Against Heaven'S Destiny

Against Heaven'S Destiny
Melihat tapi seperti tidak melihat


Lin Xinghe berumur sekitar tujuh puluhan tahun, memiliki wajah dengan beberapa keriputan, tapi dia tidak terlihat menyedihkan dan hanya terlihat lemah lembut, dan pandangan yang penuh kasih sayang.


Rambut putih, dan janggutnya yang putih, menjadikan kelembutan dan sedikit ketegasan di wajahnya tampak seimbang.


Jika ada orang yang tidak mengenalnya melihat, mungkin mereka akan menganggap Lin Xinghe sebagai orang tua biasa. Orang tua yang mencoba untuk menyukai masa tuanya.


Tapi di luar itu semua, dia masih memiliki kekuatan Alam Bawaan tahap Akhir di dalam dirinya.


Sama halnya dengan keluarga Li, yang sangat di hormati karena alkemisnya. Sifat toleransi dan ketegasannya inilah yang membuat orang-orang di kota Longshan menghargai keluarga Lin. Bahkan sedikit lebih hormat daripada Ketua kota Longshan sendiri.


Bahkan untuk Lin Tian dan Lin Lin sendiri, yang juga selalu menghormatinya lebih dari sebuah kakek.


Sebelumnya, ketika Lin Nantian pergi keluar sepuluh tahun lalu, Lin Xinghe tidak pernah terlihat lagi, entah di dunia luar, ataupun di dalam urusan keluarga. Selalu mengabaikan urusan keluarganya, dan akhirnya membuat generasi muda dari keluarganya menjadi keras kepala dan sombong baru-baru ini.


Dengan diamnya Patriak dari keluarga Lin, semua orang mulai menebak bahwa Lin Xinghe juga telah pergi keluar, untuk berpetualang seperti Lin Nantian, dan tidak pernah kembali lagi.


Lin Lin pun juga berpikir demikian, tapi dia tiba-tiba melihatnya di sini sekarang.


"Kakek, apa kakek baru kembali?" setelah kejutan awal Lin Lin, dia segera merasa senang, dan bertanya sambil tersenyum.


Berdiri di sana, Lin Xinghe yang sebelumnya melihat Lin Zhong di belakangnya berbalik setelah mendengar pertanyaan Lin Lin.


Melihat Lin Lin di sana, masih dengan wajah polos dan lugu yang dulu dia ingat, beberapa ekspresi muncul di wajah Lin Xinghe.


Pertama sedih, terkejut, senang, dan kemudian sedih lagi.


Pada akhirnya, dia hanya bisa menghela nafas, dan tersenyum tak berdaya.


"Lin'er, lepaskan paman Lin Zhong untuk saat ini. Bagaimanapun dia adalah Pamanmu, dan masih satu keluargamu." kata Lin Xinghe kepada Lin Lin dengan nada sedikit meminta.


Mendengar apa yang di katakan Lin Xinghe, senyum di mulut Lin Lin tiba-tiba menghilang.


"Kakek, apa maksudmu? Apakah kakek tahu apa yang selama ini dia lakukan kepada saudara Lin, dan Lin Lin?" sambil menunjuk ke arah Lin Zhong di belakangnya, Lin Lin bertanya dengan nada tinggi.


Lin Xinghe di sana tidak menjawab, dia menggerakkan kepalanya ke bawah, dan mengangguk dengan berat.


"Karena kakek tahu, kenapa kakek membiarkannya begitu saja? Apa kakek juga tahu, dia dan putranya hampir membunuh saudara Lin berkali-kali. Apakah kakek tahu itu?" Mengetahui bahwa Lin Xinghe mengetahui semuanya, emosi Lin Lin segera meledak, dan dengan suara keras seperti berteriak, dia bertanya lagi.


Menghadapi pertanyaan demi pertanyaan dari Lin Lin, senyum lembut di wajah Lin Xinghe berhenti. Setelah itu, dia hanya bisa menghela nafas panjang, dan mengangguk pelan.


Melihat anggukan Lin Xinghe, yang tampaknya dia mengetahui semua kejadian itu dari awal sampai akhir, Lin Lin awalnya terkejut. Kemudian dia menggigit giginya, memegang jari-jarinya dengan kuat, dan melihat Lin Xinghe yang berdiri di sana dengan marah.


"Kakek tahu! Kenapa Kakek tidak mencoba untuk menghentikannya? Kenapa Kakek membiarkannya begitu saja? Apakah kami berdua lebih rendah dari mereka? Apakah kami memang pantas untuk di bunuh? Kami.... Aku...."


Saat amarah Lin Lin mulai meledak, air mata mulai keluar dari matanya. Mengalir turun, membasahi pipinya, dan akhirnya dia hanya bisa berhenti berkata, dan jatuh ke tanah dengan dua lutut menyentuh tanah terlebih dahulu.


Saat tubuhnya jatuh ke tanah, selain suara tangisan pelanya karena kekecewaannya, tidak ada lagi suara keras penuh pertanyaan seperti sebelumnya.


Saat Lin Xinghe melihat Lin Lin menangis sedih di tanah, tampilan sedih, dan ketidakberdayaan tampak jelas terlihat di wajahnya.


Dia membuka mulutnya, mencoba menggerakkan mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun, pada akhirnya, tidak ada suara apapun yang keluar.


Pada akhirnya Lin Xinghe hanya bisa diam, di ikuti oleh senyuman yang tak berdaya, dia menghela nafas panjang.


Selain tangisan kekecewaan Lin Lin, tidak ada lagi suara lain yang terdengar.


Melihat Lin Lin di tanah, air mata yang jatuh dan membasahi wajahnya, serta suara tangisannya yang mulai serak, Lin Xinghe tidak tahan lagi, dan mulai melangkahkan kakinya dengan cepat.


"Lin'er maafkan kakek..." Saat berjalan ke arah Lin Lin, Lin Xinghe tidak lupa untuk meminta maaf.


"Hmm.."


Tepat ketika dia hanya tinggal beberapa langkah jauhnya dari Lin Lin, dia merasakan sesuatu, dan harus berhenti.


Bahaya!


Merasakan ancaman dari dalam hatinya, Lin Xinghe segera mengerutkan kening dengan serius, dan melompat mundur.


Suara mendesign..


Saat Lin Xinghe sedang di udara, dia mendengar suara siulan angin di telinganya.


Kemudian, dari tempat dia berdiri sebelumnya, dia melihat sebuah kilatan cahaya dingin di kegelapan, kemudian diikuti oleh suara benda tajam jatuh, sebuah pedang hitam panjang tiba-tiba telah jatuh, dan menusuk tanah tempat dia sebelumnya berdiri.


"Siapa?"


Melihat pedang hitam di tanah, Lin Xinghe melihat sekitarnya beberapa waktu, dan berteriak.


Namun, selain suara dari hewan yang bernyanyi di kegelapan malam, dan suara tangisan Lin Lin yang mulai terdengar serak, Lin Xinghe tidak mendapatkan jawaban apapun.


Hanya tepat ketika dia kembali melihat ke arah Lin Lin, dia melihat satu sosok telah berdiri di depan Lin Lin, berdiri beberapa meter darinya, dan sedang membelakanginya.


Melihat sosok yang tiba-tiba muncul ini, Lin Xinghe segera mengerutkan kening dengan serius.


Namun, ketika dia memperhatikannya lagi, tampaknya sosok punggung di sana tidak terlalu asing baginya.


Punggung kokoh, tinggi satu meter tujuh puluh, rambut hitam yang menjuntai sampai ke belakang punggungnya, dan pakaian putih itu.


Dia...


"Jangan gunakan tangan menjijikkan itu untuk menyentuh Lin Lin."


Lin Xinghe bersemangat, dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi suara pemuda yang terdengar dingin, dan tanpa emosi terlebih dahulu terdengar di telinga Lin Xinghe, dan segera menghentikan tindakanya.


Lin Xinghe terkejut sejenak, dan kemudian dengan cepat kembali normal.


"Lin.."


"Jangan panggil namaku! Jangan panggil namaku seolah-olah kamu adalah kakekku!"


Lagi, ketika Lin Xinghe ingin mengatakan sesuatu, Lin Tian di depannya berbalik. Menatapnya dengan tatapan dingin penuh tampilan acuh tak acuh, dan menghentikan perkataan dengan cepat.


Tepat ketika melihat wajah ini, Lin Xinghe yang awalnya ingin tersenyum segera berhenti. Karena dari cara Lin Tian sedang memandangnya, itu adalah tatapan dingin acuh tak acuh tanpa kepedulian sedikitpun, dan tatapan penuh penghinaan yang sangat jelas di tunjukkan kepada dirinya.


Melihat wajah ini, Lin Xinghe yang telah hidup lebih dari 70 tahun merasa tubuhnya sedikit gemetar. Dia tidak tahu apa yang membuatnya ketakutan, dia hanya tahu, dan sedang merasakan bahwa seorang Dewa Perang sedang menatapnya.