
Tiga hari kemudian, apa yang disebutkan melalui surat oleh Purbaya benar benar telah terjadi di rumah sewa Arya.
Seorang laki laki paroh baya, dengan didampingi oleh dua orang polisi, terlihat keluar dari mobil yang dinaikinya.
Begitu mereka keluar, Arya yang kebetulan waktu itu sedang berada di luar, langsung menyambut kedatangan mereka dengan ekspresi tenang.
Kemudian salah seorang dari mereka berkata." "Selamat pagi!. Apakah kami bisa bertemu dengan saudara Arya?" Ujarnya bertanya.
"Oh kebetulan saya sendiri. Ada apa ya pak?" Jawab Arya pura-pura tidak tahu.
"Saya pengacara yang ditugaskan oleh tuan Purbaya untuk menyerahkan surat surat tanah ini pada keturunannya."
"Dengan alasan itu, bisakah anda menunjukkan surat kelengkapan diri berupa KTP atau sejenisnya?" Jawab Ramada, pengacara sekaligus notaris itu pada Arya.
"Oh ya tunggu sebentar!" Respon Arya cepat. Lalu mengambil KTP miliknya, dan menyerahkannya pada Ramada.
"Ya, ini benar!. Anda memang keturunan dari tuan Purbaya, yang selama ini kami cari."
"Kalau begitu bolehkah kami masuk ke dalam untuk menyerahkan surat surat tanah ini pada anda?" Ucap Ramada cukup sopan.
"Oh kalau begitu silakan!. Maaf karena tidak langsung menyuruh Anda semua masuk." Respon Arya tidak enak hati.
Kemudian mengajak mereka untuk mengikutinya.
Tapi belum juga mereka melangkah pergi, datang seseorang dengan langkah tergesa-gesa, dan langsung menghampiri Arya.
Belum juga nafasnya memburunya reda, datang lagi seseorang yang ternyata adalah ketua rukun tetangga kampung itu.
Saat melihat ketua kampungnya datang. Pengelola rumah ini sontak menjadi tidak senang. karena selama beberapa tahun ini, dia selalu bersetigang dengan ketua kampungnya tersebut.
Namun demi mendapatkan kepastian untuk apa ketiga orang itu mendatangi Arya, orang yang mengaku sebagai pemilik rumah tersebut langsung berkata." Ada apa ya pak?. Apakah ada urusan dengan Arya?" Tanya Suwito, pengelola rumah tersebut merasa penasaran.
"Anda adalah.?"
"Saya Suwito. pemilik rumah ini."
"Arya adalah orang yang telah menyewa rumah ku selama setahun."
"Jika ada masalah, silakan berurusan denganku, bukan dengan Arya!" Jawab Suwito cukup mengejutkan.
"Dan bapak ini?" Tanya Ramada lagi.
"Saya Supomo, ketua rukun tetangga di kampung ini."
"Jika saya boleh tahu, ada urusan apa bapak-bapak ini datang menemui Arya?"
"Apakah Arya sudah membuat masalah di luaran sana?" Jawab dan tanya Supomo ingin tahu.
"Oh kalau masalah itu mari kita selesaikan di dalam, karena ada sesuatu yang ingin kami tanyakan pada Arya."
"Kebetulan anda berdua sudah datang. Jadi bisa menjadi saksi atas keterlibatan Arya dalam kasus ini?" Jawab seorang polisi pada mereka.
Lalu bergegas masuk dengan ekspresi serius, yang menimbulkan tanda tanya besar buat yang belum tau.
"Ada apa ya?. Kenapa ada polisi datang menemui Arya?. Apakah Arya telah membuat masalah, sehingga dicari sampai ke rumah ini?" Batin Suwito dalam hati.
"Aku yakin Arya itu orang baik. Tidak mungkin dia berbuat yang macam macam?"
"Tapi ada dua orang polisi disini, tentu keberadaannya sangat mencurigakan?"
"Bisa-bisa Arya terlibat kejahatan di luaran sana?" Batin Supomo pula.
Kemudian terus mengikuti langkah mereka, untuk memasuki rumah Arya.
Setelah sampai di dalam, mereka langsung dipersilakan untuk duduk. Kebetulan beberapa hari yang lalu, Arya sudah membeli sofa, yang bentuk dan ukurannya cukup bagus.
Tapi setelah mereka duduk, tidak ada yang memulai pembicaraan, hingga membuat Supomo dan Suwito menjadi deg degan.
Namun beberapa saat kemudian, terdengar Ramada berkata. "Kenalkan!. Saya Ramada. pengacara yang dibayar oleh tuan Purbaya untuk menyerahkan surat-surat kepemilikan rumah ini kepada pemilik aslinya."
"Ini rekan-rekan saya. Ajun komisaris besar polisi, Bambang Pranoto. Sedangkan yang ini adalah Ajun komisaris polisi Darminto."
"Kami datang untuk menemui saudara Arya, yang merupakan keturunan langsung dari tuan Purbaya, pemilik rumah ini sebelumnya." Jawab Ramada apa adanya.
"Tunggu, tunggu!. Pemilik rumah ini adalah saya, dan surat-suratnya pun ada pada saya."
"Lalu dari mana anda bisa mengatakan bahwa rumah ini milik Arya?" Tanya Suwito tidak senang.
"Saya pengacara yang selama belasan tahun ditugaskan untuk menunggu pemilik asli rumah ini datang, guna mengambil haknya."
"Bahkan surat surat rumah ini ada pada saya, dan dibuat sejak belasan tahun yang lalu."
"Jadi bagaimana anda bisa mengatakan bahwa rumah ini milik anda?"Jawab Ramada membeberkan bukti dan fakta yang ada.
"Saudara Suwito!. Sejak kapan surat itu ada pada anda?. Apakah jauh lebih tua dari surat asli rumah ini?" Tanya AKBP Pranoto terkesan menyelidiki.
"Oh kebetulan surat itu tertinggal di rumah." Jawab Suwito beralasan.
"Saya bukan menanyakan tertinggal di rumah atau bukan? Tapi menanyakan kapan surat itu dibuat?" Reaksi Pranoto terlihat marah.
"I i itu sudah enam tahun yang lalu. Sejak rumah ini tidak ada yang berani mengelolanya."
"Jadi saya berinisiatif untuk mengambilnya, daripada rusak tidak terawat." Jawab Suwito berterus terang.
"Itu sama saja dengan merebut hak orang lain pak! Jadi anda bisa dituntut dengan pasal-pasal yang ada!" Ucap AKBP Pranoto terkesan mengancam.
"Bagus!. Itu jauh lebih baik daripada harus melawan arus!" Respon Pranoto terkesan senang.
"Silakan saudara Arya, tanda tangani di bagian ini, juga di bagian ini!"
"Setelah ditandatangani, berarti rumah ini sudah sah menjadi milik anda." Ucap Ramada senang, seperti sudah terlepas dari beban berat yang selama ini menindihnya.
"Kepada saudara Suwito juga saudara Supomo. kami harap anda berdua bisa bekerja sama dalam proses pengalihan dan pengembalian rumah ini kepada pemiliknya".
"Jadi tolong kalian berdua tanda tangani surat surat ini, agar menjadi semakin kuat." Ucap Ramada sopan tapi penuh tekanan, setelah Arya selesai membubuhkan tanda tangannya di surat surat penyerahan kepemilikan nya tersebut.
Tak lama sesudah itu terdengar lagi Ramada berkata." Mulai hari ini. tanah berikut rumahnya sudah sah menjadi milik Arya."
"Mulai saat ini juga, orang lain tidak bisa lagi mengganggu gugat atas kepemilikan tersebut."
"Jika ada yang berusaha merebutnya kembali, dia akan berhadapan dengan kami!" Ucap Ramada penuh intimidasi.
"Untuk saudara Arya. Kami ucapkan selamat kepada anda, karena apa yang seharusnya menjadi milik anda telah anda dapatkan kembali."
"Bila di kemudian hari ada orang yang mengaku dan mengatakan bahwa rumah ini milik mereka, segera hubungi kami, agar bisa kami tangkap dan jebloskan ke penjara!" Ucap AKBP Pranoto yang ditujukan kepada Arya, tetapi maksudnya adalah kepada Suwito dan Supomo.
"Terima kasih atas dukungannya pak Pranoto. Di kemudian hari saya pasti akan membutuhkan bantuan dari snda!" Respon Arya terlihat senang. Kemudian menyalami Ramada, Pranoto dan Darminto.
"Kalau begitu kami mohon diri, karena tugas kami di sini sudah selesai." Ucap Ramada pula.
"Tunggu sebentar pak!. Saya akan membuatkan minuman untuk kalian.! Ucap Arya hanya sebagai basa-basi saja.
"Oh tidak perlu, terima kasih. Kebetulan sebelum ke sini tadi, kami mampir di kedai kopi yang ada di perempatan jalan itu, sambil menunggu waktu yang tepat untuk menemui mu." Jawab Pranoto mendahului sahabatnya Ramada.
"Ingat Arya!. Jika ada orang yang mencoba mengintimidasi mu, segera hubungi kami!"
"Kami pasti akan langsung datang." Ucap Darminto menguatkan perkataan dari atasannya tadi.
"Baik kalau begitu terima kasih pak!" Respon Arya senang. kemudian menyalami ketiganya sekali lagi, lalu mengantarkan mereka untuk pergi.
Tiga menit kemudian, mereka sudah tidak ada lagi di tempat itu, dan sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan mereka untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang itu, Pranoto berkata kepada sahabatnya Ramada." Apakah kau tidak merasakan jika saat bersalaman tadi ada perasaan nyaman?" Ujarnya
"Ya aku juga merasakan. Sejujurnya kepalaku tadi terasa pening, karena beban yang aku pikul selama ini belum mendapatkan titik terang."
"Tapi begitu aku bersalaman dengan Arya, rasa pening tersebut mendadak hilang."
"Pada awalnya aku tidak percaya, dan menganggap itu hanya kebetulan saja. Tapi saat Arya menyalami kita lagi, aku juga merasakan bahwa dari tangannya ada getaran halus, dan seperti ada aliran air sungai yang sangat menyejukkan."
"Berkat perasaan itu, sekarang badanku sudah semakin segar, dan tidak merasa pening lagi." Jawab Ramada berterus terang.
"Bukan hanya kalian saja, tetapi aku juga merasakan demikian."
"Dengan begitu aku meyakini, bahwa Arya itu bukan orang sembarangan."
"Suatu hari nanti, dia pasti akan menjadi orang besar, dan bisa jadi kita ini akan berada di bawah kekuasaannya."
"Maksudku kita akan bekerja sama dengannya dalam hal kebaikan." Ucap Darminto menguatkan pendapat mereka.
***
Beberapa saat kemudian, setelah orang-orang tersebut pergi, Purnomo yang selama ini selalu baik kepada Arya pun berkata." Bapak tidak menyangka, kalau rumah ini adalah milikmu Arya."
"Bapak juga tidak menyangka kalau kau adalah keturunan dari tuan Purbaya, orang yang selama ini sangat dihormati oleh penduduk kampung ini, bahkan oleh orang-orang kota sekitarnya.
"Pada awalnya bapak menganggap bahwa kau hanya orang biasa, tapi ternyata keturunan dari orang hebat itu."
"Dengan demikian mulai saat ini, kami semua tidak akan berani lagi untuk bersikap kurang ajar pada mu, karena bagaimanapun kau adalah keturunan dari orang yang paling kami hormati itu?" Ucap Supomo menjelaskan apa adanya.
"Ya bapak juga berpikiran demikian. Selama ini bapak menganggap bahwa rumah yang tidak jelas kepemilikannya itu sudah tidak ada lagi pewarisnya."
"Kami menganggap karena penghuninya sudah mati, maka seenaknya saja mengakui bahwa rumah ini adalah milik bapak."
"Tapi sejak kau datang, bahkan hari ini bapak baru tahu, bahwa pemilik yang sebenarnya adalah kau."
"Tapi bapak heran, kenapa notaris Ramada itu datang bersama dua orang polisi yang berpangkat tinggi?"
"Apakah mereka berniat untuk menakuti kami, agar kami tidak berani berbuat bermacam macam?" Tanya Suwito mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.
"Saya juga tidak tahu pak Wito dan pak Pomo. Tiba-tiba saja mereka datang, dan mengatakan bahwa saya adalah keturunan dari tuan Purbaya, dan rumah ini adalah rumah mereka."
"Pada awalnya saya tidak percaya, tapi setelah mereka menyodorkan bukti-bukti yang ada.maka mau tidak mau saya harus percaya juga, dan akhirnya seperti sekarang ini."
"Jadi mulai sekarang, rumah ini sudah resmi menjadi milikku, dan tidak akan ada lagi uang sewa yang bisa pak Wito minta lagi kepadaku!" Jawab arya terkesan bercanda.
"Hahahaha!. Kami mana berani nak Arya!. Bahkan uang sewa yang selama ini bapak terima, akan bapak kembalikan kepada anda."
"Kalau tak salah jumlahnya sebesar 34 juta. Uang itu bapak dapatkan selama kurang lebih 6 tahun."
"Tapi hari ini uang itu akan bapak kembalikan pada Arya. Tapi mohon beri waktu, karena bapak harus mengumpulkan uang tersebut agar bisa menjadi sejumlah itu." Respon Suwito mendadak senang.
"Oh tidak perlu pak Wito! Justru saya sangat berterima kasih, karena pak Wito sudah mengurus rumah ini."
"Tanpa adanya campur tangan pak Wito juga pak Pomo, tidak mungkin rumah ini masih berdiri tegak."
"Jadi sekali lagi saya ucapkan terima kasih!" Respon Arya menjadi tidak enak hati, padahal di dalam hatinya ada sedikit rasa tidak senang, karena dia tau kalau Suwito itu tidak tulus menerima kekalahannya.
Pada suatu saat nanti dia akan membuat nota tandingan, agar rumah tersebut menjadi miliknya lagi.