
"Kak Arya. Syukurlah kau sudah datang. Hampir saja Kanaya kenapa napa. Kemana saja dari tadi kak, Kok baru datang?"tanya Amanda sesaat setelah Arya memasuki kamar mereka.
"Maaf Manda! kakak menemui eyang Wangsa, karena ada suatu keperluan yang sangat mendesak disana."
"Tapi kau tenang saja. Setelah ini tidak akan terjadi apa apa. Namun aku menyesal karenanya." jawab Arya.
"Huh! Setelah terjadi baru menyesal. Dasar kak Arya!" batin Amanda kesal dibuatnya.
"Apa tidak sebaiknya menambah jumlah pengamanannya kita kak? Karena hanya dengan mereka berempat saja, keselamatan kita jadi tidak maksimal."
"Jadi kedepannya tambah empat orang lagi, agar stamina mereka bisa dipertahankan."usul Kanaya.
"Aku rasa tidak perlu. Kalian tunggu saja kejutan apa yang akan aku berikan. Karena setelah ini,aku akan berterus terang pada kalian." jawab Arya.
"Tentang apa itu kak? Apakah tentang masalah penginapan kita atau yang lain?" tanya Amanda pula.
"Itu salah satunya. Namun ada yang lebih membutuhkan perhatian kita, yaitu tentang ancaman pihak asing, yang tidak suka kalau pulau Permata dan pulau pulau lainnya dikembangkan."
"Pihak asing itu adalah...?" ucap Arya segera mengejutkan keduanya. Karena Arya terus melanjutkan ceritanya, hingga membuat Naya dan Amanda jadi ketakutan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan kak? Apa makhluk itu bakal membahayakan kita?" tanya Amanda.
"Untuk sementara kita berdiam diri dulu. Karena keberadaannya masih menjadi misteri dan tergantung situasinya. Terutama orang orang yang ada di pulau itu."
"Sepertinya mereka harus segera dipindahkan, untuk meminimalisir jatuhnya korban. dan itu harus segera dilakukan." jawab Arya.
Lalu diam serta membatin sendiri. "Huh. Baru saja ingin mengembangkan daerah terbengkalai menjadi daerah maju. Sudah mendapat hambatan seperti ini."
"Kalau terus dibiarkan, bakalan menghambat rencanaku untuk menghidupkan kembali trah leluhur. Tapi darimana memulainya aku belum tahu. Apa sebaiknya meminta bantuan dengan pangeran itu ya. Tapi dimana dia?"
"Membayangkan saja sudah grogi begini. Apalagi melihatnya?" batin Arya.
"Kak! Kenapa diam? Apa kakak tidak suka Manda bertanya begitu?" ucap Manda berasa tidak enak hati.
"Tenanglah! Aku tidak apa apa! Sekarang istirahat. Aku ingin kembali ke kamar, untuk persiapan pelatihan besok." jawab Arya ambigu dibuatnya.
Amanda dan Kanaya juga demikian. Mereka merasakan kalau akhir akhir ini orang yang paling dekat dengannya sedang banyak pikiran.
Mau membantu tidak punya keahlian. Apalagi kalau melawan makhluk yang barusan tadi Arya ceritakan. Baru melihatnya saja mungkin sudah pingsan. Apalagi melawan? batin mereka. Lalu sama sama membayangkan apa yang akan kekasihnya lakukan.
Maka keesokan harinya, sekitar pukul setengah sembilan. kejadian tidak terduga menimpa Arya. Dimana saat itu dia tidak bisa berjalan. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Entah apa yang sedang terjadi padanya.
Bugh!
Bamm!
"Ugh!" Siapa yang telah memukulku. Apa kesalahan ku?" geram Arya. Lalu mengerahkan segenap kemampuannya untuk melawan tekanan dari orang yang usil padanya.
Plak!
Bugh!
"Argh!" Teriak Arya merasa geram. dan mencari cari keberadaan seseorang yang telah menyerangnya. Namun walau sudah mengerahkan segenap kemampuan. Arya tidak bisa juga menemukan orang tersebut. Malah berkali kali tubuhnya menjadi bulan bulanan, dari seseorang yang sangat misterius. menurut pemikirannya
"Keluar! Jangan main kucing kucingan begini! Kalau berani hadapi aku! Jangan sembunyi sembunyi seperti perempuan!" ujar Arya bertambah geram.
Swush!
Plak!
"Argh!"
Sekali lagi Arya terkena tamparan. Kali ini persis di mulutnya. karena ada yang tersinggung dengan ucapannya. Orang tersebut adalah Clara. yang disampingnya ada Suta juga anak dari Anong Achara. yaitu Jena. atau Jane Achara.
Mereka memang tidak bisa terlihat, karena Suta sebelumnya telah memagari mereka dengan teknik kehampaan. Jadi Arya walau sesakti itu tetap tidak bisa melihatnya.
"Dasar bocah kurang ajar! Ilmu masih seujung kuku mau bergaya di depan kita. Dia pikir dunia ini hanya dia yang punya?" gerutu Clara yang ditujukan pada Arya.
"Ibu tidak usah marah. Anak itu hanya sedang kebingungan. Berpikir siapa yang telah menyerangnya. Oleh karena itu dia kesal, dan memaki kita sebagai kaum perempuan." tanggap Jena berusaha menenangkan hati ibunya.
"Temui dia Suta. berpura pura lah tidak tahu siapa dia? Setelah itu uji dia. Apakah dia pantas diserahi tugas untuk menyelamatkan dunia?" ujar Clara.
"Baik ibu!" patuh Suta terhadap perintah ibunya. Kemudian menghilang dan muncul di belakang Arya.
"Kenapa kau duduk di situ? Apa kau ingin mempermalukan almamater kita?" tanya Suta berpura pura marah pada Arya.
"Apapun yang aku lakukan. tidak ada sangkut pautnya denganmu! Enyahlah!" ketus Arya saat menjawabnya.
"Inikah manusia pilihan yang katanya sakti mandraguna. Tapi mana. Tidak terlihat pun. Malah sombong yang ada." reaksi Suta.
"Apa maksud mu? Siapa yang manusia pilihan? Siapa kau sebenarnya?" respon Arya tidak suka.
"Tidak mungkin? Bagaimana kau tahu nama leluhurku. dan beraninya kau memanggil namanya saja!" reaksi Arya. Kemudian menghilang dan muncul di depan Suta serta langsung memberikan serangan terbaiknya.
Whus!
Plak!
Bugh!
Bamm!
"Argh!. Kurang ajar! Bagaimana bisa?" respon Arya kebingungan. saat pukulan serta serangannya dimentahkan oleh lawannya bahkan dengan mudahnya dia terpukul mundur dengan hanya lambaian tangan Suta saja.
"Jurus lemah seperti itu kau bilang hebat. Hebat dari mananya?" ejek Suta.
"Baik! Coba yang ini! Aku yakin kau akan terluka karenanya!"
"Teknik pukulan raja Bajra! Aktifkan!" teriak Arya.
"Hiaaaa!"
Boom!
Sekejap saja selarik sinar panas kemerahan menyerang Suta, dan sudah dipastikan dia akan hangus karenanya. Namun siapa sangka. pukulan level tiga itu dengan mudahnya ditangkap oleh Suta dan dilemparkan ke udara.
Dhuar!
Dampaknya sangat terasa, hingga sempat membuat tempat itu terguncang. Tapi tiada siapa yang bisa melihatnya, karena Suta sudah memagari tempat itu dengan segel kehampaan. Hingga hanya Arya serta lawan yang bisa melihatnya.
"Masih terlalu lemah. Banyak celah untuk menghancurkannya. Jadi percuma kau gunakan jurus itu. Keluarkan yang lain. Aku ingin melihatnya." respon Suta.
"Sombong! Kau lihat ini! Segel penangkap jiwa. Aktif!" teriak Arya.
"Hemm! Boleh juga! Tapi percuma kau tunjukkan padaku, karena aku juga punya. Bahkan jauh lebih kuat dari punyamu. Lihatlah!" reaksi Suta.
Lalu mengaktifkan tekniknya yang jauh lebih sempurna dari teknik yang Arya peragakan. hingga membuat Arya ternganga karenanya.
"Jarum pelumpuh Sukma! Aktifkan!" seru Arya.
Suta pun melakukan hal yang sama. Malah tekniknya jauh lebih menyeramkan dari yang Arya tampilkan. Jutaan jarum kecil berputar putar di sekeliling Suta, dan mendorong jarum yang sama hingga hancur karenanya.
"Teknik kehancuran semesta! Hancurkan orang sombong itu!"
Blar!
"Masih percuma!"
Shut!
Blar!
Dhuar!
Tubuh Arya pun terdorong ke belakang, dan berhenti ketika menabrak bangunan yang ada dibelakangnya. Ada retakan cukup besar diatas kepalanya. dan sejurus kemudian, tembok tersebut runtuh, serta hampir menimpanya.
"Keluarkan teknik kehancuran semesta yang paling kau banggakan itu. Aku juga ingin melihatnya." tantang Suta.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang teknik itu? Apakah kau juga mempelajarinya?" reaksi Arya.
"Keluarkan saja. Jangan banyak tanya!" jawab Suta.
"Baiklah! Jangan salahkan aku jika nyawamu akan menjadi korban!" sambut Arya.
"Tenang saja! Teknik mainan seperti itu aku juga punya." jawab Suta kalem saja.
"Tunggu dulu! Apakah kau yang bernama Suta. Putra raja Dragon Sang Naga Dunia?" tiba tiba Arya mengajukan pertanyaan seperti itu, hingga membuat aksi Suta terhenti karenanya.
"Benar! Aku Sutawijaya. Orang sombong yang akan mengajarkan sopan santun padamu!" jawab Suta.
Bruk!
"Maafkan ketidaktahuanku ini pangeran! Sungguh saya tidak sadar gunung tinggi yang ada di depan mata. Tolong maafkan saya!" reaksi Arya, sambil menjatuhkan satu lututnya ke tanah, sebagai bentuk penghormatan pada atasannya.
"Bangunlah! Jangan lakukan hal itu. Masa sudah berubah. Tidak ada lagi hamba dan majikan. Yang ada hanya mitra."
"Sekarang kita adalah mitra, yang akan bahu membahu menjaga negara ini dari kehancuran."
"Tidak lama lagi musuh yang nyata akan muncul, dan masa itu kaulah yang harus menyelesaikannya." ucap Suta.