Against Heaven'S Destiny

Against Heaven'S Destiny
Raja Abadi Lin Tian


Li Yaoleng, jenius langkah dan kecantikan nomor satu di kota Longshan, saat ini sangat menyedihkan. Tidak ada yang namanya kecantikan lagi, wajahnya yang cantik dan darah yang terus mengalir dari bibir merahnya yang telah dia gigit, Li Yaoleng saat ini seperti orang gila.


Tangisan dan ratapan menyedihkan Li Yaoleng terus bergema di ruang aneh ini.


"Kicauan..."


Saat Li Yaoleng sedang meratap sedih, ruangan di sekitarnya berubah.


Sekarang dia berada di sebuah puncak gunung es dan gunung ini semuanya tertutup salju. Li Yaoleng saat ini sedang duduk di tanah bersalju, menundukkan kepalanya, masih bergumam di antara mulutnya, dan tidak menyadari lingkungan di sekitarnya.


Di depan Li Yaoleng, seekor burung biru yang sepuluh kali lebih besar dari burung bisa sedang berdiri di depannya, dan melihatnya dengan mata tajam.


Di atas gunung yang membeku, dan di bawah guyuran hujan salju yang terus turun, seorang wanita cantik tapi terlihat menyedihkan, dan seekor burung biru indah dengan aura agung yang terus keluar dari tubuhnya sedang berhadap-hadapan.


Wanita itu terlihat sangat menyedihkan, tapi burung di depannya tidak peduli dan terus menatapnya dengan tajam.


"Kicauan.. kicauan..." Dari burung itu, terdengar suara kicauan yang memekakkan telinga.


Li Yaoleng, yang menundukkan kepalanya, dia tidak bisa memikirkan apapun sekarang, apalagi mengurusi ocehan burung di depannya.


"Kicauan.. kicauan... kicauan...." Melihat Li Yaoleng masih terdiam, burung itu berkicau pagi.


Sepertinya burung itu sedang mencoba untuk berbicara dengan Li Yaoleng.


Suara burung itu kali ini membangunkan Li Yaoleng yang sedang kacau. Dia mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah suara.


Melihat burung biru yang sebesar sapi, Li Yaoleng hanya melihatnya dengan pandangan kosong dan tidak ada perubahan emosi apapun di wajahnya.


"Kicauan.." Burung itu mencoba berbicara lagi.


Li Yaoleng sepertinya memahami maksud dari kicauan burung itu. Tapi dia masih diam dan tidak peduli.


Lelah.


Dalam hati Li Yaoleng, hanya ada kata lelah. Semua kejadian demi kejadian, telah membuat Li Yaoleng merasa lelah. Semua yang telah dia lakukan selama hidupnya, perjuangan untuk tak pernah menyerah dan terus melangkah maju, semuanya percuma dan akhirnya hanya tidak berguna.


Dan pada akhirnya, dia hanya bisa melihat orang-orang di sekitarnya mati satu persatu tanpa bisa melakukan apapun


Saat ini, Li Yaoleng hanya ingin menutup matanya dan beristirahat.


"Tepuk."


Sebelum Li Yaoleng benar-benar menutup matanya, sebuah tangan besar dan hangat menyentuh pundaknya. Membuat Li Yaoleng yang merasa lelah segera terkejut, dan terbangun.


Berbalik, dan melihat kebelakang, Li Yaoleng segera berhenti dan terkejut.


Di sana, seorang lelaki memakai pakaian serba hitam, wajah dewasa, serta rambut hitam panjang di belakang kepalanya, pria itu terlihat dewasa dan tampan. Selain fisiknya, dari pria ini, Li Yaoleng juga merasakan perasaan agung, seperti seorang Raja, yang harus menundukkan kepalanya ketika melihatnya.


Setelah berbicara dengan Zhi Wu, Lin Tian menggunakan jiwa Raja Abadi-nya untuk masuk ke dalam jiwa Li Yaoleng.


Lin Tian saat ini bukanlah tampilan wajah Lin Tian mudah seperti yang dia lihat Li Yaoleng sebelumnya. Tapi Lin Tian saat ini adalah tampilan Raja Abadi di masa lalu.


Wajah dewasa, dengan alis panjang, mata hitam sedalam lautan, dan wajahnya yang tenang, yang telah melihat perubahan hidup, Lin Tian saat ini adalah Raja Abadi yang di takuti di Alam Abadi.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


Melihat pria di depannya, Li Yaoleng tidak tahu, tapi dia merasa bahwa hatinya bergetar.


"Aku..." Li Yaoleng ingin berbicara, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana. Pikirannya kosong.


Lin Tian tidak terlalu peduli dengan keadaan tubuh dan pikiran Li Yaoleng, dia masih melihatnya dengan tenang tanpa emosi apapun.


"Apakah kamu ingin hidup?" Dengan tenang, Lin Tian bertanya lagi.


"Kicauan." Sebelum Li Yaoleng berkata, Phoenix Es di depan sana segera berteriak.


Sambil berteriak, dia melihat orang yang tiba-tiba datang ke sini tanpa di undang dengan pandangan serius, dan menatapnya dengan tatapan tajam.


Ini adalah jiwa Li Yaoleng, dan jiwanya sendiri, tapi tiba-tiba ada orang yang bisa masuk dan datang kemari. Jika bukan seseorang yang memiliki kemampuan tinggi, tidak mungkin dia bisa memasuki tempat ini. Selain itu, burung itu tampaknya juga merasakan aura berbahaya yang terpancar darinya.


Lin Tian, yang mendengar teriakkan Phoenix itu, dia mengangkat kepalanya dan melihat ke sana.


"Phoenix Es, makhluk Suci yang hanya hanya ada di Alam Abadi, aku tidak menduga kamu berada di sini." Melihat burung di depannya, Lin Tian berkata dengan tenang.


"Kicauan.. kicauan (Siapa kamu?)"


"Lin Tian, Raja Abadi Wilayah Selatan." Jawab Lin Tian.


"Orang-orang dari Alam Abadi. Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Aku adalah orang yang di utus oleh Lin Nantian untuk membantu gadis ini. Karena gadis ini membutuhkan bantuanku, jadi aku datang ke sini." Melihat burung di depannya, Lin Tian menjawab pelan.


"Lin Nantian?" Mendengar nama itu, sepertinya burung itu mengenalinya dan segera mengangkat kedua sayapnya.


Kemudian dia mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit.


Di langit, tubuhnya yang sebesar sapi tiba-tiba membesar, dan manjadi seperti seekor burung raksasa. Lalu dengan suara yang memekakkan telinga, aura sangat dingin keluar dari tubuhnya. Menghentikan hujan salju yang turun, dan membuat Li Yaoleng yang berdiri di belakangnya menggigil.


Melayang di udara, tiba-tiba batu es berbentuk bulu sebesar rumah muncul di sekeliling Phoenix itu. Bukan hanya satu, tapi ratusan bulu sebesar rumah dan setajam pedang telah terbentuk di sekelilingnya.


"Karena kamu mengenal Lin Nantian, kamu juga orang yang berdosa, dan orang yang pantas untuk di lenyapkan." Dengan tatapan mata dingin, Phoenix itu melihat Lin Tian di bawahnya, dan berkata.


Setelah berkata, ratusan bulu sebesar rumah dan setajam pedang mulai bergerak, dan meluncur ke bawah ke arah Lin Tian dengan cepat.


Dengungan.


Ratusan bulu pedang jatuh, membuat suara dengungan di sepanjang jalan, dan membuat udara di sekitarnya bergejolak. Dengan turunnya hujan bulu pedang itu ke bawah, udara di sekitar jalan yang dilaluinya menyebar. Angin berhembus di sekitarnya, membuat salju tebal di kaki Lin Tian berterbangan, dan pakaian serta rambut panjangnya bertebaran.


Li Yaoleng, yang berdiri di belakang Lin Tian, melihat ratusan hujan bulu pedang sebesar rumah jatuh, dan sedang mengarah ke arahnya, mata Li Yaoleng melebar.


Bagi Li Yaoleng, seorang pembudidaya pelatihan qi, dan belum melihat apa itu dunia yang sebenarnya, pemandangan di depannya seperti pertarungan antara dewa.


Li Yaoleng merasa sangat kecil, seperti seekor semut yang sedang melihat luasnya langit. Dengan kakinya yang gemetar, dan hatinya yang berdetak cepat, ketakutan akan kematian tiba-tiba muncul di hatinya.


Lin Tian, yang berdiri di bawahnya, dan melihat ratusan hujan pedang bulu jatuh ke arahnya, dia masih berdiri di sana dengan tenang, dan melihat semuanya tanpa ketakutan.


"Sepertinya kamu mengenal Lin Nantian, dan sepertinya kamu juga sangat membencinya."