Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Hotel Mandala


Keesokan harinya, Arya kembali menjadi manusia biasa, dan menjalani rutinitas sehari hari sebagai seorang siswa, yang harus patuh terhadap tata tertib sekolah, sama seperti siswa lainnya, tanpa harus ada perbedaan yang mencolok.


Maka hari ini, dia dan timnya, saat itu sedang berada di depan kepala sekolah, serta tiga orang guru olahraga, dan empat wakil kepala sekolah, untuk membicarakan masalah keberangkatannya ke ibukota.


"Sesuai dengan jadwal pertandingan, walau sempat diundur dua kali. Maka rencana yang ketiga ini tetap akan dilaksanakan, walau pihak panitia katanya kekurangan biaya, terutama masalah akomodasi bagi para atlit. namun pertandingan atletik tingkat nasional tetap akan dilaksanakan."


"Untuk itu bapak berharap, agar kalian tidak kecewa saat ditempatkan di penginapan tanpa AC atau kipas angin."


"Anggap saja ini sebagai latihan?" Ucap Sentanu dengan perasaan sedih.


"Apa bapak tahu siapa ketua panitianya?" Tanya Arya tiba tiba.


"Kebetulan bapak tahu. Dia masih ada hubungan keluarga dengan bapak. Walau jauh. Oleh karena itu bapak tahu tentang pertandingan itu, dan kesulitan apa yang mereka hadapi?"


"Tapi apa maksud nak Arya menanyakan itu. Apakah ada solusi?"Jawab dan respon Sentanu jadi penasaran.


"Boleh minta nomor teleponnya pak?" Ujar Arya malah tidak menjawab pertanyaan kepala sekolahnya.


"Untuk apa?" Tanya Sentanu penasaran.


"Kasi saja pak. Kami yakin Arya punya solusinya." Sambung Amanda datang menyela.


"Oh iya Nanda!" Reaksi sentanu tanpa banyak bicara lagi. Kemudian memberikan nomor telepon ketua panitia pada Arya.


Empat menit kemudian, masuk berita bagus ke handphone Sentanu. SMS itu mengatakan, bahwa khusus atlit yang berasal dari Provinsi Seraya. Menginap di hotel bintang lima, yang tak jauh letaknya dari lokasi pertandingan.


Mendapat pemberitahuan itu, Sentanu tentu saja keheranan. Bagaimana mungkin atlet dari sekolahnya, bisa ditempatkan di hotel bergengsi seperti Mandala itu. Padahal biaya per malamnya saja sangat tinggi sekali, walaupun di kamar standar.


Namun itulah yang terjadi. jadi sentanu tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang mengatakan itu ketua panitianya sendiri.


"Bapak masih belum paham, bagaimana tiba-tiba terjadi perubahan besar seperti itu?. Padahal rencananya, atlet yang berasal dari provinsi kita, akan ditempatkan di wisma PGRI, yang kapasitas kamarnya terbatas."


"Namun sekarang telah terjadi perubahan besar, di mana kalian akan ditempatkan di hotel bintang 5, milik seorang pengusaha muda, yang katanya berasal dari provinsi ini, tapi siapa?" Ujar Sentanu penasaran. dan seperti sedang berpikir keras siapa sebenarnya orang itu.


Melihat hal tersebut, membuat Arya dan Manda jadi tersipu sendiri. karena orang yang ditanyakan itu ada di depan mereka. Tapi karena harus dirahasiakan. Mereka terpaksa harus diam saja.


"Kok kalian senyum senyum sendiri, ada apa sih?" Tanya Siska penasaran.


"Tidak ada apa apa bu. Kami cuma heran, kenapa kami ini diprioritaskan?. Padahal atlit yang lainnya cukup bagus, tapi kenapa kami yang di utamakan?" Jawab Amanda berterus terang.


"Ya mungkin pemerintah daerah kita yang mengusahakan. Jadi kalian diistimewakan." Jawab Darmadi, guru olahraga yunior Siska mencoba memberi jawaban.


"Ya. Aku yakin juga begitu." Sambung Permana datang menyela pula.


"Jadi keputusannya adalah, anak anak kita akan berangkat ke ibukota, dan tinggalnya di hotel bintang lima."


"Mereka akan didampingi oleh bu Siska, karena dari awal memang dia yang melatihnya. Jika pak Darmadi dan pak Permana ingin ikut, ya boleh juga. Tapi selesaikan dulu tugas tugas di sekolah ini, dan waktunya pun hanya tiga hari saja." Ujar pak Kama atau Sentanu itu menawarkan kesempatan.


"Biar kami tinggal di sini saja pak kepala sekolah, agar tidak membebankan anggaran yang ada."


"Lagipula masih banyak pekerjaan yang belum kami selesaikan." Respon Darmadi mencoba mencari alasan.


"Bukanlah kau ingin pergi ke ibukota?. Inilah kesempatannya. Mau kapan lagi?" Bantah Sentanu mencoba mengingatkan.


"Ya tuh pak Madi juga pak Permana. Kapan lagi waktunya?" Sambung yang lainnya pula.


"Ah bilang saja kalian mau, malah mencari alasan pula?" Celetuk Sentanu mengagetkan, sampai membuat yang ada di situ tertawa berbarengan.


***


Tiga hari kemudian. Seluruh perwakilan dari SMA Tunas Bangsa, ditambah dengan delapan perwakilan cadangan dari sekolah lain. dengan enam guru olahraga nya pula. terlihat sudah meninggalkan kota Seraya, dan sedang menuju ibukota.


Mereka diberangkatkan dengan menggunakan lima buah mobil cukup mewah, Ditambah dengan dua buah bus berukuran sedang, tapi kosong tak berpenumpang, yang khusus disediakan oleh Satya, dan dikawal pula oleh dua belas pengawal Arya, dengan menggunakan dua buah mobil Jeep sebagai pembuka jalan.


Salah satu diantara mereka adalah master Prana, yang tidak pernah absen bila tuannya bepergian.


Empat jam kemudian. Arya dan Rombongannya, sudah berada di depan hotel Mandala, dan sedang menunggu panitia datang.


Namun setelah ditunggu sekitar satu jam, mereka belum juga datang. yang akhirnya membuat Arya dan Manda merasa geram.


"Bagaimana kak?. Apa kita langsung masuk, dan melaporkan kehadiran kita pada grand manager hotel ini, agar guru dan teman teman kita tidak kepanasan?" Tanya Manda meminta pendapat Arya.


"Itulah yang sedang aku pikirkan. Kalau kita langsung masuk, tentu guru dan teman teman kita akan curiga, apalagi kamar yang akan kita tempati itu kamar mewah dan mahal?"


"Namun jika dibiarkan, kasihan juga mereka. Hah aku jadi serba salah." Jawab Arya lirih dan berbisik pada Manda.


"Begini saja kak. kakak kan punya nomor general manager hotel ini?. kenapa tidak SMS dia saja, dan mengatur tempat untuk kita, tapi jangan terlalu mencolok agar yang lain tidak curiga?" Ucap Manda memberi saran.


"Sebenarnya itu yang aku ingin lakukan.Tapi jika dia tahu bahwa aku datang, pasti dia akan buru buru turun, yang pasti bisa membongkar penyamaran kita. Lalu bagaimana, apa kita harus berterus terang pada mereka?" Jawab Arya malah balik bertanya pada Manda.


"Ya terserah kak Arya saja, aku sih ikut apa rencana semula." Jawab Amanda apa adanya.


"Baiklah kalau begitu. dari pada menunggu di tempat parkir ini, lebih baik kita masuk saja, dan mendaftar pada petugas front jaga, agar dicarikan solusi buat kita" Sambut Arya.


"Siapa yang harus kita hubungi Arya. Pak Sentanu tidak tahu menahu masalah ini. Dia saja bingung mau menghubungi siapa. Sementara nomor saudaranya tidak aktif atau sengaja dialihkan?" Ujar Bu Siska kebingungan.


"Ibu tenang saja. Saya akan mengatasi ini secepatnya." Jawab Arya tak terduga. Hingga membuat yang lain jadi penasaran.


"Bagaimana caranya?. Sedangkan kau..?" Respon Siska tidak percaya.


"Percayakan pada nya saja bu Siska. Karena di Seraya, dia yang menghubungi ketua panitia, tentu saja dia yang punya solusinya?" Ujar pak Permana mengingatkan temannya.


"Sudah ayo kita masuk, karena pak Ramon sudah membuka akses nomornya. Dan sudah menghubungi manager hotel ini agar menyambut kita di loby hotel." Ujar Arya tiba tiba, sambil memberi kode pada Amanda.


Tapi belum juga mereka melangkah. General manager hotel itu serta delapan bawahannya, sudah datang, untuk menyongsong Arya, dan langsung menyapa Arya dengan gugupnya. "Tu tu tuan..A?" Ujarnya terbata bata.


"Sst, jangan mencolok!. biasa saja. Aku tidak mau ketahuan.Tapi tolong atur akomodasi ku juga yang lain, karena mereka sudah kelelahan." Responnya.


"Cepat bawa barang bawaan tamu tamu ini. dan masukkan ke kamar yang sudah ditentukan!"


"Mari semuanya. Silakan masuk ke hotel ini. Ketua panitia sudah menghubungi kami tadi, agar menyambut kalian datang." Ucap Barra cukup sopan, tapi sebenarnya itu hanya alasan agar tidak kelihatan gugup.


Tak lama kemudian. seluruh rombongan yang ikut Arya sudah memasuki kamarnya masing masing. Bu Siska sebagai ketua rombongan, ditempatkan pada kamar terpisah, dan sekamar berdua dengan sesama guru olahraga perempuan.


Tapi Amanda harus satu kamar sendirian. Sedangkan teman temannya satu kamar berdua. Begitu juga peserta kaki lakinya.


Sementara Arya di tempatkan di kamar tersendiri, dan menempati kamar yang paling mewah pula. Karena dia tidak bisa menolak, saat barang bawaannya di masukkan ke tempat itu.


Namun tak satu orang pun teman temannya tahu, kalau Arya menempati kamar itu.Yang mereka tahu, Arya saat mereka masuk, sedang sibuk bernegosiasi dengan pengelola hotel tersebut. Jadi jelas saja mereka tidak tahu termasuk guru gurunya.