Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Bertemu Sang Legenda


"Uh sialan! Bagaimana bisa?" batin Arya dalam diam. Padahal sudah sangat nyata musuhnya terbunuh. Tapi kenapa bisa hidup lagi. Dimana salahnya?Apakah teknik yang ia gunakan terlalu rendah atau bagaimana?


Bermacam macam pikiran negatif yang ada di kepala Arya bermunculan. Semua membahas tentang Medusa yang tiba tiba bisa hidup lagi setelah terkena teknik kekosongan semesta. Pukulan Raja Bajra juga sudah ia layangkan. Kemarahan semesta juga sudah ia terapkan. Namun tidak bisa juga membunuh Medusa. Apakah mungkin harus menggunakan api hitam pembakar jiwa, yang belum sempurna ia pelajari? Atau menggunakan kujang emas yang sukses menghabisi lawannya diawal?" Ah, harus dicoba!" pikir Arya.


Lalu tanpa basa basi lagi segera mengeluarkan kujang emas yang jarang ia gunakan.Diiringi dengan api hitam pekat dikedua tangannya. Auranya jelas sangat menekan, hingga membuat Medusa menggigil ketakutan.


"Uh gawat! Apakah ia tahu kelemahan ku atau hanya coba coba saja? reaksi Medusa sambil berpura pura tidak terpengaruh karena auranya.


"Nah itu baru bagus! Sedari tadi bocah itu terus menyembunyikan kemampuannya. Padahal kalau dikeluarkan sejak dari awal, sudah pasti naga jadi jadian itu akan mati. Jadi ayo kita tunggu aksinya!" ujar Draco pada Suta.


"Tapi kemampuan api hitam pembakar jiwa belum sempurna ia kuasai ayah. Apakah mungkin bisa menghabisi Medusa?" ragu Suta atas pernyataan ayahnya.


"Itu gampang. Lihat ini!" jawab Dragon cuek saja. Lalu menjentikkan jari telunjuknya kearah Arya, atau tepatnya kearah api hitam yang sedang membara ditangannya itu.


Sedetik kemudian tanpa dikomando. Api tersebut tiba tiba membesar dan segera mengurung Medusa, hingga membuatnya tidak sempat bereaksi saking cepatnya, dan mengurung serta menarik seluruh jiwanya untuk berkumpul.


"Bagaimana bisa?" sebuah pertanyaan klasik meluncur begitu saja dari mulut Medusa. Karena dia tidak menyangka api kecil yang semula diremehkannya, tiba tiba membesar dan mengurung tubuhnya. Bahkan jiwanya pun ikut tertarik tanpa mampu melawannya.


Kalau ia tahu sejak dari awal. Tentu saja ia akan waspada. Ini malah meremehkannya. "Habislah sudah!" batin Medusa.


"Anak muda! Ayo kita akhiri permusuhan ini. Maafkan sikapku dan tolong lepaskan aku!"


"Aku berjanji akan setia padamu dan mengabdi demi kepentinganmu."


"Pulau yang tuan ingin bangun akan aku jaga asal tuan mengampuniku.Tapi tolong lepaskan jiwaku. Aku sudah tidak sanggup menahannya!" ujar Medusa membujuk Arya agar dia bisa melarikan diri.


"Hemm! Ternyata dia takut dengan kedua benda ini. Kalau aku tahu sejak dari awal, sudah ku panggang tubuhnya serta ku hunjamkan kujang ini ke kepalanya. Sungguh sangat sia sia. Benar benar lawan yang tangguh." batin Arya. Lalu tanpa diduga tubuhnya menghilang dan muncul satu meter dari tubuh Medusa, yang sekarang sudah sempurna tubuhnya.


"A apa yang akan kau lakukan? Jangan mendekat! Kalau tidak...?!"


Swush!


Jleb!


Jleb!


Blar!


"Argh, kurang ajar! Akan ku bunuh kau!" reaksi Medusa sangat marah, sesaat setelah Arya melepaskan api hitamnya keatas kepala Medusa. Dibarengi dengan menusukkan kedua kujang emas ke kedua matanya. Baru setelah itu Arya menjauh, dan melihat hasil apa yang akan ia dapatkan. Sambil membentengi dirinya dengan perisai energi kekosongan.


Segera setelah itu Medusa tentu saja ketakutan.Dia tahu bahwa hidupnya akan segera berakhir, dan sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup.


Memikirkan itu dia nekat melawan Arya habis habisan, walau nyawa taruhannya. Tapi Arya sudah tahu niat Medusa itu.


Maka dengan segala kemampuannya, walau matanya sudah buta. Medusa menyabetkan ekornya ke arah Arya, yang ia perkirakan ada disana. Tidak berhenti sampai disitu. Dengan menggunakan sisa sisa tenaganya, ia merilis sebuah teknik pengorbanan jiwa, Dimana tubuhnya yang sedang terbakar itu kembali membesar, dan kali ini benar benar berubah menjadi naga raksasa. Namun api hitam milik Arya yang sudah disempurnakan oleh Dragon tidak bisa padam juga. Malah ikut membesar seiring membesarnya tubuh Medusa. dan itu efeknya sangat terasa.


"Ayo kita mati sama sama! Aku tidak rela kalau harus berakhir seperti ini!" geram Medusa.


"Pengorbanan alam jiwa! Aktifkan!" teriaknya membahana.


Krak!


Krak! dan


"Boooommm!"


Tubuh Medusa langsung meledak sampai menimbulkan guncangan yang sangat luar biasa, dan serpihan tubuhnya berterbangan kemana mana, bahkan menabrak perisai energi yang membentengi Arya, hingga membuatnya sedikit kesulitan dan hampir terpental karenanya.


"Huh! Hampir saja." keluh Arya merasa lega. Lalu mengedarkan aura kesadarannya ke sekitar, untuk mencari siapa tahu masih ada ancaman dari serpihan jiwa Medusa. Tapi ternyata tidak ada.


"Tuan Suta!" kaget Arya dibuatnya.


"Jangan panggil aku tuan. Panggil kakak saja." reaksi Suta tidak berdaya.


"Mana boleh begitu! Tuan adalah atasan saya. Jadi sudah sepantasnya kalau saya memanggil anda tuan. Bahkan jika memungkinkan memanggil yang mulia." sanggah Arya.


"Jangan! Cukup panggil aku kakak, karena usia kita tidak terpaut jauh. Lagipula kita ini keluarga, karena leluhur Ditya sudah menganggap leluhurmu sebagai saudaranya.Jadi tidak usah panggil tuan. cukup kakak saja!" tegas Suta.


"Hehehe! Baik senior!" respon Arya malu malu.


"Sekarang ayo kita keluar, dan temui calon gurumu." sambung Suta.


"Calon guru. Siapa?" tanya Arya keheranan.


"Ayahku. Dragon Sang Naga Dunia!" jawab Suta cuek saja.


"Apa? Yang mulia Draco? Legenda petarung tingkat dewa. Apa benar itu?" reaksi Arya seakan tidak percaya.


"Begitulah ceritanya. Sekarang kau sedang ditunggu di istana kaisar jiwa. yang leluhurmu sendiri takut untuk masuk kesana." jawab Suta kalem saja.


"Waduh, bagaimana ini? Apa aku pantas berguru padanya?" batin Arya.


"Kau pantas berguru pada ayahku karena dia sendiri yang menginginkannya." ujar Suta


"Eh...??" reaksi Arya tidak menduga. Namun tiba tiba tubuhnya menghilang dan muncul di ruang jiwa kaisar naga. Sebelum keheranannya terjawab.


"Kita sudah sampai!" ucap Suta." Ayo kita temui ayahku!" ujarnya.


***


Di dunia manusia.


"Kemana kak Arya ya? Kenapa sampai sekarang belum pulang juga? Apakah telah terjadi sesuatu padanya?" keluh Manda tidak berdaya. Karena selama tiga hari ini dia tidak melihat Arya. Entah apa yang telah terjadi padanya?


"Kau tenanglah putriku! Arya tidak apa apa." ucapan ayahnya sedikit banyaknya membuat kegelisahan Manda jadi berkurang. Namun tidak mengurangi rasa takutnya.


"Sebagai calon pendamping, kau sebaiknya menyadari bahwa Arya itu bukan manusia biasa. Kegiatan dan tanggung jawabnya sangat besar. Apalagi terhadap anak buahnya."


"Oleh karena itu percayalah, bahwa dalam masa dekat ini dia pasti akan kembali, karena tambatan hatinya ada disini." sambung ibunya.


Manda hanya tersenyum saja. Dia akhirnya menyadari siapa Arya. dan itu tanggung jawabnya.


Sementara itu ditempat lain.atau tepatnya dikediaman Kanaya. Kalau Amanda merasa resah. Kanaya malah sebaliknya. Dia tenang tenang saja, karena jiwanya sudah terhubung dengan Arya. Jadi dia tahu bahwa Arya tidak apa apa. dan itu bisa dirasakan sesaat setelah Arya keluar dari ruang hampa,walau hanya sepersekian detik saja.


"Syukurlah kak Arya tidak kenapa napa. Aku tenang jadinya." Batin Kanaya.


"Tapi kok tiba tiba auranya menghilang. Ada apa ya?" batinnya lagi.


"Semoga ini hanya pikiranku saja. Aku yakin kak Arya pasti bisa!" Guman nya.


***


Di istana kaisar naga. Arya sekarang sedang berhadapan dengan sang legenda Kaisar Naga, atau Dragon Sang Naga Dunia. yang saat itu pembawaannya sangat tenang dan tidak bisa diukur kedalaman ilmunya.


Kaki Arya sedikit bergetar, dan tidak tetap berdirinya. disebabkan perbawa Dragon yang sangat luar biasa. hingga membuat Arya lama terdiam dan tidak bisa berkata apa apa.


Didepan kekuatan sang legenda, kekuatan Arya tidak ada apa apanya. Padahal saat ini adalah dunia Arya, cerita Arya. Tapi diatas langit masih ada langit. Jadi Arya harus tunduk pada kekuatan yang lebih besar darinya. Apalagi didepan sang legenda.