Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Perselisihan sengit


"Yang keluar sebagai pemenangnya adalah peserta dari SMA Tunas Bangsa, yang memegang undian nomor 10."


"Waktu yang dibutuhkannya hanya 11 detik saja. Tiga detik lebih cepat dari peserta lainnya." Ucap pembawa acara pertandingan itu menyampaikan berita.


"Kenapa kau tahan tahan Arya?.Lari mu tadi tidak maksimal. Ibu tahu kau masih segan untuk menunjukkan performa terbaik mu.Kenapa?" Tanya Siska, sesaat setelah Arya mendekatinya.


"Memang sengaja buk, untuk melawan peserta dari SMA saya dulu, yang katanya selalu juara satu itu?" Jawab Arya apa adanya.


"SMA mu dulu, yang mana?"Respon Siska penasaran.


"Yang tadi memenangkan lomba dalam pembukaan itu.14 detik waktunya." Jawab Arya apa adanya.


"Oh si kilat?" Respon Siska langsung nyambung.


"Mungkinlah?. Tapi setahu saya, dia bernama Janu, tapi nama panjangnya saya tidak tahu, karena tidak akrab dan beda jurusan." Jawab Arya berterus terang.


"Oh begitu. Semoga saja?. Tapi saat bertemu dengan nya nanti. Jangan tahan tenaga mu. Melesat lah seperti anak panah, yang lepas dari busurnya.Ya?" Respon Siska penuh harap.


"Beres buk! Jawab Arya tegas.


"Pemenang dari pertandingan ketiga adalah peserta nomor 6, dari SMA Tunas Bangsa!" Ucap pembawa acara lagi.


"Lihat!. Kawanmu si Dadung itu juga sudah memenangkan perlombaan. Waktu yang ditempuhnya hanya 13 detik saja. 1 detik lebih cepat dari peserta sebelumnya, tapi belum mampu mengungguli kecepatan mu." Ucap bu siska pada Arya.


"Syukurlah kalau begitu. Berarti di semifinal nanti, Dadung akan bersama denganku."Reaksi Arya juga senang.


"Semoga Drajat dan lainnya, juga memenangkan pertandingan?" Ujar Siska kembali penuh harap.


"Bersiap!" Seru wasit pertandingan memberi aba aba. hingga mengalihkan perhatian buk Siska pada peserta yang ada di track yang sudah disiapkan.


Dor!


Begitu suara tembakan terdengar. Drajat yang menjadi pesertanya, langsung melesat dengan kencangnya, yang pertama mencapai garis finis 13 detik sesudahnya adalah dia.


"Luar biasa!. Kalian memang anak-anak hebat!. Lawan yang begitu kuat saja bisa kalian atasi dengan mudah."


"Semoga kedepannya kalian pula yang akan menjadi juara, dan menjadi wakil provinsi untuk berlaga di tingkat nasional?" Ucap buk Siska mengekspresikan perasaan senangnya.


"Kami juga berharap begitu buk!. Dengan masuknya Drajat, berarti wakil dari SMA kita berhak maju ke bapak semifinal!, dan akan berlaga dengan SMA Tunas karya, tempat saya bersekolah dulu." Jawab Arya nampak bersemangat juga.


"Kan aku sudah bilang, anak yang kalian campakkan itu, ternyata waktunya jauh lebih cepat daripada wakil dari sekolah kalian. Bukankah dia hebat?" Ujar seorang guru dari kabupaten sebelah, yang siswanya kalah dalam babak penyisihan barusan.


"Bagaimana bisa?. Bukankah Arya dulunya adalah anak lemah?. Jangankan berlari secepat itu, berkelahi saja dia tidak bisa?. Oleh karena itu dia sering dibully oleh teman-temannya, dan dia tidak pernah melawan?"


"Tapi kenapa sekarang kemampuannya sangat hebat sekali?. Apakah dia melakukan doping?" Tanya guru olahraga Arya, yang bernama Samudji itu keheranan.


"Untuk masalah itu aku tidak tahu. Kau tanyakan saja pada panitia, apakah anak yang bernama Arya itu melakukan doping atau tidak?" Jawab teman akrabnya itu terkesan marah. Kemudian pergi begitu saja, tanpa memperdulikan keheranan dari teman sesama guru olahraga itu.


Dua setengah jam kemudian. Seluruh peserta dari delapan kabupaten yang ada di provinsi itu. telah selesai melakukan seleksi. Perwakilan dari Sma Tunas Bangsa, semuanya masuk babak semifinal, dan akan merebut juara pertama untuk menjadi wakil provinsi ke tingkat nasional.


"Tuan!. Guru olahraga dari SMA tuan dulu ingin bertemu dengan tuan. Katanya ada sesuatu hal penting yang ingin dia katakan?" Ujar Arga, pengawalnya itu mengabarkan.


"Pak Samudji. guru olahraga ku dulu." Guman Arya lirih.


"Dia datang tidak sendirian tuan. Dia didampingi oleh orang yang bernama Arjun, katanya dia wali kelas tuan dulu?"


"Pak Arjun?. Kenapa harus dia, dan untuk apa dia datang?"Tanya Arya pada diri sendiri


"Dari hasil pembicaraan mereka, salah seorang darinya berkata, bahwa mereka ingin menarik tuan kembali, agar belajar di sekolah mereka." Jawab Arga apa adanya.


"Menarik ku kembali?. Memangnya semudah itu? enak saja!" Respon Arya terlihat emosi.


"Tuan!"


"Tidak apa-apa!. Aku hanya kaget saja." Jawab Arya berterus terang.


"Jadi bagaimana tuan?. Apakah mereka diterima atau disuruh pergi saja?" Tanya Argani ingin mendapatkan ketegasan.


"Baik tuan!" Jawab Arga sigap, Kemudian berubah menyerupai manusia untuk menemui tamu tamu Arya itu.


"Bagaimana?. Apakah Arya nya ada?" Tanya Arjun sudah tidak sabaran lagi.


"Oh kebetulan dia baru saja bangun, dan bersedia menemui anda. Jadi silakan masuk. Tuan Arya sedang menunggu kalian di dalam." Jawab Arga cukup berwibawa.


"Kurang ajar anak itu!. Bukan dia yang mendatangi kita, tapi kita pula yang harus mendatanginya."


"Kalau aku tahu begini, tak sudi aku datang ke mari!" Tanya Arjun dengan sikap sombongnya itu.


"Yang ingin ketemu bukan kau saja, tapi aku juga. namun kita terpaksa harus begini, karena bagaimanapun, Arya sekarang bukanlah murid kita. Oleh karena itu kita harus mengalah, dan menemuinya sendiri di jam istirahat seperti ini?" Respon Samudji menasehati rekannya.


"Tapi...?"


"Ah sudahlah!. Sekarang mari kita masuk. Katanya Arya sedang menunggu kita di dalam?"Ucap Samudji memotong perkataan dari sahabat nya.


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah berada di kamar Arya. kebetulan saat istirahat tersebut, dua orang temannya sedang tidak ada, karena mempunyai keperluan di luar. Jadi mereka bebas mengutarakan maksudnya pada Arya.


"Kau masih kenal dengan. kami Arya?" Tanya Arjun tanpa basa basi lagi.


"Ya tentu saja masih kenal pak Arjun!. Anda adalah wali kelas saya, yang selalu membela saya kapanpun saya mendapatkan kesusahan, tidak terkecuali waktu saya hilang itu." Jawab Arya langsung pada intinya. Padahal sebenarnya dia ingin menggeluarkan kejengkelan hatinya pada wali kelasnya dahulu.


Arjun langsung terdiam, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi karena dia seorang guru, dan sudah sangat berpengalaman. maka dalam sekejap saja, dia sudah bisa menguasai keadaan.


"To the point saja Arya!Kami datang kemari, karena ingin mengajakmu bergabung dengan SMA Tunas Karya kembali, karena sekolah kita dulu sudah salah dalam mengambil tindakan, dan mudah-mudahan Arya masih bisa menerimanya?" Ujarnya penuh perhitungan.


"Menerimaku kembali?. Untuk apa?" Reaksi Arya tidak percaya, walau sebenarnya tadi dia sudah mendengarnya.


"Untuk dididik kembali di sekolah tersebut, karena ternyata bakatmu sudah sangat luar biasa?" Jawab Arjun berterus terang.


"Hanya itu?, tidak ada yang lain?" jawab Arya malah balik bertanya.


"Ya hanya itu!" Jawab Arjun singkat, dan seperti tidak menghargai perasaan Arya.


"Hoh. begitu ya?. Baru kali ini aku mendengar, ada guru yang memohon pada siswa, yang sudah dibuangnya itu, agar kembali ke sekolahnya kembali. Apakah aku tidak salah dengar?"


"Apakah kalian pikir aku ini barang mainan?, yang kalau baru diperlukan, tapi kalau sudah buruk akan dibuang?"


"Setelah apa yang kalian lakukan padaku, seenaknya saja kalian meminta ku untuk kembali ke sekolah itu.Tak tahukah kalian, bagaimana perasaan ku waktu itu?. Sakit!" Reaksi Arya melupakan kemarahannya.


"Tapi Arya .?"


"Cukup!. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi!. Aku sudah dibuang karena kesalahan yang tidak pernah aku lakukan!" Ucap Arya memotong penjelasan dari wali kelasnya dulu, dan sudah tidak lagi menggunakan kata saya, tapi aku pada mereka.


Walau sebenarnya itu salah, tapi Arya terpaksa melakukan itu, karena hatinya sudah terlanjur sakit. Mempertaruhkan nyawa dibalas dengan dikeluarkan dari sekolah, tanpa diselidiki lagi, dan itu semua karena usaha dari orang yang bernama Arjun, mantan wali kelasnya dulu.


"Sekarang keluarlah!. Aku tidak butuh penjelasan dari kalian!. Dikeluarkan ya dikeluarkan. Masalah bagaimana kemampuanku sekarang jadi meningkat, itu urusan ku!. yang jelas aku tidak menggunakan doping, seperti yang kalian tuduhkan itu!"


"Dengan kemampuanku ini, aku bertekad akan mengalahkan siswa yang bernama Janu itu, dan akan mempermalukan sekolah kalian!" Ucap Arya cukup mengejutkan.


"Huh!. Kau lihat saja!. Murid terbaikku akan mengalahkan mu.Tadi dia sengaja menahan kekuatannya, karena dia ingin melihat seberapa kuatnya kau?" Reaksi Samudji tidak suka.


"Silakan!" Reaksi Arya singkat, sambil membukakan pintu untuk mereka.


"Kurang ajar!. Tidak ada hormat lalu pada guru!" Reaksi Arjun merasa kesal.


"Iya tuh!. Tidak disangka Arya bisa bersikap seperti itu. Padahal selama ini kita yang paling baik pada dia. Tapi hari ini kita jadi tahu, bahwa Arya itu anak yang tidak membalas budi pada gurunya."


"Kalau tahu bakal begini, sudah sejak lama aku usir dia dari sekolah." Respon Arjun benar benar marah.


"Bukankah yang mengusulkan agar Arya itu di keluarkan dari sekolah itu kau?. Padahal saat itu Arya sedang berjuang antara hidup dan mati? Tapi kau tidak mau tahu, dan tetap mendesak kepala sekolah untuk menyetujui usul mu itu?"


"Setelah tahu bahwa Arya itu hilang, karena disengaja oleh Teddy, barulah mata kita terbuka.Tapi pelaku penganiayaan tetap bebas, dan tidak mendapatkan hukuman apa apa. Lalu siapa yang salah? kita atau Arya?"