Against Heaven'S Destiny

Against Heaven'S Destiny
Terbang


Li Yaoleng dan Lin Tian lah yang berkata secara bersamaan.


Kemudian mereka berdua menoleh, dan saling memandang. Dalam pandangan mereka, terlihat kejutan yang terlihat di mata mereka masing-masing.


Mereka hanya saling memandang sejenak, dan kemudian kembali.


Selanjutnya Li Yaoleng mengalihkan perhatiannya dari Lin Tian, dan berjalan mendekat ke arah Li Zhangyan.


"Kakek, aku tidak ingin menikah lebih awal." Melihat Li Zhangyan, dia berkata pelan, dan permohonan jelas terlihat di antara kedua matanya.


Melihat cucunya yang sedikit memohon, dan terlihat menyedihkan, Li Zhangyan tersenyum lembut.


"Kakek tidak bermaksud menikahkan kalian segera, itu hanya mempercepat prosesnya."


"Maksud Kakek?" kata Li Yaoleng sedikit bingung.


Li Zhangyan tidak segera menjawab, tapi mengeluarkan sebuah kertas kuning pucat dari cincin penyimpanannya, dan kemudian memberikannya kepada Lin Tian.


"Di kontrak pernikahan di tulis, jika acara pernikahan kalian akan di langsungkan apabila kalian telah berumur 20tahun. Aku berniat mengubahnya, yaitu jika kalian telah berumur 17 dan 18 tahun." Setelah menyerahkan surat nikah kepada Lin Tian, Li Zhangyan menjelaskan.


Mendengar apa yang di katakan oleh Li Zhangyan, Li Yaoleng menghela nafas, dan merasa sedikit lega.


Menunggu sampai umur 17 tahun, dirinya memiliki waktu kurang lebih dua tahun. Dengan waktu itu, setidaknya dia bisa melakukan banyak hal, dan dia juga masih memiliki sedikit waktu untuk mencari orang misterius itu.


Lelaki misterius dalam kepalanya.


"Menghitung umur kalian berdua, setidaknya itu akan berlangsung selama dua tahun lagi," tambah Li Zhangyan.


"Nak Lin, bagaimana dengan itu?"


Kemudian menoleh ke arah Lin Tian yang masih membaca kertas di tangannya, Li Zhangyan bertanya.


Lin Tian mengangkat kepalanya, berhenti membaca kontak pernikahan, melihat dua orang satu tua dan muda sejenak, Lin Tian menggelengkan kepalanya.


"Lupakan kontrak pernikahan, dan mari kita batalkan saja." Kata Lin Tian.


Niat perkataan Lin Tian hanya untuk membatalkan pernikahan, tapi Li Yaoleng yang mendengarnya merasa ada maksud lebih, dan langsung melihat Lin Tian dengan marah.


"Apa maksudmu? Apakah kamu berpikir bahwa aku jelek, dan tidak pantas untukmu? Bah.. aku juga tidak ingin menikah denganmu. Apalagi dengan seseorang pria yang bahkan lebih lemah dariku!" Kata Li Yaoleng marah kepada Lin Tian, dan sedikit menaikkan nada suaranya.


"Hehe.." Lin Tian terkekeh ketika mendengar perkataan Li Yaoleng.


"Apakah kamu berpikir aku lebih lemah darimu?" Lin Tian mengangkat kepala, dan bertanya kepada Li Yaoleng sambil tersenyum.


"Bukankah memang seperti itu? Alam Bawaan akhir, dan Alam Bawaan awal, menurutmu, siapa yang lebih kuat?" Li Yaoleng mencibir.


Lin Tian hanya tersenyum, dan tidak bersuara.


Kemudian dia menggerakkan jarinya ke arah air teh depannya, dan secara perlahan air itu melayang di antara jari-jarinya. Lalu Lin Tian menjentikkan jarinya ke arah Li Yaoleng, dan air teh itu dengan cepat terbang menuju Li Yaoleng.


Li Zhangyan, yang duduk di depan Lin Tian, dan melihat air teh di jari Lin Tian terbang ke arah cucunya, dia segera bergerak, dan mencoba menghentikannya.


Namun, ketika Zhennqi dari Inti emas di dantianya baru saja akan menghalangi air teh untuk mengenai tubuh Li Yaoleng, air teh terlebih dahulu telah menyentuh kening Li Yaoleng.


"Bang.."


Kemudian suara benturan keras terdengar, dan Li Yaoleng yang sebelumnya masih berdiri di sebelah Lin Tian terbang.


Terbang ke belakang dengan cepat, dan dengan suara "Bang" lain, tubuhnya menabrak tembok di belakang dan akhirnya berhenti.


Sangat cepat!


Dirinya sendiri, yang telah melihat semuanya dari awal, dan telah bersiap dari awal, tidak dapat menghentikan air teh Lin Tian.


Intinya adalah kecepatan, dirinya yang memiliki kultivasi Jindan, kalah cepat dengan praktisi bawaan awal.


Bagaimana ini mungkin!


Alam Jindan, entah kecepatan dan tingkat kekuatan telah melebihi imajinasi manusia biasa. Alam Yuan Qi di depannya hanyalah seekor anjing, dan alam bawaan adalah seekor semut.


Sekarang, semut itu, dia telah membuatnya merasa bodoh, dan hanya bisa menyaksikan cucu satu-satunya terbang.


Namun, ketika dia melihat Li Yaoleng segera bangkit, dan sepertinya tidak terluka sama sekali, Li Zhangyan merasa sedikit lega.


Li Yaoleng, setelah terkejut dengan apa yang terjadi sebelumnya, kini telah berdiri, dan melihat Lin Tian di sana dengan marah.


Meskipun dia terlempar cukup jauh, tidak ada satupun luka di tubuhnya. Selain warna merah karena memar di keningnya, dia benar-benar tidak terluka.


"Pria sialan, curang, kamu menyerang lebih dahulu." Melihat Lin Tian yang masih duduk dengan tenang, Li Yaoleng berteriak.


Kemudian dari tangan kanannya, embun beku muncul, terus memadat dan memanjang. Menjadi gumpalan es, dan akhirnya, sebuah pedang biru es cantik, dengan hawa dingin muncul di tangannya.


Kemudian di ikuti suara siulan angin, Li Yaoleng bergerak dari tempatnya, dan menyerang Lin Tian.


Saat Li Yaoleng bergerak ke arahnya, Lin Tian masih duduk dengan tenang, menundukkan kepalanya, dan menuangkan teh ke gelasnya lagi.


Lin Tian sepertinya tidak menyadari gerakan, atau pedang es Li Yaoleng yang sedang di arahkan ke kepalanya.


Ketika Li Yaoleng yang telah bergerak dengan cepat, dan hanya tinggal beberapa detik sebelum pedang di tangan mengenai kepala Lin Tian, dia terkejut dan mengerutkan keningnya.


Sebenarnya, dia benar-benar tidak ingin melukai Lin Tian, dia hanya ingin memberinya pelajaran karena membuat dirinya malu.


Dia hanya ingin berhenti, tapi dia bergerak dengan sangat cepat, dan tidak bisa lagi menghentikannya.


"Hei...!" Li Yaoleng berteriak, dan menutup matanya.


"Klik..."


Li Yaoleng, yang sedang menutup matanya tiba-tiba dia merasakan gerakan tubuh, dan pedangnya terhenti. Pedang yang es yang akan segera mengenai kepala Lin Tian sepertinya membentur sesuatu, dan selanjutnya suara es pecah terdengar di telinganya.


Li Yaoleng merasa takut, dan tidak berani untuk membuka matanya.


Dia takut, jika pedangnya berhenti adalah karena mengenai kepala Lin Tian, dan takut, ketika membuka matanya, dia melihat darah mengalir karena pedangnya.


"Yao Yao, pergilah keluar terlebih dahulu. Aku punya sesuatu yang di bicarakan dengan dia sendirian."


Bersamaan dengan Li Yaoleng ragu-ragu dan merasa takut untuk membuka matanya, suara berat dan serius kakeknya terdengar.


Berbicara dengannya? Apakah mungkin dia masih hidup....


Dengan ragu-ragu, dan secara perlahan, bulu mata panjang Li Yaoleng bergerak naik, dan membuka matanya secara perlahan.


Samar-samar dia melihat siluet pemuda, dia duduk di depannya dengan tenang, dan meminum teh dengan penuh perhatian. Selanjutnya, dia benar-benar melihat Lin Tian di sana dan masih utuh, dan tidak mengalami cidera seperti yang dia khawatirkan.


Dia juga melihat, pedang esnya berhenti dan hancur bukan karena mengenai kepala Lin Tian, tapi sebuah penghalang berwarna kuning emas, dan menghalangi pedangnya untuk terus maju.