Reaksi Teja kelihatan tidak berdaya.
"Apakah kalian bisa dipercaya?" Ucap Arya pura-pura bertanya.
"Kami dari kelompok Black Tiger selalu setia memegang janji!. Sebab jika kami mengingkari, maka langit dan bumi akan menghukum kami!" Jawab Teja tegas dan tanpa ragu-ragu lagi.
"Black Tiger ya?. Sepertinya aku pernah mendengar nama kelompok kalian itu?"
"Apakah kalian bukan berasal dari kota ini?" Respon Arya tiba tiba teringat sesuatu.
"Kami memang bukan berasal dari kota ini, tapi dari kota sebelah."
"Kami bernaung di bawah kendali seseorang yang bernama Tanu, yang sudah merajai terminal selama belasan tahun."
"Sedangkan kami ini boleh dikatakan cabangnya saja." Jawab Teja menjelaskan apa adanya.
"Oh Ternyata begitu. Tanu ya?"
"Ternyata diam diam kau mempunyai kelompok sendiri?. Tapi di kampung kau kelihatan sangat alim. Dasar munafik!" Batin Arya dalam hati. karena dia tidak mau orang-orang itu mengetahui kisahnya dengan orang yang bernama Tanu tersebut.
"Sekarang mendekat lah!, karena aku akan menyentuh tubuh kalian satu persatu."
Aku akan mengobati kalian."
"Senior Alex dan senior Jodi juga kalian yang lain! Tolong bawa mereka ke sini."
"Karena aku akan menyembuhkan mereka." Ucap Arya memberi perintah pada anak buahnya.
"Siap bos!" Jawab Alex dan Jodi berbarengan.
Kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengangkat tubuh-tubuh mereka, agar semakin dekat dengan lokasi duduknya Arya.
"Bagus!. Itu baru yang terbaik." Reaksi Arya senang
Kemudian menyentuh tubuh mereka agar bisa berjalan. Ajaib, tubuh yang semula lumpuh, sekarang sudah bisa berdiri bahkan berjalan
"Sekarang kalian sudah aku sembuhkan tapi tidak seluruhnya."
"Tiga hari dari sekarang, tubuh kalian akan lumpuh lagi, kecuali kalau kalian melaksanakan perintah ku barusan."
"Hajar Teddy dan ayahnya itu. Buat mereka lumpuh untuk sementara."
"Rusak juga rumahnya!. Hancurkan barang-barang yang ada di dalamnya. Tapi jangan dicuri."
"Biar dia tahu ada istilah senjata makan tuan."
"Setelah itu segera menghilang, dan jangan muncul setelah keadaan aman."
"Jika kalian sudah melaksanakan perintah ku, maka kalian akan terbebas dari kutukan." Ucap Arya memberi arahan, dan sedikit ditambah tambahkan kalimatnya agar Teja dan anak buahnya merasa ketakutan.
"Sekarang pergilah!. Kerjakan perintah ku kalau kalian mau selamat." Ujarnya kemudian.
"Bagaimana dengan emas itu?. Apakah jadi diberikan pada kami?" Respon Teja cukup menggelikan.
"Ambillah!. Gunakan itu untuk membayar anak buah mu."
"Tapi ingat!. Semua yang terjadi nanti. tidak ada sangkut pautnya denganku."
"Jika kalian berani berkhianat, maka bersiaplah untuk aku hancurkan." Jawab Arya cukup mengejutkan.
"Baik!. Kami tidak akan melibatkan kalian."
"Semua yang terjadi nanti adalah tanggung jawabku juga anak buahku."
"Jadi kau tenang saja!" Jawab Teja tegas
"Sekarang kami pergi dulu. Permisi!" Ujarnya lagi. Kemudian mengajak teman-temannya untuk pergi.
"Kenapa bos lepaskan mereka?. Apakah bos tidak khawatir jika mereka menghianati bos?" Tanya Alex merasa khawatir.
"Kau tenang saja!. Mereka tidak akan berani berbuat macam-macam, karena secara diam-diam aku sudah memasang jebakan ditubuh mereka."
"Jika mereka berani berbuat macam-macam, tanggung sendiri akibatnya!" Jawab Arya cukup melegakan.
"Kami percaya dengan bos, dan selalu mendukung apa yang bos lakukan." Respon Alex merasa senang.
"Terima kasih!.Sekarang bereskan barang-barang itu. Malam ini kita tutup." Reaksi Arya dengan ekspresi senang.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang itu bos?. Mereka masih tersangkut di sana." Tanya Jodi ingin arahan.
"Biarkan saja!. Toh mereka sudah pingsan juga."
"Tengah malam nanti akan ada orang yang memindahkan mereka dan membuang mereka ke hutan." Jawab Arya cukup mengejutkan.
Kemudian tanpa memperdulikan tatapan jaranan dari anak buahnya dia masuk ke dalam dengan mengajak Alex dan Jodi untuk ikut dengan
Sementara anak buahnya yang lain sedang sibuk mengemasi kursi dan meja yang berantakan.
Mana yang patah mereka singkirkan, dan yang masih bagus mereka tegakkan kembali. Beruntung tenda yang dipasang itu tidak rusak. jadi Arya hanya perlu mengganti kursi dan meja yang patah itu besok.
Pada pagi harinya, Arya sudah bangun duluan, karena dia memang sudah terbiasa sejak dulu. Apalagi ketika ibu yang mengasuhnya masih ada
Sedangkan teman temannya masih tertidur pulas. Kebetulan dalam satu kamar itu mereka ditempatkan bertiga, jadi apapun yang terjadi mereka sedikit banyaknya tahu.
Namun saat Arya pergi itu mereka sudah tertidur pulas, walaupun saat itu masih pukul 08.00 malam. Tapi karena aktivitas mereka yang cukup banyak, membuat tubuh mereka jadi kelelahan.
"Ayo bangun!. Sudah siang juga!"
"Sebentar lagi pukul 08.00, dan kita sudah harus mengikuti perlombaan."
"Jika kalian bangun terlambat, maka tubuh kalian akan lemah." Ucap Arya pada temannya. sambil menarik selimut yang mereka gunakan.
Tepat pukul 08.00 pagi, mereka semua sudah berkumpul di lapangan pertandingan. yang hari ini agenda utamanya adalah lari bergengsi 100 meter, 200 meter, dan 400 meter bergantian.
Tim Arya yang sudah sangat siap menjadi bersemangat sekali. Begitu juga dengan tim putri.
Sekarang mereka sudah terlihat akur. Tidak lagi saling mengata dan gontok gontokan. terutama Natasha pada Arya.
Sikapnya sekarang sudah semakin baik, dan tidak pernah lagi mengopsipkan Arya yang macam-macam.
Entah bagaimana dampak dari pertandingan itu, sikapnya tiba-tiba berubah, padahal selama ini dia terkenal sangat membenci Arya. Namun kali ini sepertinya dia sudah mulai menyukai Arya, walaupun dia tahu akan ada saingan.
Namun dia tidak peduli. Walaupun kecewa setidaknya dia sudah merasa pernah mencintai Arya.