Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Leviathan dan para penguasa


Tiga hari kemudian. Semua misi yang dibebankan pada mereka sudah selesai dilakukan. Kecuali menemukan keberadaan tiga benda pusaka milik Prabu Ditya, yang dulu dititipkan pada para muridnya.


Sedangkan misi penghancuran gangster ujung tenggara Eropa, di empat kota serta empat negara berbeda tidak mengalami hambatan. Dengan mudahnya mereka dihancurkan, walau mereka memiliki senjata pertahanan. Tapi tetap hancur juga. Dimana salah satunya dilakukan oleh Avatar Sang Raja. Yang hanya mengerahkan dua orang Avatar nya saja. Tapi dampak kehancurannya sungguh sangat terasa. Semuanya mati terbunuh termasuk pemimpinnya.


Sementara di tiga kota lainnya, dilakukan oleh anak buahnya. Yang salah satunya diserahkan pada Arya untuk memberantas keangkaramurkaan di sana. Dan Arga serta Yang Cha lah orang yang dipercayakan untuk memimpin penyerangan, bersama dengan seribu anak buahnya. Sedangkan Arya hanya sebagai pelindung mereka saja. Namun demikian. Arya lah yang membunuh pemimpinnya. karena kekuatannya tidak bisa dihancurkan oleh Arga. Oleh karena itu Arya terpaksa harus turun tangan untuk menyelesaikannya.


Di dua kota lainnya. Acara penghancuran gangster sangat meresahkan, diserahkan pada trio panglima. Sedangkan yang satunya lagi diserahkan pada Jena Achara, dengan dibantu oleh Jenifer sebagai pelindungnya. Juga seratus orang lebih untuk membantunya.


Sementara Suta dan lima orang bawahannya, ditugaskan untuk menemukan keberadaan Kipas Kumala. Tongkat laut selatan, dan Kitab Mata Dewa, yang pada hari ketiga, sudah mulai menunjukkan titik terang. Yang sebenarnya sang raja sudah mengetahuinya sejak dari hari pertama.Tapi sengaja tidak dia utarakan pada mereka. Karena dia ingin anaknya mampu menemukannya sendiri, sebagai ujian untuk menaikkan levelnya.


Sekarang di sepertiga malam hari ketiga. Suta dan lima anak buahnya sedang mendatangi tempat itu, serta menemukan sesuatu hal yang tidak biasa. Dimana aura di tempat tersebut sangat menekan mereka.


"Makhluk apa yang mendiami laut ini. Kenapa auranya sangat kuat sekali?" guman Suta pada mereka. Kemudian menyebarkan aura persepsinya ke pusat energi. dan mendapati bahwa yang sedang mengeluarkan aura menyeramkan tersebut adalah ular berkepala tujuh. Mempunyai sisik seperti naga. dan kaki kakinya juga hampir menyerupai naga.Tapi yang membedakannya adalah kepalanya.


"Makhluk yang sedang kau lihat itu adalah makhluk abadi. Leviathan namanya."


"Dia berasal dari peradaban kuno Sama,an dulu. yang sampai sekarang dia tidak bisa dibunuh kecuali dengan menggunakan tongkat laut selatan, karena didalamnya terdapat rune penghancuran tubuh abadi."


"Oleh karena itu berhati hatilah. Kekuatannya tidak bisa diremehkan. Setiap sisi kepalanya mempunyai keistimewaannya masing masing."


"Gunakan teknik inti pedang dan kutukan penyegelan. Dengan begitu kekuatannya akan berkurang setengahnya. Jadi kalian akan dengan mudah menyegelnya."


"Setelah menyegel tubuh abadi tersebut. Segera pergi ke sisi selatan pulau, dan ambil ketiga benda itu, lalu gunakan salah satunya untuk menghancurkan inti kehidupannya. Dengan demikian tidak mustahil bagi kalian untuk mengakhiri kehidupan Leviathan."


"Segeralah lakukan. dan jangan menunggu hari menjadi siang!" ujar Dragon melalui tranmisi suaranya pada Suta.


"Kalau begitu baik ayah! Akan kami lakukan segera!" responnya.


"Kalian semua! Segera keluarkan teknik inti pedang. dan kutukan penyegelan secara bersamaan! Hanya dengan cara itu kita baru bisa mengatasi makhluk tersebut!"


"Ketahuilah! Makhluk yang ada didasar lautan itu adalah Leviathan. Makhluk abadi yang sulit sekali untuk mati. Kekuatannya sangat tinggi sekali, dan kita berenam bukan tandingannya."


"Namun demikian. Ada cara untuk melemahkannya, yaitu dengan menggunakan teknik inti pedang dan kutukan penyegelan!"


"Oleh karena itu ayo kita lakukan! Mudah mudahan cara yang ditunjukkan oleh ayahku benar benar manjur, supaya kita bisa menyegelnya!" ujar Suta.


Tak lama kemudian. Diatas lautan luas tersebut, berpendar aura yang sangat kuat, yang berasal dari Suta dan lima orang anak buahnya. Ditujukan untuk melemahkan dominasi kekuatan lawan, dan itu sepertinya berhasil.


Namun secara tidak terduga. Dari dasar lautan, menyembul tujuh kepala besar, yang wujudnya sangat menakutkan sekali. dan langsung memberikan serangan pada calon lawannya.


"Hati hati! Cairan yang keluar dari mulutnya tersebut sangat beracun. Ia nya mampu menghancurkan tubuh kalian!"


"Jika terkena sedikit saja. Maka anggota tubuh yang terkena akan hancur, dan akan melemahkan kekuatan kalian!" ujar Dragon dari tempat peraduannya, dan terus memantau pergerakan anak buahnya.


"Untung saja! Jika tidak tubuhku akan meleleh karena cairan itu." rutuk Robin menyesali kecerobohannya.


"Senior semua! Ayo kita satukan kekuatan inti pedang, dan masukkan kutukan penyegelan kedalamnya!" teriak Suta memberi arahan pada lima pengikutnya.


"Aktif dan satukan!"


Dhuar!


Dret! Dret! Dret!


Bola energi penyegelan seluas dan selebar lapangan bola, segera muncul di atas kepala mereka. dan semakin lama semakin bertambah besar.


Auranya sangat mengerikan sekali. yang dampaknya bisa dirasakan dari jarak puluhan mil. Termasuk ketempat peraduan Dyah Isma juga Dragon Sang Naga Dunia. Namun mereka mengacuhkannya saja.


"Tidak disangka. Kekuatan keponakanku juga senior seniornya sangat mengerikan sekali. Mungkin lawan yang sedang mereka hadapi cukup kuat, yang mampu merangsang mereka untuk melakukan hal tersebut. Mudah mudahan mereka bisa memenangkannya!" batin Dyah Isma. Lalu melanjutkan tidur walau sebenarnya dia sudah tidak mengantuk lagi.


"Bersiap semua! Luncurkan!" teriak Suta. dan..


Whus!


Lalu beberapa detik kemudian.


Kaboom!


"Kiaaaaaaa!" teriak kesakitan lawan. Tapi tanpa terduga. dari tiga mulutnya yang belum sempat hancur keluar semburan sangat mematikan, dan langsung menyerang Suta.


Slash! Slash! Slash!


Swing!


Whus!


Boom!


Kemudian tubuh Leviathan tenggelam ke dasar laut. Tapi sebelum benar benar tenggelam. Dia masih menyempatkan diri untuk memberikan serangan, dan akibatnya.formasi yang dipasang oleh Suta hancur dibuatnya. Beruntung dia dan lima pengikutnya tidak apa apa.


"Kerahkan inti pedang dan kutukan penyegelan sekali lagi. agar dia tidak bisa melarikan diri. dan jaga kekuatan penyegelan sesudahnya!" ucap Suta.


"Sekarang!" teriaknya.


Swush!


Boom!


Dhuar!


Kraaaaaaa!


Terdengar teriakan kesakitan dari dasar laut lagi. dan itu adalah suara Leviathan. yang saat ini tubuh dan kekuatannya sedang tersegel.


"Jaga tempat ini! Jangan sampai segelnya melemah! Tunggu aku mengambil benda pusaka. Baru kita akhiri hidup musuh kita!" seru Suta. Kemudian menghilang dan muncul di bagian selatan.


"Tempat apa ini? Kenapa aura nya sangat menenangkan sekali?" batin Suta.


"Ini adalah tempat larangan. yang Livia sendiri tidak bisa memasukinya."


"Ketahuilah olehmu ananda Suta. Eyang yang ditugaskan untuk menjaga tempat ini adalah guru leluhur mu. yang ayahmu sendiri tidak mengetahuinya."


"Tapi berkat ketinggian mata batinnya. Maka keberadaan eyang sudah bisa dilihatnya. dan sekarang dia sedang menatap nanar pada eyang."


"Sebentar lagi dia pasti datang, dan bergabung denganmu untuk mendapatkan pencerahan." ucap seseorang yang wujudnya belum bisa dilihat oleh Suta. Tapi oleh Dragon bisa.


"Ayah? Kapan datangnya?" reaksi Suta keheranan, saat Dragon tiba tiba sudah berada di belakangnya.


"Barusan!" jawabnya.


"Apakah ayah tahu siapa yang berbicara pada Suta? Dan benarkah dia guru leluhur kita?" tanya Suta untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Ya ayah tahu! Eyang Ditya pernah menceritakannya pada ayah. Tidak disangka ditempat ini ayah bisa melihatnya!" jawab Dragon sang raja apa adanya.


"Ceritakan pada Suta ayah, agar Suta juga Memahaminya. Dan tahu siapa dia." mohon Suta.


"Dia prabu Mahayana. Seorang raja jenius dan berkuasa pada jamannya."


"Berkat dia eyang Ditya bisa menjadi raja di tanah Dwipa. Berkat dia pula kemampuan itu sekarang ada pada kita. termasuk ribuan senjata yang ada pada ayah saat ini juga yang ada padamu itu berasal dari dia." jawab Sang Raja.


"Benar seperti yang kau katakan itu Naga. Eyang adalah guru dari leluhurmu, Ditya. yang aku tahu sekarang dia sedang bersembunyi di lautan spritual mu itu!"


"Jika dalam satu menit dia tidak keluar, maka aku sendiri yang akan menariknya!" ujar seseorang yang wujudnya baru menampakkan diri pada mereka.


"Eyang guru! Leluhur raja raja tanah Dwipa! Terimalah hormat ku juga anakku Suta!" reaksi Dragon langsung menjatuhkan lututnya ke tanah. diikuti oleh Suta. pertanda tunduk pada guru leluhurnya.


"Hahaha! Cucu si nakal Ditya memang sungguh berbudi luhur. Begitu juga dengan keturunannya. Aku sungguh tersanjung menerima penghormatan kalian!"


"Sekarang bangunlah! Karena aku akan menarik si nakal Ditya untuk mendatangi ku!" respon Mahayana senang dibuatnya.


"Murid sudah datang raja. Tolong jangan hukum saya!" ucap seseorang yang tiba tiba muncul di depan Suta. Dan langsung membungkuk kearahnya.


"Apa kalian yang ada disana masih tetap mau bersembunyi dari kemarahan ku?" tiba tiba mahayana menunjuk ke titik nadi Dragon dan menunjukkan kuasanya.


"Ampunkan kami eyang guru! Kami sudah datang!" ucap beberapa orang secara berbarengan. Sambil membungkuk hormat kearahnya.


"Salam yang mulia!" ujar yang lainnya pula.


"Dimana Wangsa? Apa dia tidak ada bersamamu Ditya?" tanya Mahayana pada muridnya. Sambil menembakkan aura pemanggilan ke arah tenggara. Atau tepatnya ke tempat Arya, yang saat ini sedang tertidur pulas.


"Saya datang yang mulia! Mohon jangan hukum hamba!" ucap Seseorang, yang datang langsung bersimpuh menghadap rajanya.


"Hemm! Ternyata rohmu juga masih ada di dunia ini Wangsa! Sungguh aku tidak menyangka?" respon Mahayana senang atas kemunculan Wangsa.


Saat kejadian itu. Dyah Isma. Jena Achara juga Arya, entah bagaimana bisa datang. Padahal saat itu mereka sedang tertidur karena kelelahan. Tapi berkat kesaktian Mahayana. yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.


"Apa yang akan raja sampaikan pada kami? Kami akan mendengarkannya!" ucap Ditya memotong keheranan mereka. Berharap agar sang raja Mahayana tidak marah padanya.