Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Kebaikan Arya


"Delapan belas milyar?. yang benar saja pak?. Apakah itu tidak kebanyakan?" Reaksi Arya terpana sesaat setelah mendapat cek sebesar itu.


"Ya itu betul lah. Harga per gram nya saja sekarang sudah berapa?. Kalikan dengan satu kilo, dan kalian pula dengan jumlahnya, maka nak Arya akan mendapatkan sejumlah itu."


"Jika nanti bapak membeli lagi, maka nak Arya akan mendapatkan jumlah yang jauh lebih banyak dari pada ini. Jadi sekarang terima cek ini dulu, dan cairkan di bank!" Jawab pak Satya menjelaskan apa adanya.


"Tapi kalau dalam bentuk cek, sepertinya saya tidak bisa pak. karena takut dicurigai uang itu berasal dari mana, maklum lah sekarang ini pihak bank sudah sangat berhati-hati, karena takut adanya pencucian uang." Ujar Arya mengutarakan keberatannya.


"Kau ke bank itu bukan sendiri, tapi bersama dengan bapak. Melihat bapak saja mereka sudah tahu dari mana sumber uang itu, dan tentunya mereka tidak akan menanyakan tentang uang tersebut?"


"Di bank itu bapak juga akan membuatkan rekening baru untuk mu, agar jika ada transaksi lagi, bapak mudah mengirim kan uang pembelian ke rekening tersebut."


"Jadi nak Arya tenang saja. Bapak jamin kau tidak akan mendapatkan masalah apa-apa, karena bapak yang akan menjamin nya." Sambut pak Satya menjelaskan.


"Tapi besok Arya harus sekolah pak?. Bagaimana mengatakan kepada pihak sekolah kalau Arya tidak masuk?" Protes Arya merasa kebingungan.


"Itu masalah kecil. Serahkan saja pada bapak." Jawab pak Satya tidak terduga.


"Kalau begitu baik pak!. Terima kasih sebelumnya karena sudah mau menolong saya." Sambut Arya sangat senang.


Kemudian meminta izin untuk meninggalkan hotel tersebut, guna menemui anak buahnya.


"Anak yang sangat beruntung. Mudah mudahan ke depannya dia bisa menjadi orang besar dan sukses?" Batin Satya dalam hati. Lalu pergi dan bergabung dengan istri dan anaknya


***


Keesokan harinya. Arya dan pak Satya benar-benar pergi ke bank yang cukup besar. dan kebetulan pula bank tempat pak Arya menitipkan uangnya ada di kota tersebut.


"Selamat Arya!. Kamu sekarang sudah menjadi orang kaya. Sekali-sekali traktir bapak dong?" Ujar pak Satya menggoda Arya.


"Oh boleh pak!. Ini juga berkat kemurahan hati bapak. Kalau orang lain saya tidak tahu apa yang akan terjadi?. Tentu mereka akan mencari tahu dari mana emas-emas itu?" Jawab Arya cukup serius, dan membuat pak Satya salah tingkah.


"Apa rencanamu setelah ini?.Apakah akan membuka usaha baru, yang lebih besar dari rumah makan itu?" Tanya pak Satya ingin tahu.


"Untuk saat ini belum pak. Mungkin mengembangkan tempat itu dulu, setelah maju baru berekspansi ke usaha lain."Jawab Arya berterus terang.


"Oh begitu!. Kalau boleh bapak memberi saran, rumah makanmu itu kan baru. tapi masih sewa. Bagaimana kalau tempat itu kau beli saja?. direhab menjadi baru, baru dijadikan restoran, bukan rumah makan terbuka seperti itu. Itupun kalau nak Arya mau?"Respon pak Satya mencoba mengarahkan Arya.


"Wah betul juga apa yang pak Satya katakan itu?. Sejujurnya saya memang ingin membeli tempat tersebut. Namun apalah daya!, uang belum punya. Tapi sekarang peluang sudah terbuka,dan mudah mudahan pemilik tempat tersebut mau menjualnya?" Jawab Arya mulai merasa terbebas dari kesulitannya.


"Nah itu juga yang bapak inginkan. Dengan membeli tempat itu, otomatis kau bebas merombaknya, dan disesuaikan dengan keinginan mu juga."


"Ke depannya bapak berharap, agar nak Arya bisa menjadi seorang pengusaha besar, yang di segani oleh dunia." Tanggapan pak Satya sangat tidak terduga.


"Mudah-mudahan saja pak. dan terima kasih atas dukungannya." Jawab Arya merasa bangga.


"Setelah ini kamu mau ke mana?. Kalau tidak ada rencana, bagaimana kalau ikut bapak saja? Kebetulan bapak lagi suntuk plus bingung mau dibuat apa uang uang ini?"


"Bagaimana kalau bapak belikan nak Arya mobil saja. Mungkin bingung hati bapak ini akan hilang, dan berganti menjadi senang?"Ujar pak Satya tak masuk akal.


"Membelikan mobil?. Untuk apa?" Respon Arya penasaran.


"Ya untuk kau gunakan sehari-hari?. bisa juga digunakan untuk pergi sekolah?" Jawab pak Satya berterus terang.


"Saya rasa tidak perlu pak. karena saya bisa membelinya sendiri dengan uang yang saya dapatkan dari bapak. Pun harga mobil itu mahal, bisa mencapai ratusan juta?"


"Jadi alangkah baiknya jika saya membeli sendiri, tidak perlu bapak yang membelikannya." Jawab Arya mencoba menolak tawaran tersebut dengan halus.


"Tidak!. Biar bapak yang membelikannya saja, tidak perlu mengeluarkan uang sendiri, karena nak Arya masih membutuhkannya untuk membuka usaha." Jawab Satya memaksa.


"Apa tidak merepotkan pak?. Saya jadi tidak enak hati nih!" Reaksi Arya tidak enak hati.


"Tidak masalah itu. Justru bapak malah senang melakukannya." Jawab pak Satya berterus terang.


"Kalau begitu terima kasih pak!. Saya terpaksa harus menerimanya." Jawab Arya pula.


"Sip. Ayo naik ke mobil bapak untuk pergi ke showroom mobil, biar sedikit cepat. Pun matahari sudah cukup tinggi. Takut hitam pula." Jawab pak Satya bercanda.


"Hehehe. Biar saya naik motor saja pak. Lagian mau ditaruh dimana motor ini, takut hilang juga." Sambung Arya balas bercanda.


"Oh Jangan!. Biar motormu dibawa oleh karyawan bapak. Kebetulan mereka ada di sana, jadi bisa diminta bantuannya untuk mengantarkannya ke tempat usahamu itu." Jawab Satya serius.


"Kalau begitu baik pak! Tapi kalau boleh tau, kenapa bapak ingin memberikan Arya mobil?, padahal bapak tau saya belum mempunyai SIM A?" Ujarnya.


"Hadiah?. Ulang tahun saya masih lama juga pak!. Lagipula saya tidak pernah merayakan ulang tahun, jadi saya rasa tidak perlu." Respon Arya keheranan.


"Oh ini bukan hadiah biasa tapi hadiah istimewa,bapak rasa Arya membutuhkannya?" Jawabnya cukup tenang.


"Istimewa?. Wah ini sudah keterlaluan pak!. Tidak, tidak tidak!. Saya tidak bisa menerimanya pak, terkecuali..?"


"Mobil angkutan barang kan?. Nah itu dia!. Mobil itulah yang ingin bapak beli buat nak Arya. Paham kan?"


"Oh iya pak, kalau begitu terima kasih!. Tapi kalau boleh biar saya gunakan uang saya saja, tidak usah bapak." Jawab Arya terus saja mencari alasan dan mengulang-ulang terus apa yang sudah dikatakannya itu


Namun sayangnya pak Satya tidak mau mendengarnya. Dia tetap bersikukuh ingin memberikan Arya hadiah itu. "Kalau menggunakan uangmu itu bukan hadiah lagi namanya, tapi beli pakai uang sendiri." Ujarnya.


Kali ini bapak ingin memberikan Arya hadiah. Jadi terima saja, jangan banyak protes!. Oke?"


"Siap komandan!" Jawab Arya dibuat bercanda, hingga membuat pak Satya tersenyum senang.


Kemudian memasuki mobilnya, dan pergi ke showroom mobil, tempat menjual mobil bak terbuka yang ada.


Dua setengah jam kemudian. Apa yang diinginkan oleh pak Satya akhirnya terlaksana.


Dua buah mobil bak terbuka, sudah terparkir di depan rumah makan milik Arya. Tapi saat mobil itu sampai, Jodi dan anak buahnya tentu saja merasa keheranan, karena mereka merasa tidak memesan mobil-mobil itu, entah kalau bosnya?"


Disaat kebingungan seperti itu, Arya dan pak Satya pun datang, dan langsung memberitahukan masalah tersebut pada mereka.


"Wah!. Bos kita ini semakin hebat!. Bukan satu mobil, tapi dua!"


"Mudah-mudahan setelah sukses akan membeli mobil lagi, khusus untuk digunakannya, karena kasihan melihat bos harus berpanas-panasan seperti itu saat pergi ke sekolah."


"Ayo kita beri selamat kepada bos kita!" Ucap Jodi memberi semangat kepada anak buahnya.


"Ah norak kamu!. Biasa aja kali?" Reaksi Arya berusaha menolaknya tapi akhirnya mengulurkan tangan untuk menerima ucapan selamat dari anak buahnya.


Sementara itu pak Satya sudah tidak ada lagi di tempat itu. Dia langsung kembali ke hotelnya dan beristirahat di sana.


"Setelah ini akan ada perubahan besar. Di mana tempat usaha kita ini akan aku beli, dan ditingkatkan menjadi restoran yang berkelas."


"Kepada kalian aku harapkan, agar terus membantuku supaya tempat ini semakin maju." Ujar nya memberi penjelasan


"Benarkah itu bos?. Kami senang mendengarnya." Reaksi anak buahnya senang.


"Iya benar, untuk apa juga aku berbohong?. Tempat ini memang ingin aku beli, agar sedikit dipandang orang dan bisa kita rubah menjadi sekelas restoran jawab Arya apa adanya hingga membuat Jodi dan anak buahnya semakin senang.


"Lalu kami ini bagaimana bos?. Apakah harus berganti profesi, karena biasanya kami selalu bersikap kasar, dan tidak sesuai melayani pelanggan?" Ujar Jodi diluar dugaan.


"Kenapa kalian berkata seperti itu?, kalian adalah orang-orang ku, dan akan tetap bekerja di restoran ku nanti!. Jadi tentang masalah itu jangan kalian risau kan." Jawab Arya tegas.


"Apapun yang terjadi, aku tetap akan mempertahankan kalian, sepanjang kalian itu mau bekerja padaku, dan mau menjadi anak buahku!" Respon Arya tidak senang


Tapi ada sesungging senyum yang terukir di bibirnya itu. sambil menepuk bahu Jodi, pertanda memberi penguatan. Lalu membuka tas yang selalu dibawanya tersebut, dan mengambil isinya, ternyata adalah sejumlah uang yang cukup banyak.


"Ini 250 juta untuk kalian!. Bagilah sama rata. agar terkesan adil. Anggap saja sebagai bonus khusus pertama yang aku berikan pada kalian. Ambillah!" Ujarnya membuat Jodi dan anak buahnya merasa keheranan.


"Bos!. I i ini?"


"Ya, itu untuk kalian!. Kebetulan hari ini aku mendapat proyek yang cukup besar dari pak Satya, yang nilainya mencapai miliaran. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika aku memberikan 250 juta ini untuk kalian?" Jawabnya tenang.


"Tapi bos?" Protes Jodi tetap bertahan.


"Tidak ada tapi tapi!. Ambil saja! Aku ingin anak buahku turut merasakan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini!"


"Banti kalau restoran kita sudah berdiri, maka kalian yang akan menjadi manajernya. Sementara untuk yang lain, aku akan merekrutnya dari luar, dan tentunya orang yang sudah berpengalaman." Bantah Arya tidak senang.


Kemudian melihat ke sekeliling, di mana tempat itu sudah semakin bersih.


Dalam hati Arya memuji keseriusan dari 5 anak buahnya tersebut, dan bertekad ingin terus membuat mereka senang.


"Pergilah ke toko elektronik, untuk membeli beberapa unit freezer, dan dua unit pendingin, agar bahan makanan bisa disimpan di sana."


"Bawa mobil mobil itu untuk mengangkut barang yang kalian beli!" Ucap Arya memberi instruksi.