
"Tidak master Arya!. kami tidak berani!. Kekuatan kami berlima bahkan jika ditambah dengan kekuatan ketua kami tidak cukup untuk mengalahkan kekuatan anda."
"Oleh karena itu kami menyerah, dan bersedia menjadi pengikut anda!" Jawab master berperawakan cukup tinggi itu apa adanya. Dia adalah Yaksa, atau yang biasa dipanggil oleh teman temannya dengan sebutan Yasa, wakil dari Prana.
"Bagus!. Aku senang dengan pernyataan mu itu. Tapi aku tidak mudah percaya begitu saja, aku butuh pembuktian dari kalian." Jawab Arya mengagetkan mereka.
"Pembuktian yang bagaimana yang master inginkan?. Apakah kami harus memotong tangan atau jari kami agar master percaya?" Respon master Yasa merasa penasaran.
"Tidak begitu juga. Kalian tahu, bahwa orang yang bernama Tanu dan anak buahnya itu yang telah memprovokasi kalian, hingga membuat kalian tunduk di bawah kekuatan ku?.Jadi tentunya kalian tahu apa yang aku inginkan?" Jawab Arya sekedar mengingatkan, yang ditujukan pada mereka berenam.
"Baik kami tahu!. Kami akan melaksanakan keinginan master itu. Master cukup duduk tenang, dan lihat apa yang akan kami lakukan pada mereka." Jawab Prana datang menyela, mewakili Yasa dan teman temannya dalam menanggapi pernyataan dari Arya.
"Tapi tunggu dulu!. organ dalam kalian itu terluka, izinkan aku untuk mengobatinya." Cegah Arya mengagetkan mereka.
"Baik, terima kasih master!. budi baik ini tidak akan pernah kami lupakan." Respon Prana merasa sangat senang.
"Jangan panggil aku master!. Panggil aku Arya saja." Ucap Arya Tidak enak hati, karena master-master itu usianya jauh lebih tua darinya, Bahkan mereka sudah boleh dikatakan hampir mendekati pria paro baya.
"Tidak bisa!. Kekuatan anda berada jauh di atas kami. jadi kami harus memanggil anda master, karena itu aturan dalam dunia persilatan, walaupun usia kami lebih tua dari anda." Jawab Yasa mendahului Prana pula, Tegas dan bersikukuh tetap akan memanggil Arya dengan sebutan master.
"Ah terserah kalian sajalah!. Tapi aku menyarankan panggil saja Arya, tanpa embel-embel master. Oke?" Respon Arya pasrah. Sambil menyalurkan aura penyembuhannya ke tubuh anak buahnya masing masing.
"Terima kasih master!. Budi baik anda ini tidak akan pernah kami lakukan."Ujar yang lainnya pula.
"Tidak masalah!. Sekarang lakukan apa yang aku inginkan!. Hajar mereka!" Jawab Arya cukup tenang.
"Siap!. Kami akan melakukannya untuk anda!" Jawab Prana patuh kemudian mendekati Tanu yang sampai saat ini masih tetap berdiri diam, Setelah dia tidak mampu meladeni Jodi yang dianggap lemah itu, dan dia tidak menyangka bahwa orang yang pernah ditolongnya dulu akan membuat masalah dengannya.
"Master Prana!. Apa yang akan kau lakukan?. Aku ini penolong mu bukan musuh mu?" Reaksi Tanu meminta penjelasan.
"Kebaikan itu sudah aku balas Tanu. Sekarang giliran ku untuk membalas kebaikan orang lain pula."
"Gara-gara kau, kami semua telah celaka. Beruntung master Arya bermurah hati pada kami, walaupun kami ingin mencelakainya, tapi dia tetap memaafkan kami."
"Untuk kau tahu Tanu!. kami sekarang sudah menjadi pengikutnya!. Siapapun yang mencoba untuk mencelakai master Arya. dia harus berhadapan dulu dengan kami!" Jawabnya berterus terang.
"Apa kau bilang?. Sekarang kalian telah menjadi pengikutnya?. Yang benar saja?"
"Kalian ini master. Apa tidak malu berada di bawah kaki bocah ingusan seperti itu?" Reaksi Tanu cukup membuat mereka tersinggung, apalagi Prana.
Dia maju selangkah lagi. Kemudian berkata dengan ekspresi yang sangat tidak suka."Jangan bersikap tidak sopan Tanu!. Kau sudah keterlaluan!"
Shut!
Bugh!
"Hugh!" Keluh Tanu kesakitan, saat bogem mentah Prana mengenai ulu hatinya.
Emosinya jadi terpancing. kemudian berkata dengan nada yang sangat merendahkan, sambil memegang dadanya yang masih terasa sakit itu.
"Dasar orang tua yang tidak tahu diri!. Kalau tahu bakal begini, aku tidak akan menolong mu saat kesusahan dulu!. Percuma saja!" Ujarnya membangkitkan apa yang pernah dia lakukan pada Prana dulu.
Diam sejenak kemudian berkata kembali. "Kau dengar Prana!, aku tidak perlu lagi menghargaimu sebagai master, tapi sebagai anjing!, karena apa?" Ujarnya sempat terhenti dan menunggu reaksi dari lawan bicaranya untuk menanggapi.
"Jangan kurang ajar kau Tanu!. Aku manusia terhormat bukan anjing!. yang anjing itu adalah kau!" Respon Prana benar-benar marah, kemudian berkelebat ke arah Tanu, dan menghantam wajahnya kuat kuat,hingga membuat wajah Tanu berpaling, serta terpelanting ke belakang.
Prana yang sudah emosi itu, terus menghajar Tanu sambil meluapkan kemarahannya. "Kalau hari ini kau tidak lumpuh, Maka jangan panggil aku Prana!"
"Aku paling suka mematahkan kaki seseorang, apalagi menghancurkan mulut yang sangat keterlaluan itu!"
"Hiaaa!"
Plak!
Bugh!
"Aaarrkkhh!" Teriak Tanu kuat kuat, saat kaki dan tangannya dipatahkan oleh Prana. giginya sebagian dibuat rontok, dan pipinya dibuat lebam-lebam.
"Itu akibat telah berani meremehkan master Arya. Lain kali kalau kau masih berniat memusuhinya, Maka jangan salahkan kami akan membunuh mu!" Ujarnya seakan belum puas untuk menghajar lawannya.
"Tolong jangan bunuh aku!. Aku mengaku salah!. Aku hanya diperintah oleh Teddy, karena dia merasa sakit hati sekali pada bocah itu...!"
Plak!
Sekali lagi wajah Tanu ditampar cukup keras oleh Prana, karena dia tidak terima kalau Arya dilabeli seperti itu.
"Jangan kurang ajar kau Tanu!. Dia master Arya bukan bocah! Jangan panggil lagi dia seperti itu! tapi master!" Tau kamu?" Ujarnya marah. lalu bertindak lebih brutal lagi.
Bugh!"
"Hentikan!. Jangan pukul aku lagi, aku menyerah!" Teriak Tanu ketakutan. Kemudian berusaha mendekati Arya untuk meminta belas kasihan padanya.
"Master Arya!, Tolong maafkan aku!. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!. dan jika aku punya kesempatan, maka aku akan membuat perhitungan dengan Teddy untuk anda!" Mohon nya untuk tidak disiksa lagi.
"Manusia licik sepertimu mana bisa dipercaya.?. Hari ini bilang menyerah, besok kalau sudah punya kekuatan akan membalas dendam lagi."
"Kau ingat apa yang terjadi di kampung kita sana?. Bukankah saat itu kau sudah meminta ampun padaku, dan berjanji tidak akan melakukannya lagi?.Tapi apa buktinya?"
"Kau malah bersedia menjadi kacungnya Teddy hanya dengan bayaran seadanya. kau tahu Teddy itu siapa ha?. Dia belum pantas untuk membuatmu berada di bawah kakinya." Ujar Arya mengingatkan teman sekampungnya itu, agar menyadari apa yang telah dilakukannya itu.
"Tanu, Tanu? Percuma menjadi ketua gangster, preman, pemalak, perampok dan pencuri. tapi nyatanya kau masih bisa diatur oleh orang lain!" Ucap Arya lagi sekedar mengingatkan.
"Untuk kali ini percayalah master!. Aku tidak akan berbohong lagi. Aku bersungguh-sungguh dan berjanji akan bertobat." Jawab Tanu sungguh mengejutkan.
"Apa buktinya kalau kau tidak akan mengulanginya lagi?. Apakah ucapanmu kali ini bisa dipercaya?" Tanya Arya.
"Percayalah master Arya, kali ini aku bersungguh sungguh. Jika aku berbohong, master boleh membunuhku." Jawab Tanu tanpa ragu-ragu.
"Baik!. Kali ini aku terpaksa harus mempercayaimu. Tapi kalau kau berbohong dan menghianatiku lagi, maka kau akan seperti Alex dan anak buahnya itu!" Respon Arya cukup tanggap.
"Sekarang lihatlah mereka!. Mereka tidak ada bedanya dengan anjing, meringkuk di tanah, dengan ekspresi ketakutan karena dimarahi oleh tuannya."
"Itu bisa terjadi hanya karena mereka telah berani menghianatiku, bahkan mencoba untuk mencelakai ku melalui mu."
"Apakah kau tahu apa artinya itu?. Sekarang mereka sudah mendapatkan hukuman, karena sudah dikalahkan oleh Jodi, orang yang kau anggap lemah itu".
"Kau lihat ke sebelah sana 4 anak buahku yang lain belum aku suruh untuk turun tangan, cukup Jodi seorang sudah membuat Alex dan anak buahnya terkapar seperti itu."
"Apakah itu bukan artinya kau juga bisa dikalahkan oleh anak buahku tersebut?. Tapi sayangnya kau bukan dikalahkan oleh Jodi, tapi malah oleh orang yang jauh lebih kuat darinya."
"Mereka adalah master, yang semula ingin kau bayar untuk mencelakai ku. Ternyata sekarang senjata yang kau gunakan itu malah memakan tuannya sendiri. dan itu adalah kau!" Ujarnya lagi.
"Master Arya!. Kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku benar-benar bertaubat. Tolong ampuni nyawaku, dan tolong sembuhkan aku, sama seperti anda menyembuhkan para master itu."
"Tolonglah aku master! Aku berjanji akan menjadi pengikutmu, seluruh anak buahku juga akan menjadi anak buahmu. Aku jamin itu!" Ucap Tanu memberikan penawaran kepada Arya, dan dia berharap Arya menerimanya.
"Apakah ucapanmu itu bisa dipercaya Tanu?" Tanya Arya hanya ingin sekedar mengujinya saja.
"Percayalah master!. Kali ini aku tidak akan mengkhianatimu, sama seperti Alex itu. Aku juga takut jika dihajar oleh anak buahmu lagi." Jawab Tanu terkesan tidak berdaya.
"Baik!. Untuk kali ini aku akan mempercayaimu. Kalau kau berani macam macam, maka aku akan mengutus Jodi atau para master itu untuk menghajar mu. Kau dengar itu Tanu?" Jawab Arya sangat menakutkan.
"Ya, aku dengar itu master Arya!. Aku berjanji, sungguh aku berjanji tidak akan mengkhianatimu!" Jawab Tanu benar-benar sudah pasrah, Karena dia sudah merasa tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sakitnya tersebut. sambil tak henti hentinya meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Hari ini tangan dan kakimu patah. besok jika kau coba-coba berkhianat, maka bukan hanya itu saja yang akan patah, tapi tubuhmu akan dibuat hancur. Kau dengar!" Tanya Arya kembali mengingatkan.
"Baik, aku dengar itu! Tolong cepat sembuhkan kaki di tanganku ini, aku sudah tidak tahan lagi!" Jawab Tanu sudah tidak sabar, sambil terus meringis menahan sakit, sampai air matanya menetes keluar.
Kali ini dia benar-benar menderita. Dalam hatinya berjanji, bahwa dia tidak akan berbuat jahat lagi kepada Arya, bahkan sanggup untuk membela Arya dengan taruhan nyawanya.