Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Niat akan dicurangi


"Mohon maaf tuan!" Ucap Argani pada tuannya. Saat semua teman Arya tertidur pulas itu.


"Ha!. Ada apa paman?. Apakah ada sesuatu yang ingin paman sampaikan?" Reaksi Arya kaget saat anak buahnya datang ke kamarnya. Sambil melirik ke arah teman-temannya, siapa tahu mereka jadi terbangun.


"Begini tuan!. Sepanjang perlombaan tadi. Orang orang ku terus berkeliling dan mengawasi mereka."


"Sepertinya ada beberapa orang yang berniat ingin menghambat laju prestasi yang akan tuan dapatkan nanti, terutama dalam perlombaan besok."


"Mereka tidak terima kalau perwakilan dari sekolah tuan yang akan dikirim ke tingkat provinsi, padahal biasanya adalah perwakilan dari sekolah mereka lah yang selalu dikirim walau selalu nya kalah."


"Jadi di antara mereka ada yang ingin memasang jebakan, terutama di lompat tinggi dan lompat galah."


"Jadi apa yang harus kami lakukan tuan untuk mencegah rencana mereka itu?" Ucap dan tanya anak buahnya itu butuh kepastian.


"Oh itu gampang saja paman!. Buat mereka tidak bisa datang, agar tidak menimbulkan masalah buat ku besok."


"Selain itu, gunakan penglihatan kalian untuk melihat apakah jebakan itu sudah di pasang oleh mereka atau belum?"


"Pastikan kalau lapangan perlombaan aman dari segala macam gangguan, termasuk hal-hal sekecil apapun harus kalian perhatikan."


"Aku tidak mau acara ini gagal, dan tidak mau rencana mereka berhasil!" Jawab Arya penuh kejutan.


"Baik, kami mengerti tuan!" Jawab anak buahnya patuh. Kemudian pergi dari tempat itu untuk menemui anak buahnya pula.


"Tunggu sebentar!" Ucap Arya menghentikan langkah dari anak buahnya tersebut.


"Ya tuan!, kami siap mendengarnya!" Jawab Argani patuh.


"Selama perlombaan tadi, apakah kau melihat ada kecurangan yang aku buat?" Tanya Arya ingin mendapatkan penilaian.


"Sepertinya tidak ada tuan. Tuan melakukan itu apa adanya, dan terlihat tidak menggunakan kesaktian dari sepatu itu." Jawab Argani berterus terang.


"Sepatu itu memang aku pakai, tapi hanya sebagai sugesti saja."


"Sebenarnya sejak awal perlombaan, aku tidak menggunakan kesaktian dari sepatu itu, tapi aku menggunakan kemampuan ku sendiri."


"Kebetulan waktu di istana atas awan itu, aku sudah bisa terbang. Tapi entah mengapa saat di dunia ini, kemampuan itu tidak bisa digunakan lagi?"


"Namun saat menghadapi tantangan seperti siang tadi, tiba-tiba kemampuan itu datang kembali, dan membantu ku untuk berbuat apa saja yang aku inginkan."


"Tapi sejujurnya aku tidak merasa senang, karena itu bukan atas kemampuan ku sendiri, tapi kemampuan yang datang dari luar." Ujar Arya menjelaskan, dan seperti ingin curhat dengan anak buahnya tersebut.


"Maaf!, jangan salah menilai tuan!. Kemampuan terbang tuan itu memang alami. Itu sudah ada sejak lama di dalam tubuh tuan."


"Karena tuan adalah keturunan dari yang mulia Purbaya, maka otomatis di tubuh tuan sudah ada kemampuan tersebut."


"Saat tuan dibawa masuk ke istana itu, mereka hanya tinggal mengaktifkannya saja melalui air kehidupan."


"Jadi saat tuan melompat tadi, itu adalah kemampuan asli tuan, bukan karena adanya sepatu itu." Reaksi Argani menjelaskan.


"Benarkah apa yang kau katakan itu paman Argani?. Apakah kau hanya sekedar menyenangkan ku saja?" Tanya Arya mulai senang.


"Benar tuan!. Saya mengatakan apa adanya."Jawab Argani lagi.


"Bagus!. Lalu kenapa saat galah itu patah, tiba tiba aku bisa terbang?. Apakah itu ada campur tangan kalian?" Reaksi Arya penasaran.


"Tidak sama sekali tuan!. Kemampuan yang ada di tubuh tuan itu yang menolongnya."


"Bahkan membuat kesadaran tuan meningkat drastis. Maka dalam waktu singkat, tuan sudah bisa mengatasi kesulitannya." Jawabnya sekali lagi.


"Ternyata begitu?. Aku kira aku telah membuat kecurangan?"


"Oh satu lagi paman!.Terus terang saja aku katakan paman Argani."


"Pada awalnya aku tidak bisa berkelahi apalagi terbang?"


"Tapi sejak masuk ke dalam sumur itu, tiba-tiba aku jadi pandai berkelahi, bahkan mampu mengalahkan sekian puluh orang."


"Apakah itu karena kebetulan atau memang gara-gara masuk ke dalam sumur itu?" Tanya Arya ingin tahu. dan menceritakan apa adanya sekaligus ingin membongkar rahasia apa yang dia dapatkan di dalam sumur itu.


"Kalau masalah itu saya tidak tahu tuan!. Kami cuma ditugaskan untuk menjaga benda-benda kepunyaan dari yang mulia saja."


"Tapi kalau untuk menggunakan belum pernah sama sekali, kecuali kalau salah satu diantara kami ada yang sakit."


"Itupun hanya diberi minum atau dioleskan saja, tanpa boleh masuk ke dalam kolam raja tersebut."


"Tapi waktu pertama kali tuan datang. Mungkin tuan berendam di tempat itu?. karena menurut penglihatan ku, di tubuh tuan pernah terdapat luka, tapi berkat masuk ke dalam kolam itu, luka tersebut sudah tidak ada lagi. Namun auranya masih tetap ada, dan itu akan hilang dengan sendirinya."


"Untuk tuan ketahui. air kehidupan yang ada di kolam raja itu adalah air yang didatangkan dari pusat langit, tapi bukan air hujan."


"Jika dioleskan apalagi diminum, akan membuat luka bagaimanapun parahnya akan sembuh seketika."


"Jadi kami yakin, saat tuan dibawa masuk ke dalam sumur Itu, tuan dimasukkan kembali ke dalam kolam yang ada di dalamnya."


"Jika tidak?. Bagaimana luka tuan yang separah itu bisa sembuh sedemikian rupa, kalau bukan karena dimasukkan ke dalam kolam itu, dan diberi minum dengan air tersebut?"


"Itu pasti karena khasiat dari air kolam raja itu!"


"Jadi mulai sekarang tuan jangan khawatir."


"Lakukan tugas yang diberikan oleh sekolah tuan dengan kemampuan tuan sendiri, bukan berdasarkan kemampuan dari sepatu yang tuan pakai itu." Jawab dan penjelasan Argani pada tuannya cukup panjang sekali.


"Hemm baiklah!. Besok aku akan melakukan yang terbaik, dan tidak akan mengecewakan pihak sekolah, apalagi Bu Siska yang baik itu." Respon Arya senang setelah diberi penjelasan oleh anak buahnya tersebut.


"Tapi ingat tuan!. Ada pihak-pihak tertentu yang ingin menggagalkan keberhasilan tuan besok. Jadi tuan harus hati-hati." Sambung Argani mengingatkan.


"Itu tugas mu juga orang orang mu, untuk membuat hal tersebut tidak terjadi. dan aku percaya pada kemampuan kalian!" Respon Arya cukup tenang.


Kemudian mempersilahkan anak buahnya untuk pergi.


Sepeninggal Argani, Arya bergumam sendiri, seperti tidak habis pikir, kenapa itu harus dia alami. "Bagaimana lah negara ini bisa maju. jika belum apa apa orang-orangnya sudah berniat jahat begitu?"


"Tapi ini tidak. Malah berusaha untuk mencelakakan orang lain."


"Bagaimana orang akan merasa tenang, Jika di jahati seperti itu?" Ujarnya lirih.


Lalu diam seperti merenung, dan memikirkan apa yang akan dilakukan nya besok.


Namun tak lama kemudian Arya berkata kembali. "Padahal aku tampil apa adanya, tidak menggunakan kesaktian dari sepatu itu."


"Kalau aku menang, itu karena kemampuan ku sendiri, bukan karena benda itu?"


"Aku menganggap bahwa sepatu itu hanya sugesti ku saja, untuk menambah keyakinan ku bahwa aku bisa."


"Kecuali kalau saat digunakan memang benar-benar untuk terbang, baru aku bergantung sepenuhnya kepada sepatu tersebut, tapi bukan saat perlombaan?" Ujarnya lagi.


"Besok aku akan tunjukkan pada mereka bahwa aku bisa!" Batinnya kemudian.


***


Dan keesokan harinya, tepat pukul 08.00 pagi, acara perlombaan sudah dimulai.


Peserta dari SMA Tunas Bangsa, mendapatkan undian pertama bukan ke-3 lagi.


Kali ini yang akan tampil pertama adalah Arya dari kelompok laki-laki, baru disusul oleh Dadung dan diakhiri oleh Drajat pula.


Cabang lomba yang akan diperlombakan hari ini adalah lompat tinggi, dimana mistar yang dipasang ketinggiannya cuma 1,8 meter, suatu hal yang sangat mudah buat Arya.


"Hup!"


Tap!


"Berhasil!" Seru panitia merasa senang.


"Sekarang giliran peserta lain pula." Serunya lagi.


"Berhasil juga!"


"Berhasil lagi!" Serunya berulang ulang.


Sebab Dadung dan Drajat juga bisa melewati mistar itu dengan mudah. Buat mereka yang agak susah itu kalau ukurannya dinaikkan, yaitu ukuran standar, yang ukuran tingginya mencapai 2.5 meter baru mereka keteteran, kecuali Arya.


Bahkan peserta dari sekolah lain pun berhasil melompatinya. Jumlah yang berhasil itu cukup banyak, yaitu sebanyak 35 orang untuk putra dan 15 orang untuk putri, termasuk dari SMA Tunas Bangsa.


Jadi mau tak mau ukuran ketinggiannya harus ditambah, yaitu menjadi 2 meter, untuk mencari 3 besar untuk laki laki dan tiga besar untuk perempuan. Karena hanya 3 orang yang akan dikirim ke provinsi untuk mewakili kabupatennya.


Kini perlombaan dimulai lagi. Giliran kelompok perempuan pula yang akan melakukannya.


Kebetulan peserta pertama yang harus tampil adalah Amanda. Dia yang menempati urutan pertama besar, harus mampu mengungguli lawan-lawannya. Karena dia sangat berharap bisa mendampingi Arya ke tingkat provinsi.


Selain itu, dia tidak mau jauh-jauh dengan Arya, karena dia tahu bahwa banyak wanita yang sudah mulai meliriknya. Katakanlah dia cemburu istilahnya.


"Siap sedia?. Mulai!"


Tap! tap! tap!


Bruk!


"Berhasil!. Dua meter terlewati!" Teriak panitia kuat kuat saat Amanda bisa melewati mistar yang tingginya 2 meter itu. bahkan melebihinya.


"Giliran peserta berikutnya, masih dari SMA yang sama!. Natasya Bella!"


"Silakan!." Bunyi pengumuman dari pengeras suara sebagai tanda untuk mulai. Lalu..


Tap!


Kaki Natasha, mendarat mulus di tanah berpasir. Bahkan dia mampu melampaui tingginya mistar itu sekitar 0,8 cm.


Dengan demikian dia juga lulus seleksi. Kini giliran Noviana pula yang akan melakukan tugasnya.


Maka setelah mengambil ancang-ancang yang diperlukan. Noviana berlari di landasan pacu, Lalu setelah sampai, dia melenting kan tubuhnya ke udara, dan mampu melewati mistar yang terpasang itu dengan mudah, Lalu mendarat di tanah berpasir tanpa cidera.


Berarti Amanda, Natasha serta Noviana, berhasil lolos dalam seleksi tersebut untuk sementara.


Kini giliran peserta lain pula yang harus melakukan seleksi tersebut, dan ternyata setelah ketinggiannya dinaikkan tidak ada yang berhasil melampauinya. Kalaupun ada, mistar tersebut terjatuh dan dia langsung dinyatakan gugur.


Dengan demikian sudah bisa dipastikan, untuk cabang lompat tinggi kelompok wanita, akan diwakili oleh SMA Tunas Bangsa, untuk berlaga di tingkat yang lebih tinggi, yaitu provinsi.


"Kenapa lapangan pacu nya cuma satu?. Padahal kalau masing-masing kelompok ada, tentu kita tidak perlu menunggu selama ini?" Ucap seorang peserta dari SMA Mardika yang ada di distrik sebelah kurang suka.


"Manalah aku tahu?. Kita ke sini kan untuk berlaga, bukan untuk marah marah!" Jawab kawannya ketus.


"Ah kau itu!. Selalu betul bersikap sabar. Tapi kalau aku tidak!" Responnya tidak suka.


"Untuk kelompok pria, di awali oleh peserta dari SMA Mardika!. Mohon maju ke depan untuk memulai seleksinya" Ucap pemandu perlombaan pada mereka.


"Nah!. Sekarang giliran kita!. Ayo kita kalahkan peserta dari SMA Tunas Bangsa itu!"


"Aku keki sekali dengan anak yang bernama Arya itu!. Ingin rasanya mematahkan kakinya itu.


"Sejak dia datang. SMA kita tidak dipandang sama sekali, berganti dengan SMA nya pula."


"Bagaimana kalau kita buat masalah dengan dia?" Ucap salah seorang peserta dari SMA Mardika tersebut memberi usul.


"Membuat masalah bagaimana?. Apakah kau sudah gila?"


"Ini di tempat ramai. Apakah kau ingin memukulnya?" Respon temannya tidak suka.


"Bukan begitu cara mainnya. Kau lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan saat dia melompat itu." Jawab peserta itu seperti sudah mempunyai ide.