
"Arya, juga yang lainnya, persiapkan diri kalian, karena tiga hari lagi kita akan berangkat ke provinsi untuk melakukan seleksi."
"Beritahu juga teman mu, Dadung, yang kebetulan hari ini sedang izin. jadi tidak bisa hadir saat ini." Ujar Bu Siska, saat memberikan pengarahan pada lima orang siswanya.
Tak lama kemudian menyambung lagi perkataanya. "Lawan yang akan kalian hadapi itu adalah siswa dari sekolah favorit, yang murid muridnya cukup mumpuni di bidang olahraga."
"Jadi ibu berharap, agar kalian tidak kendor semangatnya saat mendengar itu, apalagi kau Arya?"
"Sebagai ketua tim, ibu juga berharap, agar kau bisa memberi motivasi pada teman teman mu, terutama si Dadung itu, karena ibu lihat, dia hanya patuh pada mu."
"Oleh karena itu ibu berpesan, agar kau bisa menciptakan kekompakan tim, jangan sampai ada pergesekan kepentingan, walau sepenting apapun itu."
"Sebaliknya bentuk solidaritas dan semangat yang tinggi, agar sekolah kita bisa menjadi wakil provinsi, untuk meraih kemenangan ditingkat pusat."
"Dengan menangnya tim kalian di semua cabang olahraga, otomatis rating sekolah kita akan naik, dan bisa menduduki peringkat pertama di provinsi ini."
"Mudah mudahan kita bisa mengalahkan SMA dari kabupaten sebelah, yang selama ini terus menduduki peringkat pertama. Sedangkan kita hanya menduduki peringkat kedua bahkan ketiga selama beberapa tahun ini."
"Oleh karena itu Ibu berpesan, bersungguh sungguhlah saat melawan mereka. Jangan beri kesempatan mereka untuk menang, jangan ditahan-tahan keahlian kalian, terutama kau Arya!"
"Ibu tahu kau selama ini sudah menahan kekuatan mu, dan ibu bisa melihat itu."
"Jadi untuk pertandingan tiga hari lagi ini. Ibu ingin agar kau melepaskan seluruh kekuatan itu, dan jangan segan-segan jika harus melampaui rekor dunia." Ujar Siska semangat sekali, saat memberikan instruksi pada murid-muridnya tersebut.
"Lihat bu Siska itu!. semangatnya tinggi sekali. Mentang-mentang anak yang sedang dihadapinya itu adalah Arya, dan pemilik sekolah ini, maka dia bersikap santun padanya. Coba pada kita?, bawaannya marah-marah melulu!" Ucap seorang siswa, yang terkenal Badung di sekolah tersebut, pada beberapa orang temannya.
"Wajar saja kita selalu kena marah Badung?, karena tiap hari kerja kita buat masalah saja. Coba kalau kita baik seperti Arya, apalagi berprestasi, tentu bu Siska, juga guru guru lain akan suka dengan kita?" Bantah temannya menasehati.
"Ah aku malas menjadi baik Saf !. Toh di rumah selalu kena marah, dan tidak pernah dihargai oleh orang di rumah?" Respon orang yang dipanggil Badung itu tidak suka.
Lalu diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi tak lama kemudian Dadung berkata kembali. "Aku bukan tidak mau jadi baik Saf. aku jelas mau itu."
"Tapi saat aku berusaha menjadi baik, orang lain malah menyuruh ku jadi jahat. Saat aku berusaha menjadi jahat, orang lain pula yang menyuruhku menjadi baik. Jadi mana yang betul?. Pusing aku!" Ujarnya berfalsafah pula.
"Maksud mu bagaimana?. Coba jelaskan pada kami, agar kami bisa mencerna bahasa mu yang tinggi itu?" Tanya Safrial bernada protes.
"Kau lihat Arya!. Sekarang dia baik. Tapi tiba tiba kita mengganggunya. dan terus saja mengganggunya."
"Apakah dengan begitu dia akan diam saja?. Jelas tidak kan?. Dia pasti akan melawan. Benarkan?"
"Terus?"
"Sebaliknya saat nanti Arya melawan, dan memburu kita. Orang lain pasti akan mengecap Arya itu jahat, karena mereka pasti berpikir, bahwa Arya itu punya sikap aji mumpung, yang mentang mentang siswa kesayangan pak Satya. lantas bersikap semena mena pada yang lain?"
"Padahal yang jahat itu kita, bukan dia. Dia hanya membela diri, tapi pasti akan disalahkan."
"Oleh karena itu aku putuskan, agar tetap menjadi siswa jahat dan bandel, karena mereka sudah terlanjur menjulukiku siswa Badung, bahkan memanggilku juga dengan nama itu."
"Jadi lebih baik begini saja. enjoy dan ditakuti oleh siswa disekolah ini?" Jawab Badung, atau Pramudya merasa bangga.
"Ditakuti apa?. Coba kau lawan Arya kalau berani?" Ejek temannya tidak diduga.
"Kalau dia itu mah suatu pengecualian!" Jawabnya beralasan.
"Kenapa?" Tanya temannya lagi.
"Ya tentu karena aku takut padanya!. Melihatnya saja sudah merinding, apalagi melawannya?" Jawab Badung berterus terang.
"Memang ada yang seperti itu?." Tanya Tino, teman Badung yang lainnya lagi.
"Ya, adalah!. Nih buktinya aku!. Setiap bertemu dan memandangnya, hati ku langsung bergetar, dan badan ku menggigil ketakutan. Itu tandanya aku takut!.Tau?" Jawab Badung tegas.
"Memang apa yang kau lihat, saat bertemu dengan Arya?. Apakah dia berubah jadi hantu?" Tanya Pino, teman Badung yang tadi penasaran.
"Tau ah?. Mungkin saja iya?. dan cuma aku yang boleh tahu apa itu?"
"Tapi ah sudahlah!. lebih baik aku pergi saja, malas ngomong dengan kalian ini. Menyebalkan saja!" Respon Pramudya atau Badung itu tidak suka.
"Aku serius nih!. Aku bukan bercanda. tapi benar-benar serius!" Ucap Pino tegas, demi mencegah Pramudya agar tidak pergi.
Memandang wajah Badung sejenak, seperti sedang mencari kesungguhannya, dalam mendengar pendapat orang. "Sekarang dengarkan baik-baik ya Badung?. yang takut padanya itu bukan hanya kamu, tapi kami juga!. Bahkan kita berdelapan ini, tidak berani mengganggunya."
"Bukan karena dia kenal dekat dengan pak Satya, tapi karena kita tahu, bahwa Arya itu jago karate, jago berkelahi dan jago yang lainnya. Jika kita mencari gara-gara dengannya, nanti tubuh kita bonyok yang ada. Tahu kan kau?" Tangkis Pino memberi ketegasan.
"Tapi aku penasaran la?. Kenapa si Arya itu dekat sekali dengan pak Satya itu. Mungkinkah dia...?" Ujar salah seorang diantara mereka datang meramaikan pembicaraan.
"Mungkin itu hanya satu kebetulan saja Zal?" Bantah yang lain lagi.
"Kalau itu kebetulan, mana mungkin sikap pak Satya bisa begitu baik pada Arya?. Kalau tidak ada apa apanya?"
"Maksud mu?"
"Kalian tahu?, aku pernah melihat Arya dipeluk oleh pak Satya, seperti orang tua dengan anaknya." Jawab Syafrizal apa adanya.
"Kapan itu?" Tanya Badung penasaran.
"Saat secara tidak sengaja aku melewati tempat usahanya tersebut."
"Tunggu, tunggu!. Kau bilang Arya mempunyai sebuah usaha?, usaha apa?. Jual gorengan kah?" Ucap Badung menghentikan penjelasan dari temannya.
"Sembarangan saja kalau bicara!. Dia membuka restoran, yang bangunannya saja cukup besar, bertingkat tiga lagi?. Enak saja kau bilang jual gorengan!" Protes Syafrizal tidak suka.
"Mana bisa begitu?. Aku pernah mendengar, bahwa Arya itu yatim piatu, yang hidupnya sangat susah sekali. Tapi kenapa tiba-tiba dia bisa menjadi seorang pengusaha?" Bantah Tino tidak terima.
"Mana aku tahu?. Pertanyaan itu juga yang ada di benak kami. Tapi kesimpulan sementara, Arya itu mendapatkan bantuan dari pak Satya, karena ada sesuatu yang diharapkan dari dia." Jawab Syafrizal menduga saja.
"Apa itu?" Tanya Pramudya pula.
"Ya jelas untuk menjadi menantunya!. Kalau tidak buat apa pak Satya baik pada Arya, kalau tidak ada udang dibalik bakwan?" Jawab Syafrizal pula.
"Lagi pula kita sudah sama-sama tahu, kalau Arya dan Amanda itu berpacaran?. Jadi ya itulah tujuannya!" Ujarnya lagi.
"Oh begitu?. Tapi katanya saingan Arya itu cukup banyak?, karena kebetulan temanku, eh bukan tetangga jauhku bekerja pada orang yang juga menginginkan Amanda. dan dia adalah seorang pengusaha muda, yang sangat ngebet sekali untuk mendapatkan Amanda. Tapi sayangnya Amanda menolaknya. Begitu juga dengan orang tuanya."
"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Pramudya bertambah penasaran.
"Ya tentu saja perkelahian lah!. Tapi sampai saat ini, belum terjadi juga. Namun aku yakin, pada suatu saat nanti, mereka pasti akan bentrok juga?" Jawab Syafrizal apa adanya.
"Hebat juga kau ya?. Jelek-jelek begini tahu banyak tentang Arya?. Apakah kau memata matai nya?"Tanya Tino datang menyela, dan sembarangan saja saat berkata.
"Enak saja!. Aku ini anak gaul tau?. Pergi ke mana saja selalu banyak kenalan, dari mereka lah aku jadi tahu siapa Arya itu?" Jawab Syafrizal tidak terima.
"Oh begitu?. Aku kira kau memata-matai nya?. Kalau kau berani berbuat seperti itu, aku jamin kau akan ditonjok oleh Arya." Respon Tino kembali bersuara.
"Eh mana Aku berani?. Sebandel bandelnya aku, tetap punya akal sehat juga. dan kita sama-sama sudah tahu, kalau Arya itu kuat?"
"Saat latihan karate saja, semua murid-murid yang ada di situ kalah dibuatnya. Bahkan pelatih yang mengajarinya, dibuat tidak berdaya, hanya dengan satu tendangan saja." Apalagi kita, yang tahunya cuma membuat susah saja!" Respon Syafrizal cukup tahu diri.
"Ya apalagi kalau bukan Arya itu hebat. Jadi menurut hemat ku, yuk kita berubah, dan menjadi pengikutnya. Siapa tahu kita bisa diterima bekerja di restorannya itu?" Ucap Pino cukup masuk akal.
"Wah satu ide yang bagus!. Aku setuju dengan saranmu itu!. Bagaimana kalau sekarang kita temui Arya, dan mengatakan itu bahwa kita akan tobat." Sambut Badung tiba tiba.
"Tobat?. Hahahaha!, yang benar saja?. Pramudya yang dijuluki orang dengan si Badung, tukang buat masalah, gampang marah, dan si tukang buat rusuh bisa tobat?"
"Kalau benar apa yang kau katakan itu, maka aku tahan tidak makan selama 2 hari, dan hanya minum air putih saja!" Respon Tino berkomentar tiba tiba.
"Serius?" Tanya Badung ingin ketegasan
"Ya seriuslah!. Kalau kau tidak percaya. cobalah!. Belum apa-apa pasti Arya sudah menonjok mu. Aku jamin itu!" Jawab Tino begitu yakinnya.
"Baik kalau begitu!. Kau lihat saja, setelah bu Siska selesai memberikan pengarahannya, kita datangi Arya, dan langsung membuat ikrar pasal 808 dalam kelompok kita, yang akan membuat kita semua berubah menjadi anak baik, dan tidak akan membuat rusuh lagi." Respon Pramudya mendadak suka.
"Oke deal!. Aku setuju dengan perkataan mu!" Respon Pino datang menengahi.
"Tapi ingat Pino!. Jika aku menang, kau harus membayarkan ku tiga juta rupiah, karena aku ingin beli hp." Ujar Pramudya mengingatkan temannya.
"Mana bisa begitu?. Baik aku puasa saja!" Protes Tino tidak terima.
"Kalau begitu puasa tiga hari tiga malam, tidak boleh makan nasi, kecuali minum air putih saja, bagaimana?" Jawab Pramudya memberi usul.
"Yah apa boleh buat?. Aku bayar kau tiga juta, kalau Arya mau menerima mu menjadi anak buahnya." Sambut Tino lemah.
"Oke, deal!" Respon Pramudya senang. Kemudian mengajak teman-temannya untuk mendatangi Arya.