Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Curiga


"Cabang olahraga pertama yang akan diperlombakan adalah lari 100 meter, atau sprint."


"Selanjutnya adalah lari 200 meter, dan setelah istirahat dalam satu jam, perlombaan akan dilanjutkan dengan lari estafet 400 meter."


"Oleh karena itu bagi peserta yang ikut berlomba, segeralah bersiap-siap!"


"Karena lapangan kita berada di luar ruangan. maka peserta yang akan ikut berlomba dalam lari 100 meter sebanyak 8 orang dalam sekali putaran."


"Peserta yang sudah mempunyai nomor track, segera menuju ke lapangan!" Bunyi arahan yang diberikan oleh ketua panitia yang bernama Wirya itu cukup jelas.


"Ayo Raju!, kamu pasti bisa."


"Manfaatkan gelar kijang terbang mu itu, untuk memenangkan lomba."


"Naikkan peringkat sekolah kita dalam cabang ini. Kalahkan anak yang bernama Arya itu."


"Jegal langkahnya untuk merajai cabang ini!. karena aku yakin kau pasti bisa!" Ucap Rafa pada temannya cukup lantang.


"Huh!, mau mengungguli Arya ya?. Kalian mana bisa?. Ada ada saja kalian itu? Gerutu Natasya membela Arya.


"Bocah itu!. Berani beraninya meremehkan kekasih ku?"


"Apa kau belum tau kalau Arya itu adalah manusia super?"


"Setelah kalah baru nyahok kalian!" Gerutu yang lainnya lagi. Dia adalah Novi, yang juga mulai menyukai Arya.


"Bersedia!" Seru juri memberikan instruksi pada para peserta. sampai membuat suasana menjadi tenang.


"Satu, dua, tiga!"


Priiit!


Blar!


Bendera tanda dimulai perlombaan segera dikibarkan. Para peserta langsung berlari kencang, saling mendahului satu sama lain.


Regu Arya kebetulan belum mendapatkan giliran. Jadi mereka masih bisa melihat jalannya perlombaan.


Untuk pemenang di group pertama ini, berasal dari SMA 06, yang berhasil mencapai garis finis dalam waktu 13.09 detik. Suatu pencapaian yang termasuk luar biasa untuk ukuran siswa.


Jadi dia yang berhak maju ke babak berikutnya.


Kini giliran SMA Tunas Bangsa pula yang harus berlomba dengan sekolah lain. Dadung, Drajat dan Arya juga ikut dalam sesi dua itu, dan mereka menempati Trek yang berbeda.


Bersamaan dengan perlombaan di tempat lain, juga tengah dilakukan. perlombaan regu putri, dimana setelah dilakukan sesi demi sesi, maka yang keluar sebagai juaranya adalah regu putri dari SMA Tunas Bangsa.


Begitu juga dari regu putra, yang keluar sebagai juaranya adalah regu Arya, dengan waktu tempuh tercepat didapatkan oleh Arya dengan kecepatan 9,9 detik. Sementara Dadung dan Derajat masing masing membutuhkan waktu 11,3 detik


Dengan demikian regu dari SMA Tunas Bangsa berhak maju ke babak selanjutnya.


"Bagi peserta yang sudah masuk ke babak final, silakan memasuki trek masing-masing."


"Siapapun yang memasuki garis finish dengan waktu tercepat, maka dia lah yang berhak untuk dikirim ke provinsi."


"Kabupaten hanya akan memilih 6 peserta putra dan 6 peserta putri untuk masing-masing cabang olahraga."


"Oleh karena itu berjuanglah untuk mendapatkan tiket ke tingkat yang lebih tinggi!"


"Sekarang bersiaplah!. Juri akan memberikan aba aba nya." Ucap ketua panitia memberikan instruksi.


"Bersedia!"


"Siap!"


"Satu, dua, tiga!"


Priiit!


Tubuh Arya melesat bagai anak panah lepas dari busurnya. Hanya membutuhkan waktu 9,01 detik. Arya sudah mencapai garis finish, Kemudian disusul oleh Dadung, 11.01 detik, dan diikuti oleh Drajat dengan waktu tempuh sampai ke garis finish adalah 11,3 detik.


Dengan demikian peserta pria dari SMA Tunas Bangsa berhak maju ke babak yang lebih tinggi, yaitu menjadi wakil Kabupaten untuk berlaga di provinsi.


Setelah beristirahat selama setengah jam, perlombaan dilanjutkan kembali dengan lari 200 meter. dan lagi-lagi peserta dari SMA Tunas Bangsa baik putra maupun putri yang keluar sebagai juaranya.


Kini seleksi terakhir adalah lari estafet 400 meter secara bergantian. Namun karena jumlah peserta tiap regunya harus 4 orang, maka tambahannya diambil dari peserta lain, yang memiliki nilai tertinggi dalam lari 100 atau 200 meter


Jumlah regu yang berlaga kali ini hanya terdiri dari 6 regu, karena kelompok lain sudah tidak mampu lagi untuk melanjutkan perlombaan akibat kakinya kram.


Dari SMA Tunas Bangsa, semua peserta yang dikirim berhak mengikuti lomba tersebut, ditambah dengan satu peserta dari madrasah Aliyah yang juga mengirimkan utusannya.


Sedangkan peserta peserta lain juga mendapatkan tambahan dari kelompok lain pula.


Maka setelah pengaturan kelompok dianggap sudah selesai, 6 regu yang sudah dibentuk itu sudah bersiap siap di treknya masing masing.


Kelompok yang dipimpin oleh Arya menempati trek ketiga. dan mereka kelihatan sudah sangat siap untuk berlaga kali ini.


"Masing-masing kelompok sudah siap?" Terdengar suara juri mengangetkan mereka


"Siap!" Jawab ketuanya masing masing serempak, mewakili timnya yang lain.


"Sesuai aba-aba!"


"Satu, dua tiga!"


Priiit!


Yang lari pertama adalah peserta tambahan dari sekolah lain. Larinya lumayan cepat, tapi masih tertinggal dengan peserta dari sekolah lain, hingga tongkat yang dipegangnya sedikit terlambat sampai.


Drajat langsung menyambarnya, dan berlari sangat kencang, mengungguli tim lain, kemudian diberikannya kepada Dadung.


Kemudian tongkat yang dipegangnya itu diberikan kepada Arya. Arya langsung saja menyambarnya, dan melesat sangat cepat hingga mencapai garis finish, jauh meninggalkan peserta-peserta lain.


Tentu saja yang keluar sebagai pemenangnya adalah peserta dari SMA Tunas Bangsa, ditambah dari sekolah lain. disusul oleh SMA Mardika yang waktu tempuhnya terpaut cukup jauh. Tapi mereka juga berhak maju mewakili Kabupaten untuk berlaga di tingkat provinsi.


Dengan berakhirnya seleksi yang diperlombakan, berarti SMA Tunas Bangsa berhasil mendapatkan juara, dan merebut tiga piala serta tiga piagam penghargaan, serta uang pembinaan dari pemerintah Kabupaten.


Peringkat sekolahnya yang semula berada di posisi 23 sekarang sudah menempati posisi pertama, suatu prestasi mereka yang sangat luar biasa.


"Kalian sangat hebat!. Tidak sia sia kami memilih kalian."


"Ternyata kalian mampu memenangkan perlombaan."


"Berarti sekolah kita berhak maju ke tingkat provinsi, dan jika menang, maka kalian akan dibawa ke tingkat nasional."


"Oleh karena itu giat lah berlatih, agar saat bertanding nanti kalian sudah sangat siap." Ucap Siska tulus memuji kehebatan dari anak didiknya.


***


Satu hari kemudian. Arya dan teman-temannya sudah kembali ke sekolah. karena kebetulan setelah selesai acara itu keesokan harinya adalah hari libur, dan itu dimanfaatkan oleh mereka untuk istirahat. kecuali Arya.


Dia harus kembali ke tempat usahanya, untuk mengecek peristiwa apa yang terjadi saat Arya tidak berada di tempat.


Baru saja dia sampai, anak buahnya yang bernama Jodi, langsung melaporkan apa yang terjadi pada Arya.


"Lapor bos!. Kemarin orang-orang yang waktu itu bos kalahkan, datang ke sini untuk menemui bos. Tapi karena bos tidak ada di tempat, maka disampaikan berita itu kepada kami."


"Apakah beritanya tentang keberhasilan mereka menghajar Teddy dan ayahnya itu?" Tanya Arya mendahului penjelasan dari anak buahnya.


"Benar bos!. Kedua orang itu sekarang sedang berada di rumah sakit."


"Rumah mereka juga sudah dihancurkan, tapi hanya isinya saja, dan sebagian kaca pintu dan jendela juga sudah hancur"


"Setelah melakukan aksinya itu, mereka bergegas melarikan diri karena takut ketahuan."


"Setelah melaporkan itu, mereka segera pergi, dan tidak tahu di mana mereka sekarang?" Jawab Jodi berterus terang dan apa adanya.


"Hemm!. Ternyata begitu?"


"Aku turut senang karena senjata yang mereka gunakan itu ternyata makan tuannya sendiri. dan itu sudah benar-benar terbukti."


"Dengan begini aku sudah merasa puas, karena mereka sudah mendapatkan karmanya." Respon Arya gembira saat menerima kabar baik tersebut.


"Ke mana Alex?. Kenapa ia tidak terlihat?" Tanya Arya sedikit merasa curiga.


"kami juga tidak tahu bos sejak dari semalam Alex tidak pulang!" Jawab Jodi berterus terang.


"Apakah anak buahnya semua ia bawa?" Tanya Arya lagi, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


"Tidak semuanya bos!. Dia hanya membawa empat orang. Sementara anak buahnya yang lain sedang tidak berada di tempat ini."


"Menurut kabarnya mereka sedang berada di terminal di kota ini. Menemui siapa kami tidak tahu?"Jawab Jodi apa adanya.


"Ini aneh!. Sudah dua kali dia berbuat seperti. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu?" Batin Arya dalam hati.


Kemudian menghubungi anak buahnya yang tidak terlihat, yang saat ini jumlahnya sudah semakin meningkat.


Jika awalnya mereka hanya berjumlah 10 orang, sekarang sudah berjumlah 30 orang. Suatu jumlah yang cukup besar untuk ukuran makhluk yang tidak kasat mata seperti mereka.


"Paman Argani!. Bawa sebagian anak buahmu untuk menyelidiki keberadaan Alex."


"Dengar semua yang dikatakannya. Cari tahu apa yang sedang direncanakan oleh orang tersebut." Ucapnya melalui tranmisi suara pada pengawalnya.


"Baik Ketua. Kami akan melakukannya untuk anda!" Jawab Argani patuh


Kemudian menyuruh anak buahnya untuk mencari jejak Alex, yang auranya masih tertinggal di situ. Kemudian menyusuri sebarannya untuk menemukan lokasinya.


"Itu dia ketua!. Nampaknya dia sedang berbicara dengan seseorang?" Ucap anak buahnya sedikit kuat.


"Ya kau benar!. Ayo kita ke sana dan dengarkan apa yang sedang mereka bicarakan itu?" Reaksi Argani cukup senang.


"Kenapa kalian menghianatiku?. Bukankah kalian sudah berjanji akan selalu setia kepadaku?" Ucap seseorang dengan suara ditinggikan.


"Kami tidak menghianati mu bos!, tapi kami terpaksa!"


"Orang itu sangat kuat. Jumlah kami yang sebanyak ini tidak mampu mengalahkannya."


"Jadi waktu itu kami terpaksa menyerah, dan berpura-pura menjadi anak buahnya."


"Tapi sebenarnya kami sedang mencari cara untuk menjatuhkannya." Jawab orang yang bernama Alex itu berterus terang.


"Maksudmu Arya?. Apakah dia sudah semakin kuat sekarang?" Respon Tanu, orang yang sedang Alex temui itu penasaran.


"Benar bos!, Dialah orang yang aku maksudkan."


"Pada awal pertemuan aku meremehkannya, tapi setelah bertarung beberapa jurus, baru aku tahu bahwa dia bukan orang yang bisa diremehkan." Jawab Alex apa adanya.


"Berapa kekuatannya di luar dari kalian?" Tanya Tanu ingin tahu.


"Sampai saat ini hanya ada lima orang bos!" Jawab Alex apa adanya.


"Lima orang?. Apakah mereka Jodi dan anak buahnya itu?" Tanya Tanu lagi.


"Benar sekali bos!. Merekalah orangnya." Jawab Alex berterus terang lagi.


"Kalau hanya mereka itu mah gampang?. Kita hancurkan saja tempat itu kalau Arya tidak ada." Reaksi Tanu merasa senang


"Kenapa tidak malam ini saja bos?"