Against Heaven'S Destiny

Against Heaven'S Destiny
Penyebab


Lin Tian tidak terkejut jika burung ini, akan menolak. Bagaimanapun, dia adalah salah satu dari ras dewa. Meskipun dia hanya sebatas jiwa sekarang, kesombongannya telah mendarah daging sampai ke jiwanya.


"Jadi, apakah kamu akan terus bertarung? Percaya atau tidak, dengan jiwamu sekarang, aku dapat menghancurkanmu dengan mudah." Kata Lin Tian tenang.


Melayang di depan Lin Tian, mendengar kata-kata Lin Tian, Phoenix itu merasa marah, dan tidak terima.


Apakah dia akan tunduk begitu saja? Tidak mungkin, dirinya adalah salah satu Divine Beast, binatang yang di hormati oleh semua mahkluk hidup. Saat dia keluar, semuanya harus tunduk dan hanya bisa melihatnya ke atas. Tidak mungkin dia akan menundukkan kepalanya kepada manusia biasa.


Di masa lalu, kemanapun dia pergi, semua yang melihatnya hanya bisa menyanjung, dan membicarakannya. Jika itu di masa lalu, seorang Raja Abadi di depannya tidak lebih dari manusia yang lebih kuat, manusia yang dapat di hancurkan dengan mudah.


Sekarang, karena Lin Nantian itu, dia harus di permalukan oleh Raja Abadi kecil.


"Tidak mungkin, aku tidak mungkin memberikan sesuatu padamu." Dengan perasaan marah, dan ketidakberdayaan di hatinya, Phoenix itu berkata kepada Lin Tian dengan dingin.


Mendengar penolakan dingin burung di depannya, Lin Tian tidak marah, dan masih menatapnya dengan tenang.


"Apakah kamu yakin?" Kata Lin Tian pelan dan tersenyum di mulutnya.


Mengikuti kata-kata Lin Tian, momentum Raja Abadi di masa lalu di lepaskan semuanya, dan membuat alam jiwa Li Yaoleng bergetar. Udara di sekitar tubuh Lin Tian bergelombang, riak-riak mulai terlihat di sekitar tubuhnya.


Kemudian, sebuah pedang muncul di tangannya.


Melihat momentum yang keluar dari tubuh Lin Tian, Phoenix itu segera menyipitkan mata dan mendirikan bulu-bulu di tubuhnya.


Bahaya!


Dari momentum Lin Tian, rasa bahaya muncul di hatinya. Membuat seluruh bulu di tubuhnya berdiri, dan membuat hatinya merasa gelisa.


Lin Tian di sana tidak memperdulikan ekspresi burung itu.


Dia hanya mengangkat Pedangnya, dan dengan kata "Surga", sebuah pedang dengan panjang ribuan mil, dengan aura mencekik, dan berwarna putih tiba-tiba muncul di atas kepalanya.


"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Jika kamu masih menolak, aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan jiwamu." Sambil mengangkat Pedangnya, Lin Tian berkata kepada burung di depannya tanpa emosi.


Bagi Lin Tian, burung Phoenix, ataupun Divine Beast tidak lain hanyalah binatang. Binatang yang telah menyerap energi langit dan bumi, dan menjadi binatang yang lebih kuat daripada binatang biasa. Kematian, dan kehidupannya, di depan Lin Tian tidak terlalu berarti baginya.


Phoenix, yang melayang di depannya, dan melihat pedang putih ribuan mil, serta merasakan aura yang keluar darinya, Phoenix itu berhenti, dan terkejut.


"Kamu...."


Melihat Pedang putih, dan aura dunia yang keluar darinya, yang seolah-olah dapat menghancurkan dunia, Phoenix itu samar-samar mengingat sesuatu.


Di masa lalu, tampaknya di pernah melihat seorang lelaki, berdiri di depannya, memegang sebuah pedang di tangannya, dan bayangan pedang besar sebesar ribuan di atas kepalanya. Lelaki itu tidak mengatakan sepatah katapun, dan langsung menghunuskan pedangnya.


Lin Nantian.


Ya, orang itu adalah Lin Nantian.


Orang yang menebasnya tanpa sepatah katapun, dan orang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada dirinya saat ini.


"Kamu, apa hubunganmu dengan Lin Nantian?" Dengan kejutan terlintas di matanya, Phoenix itu bertanya kepada Lin Tian dengan spontan.


Lin Tian di sana tidak menjawab, dia masih mengangkat Pedangnya, dan melihatnya dengan tenang.


"Kesempatan terakhir," melihat keterkejutan burung di depannya, Lin Tian tidak peduli, dan tidak menjawab pertanyaannya.


Hubungan, Lin Tian sendiri tidak tahu apa hubungannya dengan Lin Nantian. Selain hanya mengetahui tentang namanya, Lin Tian tidak mengetahui apapun. Jadi, dia terlalu malas untuk menjelaskan kepadanya.


"Aku akan menghitung sampai tiga," sambil berkata, Lin Tian bersiap untuk menggerakkan Pedang di tangannya, "Satu... Dua..." Kemudian Lin Tian berkata lagi tidak peduli.


"Tunggu!" Di hitungan kedua, Phoenix itu segera berteriak untuk menghentikannya.


Meski tidak mau, Phoenix itu harus mengakuinya, bahwa apa yang di katakan Lin Tian di awal sampai sekarang semuanya adalah benar. Kekuatan jiwanya yang hanya tersisa sepuluh persen, dia tidak mungkin bisa mengalahkan jiwa Raja Abadi Lin Tian sekarang.


Dan yang lebih penting, dia juga bisa menghancurkan jiwanya dengan mudah. Dari pedang Lin Tian juga, pedang itu mengingatkan tentang ketakutannya di masa lalu. Bahkan jika dia tidak ingin, akhirnya dia hanya bisa menyerah, dan menerima kenyataan.


"Bisakah kamu tenang dulu, dan menarik kembali aura pedang itu?" kata Phoenix itu pelan, dan tidak yakin.


Phoenix itu berkata dengan "aura pedang itu", yang berarti dia sangat tidak nyaman dengan auranya.


Lin Tian masih membuat postur menyerang, dan tidak menuruti permintaannya.


"Apakah kamu akhirnya menerimanya," kata Lin Tian tenang.


"Aku menerimanya, dan akan segera menggabungkan jiwaku bersama gadis ini." Phoenix itu mengangguk kepalanya.


"Bagaimana cara kamu melakukannya?" Lin Tian bertanya.


"Jiwaku dan jiwanya sekarang ada disini, itu mudah, aku hanya perlu mencoba untuk menyatukan jiwaku bersamanya," jawaban Phoenix itu mudah.


Kemudian salah satu rambut di atas kepalanya terlepas, dan melayang ke arah Lin Tian.


"Itu adalah salah satu rambut Phoenix Es, dan itu bukanlah bulu rambut bisa. Meskipun hanya satu, itu memiliki aura dingin sebanyak lima puluh persen dari tubuh asliku," setelah Lin Tian menerima bulu di kepalanya, Phoenix itu berkata lagi.


Ketika bulu Phoenix terbang ke arahnya, Lin Tian telah melepaskan momentumnya, dan mengambil bulu Phoenix yang mengarah kepadanya.


Melihat bulu Phoenix biru yang awalnya lebih dari sepuluh meter, dan tiba-tiba menyusut menjadi beberapa sentimeter di tangannya, Lin Tian tersenyum.


Jambul Phoenix, itu sama seperti skala naga yang berada di dada Naga. Sakala Naga, dan Jambul Phoenix, itu merupakan salah bagian paling penting dari mereka. Seperti yang di katakan, meskipun tidak seberharga Inti Phoenix, bulu ini adalah hal terpenting bagi burung Phoenix. Memilik lima puluh persen dari aura Phoenix itu sendiri.


Dengan memilik bulu Phoenix ini, setidaknya Lin Tian telah memilik lima puluh persen aura Phoenix Es yang dapat dia gunakan untuk meningkatkan kultivasinya di masa depan.


"Bagaimana dengan informasi tentang Lin Nantian?" setelah menyimpan Jambul Phoenix, Lin Tian melihat burung di depannya dan bertanya lagi.


"Lin Nantian, aku tidak tahu. Di masa lalu, aku hanya pernah mendengarnya sekali, dan melihatnya sekali," Phoenix itu menggelengkan kepalanya.


"Saat itu, ketika aku baru melihatnya sekali, dia langsung datang dan menebaskan pedangnya ke arahku tanpa sepatah katapun." Setelah ragu-ragu, Phoenix itu melanjutkan, dan berkata dengan nada sedikit marah di antara kata-katanya.


Mendengar nada marahnya, Lin Tian sedikit menaikan alisnya.


"Jadi, di masa lalu, Lin Nantian adalah orang yang membunuhmu."


Phoenix itu tidak berkata, tapi dari raut matanya, dia membenarkan kata-kata Lin Tian.


"Apa tidak ada yang lainnya?" Melihat persetujuan pihak lain, Lin Tian bertanya lagi.


"Tidak, selain dia adalah orang yang kejam, dan tidak masuk akal, aku tidak mengetahuinya lagi." Phoenix itu menjawab dengan marah.


Lin Tian, yang melihat Phoenix itu marah, dan tidak memberikan informasi lainnya, dia sedikit di sesalkan. Tapi Lin Tian tidak menunjukkannya di permukaan.


Meskipun tidak yakin, Lin Tian menebak bahwa burung ini berkata dengan jujur. Dan dia sedikit di sesalkan, karena informasi satu-satunya tentang Lin Nantian hanya itu.