Arya, Sang Penakluk Naga

Arya, Sang Penakluk Naga
Tangkapan besar lagi


"Siapa kamu? Bagaimana caranya kamu datang?" Reaksi kapten kapal merasa tidak senang.


"Yang harus bertanya siapa itu aku, bukan kamu? Untuk apa kalian memasuki perairan negara ku? Apakah kalian ingin mencuri ikan?" Jawab Arya cukup mengejutkan.


"Jangan sembarangan kamu!. Kami rombongan pedagang, yang sedang berlayar menuju perairan internasional. Jadi bukan untuk mencuri ikan!" Jawab Arkana kembali merasa tidak senang.


"Kalau kalian pedagang, Lalu kenapa banyak sekali peralatan untuk menangkap ikan, termasuk mesin pengolahannya. Apakah itu yang disebut dengan pedagang? Bukankah lebih tepatnya kalian disebut sebagai pencuri ikan?" Bantah Arya.


"Kurang ajar!. Tunggu apa lagi? Cepat lumpuhkan bocah ini. sebelum dua kapal sialan itu menyusul kita!" Respon Arkana memberi instruksi pada bawahannya.


"Angkat tangan, dan jangan bergerak! Tolong kerja samanya." ucap seorang penjaga kapal pada Arya.


"Hehehehe!. Lucu, benar benar lucu. Ular berbisa seperti itu kalian sangka senjata. Buka mata kalian.Jangan asal mengancam saja!" Reaksi Arya sambil cengengesan.


"Ha, ular? Bagaimana bisa?. Mana ularnya?" Reaksi mereka tidak percaya.


"Dasar bodoh! yang kalian pegang itu ular bukan senjata. Cepat lemparkan keluar!" Ucap Arkana pada bawahannya.


Wus! wus! wus!


"Ah! Kenapa kalian lemparkan pada ku.Dasar badjingan!" Rutuk Arkana emosi. Kemudian mengambil pistol dari dalam lacinya.


"Eh apa ini. Ular...!" Teriaknya ketakutan. Sambil berlari ke arah lain, dan meninggalkan tugasnya.


Tut! Tut! Tut! Terdengar bunyi peringatan dari sistem kemudi kapal, karena arahnya sudah melenceng dari tujuan.


Arya yang melihat itu hanya diam saja, dan terus melihat tingkah laku mereka.


"Angkat tangan!. Baringkan tubuh kalian di lantai, dan jangan coba untuk melawan!" Teriak Arya tiba


tiba, sambil mengarahkan sepucuk senjata pada penjarah ikan itu. Kemudian meminta pada Arga untuk mengikat orang orang tersebut, termasuk semua awak kapal yang ada di buritan juga palka kapal.


Kejadian itu juga terjadi di kapal kedua. Panglima Yang Cha yang dibantu oleh lima ratus anak buahnya, serempak mengarahkan kapal ke tempat lain, dan berhenti saat sudah dekat dengan dua kapal perang pimpinan Reksa dan jenderal Bima.


Kejadian itu tentu saja membuat awak kapal menjadi siaga, dan bersiap untuk menembak kapal tersebut. Tapi tiba tiba Arya muncul, dan mengangkat bendera putih tinggi tinggi, agar kedua kapal itu tidak menembak mereka.


"Jenderal!" Teriak ajudannya.


"Ya aku tahu!. Itu bukan musuh, tapi pemuda yang mengajak kita untuk memancing." Respon Reksa cukup kalem, namun di dalam hatinya penuh dengan tanya.


"Aku serahkan kedua kapal ini pada kalian. Karena anak buah ku sedang menunggu ku di sana!" Teriak Arya pada Reksa.


"Tunggu dulu anak muda! Bagaimana caranya anda bisa berada di sini? Bukankah tadi anda sedang memancing, eh bukan sedang memanen ikan?" Ucap Bima mendahului seniornya.


"Nanti saja ceritanya. Sekarang aku sedang terburu-buru untuk memanen ikan. yang jelas di kedua kapal itu ada sekitar 65 orang, dan semua sudah aku taklukan!" Jawab Arya kalem, kemudian terbang dan menghilang sesudahnya.


"Apa yang terjadi? Bagaimana ada manusia yang bisa terbang. Apakah aku sedang bermimpi?" Reaksi Bima keheranan.


"Sudah,sudah! Jangan dipikirkan. Nanti saja kita minta keterangan darinya." Ucap Reksa cukup tenang. Padahal di dalam hatinya juga merasa keheranan.


"Cepat pepet kedua kapal itu!. dan ambil alih kemudinya!"


"Periksa apakah kedatangannya legal atau tidak? Jika ilegal dan terbukti ingin mencuri ikan, bawa ke pangkalan!" Tegas Reksa saat memberi arahan.


"Siap laksanakan jenderal!" Jawab anak buahnya merasa senang, karena ini merupakan tangkapan besar, walau bukan mereka yang melakukannya.


Satu jam kemudian. Kedua kapal itu sudah meninggalkan perbatasan. Dan terus masuk ke perairan dalam wilayah negara kita.


Sementara itu di bagian lain. Arya yang menitipkan tugas pada Dave tua, sekarang sudah berada di atas kapalnya, dan sedang memberikan arahan, agar anak buahnya menarik jaring yang sudah penuh dengan ikan tuna.


"Wah tuna sirip kuning. Besar besar pula. Berat seluruhnya diperkirakan sekitar 100 ton, karena masing masing ikan itu beratnya antara 100 sampai dengan 250 kilo. Jumlahnya ada 3000 ekor. Kita kaya, kita kaya!" Teriak abk kapal pada temannya.


"Yang kaya adalah pemuda itu bukan kita. Kita ini hanya pekerja. Kalau dikasi bonus pun tidak sampai satu juta. Berarti belum kaya?" Jawab temannya pula.


"Jangan berdebat lagi. Cepat bongkar ikan-ikan itu dan masukkan ke palka!" Bentak kapten kapal pada anak buahnya.


"Hehehe. Bercanda saja bos!. Bukan serius juga." Respon mereka.


"Aku mau ikan ikan ini. Jika di jual ke negeri Sakura, aku yakin harganya akan tinggi. Di negara kita saja perkilonya sudah mencapai ratusan ribu rupiah apalagi jika di sana?" Ujar seorang pengusaha pengiriman ikan para temannya


"Bukan hanya kau saja yang mau aku, dia juga mereka juga mau."


"Masa kita ikut melaut cuma melihat orang lain mendapat keuntungan, sementara kita hanya melihat saja?" Protes temannya pula.


"Kita serahkan masalah itu kepada ketua saja. Aku yakin dia akan bersikap adil, dan memberi kita masing-masing satu ton. kita lihat saja!" Jawab temannya.


"Tuan muda!. Ikan sebanyak ini kira kira mau dijual dimana?. Kalau belum ada keputusan, saya bisa merekomendasikan pada keluarga saya agar mereka membelinya." Ucap seorang pemandu wisata pada Arya.


"Anda adalah...?" Tanya Arya.


"Saya Abasa. Seorang pemandu wisata pantai. Kebetulan diajak untuk ikut berpetualang di laut bersama dengan anda."


"Saat melihat hasil tangkapan anda sebanyak ini, timbul niat ku untuk membuka bisnis dengan anda."


"Kebetulan keluarga besar ku mengenal seorang pengusaha yang kaya raya. Kepada dia keluarga ku akan menjualnya." Jawab Abasa berterus terang.


"Bukan begitu maksudku tuan muda. Jika tuan menjualnya kepada keluarga kami, maka keuntungannya akan sangat besar, karena harganya di luar kewajaran." Jawab Abasa sudah mulai berdusta.


"Aku sarankan anda diam. dan jangan mengganggu konsentrasi ku untuk mendapatkan ikan!" Bentak Arya.


"Tapi tuan muda. Ini...?" Jawabnya.


"Master Prana! Selidiki orang ini! Sepertinya dia seorang penyusup di kapal kita, yang berpura pura jadi pemandu wisata?" Perintah Arya.


"Dimengerti ketua!" jawab Prana patuh, lalu membawa Abasa ke tempat lain.


"Ada apa ketua? Kenapa kelihatannya ketua tidak senang?" tanya Dave tua yang tiba-tiba datang menemui Arya.


"Hanya gangguan kecil saja. Barusan ada seseorang yang mengaku sebagai pemandu wisata, yang ingin berbisnis dengan ku, tapi aku mencurigainya sebagai mata mata." Jawab Arya apa adanya.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Dave tua.


"Dibawa oleh bawahan ku, master Prana. Dia yang sedang menanganinya." Jawab Arya lagi.


"Maaf ketua! Orang yang tadi berbincang dengan anda adalah pelayan ku. Dia memang begitu orangnya." ucap seorang pengusaha yang sedikit gemuk tubuhnya dengan sikap penuh penyeselan.


"Ah senior Sawa. Ternyata itu anda. Maaf karena tidak mengenalinya."


"Sebentar aku akan menghubungi bawahan ku, untuk membawa asisten mu kesini." Reaksi Arya.


"Tidak perlu ketua. Biar saya yang akan menjemputnya." Jawab Sawa merasa sungkan.


"Arahkan semua kapal ke pulau karang itu, dan berhenti sekitar 700 meter dari bibir pantai. Aku merasakan banyak sekali ikan di sana." Ucap Arya melalui interkom ke masing masing nakhoda kapalnya.


"Maaf tuan muda!. Kami sudah melayari perairan itu, dan tidak pernah menemukan adanya ikan berharga disana.Yang ada hanya ikan kecil kecil saja. Apa tidak sebaiknya kita pergi ke tengah laut sana? Respon Tara, nakhoda kapal Aneka milik Prasetya pada Arya.


"Jalankan saja!. Ini perintah!" Jawab Arya.


"Dimengerti tuan muda!" Jawab Tara tanpa bermaksud untuk membantah.


"Semuanya berhenti! Dengar arahan!" Ujar Arya tiba tiba.


"Kapal Aneka dan kapal Maju Jaya. Putari pulau karang itu dan berhenti di masing masing tanjungnya."


"Kapal Mega dan kapal Utama, kalian tetap ditempat. Tapi secara perlahan lepaskan jaring, sambil berlayar ke arah yang berlawanan. setelah berada 700 meter dari pulau itu lepaskan pengaitnya." Ujar Arya.


"Ada apa dengan pemuda itu. Sudah jelas perairan ini banyak karangnya, kenapa masih juga menyuruh kita untuk melepaskan jaring?"


"Jika jaringnya tersangkut di karang, apa dia mau bertanggung jawab?" Tanya seorang ABK kapal pada kaptennya.


"Jangan banyak tanya! Kerjakan saja kalau kau tidak mau dipecat?" Jawab kaptennya cukup pedas.


"Huh! Kita kan cuma memberi saran saja. Kalau tidak percaya ya sudah!" batinnya dalam hati, sambil merungut pergi.


"Aneka dan Maju Jaya. cepat turunkan jaring, dan kelilingi pulau ini!" Ucap Arya memberi perintah.


Byur! Karung diturunkan ke laut dan menimbulkan riak diatasnya.


"Perhatikan talinya! Jangan sampai tersangkut!" Teriak kapten kapal pada anak buahnya.


"Sudah tersambung jaringnya. Bagaimana ini tuan muda?" Tanya Darya pada atasannya.


"Tunggu sampai ke dasar. Nanti setelah semuanya menyentuh dasar, akan aku kasih tahu!" jawab Arya.


Lima menit kemudian, setelah mendapat isyarat dari Arga, Arya berseru pada seluruh nahkoda kapal itu melalui saluran interkom ke kapal mereka." Tarik!" Teriaknya.


Tidak ada reaksi apa apa. Semuanya masih biasa-biasa saja. Tapi setelah 3 menit berjalan. baru terlihat hasilnya. Penghitung jumlah tangkapan yang ada di kokpit kapal segera menunjukkan taringnya.


Mula-mula di masing-masing kokpit kapal, hasil tangkapan ikan yang muncul baru 25 kilo saja, tapi setelah 1 menit, jumlahnya meningkat menjadi 100 kilo. 300 kilo.


"Wah ikan dijaring kita sudah mendekati 900 kilo. Hah bukan segitu,tapi 1700 kilo. naik lagi 2600 kilo dan terus naik. Ikan apa dibawah sana?" Teriak kapten kapal Aneka melonjak kegirangan.


"Ayo dipercepat! Semua ikan itu sudah masuk perangkap.Jadi jangan ragu ragu untuk menariknya!" Teriak Arya pada mereka.


"Siap ketua!" Serempak pula mereka menjawabnya.


Satu jam kemudian. 95 persen jaring sudah masuk ke kapal, tinggal ujungnya saja yang belum.


"Itu kerapu sunu. Luar biasa banyaknya!" Teriak beberapa orang pengusaha pada temannya.


"Ini aneh? Puluhan tahun aku melayari perairan ini. Belum pernah menemukan ada ikan kerapu di sana."


"Tapi hari ini mataku jadi terbuka. dengan banyaknya ikan yang berhasil kita tangkap." ucap Surya kapten kapal Maju Jaya pada pembantunya.


"Benar yang anda katakan. Aku juga heran, bagaimana tuan muda itu bisa begitu yakin, bahwa di perairan ini ada ikan yang begitu mahal harganya. Benar-benar luar biasa?" Jawab bawahannya menguatkan.


"Cepat lepaskan ikan-ikan itu! dan masukkan ke dalam tempat khususnya." Teriak Surya pada ABK nya.