
Satu hari kemudian. Tempat yang malamnya berantakan, sekarang sudah menjadi rapi. Meja dan kursinya yang rusak, pun sudah diganti yang baru.
Begitu juga dengan tendanya. Beberapa tiangnya yang rusak atau patah, sudah di tukar dengan yang baru juga. Semua itu dikerjakan oleh Jodi dan anak buahnya.
Dibantu pula oleh Tanu, Alex dan anak buahnya pula, sebagai bentuk hukuman atas perbuatan mereka yang semena mena pada Arya. Setelah itu baru diusir untuk pergi.
"Apa yang terjadi nak Arya?. Kenapa tempat ini terlihat berantakan?" Tanya pak Satya, atau yang bernama lengkap Satya Permana dengan ekspresi penasaran.
"Oh pak Satya. Saya kira siapa?". Kapan datang pak?" Respon Arya malah balik bertanya.
"Belum lama juga. Kebetulan mendengar kabar dari karyawan bapak tadi, katanya tempat usaha mu di rusak orang?" Jawab pak Satya berterus terang.
"Iya nih pak. Ada orang usil yang tidak suka kalau usaha orang lain maju, karena usahanya menjadi tersaingi. Jadinya merusak tempat usahaku malam tadi." Jawab Arya sedikit berbohong karena dia tidak mau mengatakan apa adanya juga.
"Apakah kau butuh uang?, setidaknya untuk membeli barang-barang ini. Apakah yang lain ada yang rusak?" Tanya pak Arya mencoba menawarkan jasa.
"Oh untuk saat ini saya rasa belum pak. entah kalau nanti?" Jawab Arya malu malu.
"Tidak apa-apa!. Kalau kamu butuh uang bilang saja sama bapak. mudah mudahan bapak bisa membantu." Reaksinya masih tetap ingin menolong Arya.
Namun Arya tidak menjawabnya dia malah berpikir lain dan seperti ragu-ragu saat dia dalam keraguan seperti itu terdengar pak Satya berkata kembali.
"Oh ya nak Arya?. Ada sesuatu yang ingin bapak tanyakan padamu. Apakah Arya punya waktu?" Tanya pak Satya tiba-tiba.
"Tentang apa itu pak?. Kok tiba tiba begini, buat penasaran saja?" Respon Arya terkesan lucu.
"Nanti saja bapak jelaskan. Sekarang ayo ikut bapak ke hotel dulu. Kebetulan ibunya Amanda sudah mempersiapkan sesuatu untuk kita." Jawab pak Satya kalem saja.
"Wah kalau begitu terima kasih pak!. Kami ramai, takutnya akan menyusahkan bapak."
"Jadi biar kami di sini saja pak. Nanti setelah pekerjaan selesai, dan semuanya sudah pada makan, saya yang akan mendatangi bapak." Respon Arya cukup senang, tapi masih memikirkan nasib anak buahnya.
"Oh tak masalah nak Arya. Kalau mau bawa mereka juga. Kebetulan hidangan yang disiapkan oleh ibunya Amanda menunya cukup banyak. jadi jangan khawatir kalau kita semua tidak bakalan makan di sana." Reaksi Satya sungguh bijaksana.
"Kalau begitu terima kasih pak. Saya akan tanyakan dulu apakah mereka mau ikut atau tidak?" Jawab Arya menolak secara halus ajakan itu, karena dia merasa sangat sungkan.
"Bagaimana Jodi?. Pak Arya menawarkan pada kita, untuk makan bersama di restoran hotelnya. Apakah kalian mau ikut?"Ujar Arya bertanya pada mereka.
"Kami terserah bos saja!. Kalau di sini pun kami tidak apa-apa. Kami bisa membeli nasi bungkus di rumah makan di sebelah sana." Jawab Jodi tulus, sambil mengarahkan telunjuknya ke arah depan.
Sialnya Arya mengikuti arah telunjuk Jodi, karena dia merasa penasaran. Dalam radius 500 meter, tidak ada rumah makan yang buka. karena semuanya bangunan pertokoan. Tapi kenapa Jodi mengatakan tak jauh dari situ ada rumah makan?"
"Ah kau ini?. Mana ada rumah makan di dekat sini. mengarang saja kau itu Jodi." Reaksi Arya merasa dipermainkan. Padahal sebenarnya dia tahu, bahwa anak buahnya itu menolak ajakan tersebut secara halus, karena mereka mungkin merasa sungkan.
"Oh ya?. Kapan kira-kira rumah makan ini kalian buka?. Sekali-sekali bapak dan keluarga ingin juga makan di sini." Tanya pak Satya tiba tiba, saat dia sudah berada dekat dengan Arya dan anak buahnya itu.
"Kemungkinan besok siang pak?, karena bahan bahannya belum kami siapkan. Menu semalam yang kami masak semuanya basi.Tapi ada juga sebagiannya bisa kami makan, dan sebagainya terpaksa harus kami buang." Jawab Arya mewakili semuanya, karena dia yakin bahwa tempat usahanya tersebut akan dibuka esok hari.
"Oh begitu?. Apakah kalian tidak menyimpan stok kalau sewaktu-waktu dibutuhkan?" Tanya pak Satya tiba-tiba mengagetkan Arya dan anak buahnya.
"Biasanya stok yang kami simpan itu cukup banyak, cukup untuk sehari jualan. Tapi entah kenapa kali ini tidak ada sama sekali?"
"Namun kami berencana untuk membelinya besok, jadi hari ini persediaan belum ada. ya terpaksa harus beli nasi bungkus dulu, demi untuk bisa makan." Jawab Arya berterus terang, dan tidak malu diungkapkan pada orang kaya seperti pak Satya.
"Berbelanja di pasar ya bos? Kok kami tidak kepikiran ya?" Ucapan Arya disambut baik oleh Jodi dan anak buahnya itu, dengan mengatakan hal tersebut. Padahal dia ingin menolak ajakan dari Arya barusan.
"Apakah kali ini kalian tidak mau ikut?" Tanya Arya ingin menguji kesungguhan dari anak buahnya itu.
"Bos saja yang kesana. Lain kali baru kami ikut." Jawab Jodi mengingkari fakta. Padahal sebenarnya dia sungkan kalau ikut bersama dengan Arya.
"Baiklah kalau begitu!. Aku titip rumah makan ini pada kalian. Kalau kalian mau pergi, Jangan pergi semuanya. sisakan dua orang, dan tiganya baru pergi ke pasar. Oke?" Respon Arya cukup lega, tapi sebenarnya hatinya merasa sedih, karena anak buahnya itu menyadari posisinya.
"Siap komandan!" Jawab Jodi dibuat bercanda saja.
"Ingat!. Lain kali bapak mengundang kalian untuk makan di hotel ku ya?Jangan sampai tidak datang." Sambung pak Satya pada mereka.
"Siap bos!. Kami semua akan datang!. Tenang saja!" Jawab Jodi mewakili teman temannya. kemudian meminta izin untuk pergi.
Tak lama kemudian. Arya dan pak Satya sudah berada di dalam restoran, di mana saat itu, mereka sedang ditunggu oleh Amanda dan ibunya untuk makan.
"Seperti yang ibu lihat, kabar saya baik." Jawab hari yang cukup sopan
"Baguslah kalau begitu!" Respon Seruni senang.
Kemudian menyendukkan nasi untuk suami serta Arya. Tapi saat ingin diambilkan itu, Arya menolaknya dengan halus, karena dia tidak terbiasa diambilkan seperti itu. pun itu dianggapnya tidak sopan, kalau Amanda mungkin.
Selama makan tidak ada sedikitpun pembicaraan, karena keluarga pak Satya memegang teguh pada tradisi leluhurnya, yaitu agar saat makan tidak boleh berbicara.
Setengah jam kemudian. acara makan bersama pun telah selesai. Kini Arya dan pak Satya sedang berada di ruangan khusus, yang memang diperuntukkan untuk tempat tinggal bagi keluarganya.
Di tempat itulah Amanda selama ini tinggal, saat bersekolah di SMA Tunas Bangsa milik ayahnya itu.
"Maaf nak Arya kalau bapak lancang!. Ada sesuatu yang ingin bapak tanyakan padamu, yaitu tentang sesuatu yang ditinggalkan oleh ayahmu di rumah itu?"
"Apakah selama nak Arya tinggal di sana, ada menemukan barang barang berharga, sama seperti yang nak Arya jual pada bapak tempo hari itu?" Ujarnya pelan dan terkesan hati-hati.
"Maksud bapak tentang bongkahan-bongkahan emas yang saya bawa itu ya?" Tanya Arya ingin tahu.
"Ya, itulah yang bapak maksudkan. Apakah ada?" Reaksi pak Satya cepat.
Tapi Arya tidak langsung menjawabnya. Dia malah berpikir keras, apakah akan mengatakan sejujurnya atau tidak?, atau mencari cara lain untuk mengalihkan pembicaraan itu, agar rahasianya tidak terbongkar. Namun tak lama kemudian dia sudah bisa mengambil keputusan.
"Sebenarnya ada pak Satya!. Tapi maaf kalau saya tidak bisa mengatakan seluruhnya." Ujarnya berterus terang.
"Tidak masalah!. Sebagian kecil juga boleh, yang penting bapak tahu kalau benda benda itu ada padamu?. Itu saja sudah membuat hati bapak senang!"
"Ya sejujurnya memang ada pak!, tapi untuk apa bapak tanyakan itu?, apakah ada hubungannya dengan pak Satya?" Respon Arya malah merasa curiga.
"Oh tidak!. Hal itu tidak ada hubungan sama sekali dengan bapak. Bapak cuma ingin tahu saja tentang barang-barang itu. kalau memang ada bapak ingin membelinya."Jawab pak Arya cepat dengan niat untuk menghilangkan keraguan di hati Arya.
Tapi Arya belum mau percaya, Karena dia tidak menyangka, kalau pak Satya bisa menanyakan itu.
"Nak Arya jangan takut. Bapak, istri bapak dan Amanda ini adalah orang jujur, dan dapat dipercaya pula."
"Lagi pula kita ini keluarga, karena bapak dulu sudah mengangkat saudara dengan ayahmu, jadi otomatis kau juga adalah keluarga bapak."
"Karena alasan tersebut, bapak memberanikan diri menanyakan masalah itu pada Arya. siapa tahu nak Arya mau menjawabnya?" Jawab pak Satya apa adanya.
"Bagaimana ya pak?. Untuk masalah ini saya harus berhati-hati, karena jumlahnya lumayan banyak."
"Jika didengar orang, Saya takut mereka akan berbondong-bondong datang ke sana dan merampok Arya." Jawabnya masih ragu ragu dan terkesan hati-hati.
"Nak Arya tenang saja! Kami bisa dipercaya. Bapak memang ingin membeli warisan dari ayahmu. Siapa tahu nak Arya mau menjualnya?" Ujar pak Satya tidak terduga.
"Nanti ya pak. kalau saya ingin menjualnya, maka saya akan menjual itu pada pak Satya bukan pada yang lain!" Jawab Arya masih mengambang.
"Bapak harap nak Arya bisa menjawabnya besok, karena bapak di kota ini pun tidak lama. Kemungkinan tiga hari dari sekarang kami berdua kembali ke ibu kota." Respon Satya bertaruh sekarang dan berharap agar Arya bisa berubah pendiriannya.
"kalau bapak memang berminat?, jenis mineral apa yang bapak mau kan?. Emas, permata, intan, berlian atau benda benda lain." Tanya Arya sudah mulai membuka diri dan tiba tiba pula.
"Apakah benda-benda yang kau sebutkan itu ada padamu?" Reaksi Satya kembali senang, kemudian mendesak Arya untuk menjawabnya.
"Iya, semuanya ada!. Bapak hanya tinggal menyebutkannya saja!" jawab Arya berterus terang.
"Kalau begitu bolehkah bapak mengunjungi rumahmu, dan melihat benda-benda itu?" Tanya Satya sudah tidak sabaran.
"Kalau untuk masalah itu, maaf, saya tidak bisa mengabulkannya. Tapi kalau bapak berminat, bapak cukup mengatakan berapa banyak yang bapak maukan?, maka saya akan membawanya untuk bapak." Jawab Arya tegas, dan berusaha menolak permintaan dari kliennya barusan.
"Deal!. Untuk sementara emas saja dulu, tapi jumlahnya cukup banyak. sekitar 20 kilo. Apakah nak Arya memilikinya." Respon Satya cepat dan langsung menyebutkan jumlah yang ingin dia beli.
"Saya akan membawanya besok. Kalau hari ini mungkin belum bisa?" Jawab Arya berterus terang.
"Jangan besok!. Tapi kalau bisa sekarang!. Karena bapak juga yang lain sudah tidak sabar ingin melihat seberapa banyak emas 20 kilogram itu?" Responnya sudah tidak sabar lagi.
"Baik!. akan saya usahakan hari ini juga!" Jawab Arya tegas. kemudian meminta izin untuk mengambil barang pesanan tersebut.