Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Juara umum


"Hah, Sudahlah. Masa bodoh!. Emang gua pikirin?" Reaksi Arjun tidak senang, dan seperti ingin


lepas dari tanggung jawabnya.


Padahal keluarnya Arya dari sekolah itu, disebabkan oleh dia. Karena pada dasarnya, Arjun tidak menyukai Arya, menurutnya waktu dia bersekolah dulu, Arya tidak bisa berbuat apa-apa. Selalu terlambat datang, dan jarang mengerjakan tugas tugasnya. Padahal Arya merupakan siswa tercerdas, dan selalu mengerjakan apa saja yang diperintahkan oleh guru. Tapi di mata Arjun, Arya tidak bisa apa apa.


Sebaliknya Teddy yang sebenarnya jahat dan licik itu, malah menjadi siswa kesayangannya. Berarti situasi tersebut tidak adil buat Arya.


Kini setelah Arya menunjukkan jati diri yang sebenarnya, barulah mata Arjun terbuka lebar. Padahal waktu pertandingan tersebut. dia tidak ada ditempat itu.Tapi berkat temannya yang bernama Samudji. atau pak Sam, Arjun jadi tahu, bahwa Arya sebenarnya siswa yang paling hebat.


Oleh karena itu, dia bergegas datang, setelah mendapatkan izin dari kepala sekolahnya, dan langsung menemui Arya, untuk membujuk Arya agar mau kembali ke sekolah tersebut. Tapi malangnya Arya menolak dengan tegas, bahkan berani mempermalukan wali kelasnya dulu.


Arjun tentu saja marah dan tidak senang. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Arya sekarang bukanlah siswa sekolah itu lagi, karena dia sudah dibuang, dengan cara dikeluarkan dengan tidak hormat waktu itu. Jadi Arjun tidak bisa berbuat apa-apa, selain bersungut sungut kasar, saat meninggalkan temannya yang bernama Samudji itu. Dia juga mengumpat Arya habis habisan. demi untuk melampiaskan rasa kesalnya pada Arya.


Keesokan harinya, Arya sudah bangun pagi pagi sekali, dan sudah siap untuk melakukan pertandingan. walau waktunya masih cukup lama. Tapi dasar Arya. walau diyakini bakal menang, Dia tetap melakukan latihan sebelum pertandingan.


Akhirnya waktu pertandingan pun tiba. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Arya dan yang lainnya, sudah berada di lapangan olahraga, untuk melakukan pertandingan semifinal, dan akan dilanjutkan dengan pertandingan final beberapa jam setelahnya.


"Bersiap!" Ujar wasit memberi aba aba.


Door!


Arya yang waktu itu tidak fokus pikirannya, terpaksa ketinggalan satu detik, tapi di detik berikutnya, Arya berlari menyusul mereka, dengan cara berlari kencang. bagai anak panah yang lepas dari busurnya, melewati yang lain, dan sampai di garis finish 10 detik kemudian.


"Pemenang perlombaan pertama yang berhak maju ke babak final adalah Arya, dari SMA Tunas Bangsa!" Ujar seseorang melalui pengeras suara yang dipasang di tempat itu.


"Mantap!. Arya semakin menunjukkan performa terbaiknya. Mudah mudahan setelah ini, Dadung dan Drajat, juga mampu mengukir prestasi yang sama." Ujar Siska, guru olahraga dari SMA tersebut merasa senang.


"Luar biasa anak didikmu itu buk Siska!. Lawan lawannya ketinggalan jauh dari murid mu itu. Mereka hanya mampu mengukir rekor 13 sampai 15 detik saja. Sedangkan anak didikmu, mampu mengukir rekor 10 detik. sebuah prestasi yang sangat luar biasa."


"Kami yakin, anak didikmu itu yang akan menjadi wakil provinsi, untuk berlaga di tingkat nasional." Reaksi Rosalina, salah seorang guru olahraga, dari SMA yang ada di ibukota provinsi itu.


"Aku juga berharap demikian buk Ros, karena aku melihat talentanya yang cukup tinggi. Padahal dia itu siswa pindahan, dan baru beberapa bulan masuk ke sekolahku." Respon Siska juga berharap tinggi pada Arya.


"Siswa pindahan?" Tanya Paulina keheranan.


"Ya. Dia itu siswa pindahan, yang katanya dikeluarkan dari sekolah, karena sudah beberapa hari tidak masuk. Beruntung dia diberi surat pindah, agar bisa melanjutkan pendidikannya ditempat lain." Jawab Siska berterus terang.


"Tunggu dulu!. Sepertinya wajahnya tidak begitu asing buat mata ku?" Ucap seseorang mengagetkan mereka.


"Ada apa pak Roby?. Apakah bapak mengenalnya?" Respon Paulina keheranan.


"Kenal sih tidak, tapi aku pernah melihat dia di koran, juga di siaran televisi waktu itu. Kalau tak salah, dia itu Arya, yang sempat hilang waktu itu, dan sempat membuat tim SAR kewalahan, karena tidak bisa menemukan keberadaannya saat hilang tersebut." Jawab guru yang bernama Roby itu apa adanya.


"Apa?. Ternyata yang ada dalam berita waktu itu adalah dia?. Benarkah begitu buk Siska?" Reaksi Rosalina ingin tahu semuanya.


"Menurut yang aku dengar, ya seperti itu?. Tapi cerita yang sebenarnya aku kurang tahu, karena Arya orangnya tertutup, dan tidak mau mengenang masa lalu." Jawab Siska berdiplomasi.


"Oh begitu?. Tapi yang penting kita sudah sama sama tahu, bahwa anak yang dibuang itu ternyata sangat luar biasa"


"Mudah mudahan, peserta dari sekolah mu bisa membawa nama provinsi kita menjadi lebih baik. Tidak seperti tahun tahun sebelumnya.selalu kalah, dan menempati posisi ke ke 23 saja, dari puluhan provinsi yang ada di negara ini." Ucap Rosalina terkesan tulus.


"Aku juga berharap begitu." Reaksi Siska juga penuh dengan pengharapan.


"Pemenang dari sesi ke lima ini, masih dari SMA Tunas Bangsa, dengan waktu terbaiknya 12.03 detik. mengalahkan peserta dari sekolah sekolah lainnya!" Ujar pembawa acara, mengumumkan kemenangan Dadung dengan waktu terbaiknya itu.


"Wah ini benar benar luar biasa!. Sepertinya tahun ini merupakan tahun emas buat sekolahmu bu Siska?"


"Tiga peserta laki laki, semuanya masuk babak final, dan akan berlaga dengan pemenang dari sekolah lain." Respon Paulina merasa senang, padahal peserta dari sekolahnya semuanya kalah.


Tapi demi menunjukkan solidaritasnya yang tinggi, dia tetap sportif mendukung tim lawan, yang mampu mengalahkan beserta dari sekolahnya.


Satu setengah jam kemudian, babak final lari bergengsi 100 meter pun digelar. Delapan peserta dari SMA terbaik di provinsi itu, sekarang sudah berada di treknya masing-masing, dan akan memperebutkan posisi 1, 2 dan 3, untuk dikirim ke tingkat nasional.


"Bersiap!" Suara aba aba dari wasit terdengar kembali, dan..


Door!


Suara tembakan terdengar, menandakan bahwa lari bergengsi 100 meter sudah dimulai. Arya yang berada di trak ke delapan, melesat dengan cepat ke depan, mendahului peserta lain. dan 9 detik kemudian. Sampai ke garis finis, mengalahkan peserta lain, yang hanya mampu mengukir kecepatan dibawah 11.7 detik saja, yaitu peserta dari SMA tunas Karya, yang bernama Janu itu.


Dengan demikian, Arya berhak menjadi wakil provinsi, untuk berlaga di tingkat nasional, dan tidak lama lagi ke tingkat dunia.


Bukan hanya Arya saja yang terpilih menjadi wakil provinsi. Dadung dan Drajat, serta seorang peserta yang menduduki peringkat empat, juga ikut dipilih, tapi hanya sebagai cadangan saja.


Peserta yang dipilih itu adalah Janu, hingga membuat pendamping dari sekolah tersebut menjadi malu. karena anak didiknya hanya menjadi pelengkap penderita saja.


Tapi apa boleh buat. Keputusan juri sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Anak didiknya hanya mampu mengukir waktu 11,7 detik saja. Satu detik dibawah Dadung, dan 1.5 detik dibawah Drajat. Jadi otomatis dia dinyatakan kalah. dan hanya menempati posisi cadangan saja.


"Sekarang aku baru menyesal. Ternyata Arya yang aku buang itu, merupakan siswa terbaik di sekolah lain. Aku telah salah menilainya." Batin Arjun dalam hati penuh penyesalan, sesaat setelah Arya dinyatakan sebagai pemenangnya.


Kemudian dengan rasa malu dan penuh penyesalan, Dia pergi meninggalkan tempat itu, dan kembali ke kotanya.


Satu setengah jam berikutnya, lompat galah, yang juga menjadi event pada saat itu, sudah selesai diperlombakan, setelah tim putri lari bergensi 100 meter, menyelesaikan tugasnya.


Peserta dari SMA Tunas Bangsa yang menjadi wakilnya, yaitu Amanda, Noviana dan Natasya Bella, berhak menjadi wakil provinsi, untuk berlaga di tingkat yang lebih tinggi. karena mereka juga berhasil mengalahkan lawan-lawannya dalam lompat galah yang diadakan hari itu.


Selain mereka bertiga, dipilih juga dua peserta cadangan, yang akan menggantikan salah seorang diantara mereka jika berhalangan.


Waktu lompat galah di sekolah itu, Arya hanya mampu mencapai lompatan 5,3 meter saja. itupun karena galahnya patah waktu itu. Sekarang Arya mampu melewati mistar setinggi 7,6 meter, suatu prestasi yang sangat luar biasa. Sementara lawan-lawannya, hanya mampu melewati mistar setinggi 5 meter saja, dan itu pun mistar nya banyak yang jatuh. Hanya seorang yang mampu melewatinya dengan baik.


Tiga jam kemudian. Semua peserta lomba, sudah menyelesaikan waktu istirahatnya. Kini giliran lomba lompat jauh dilaksanakan, dan hasilnya tetap sama. Seluruh peserta dari SMA Tunas Bangsa, ditambah dengan dua orang peserta dari sekolah lain, ditetapkan sebagai pemenangnya, dan berhak mewakili provinsi untuk berlaga di tingkat nasional.


Di cabang lompat tinggi, dan lari estafet 400 meter, wakil dari SMA Tunas Bangsa juga berhak maju. untuk menjadi wakil provinsi, bersama dengan tiga sekolah lainnya.


Jadi otomatis yang keluar sebagai juara umumnya, adalah peserta dari SMA Tunas Bangsa, dan berhak menduduki peringkat pertama di provinsi tersebut.