
"Ada apa kalian mendatangi ku, mau mengajak berantem?" Tanya Arya dengan ekspresi serius.
"Tidak bos!. Kami tidak berani!. Kami datang untuk menyatakan setia kepada bos!" Jawab Badung berterus terang.
"Menyatakan setia?, Bos!. Sejak kapan, dan untuk apa?"Respon Arya keheranan.
"Sejak hari ini dan seterusnya, untuk menjadi anak buah bos!" Lugas Badung menjawabnya.
"Anak buah?. Alasannya?" Respon Arya bertambah penasaran.
"Biar kami bisa menjadi anak baik, dan pintar seperti bos." Jawab Badung berterus terang sekali lagi.
"Humm!.Cukup menarik?" Reaksi Arya singkat.
"Tapi apa kalian tidak membohongi ku, atau sekedar membuat lelucon saja?" Tanya Arya sekali lagi, dan ingin menguji.
"Humm!" Reaksi Badung ragu ragu.
"Tuan. Mereka sebelumnya adalah siswa nakal di sekolah ini. Tapi barusan mereka berdebat tentang tuan, dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti tuan, bahkan salah satu diantaranya mengadakan taruhan." Bisik Arga pada tuannya.
"Taruhan?. Taruhan apa?" Reaksi Arya penasaran.
"Jika salah seorang diantara mereka berhasil menjadi anak buah tuan, maka salah satu diantaranya harus membayar sebesar 3 juta, atau kalau tidak mau, harus puasa tiga hari tiga malam, tidak boleh makan nasi, hanya boleh minum air putih saja." Jawab Arga apa adanya.
"Sampai segitunya?" Reaksi Arya bertambah penasaran.
"Begitulah adanya tuan. Nama anak itu adalah Pramudya, yang biasa dipanggil oleh teman temannya dengan panggilan Badung, karena dia sangat nakal sekali di sekolah ini."
"Jadi jika tuan mengambilnya menjadi anak buah, maka dia akan menjadi anak baik, tapi mendapatkan hadiah tiga juta." Jawab Argani lagi.
"Lalu apa pendapat mu, terima?" Tanya Arya malah meminta pendapat dari anak buahnya.
"Permainkan dia dulu tuan dan uji, apakah dia serius atau tidak?"
"Jika dia berbohong, serahkan saja pada kami, agar bisa kami takut takuti." Jawab Arga kedengarannya serius.
"Tidak perlu begitu juga. Bagaimanapun, mereka juga berhak menjadi baik, terlepas apakah mereka mengadakan taruhan atau tidak?, karena aku tahu bagaimana cara mengatasi hal seperti itu." Respon Arya terkesan bijaksana.
"Bagaimana?. Kenapa kalian diam saja?. Apakah kalian sedang mempermainkanku?" Tanya Arya sekali lagi. setelah mendapatkan informasi dari pengawal tidak terlihatnya itu.
"Tidak bos!. Kami serius!. Kalau kami berbohong, maka kami akan disambar petir!"
Slash!
Jder!
"Argh!"
Baru saja dia berkata seperti itu. Rambaya langsung menyambutnya dengan petir buatan, yang dia ciptakan dari kekuatan spiritualnya, dan langsung mengenai tubuh Badung, hingga membuat pakaian yang dikenakannya koyak sana sini. Tapi untungnya dia tidak mati.
"Ampun!. Aku mengaku salah. Aku telah berbohong. Aku bohong!" Ucap Badung sambil melompat-lompat kesakitan.
"Namamu Pramudya kan?" Tanya Arya tiba tiba.
"Ya itu aku!. Tapi mereka yang di sana selalu memanggilku dengan sebutan Badung. Sebuah nama yang sangat memalukan buat ku." Jawabnya berterus terang. sambil terus mengaduh kesakitan.
"Kau tahu apa penyebab kau dipanggil seperti itu?" Tanya Arya.
"Ya, aku tahu itu. Disebabkan aku kelewat nakal, dan tidak mematuhi peraturan sekolah, bahkan selalu membuat masalah." Jawab Pramudya berterus terang.
"Bagaimana caranya agar mereka tidak memanggilmu dengan nama itu lagi?" Tanya Arya pula.
"Dengan berubah menjadi baik, dan tidak membuat masalah lagi di sekolah ini, ditambah belajar dengan rajin." Jawab Pramudya benar adanya.
"Setelah kau berubah, apakah kau ingin berbuat jahat lagi, atau tidak mematuhi peraturan sekolah?" Tanya Arya sekedar menguji.
"Tidak!. Kali ini aku benar-benar tobat, dan mereka juga. Oleh karena itu, tolong bimbing kami, agar kami menjadi orang yang berguna, dan tidak di cap nakal lagi." Jawab Pramudya tegas.
"Kau serius?" Tanya Arya.
"Ya, aku serius!, dan kali ini aku tidak akan lagi mengulangi perbuatan yang memalukan itu."
"Mulai hari ini juga, aku akan belajar dengan rajin, dan tidak akan mengganggu siswa lain." Jawab Pramudya.
"Tapi bukankah kau tadi mengadakan taruhan?. Jika kau menang, kau akan dibayar sebesar 3 juta rupiah?" Tanya Arya mengejutkan Pramudya.
"Dari mana bos tahu tentang itu?, padahal saat kami berbicara tadi, bos sedang tidak ada di sana?" Respon Pramudya keheranan.
"Untuk masalah tersebut kau tidak perlu tahu. karena itu rahasiaku."
"Tapi yang perlu kau tahu adalah, pertaruhan tiga hari tiga malam berpuasa, itu aku tahu. Kau tidak boleh makan kecuali minum, atau membayar 3 juta rupiah, itu aku tahu. Kau ingin beli hp.aku juga tahu.Benarkan?" Jawab Arya langsung pada intinya.
"Ya bos benar, dan tidak salah sedikitpun. Ternyata selain pintar dan kuat, bos juga orang yang bisa meramal?" Jawab Pramudya secara jujur.
"Bukan meramal, tapi menebak saja, karena setiap ada yang seperti ini, pasti ada taruhannya?" Respon Arya terkesan memainkan sandiwaranya.
"Ya aku akui, aku memang kepingin punya hp, karena teman-temanku yang lain sudah punya. cuma aku sendiri yang belum." Jawabnya.
"Kau ingin punya handphone?" Reaksi Arya.
"Ya, ingin sekali!. Tapi bagaimana caranya?. Orang tuaku susah, kerja pun serabutan. Adik-adikku banyak. jadi bagaimana bisa beli handphone?" Jawab Pramudya lemah.
"Tapi walaupun susah, herannya kau bisa masuk ke sekolah ini pula?. Berarti kau termasuk anak yang pintar?" Tanya Arya ingin menggali informasi Badung lebih banyak.
"Hehehe. Sejujurnya waktu SMP, aku pernah mendapat juara 1. Tapi sejak masuk SMA, nilai ku hancur. Jangankan juara satu, 20 besar saja tidak?" Jawab Pramudya malu malu.
"Kau tahu kenapa?"Tanya Arya.
"Ya, itu aku tahu!, karena aku malas belajar, dan selalu ogah ogahan saat mendengarkan pelajaran."
"Selain itu, aku juga selalu melawan guru, cabut dan tidak patuh pada peraturan." Jawab Pramudya selalu berterus terang.
"Kau merokok?" Tanya Arya mengejutkan.
"Iya bos!, bahkan..."
"Iya benar!"
"Orang yang seperti ini ingin menjadi anak buahku?. Kau belum pantas!. Jadi pergilah!. Aku tidak butuh anak buah yang tidak bertanggung jawab!" Respon Arya kembali mengejutkan.
"Tolong terima aku menjadi anak buahmu bos, dan tolong bimbing aku ke jalan yang benar. Aku janji, setelah ini aku tidak akan berbuat jahat lagi."
"Aku tidak butuh handphone, atau taruhannya. Yang aku butuhkan adalah pengakuan dari bos!. Jadi tolong terima aku bos, dan bimbing aku ke jalan yang benar!" Jawab Pramudya cukup mengejutkan.
"Bagaimana dengan yang lain?, apakah kalian ingin juga menjadi anak buahku?" Tanya Arya pada yang lainnya pula.
"Ya, kami juga ingin menjadi anak buah bos, agar bisa membimbing kami menjadi orang baik!" Jawab ketujuhnya serempak.
"Kalian serius?"
"Ya kami serius!" Jawab mereka serempak lagi.
"Bagus!. Mulai hari ini. kalian aku terima menjadi anak buah ku, dan akan bekerja untuk ku, serta mengabdi padaku!"
"Jika setelah ini kalian membuat masalah lagi, maka aku sendiri yang akan turun tangan. dan menghukum kalian dengan hukuman berat, yaitu lari seratus meter setiap hari, yang harus kalian lakukan selama tiga bulan!" Reaksi Arya tegas bercampur senang.
"Kami akan patuh bos!. Sekarang pun kami sanggup berlari seribu meter, demi menunjukkan keseriusan kami!" Jawab Pino mewakili teman temannya.
"Tidak perlu!. Karena sekarang pun sudah waktunya untuk pulang. Jadi besok saja kalian tunjukkan keseriusan itu pada ku." Respon Arya kalem saja. Kemudian menyuruh mereka untuk pulang, setelah mengambil tas berisi buku pelajaran mereka.
"Luar biasa si Arya itu!. Siswa yang tidak mampu guru tertibkan, berhasil dia taklukkan semuanya!"
"Semoga setelah ini, mereka benar benar berubah, dan tidak membuat masalah lagi." Guman Sentanu lirih pada diri sendiri. saat mengamati layar monitor yang ada di ruangannya.
***
Tiga hari kemudian. di ibukota provinsi. "Hari ini, agenda utama kita adalah lari 100 meter perorangan."
"Dilanjutkan lagi dengan lari 200 meter juga perorangan, dan ditutup dengan lari 400 meter secara bergantian."
"Kami sebagai panitia seleksi sangat berharap, agar di antara kalian ada yang bisa memecahkan rekor yang selama ini belum pernah terpecahkan!"
"Jika memungkinkan, kalian mampu memecahkan rekor nasional, dan jika perlu juga rekor dunia."
"Jika salah seorang dari kalian berhasil maju, dan mewakili provinsi kita untuk berlaga di tingkat nasional, maka pihak otoritas setempat akan memberikan insentif yang cukup besar, agar membuat semangat kalian dalam pertandingan nanti jadi tinggi."
"Aturan larinya sangat jelas. tidak boleh keluar dari trek yang sudah ditentukan."
"Jika berani melanggar aturan, maka kalian akan langsung dinyatakan gugur."
"Dengarkan aba-aba dari juri, setelah itu lakukan yang terbaik untuk tim kalian."
"Sementara aturan untuk lari 200 meter. juga sama."
"Sedangkan untuk lari 400 meter agak sedikit berbeda. Trek yang disediakan cukup panjang, dan dilakukan secara bergantian, dengan membawa tongkat pendek, dan harus kalian serahkan pada kawan yang sudah menunggu kalian di depan."
"Oleh karena itu lakukanlah yang terbaik. Pecahkan rekor yang selama ini ingin kami harapkan dari kalian."
"Sekarang mari kita mulai!"
"Kelompok yang akan bertanding adalah kelompok campuran, yang terdiri dari 8 orang, dan hanya dilakukan dalam satu kali putaran."
"Siapa yang duluan mencapai garis finis, maka dialah yang dinyatakan sebagai pemenangnya. Sementara yang lain akan dinyatakan gugur."
"Oleh karena itu bersiap siaplah, dan tempati trek kalian masing-masing. untuk memulai perlombaan" Ucap pak Aryana memberi arahan.
"Wakil dari kabupaten kita, dapat nomor undian nomor berapa pak Wirya?" Tanya bu Siska pada temannya.
"Ibuk kemana tadi?, kenapa waktu pencabutan undian tidak hadir?" Jawab Wirya malah balik bertanya.
"Ke toilet, sakit perut!" Jawab Siska sekenanya.
"Oh pantesan.Tapi kenapa lama?" Protes Wirya tidak percaya.
"Hehehe!" Responnya cuma tertawa.
"Siap!"
Door!
Maka melesat lah seluruh peserta pertama yang berjumlah delapan orang itu, untuk menuju garis finis, dengan berusaha mengungguli lawan lawannya. dan yang keluar sebagai pemenangnya adalah peserta dari SMA, pemegang juara pertama tiap tahunnya.
SMA itu adalah tempat dulunya Arya bersekolah, dan diberhentikan dari sana karena dianggap bolos dari pelajaran.
"Siapa nama anak itu?, larinya kencang sekali. Waktu yang dibutuhkannya hanya 14 detik saja." Tanya Wirya pada temannya.
"Mana aku tahu?. Melihatnya saja baru?" Jawab Siska apa adanya.
"Sekarang peserta yang lainnya pula!.Jadi silakan memasuki lapangan" Seru seseorang melalui pengeras suara cukup lantang.
"Lihat!. Bukankah itu Arya?" Ujar seseorang dari beberapa orang guru yang mendampingi murid muridnya berlaga.
"Ya kau benar!. Itu memang Arya!" Jawab temannya pula.
"Pak Sam kenal dengannya?" Respon guru dari sekolah lainnya pula.
"Ya tentu saja kenal. Dia mantan murid dari SMA ku dulu. Tapi dikeluarkan karena bolos dari sekolah." Jawab guru yang dipanggil Sam itu berterus terang.
"Ketahuilah oleh mu pak Sam. Anak yang telah kalian campakkan itu adalah juara dari kabupaten sebelah."
"Kabarnya dia bersekolah di SMA Tunas Bangsa, milik pengusaha batu mulia yang kaya raya itu. Kalau tak salah namanya pak Satya, dari ibukota." Ucap Bu Mira, guru olahraga dari sekolah di provinsi ini.
"Pak Satya?, SMA Tunas Bangsa?. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya?" Respon Samtani, atau yang biasa dipanggil pak Sam itu mencoba mengingatnya.
"Sudah, jangan dipikirkan kalau lupa, tidak penting itu. yang penting sekarang mari kita lihat aksinya, siapa tahu Arya mampu mengungguli rekor dari sekolah kalian?" Jawab Mira apa adanya.
"Huh!. Bagaimana mungkin dia bisa terpilih mengikuti lari bergensi ini, padahal dulunya dia lemah sekali?" Protes teman guru olahraga Arya dulu tidak percaya.
"Kita lihat saja penampilannya nanti. Jika dia bisa mengungguli rekor dari sekolah kita, berarti dia lebih hebat dari semuanya?" Jawab rekan sesama guru olahraga di sekolah itu.