
Namun belum juga sempat bicara. Arya sudah muncul di depan mereka, dan langsung berkata dengan ekspresi tidak serius." Ada apa? Kelihatannya serius banget?" tanya Arya mengagetkan mereka.
Dave tua yang barusan ingin mendengarkan Satya bicara dengan Arya, sontak terkejut dibuatnya. Lalu buru buru menjawab pertanyaan Arya." Eh Arya! Oh maksudku ketua! Kapan datangnya?" reaksinya tidak biasa.
"Sudah! Jangan basa basi lagi. Katakan ada apa?" desak Arya sudah mulai serius.
"Begini ketua!" ujar Satya, yang berinisiatif mengambil alih tanggung jawab Dave tua untuk menjawab nya." Rencana perluasan perusahaan kita di pulau angsa, sepertinya bakal mengalami kendala. karena tersangkut masalah adat dan budaya disana."
"Mereka tidak mengizinkan ada pihak luar yang menancapkan kekuasaannya disana, kecuali dari orangnya sendiri."
"Pihak luar yang ingin masuk, harus membayar denda, yang mereka sebut denda adat leluhur."
"Jika kita tidak mau. maka mereka tidak akan mengizinkan perusahaan kita ada disana." jawabnya.
"Coba ceritakan lebih rinci, apa dampaknya kalau kita membayar dengan tidak membayarnya. Apa masih seperti yang paman katakan tadi?" tanya Arya.
"Jika kita membayar. maka sebesar 65 persen saham kita akan menjadi milik mereka. Sedangkan jika kita membayar, maka kita tetap harus menyelesaikan proyek itu. lalu sesudahnya harus hengkang dari sana!" jawab Dave tua yang sudah mulai merasa putus asa.
"Ada hal yang seperti itu di dunia. Makhluk apa mereka. Jadi jadian?" reaksi Arya tidak terima.
"Itulah yang kami herankan ketua! Kami lihat mereka manusia biasa. Sama seperti kita. Namun ada beberapa diantara mereka yang selalu menutup wajahnya, dan sekalipun tidak pernah bersuara. Hanya mengangguk kalau perundingan menguntungkan mereka."
"Tapi jika kami bersikeras dan mengabaikan tuntutan mereka. Maka aura hitam samar muncul di sekujur tubuh mereka, serta berusaha menekan dan mempengaruhi jiwa kami agar menyetujui keinginan warga."
"Beruntung jiwa kami sudah anda perkuat, dan tidak bisa dipengaruhi lagi. Namun karena ini. Seluruh pekerja konstruksi jadi tertahan disana, dan tidak diperbolehkan keluar dari kamp, apalagi dari pulaunya." jawab Satya bahu membahu dalam menjelaskan permasalahannya pada Arya.
"Baiklah kalau begitu. Untuk sementara kita diamkan dulu. dan jangan membantah perkataan mereka."
"Aku yakin masalah ini ada kaitannya dengan makhluk astral yang mendiami pulau itu, dan tidak senang karena ada manusia yang bakal mengganggu tempat tinggal mereka."
"Jadi serahkan itu padaku.karena aku yakin dalam tiga hari. masalahnya akan selesai, serta siapa biang keladinya akan ketahuan." ujar Arya.
"Ah, kami senang mendengarnya!" respon Satya dan Dave tua berbarengan. Diamini oleh empat orang lainnya, yang sedari tadi hanya diam saja.
"Oh ya?. Berapa luas pulau itu dan berapa orang yang mendiaminya?" tanya Arya.
"Menurut statistik yang berhasil kami dapatkan di kantor badan pertanahan daerah. Luas pulau itu sekitar delapan kilometer persegi. yang 65 persen diantaranya terdiri dari pegunungan dan bukit tandus."
"Bahkan di sebelah utara lebih ekstrim lagi. Dimana tidak ada satupun hewan yang bisa hidup di sana, karena katanya ada aktifitas gunung berapi yang tidak diketahui letaknya. Namun itu baru merupakan prediksi, dan belum diselidiki kebenarannya."
"Tapi yang membuat tim ekspedisi tertarik adalah, adanya tanda tanda keberadaan emas dan batu batu mulia lainnya. yang secara tidak sengaja ditemukan waktu salah seorang tim eksplorasi menggali tanah dan bebatuan di sana."
"Setelah diselidiki secara seksama didapati, bahwa bebatuan yang ada di bukit dan gunung itu memang mengandung emas, dengan karat yang cukup tinggi."
"Mungkin karena penemuan itu, membuat masyarakat setempat jadi berubah pikiran, dan menuntut kepemilikan saham kita sebesar 65 persen."
"Sedangkan jumlah warga yang mendiami pulau itu hanya sekitar 1.007 orang. dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 108 saja."
"Tunggu! Tunggu!. Kalau memang cuma 108 kepala keluarga. Tapi kenapa jumlah orang yang mendiami pulau tersebut begitu banyak. Apa ada orang luar yang tidak terdata?" ucap Arya memotong penjelasan dari Satya.
"Untuk masalah itu kami tidak tahu ketua. Mungkin mereka pendatang, dan belum sempat terdata oleh pemerintah setempat?"
"Namun dari keterangan pemimpin pulau itu. Katanya mereka yang belum terdata adalah para nelayan, yang biasa berlabuh saat angin kencang sedang melanda. Tapi yang anehnya, mereka mempunyai tempat tinggal permanen, dan menetap di sana sudah cukup lama. Cuma belum masuk warga pulau itu saja." jawab Satya.
"Kalau begitu aku serahkan masalah itu pada Dave tua saja. Karena aku yakin dia akan mampu menyelesaikannya dalam waktu singkat!"
"Aku meyakini mereka bukan nelayan biasa, tapi pencari batu batu mulia ilegal, yang menyamar sebagai nelayan untuk mengelabui penduduk setempat?"
"Setelah memastikan bahwa temuan yang mereka sedang selidiki itu nyata, maka mereka akan menjual petanya pada para pengusaha batu mulia, yang akan dihargai dengan harga cukup tinggi."
"Mungkin merekalah yang jadi sumber kekacauan ini. karena mereka tidak mau usaha mereka akan sia sia!" sambung Arya.
"Benar! Disitulah masalahnya!. Kalau begitu akan sangat mudah diselesaikan!" respon Dave tua mulai terbuka pikirannya.
"Nah! Itu yang betul. untuk itu kami sangat mengandalkan mu pak tua. Kami yakin dengan menggunakan koneksi mu, masalah kecil tersebut akan bisa diselesaikan. dan perusahaan kita yang sudah mendapatkan izin eksplorasi akan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Satu bulan dari sekarang." jawab Arya.
"Hahahaha!" ternyata mudah dalam menyelesaikannya, tanpa Arga dan Yang Cha harus turun tangan. Namun jika dibutuhkan juga, cukup Arga dan anak buahnya yang akan membantu Dave tua untuk membongkar kedok nelayan samaran tersebut. agar tidak berlanjut niat jahat mereka.
***
Tiga hari kemudian. Sepasukan tentara dan selusin petugas penegak hukum turun ke pulau tersebut, dengan menggunakan delapan helikopter dan sebuah kapal perang, yang kebetulan itu merupakan rutinitas mereka dalam mengamankan perbatasan, jadi sekalian singgah untuk mengecek laporan yang dilayangkan oleh Dave tua pada mereka.
Kedatangan mereka yang tiba tiba dan tidak biasa itu, tentu saja mengagetkan warga juga orang yang menyamar sebagai nelayan tersebut. Tapi karena keprofesionalannya. Ke173 orang orang tersebut bersikap biasa saja, dan menyambut kedatangan orang orang itu seperti warga desa lainnya.
"Siapa kepala kampung tempat ini? Segera perkenalkan diri!" ucap seorang komandan pasukan pada seluruh warga yang ada.
"Sa sa saya kepalanya komandan. Ada yang bisa kami bantu?" jawab Gaksa cukup gugup dibuatnya.
"Apa pulau ini merupakan hak adat kalian? dan apa benar merupakan warisan leluhur, hingga seorang pengusaha tidak bisa masuk kesini walau sudah mendapatkan izin dari pemerintah pusat?" serangnya.
"Itu tidak seperti yang dipikirkan ketua. Tanah adat kami cuma sekitar 10 hektar saja, dan itupun diperoleh karena hadiah dari pemerintah, karena kami giat mendukung program programnya." jawab Gaksa apa adanya.
"Lalu kenapa kalian menolak hadirnya perusahaan tambang resmi, yang ingin mengembangkan daerah ini. dengan alasan seluruh wilayah ini adalah tanah leluhur kalian? Apa bisa bapak jelaskan permasalahannya?" tanya kolonel Bima dengan ekspresi berwibawa.
"I i itu karena ....?" jawab Gaksa terbata bata, dan tidak bisa meneruskannya, sambari matanya menatap liar pada orang orang asing yang berada tak jauh darinya.
"Ada apa dengan mereka? Apakah orang orang itu termasuk warga pulau ini, dan mempunyai pengaruh di dalamnya?" reaksi Bima jeli dibuatnya, saat melihat kejanggalan dari kegugupan Gaksa atas pertanyaannya.
"Mereka bukan penduduk asli pulau ini ketua. Mereka hanya nelayan yang numpang berteduh saat berlayar menangkap ikan, dan setiap sebulan sekali akan meninggalkan tempat ini, setelah hasil tangkapan mereka terjual."
"Kebetulan besok mereka akan bertolak, dan akan datang lagi seminggu kemudian, tergantung musim menangkap ikan." jawab Gaksa apa adanya.
"Ini mencurigakan?" batin Bima.
"Kepala desa! Menurut hasil laporan mata mata. Mereka sudah menetap lama disini dan mempunyai rumah permanen. Jadi tidak bisa dikatakan bukan warga?"
"Untuk itu kami ingin memeriksa tanda pengenal mereka. Apakah yang kau katakan itu benar atau hanya merupakan kecurigaan kami saja?"
"Jangan khawatir! Ini hanya pemeriksaan rutin saja. Karena pulau yang kalian diami ini merupakan pulau yang paling dekat dengan negara tetangga. Jadi mohon kerjasamanya!" ujar kolonel Bima, yang langsung membuat kepala desa juga warga yang ada bingung dibuatnya.
Pasalnya mereka tahu semua, bahwa seratusan orang lebih itu bukan warga negara Indonesia, tapi warga negara tetangga, yang mencari penghidupan di pulau itu, dan mereka sudah merasakan dampaknya.
Mereka selalu mendapatkan jatah bulanan. dari sembako dan uang tunai puluhan juta. Bahkan pernah mencapai satu milyar, kalau penduduk desa tidak mempermasalahkan kehadiran mereka. dan itu sudah mereka buktikan dengan langsung memberikan bantuan uang tunai, juga barang barang kebutuhan pokok hidup mereka.
Namun hari ini mereka nampaknya tidak akan bisa lagi mendapatkan jatah itu. karena tiba tiba kolonel Bima berseru pada anak buahnya. "Periksa seluruh orang di pulau ini. Minta mereka tunjukkan tanda pengenal! Aku yakin ada sebuah konspirasi besar, hingga orang lain tidak bisa masuk kesini!" serunya.