
Di persiapkan untuk Lin Tian, karena hanya Lin Tian yang memiliki kesadaran di atas praktisi Para Dewa. Kesadaran dari jiwa Raja Abadinya dapat membedakan halusinasi, dan kenyataan.
Lin Tian sedikit bingung, tapi dia juga mengantisipasinya.
Tidak lagi memikirkan hal-hal ini, Lin Tian mulai berjalan mengelilingi bukit kecil itu beberapa kali, dan akhirnya berhenti di depan sebuah batu kecil.
Batu yang tidak lebih dari sebesar lengan itu hampir tidak terlihat di kumpulan-kumpulan batu besar lainnya. Tempatnya yang ada di antara batu kecil dan besar, itu sangat tersembunyi.
Jika Lin Tian tidak memiliki jiwa abadinya dimasa lalu, dia tidak akan melihat fluktuasi ruang di batu kecil ini.
Tidak sulit bagi Lin Tian untuk menemukan dan menghilangkan formasi. Dia hanya perlu menggunakan jiwa abadinya untuk mengganggu fluktuasi energi di batu, dan pintu masuk segera terlihat di dinding bukit.
Sebenarnya, Lin Tian memiliki kemampuan untuk menghancurkan formasi ini, tapi dia tidak memiliki keinginan untuk memberikan kenyamanan dari orang lain.
"Wuuuss..."
"Bang!"
Baru masuk kedalam pintu, Lin Tian disambut dengan sebuah hentakan, dan membuat dirinya mundur beberapa langkah.
Belum selesai merenung atas apa yang terjadi, Lin Tian melihat bayangan seseorang dari depan bergegas, dan mencoba menghancurkan tubuhnya kembali.
Lin Tian tidak tinggal diam, dan mendengus.
"Mati!"
"Boom"
Ledakan terjadi, dan bayangan di depan Lin Tian hancur berkeping-keping.
Tapi, belum selesai Lin Tian memeriksa, satu bayangan lain datang lagi, dan menyerangnya.
Belajar dari sebelumnya, Lin Tian tidak mencoba menyerangnya, tapi berusaha untuk menahan dan melihat, siapa yang tiba-tiba datang untuk menyerangnya.
Jadi, ketika sosok hitam itu datang, Lin Tian membuka telapak tangannya, dan dengan suara "Bang" bayangan itu berhenti di depan Lin Tian.
Dari tangannya, Lin Tian menemukan itu dingin, dan saat melihat lebih jauh, Lin Tian menemukan itu ternyata bukan manusia.
Itu adalah sebuah batu berbentuk manusia.
"Boneka!" Lin Tian berkata dalam hatinya.
"Seratus boneka! Semuanya berada di Alam Jindan!" Lin Tian berseru lagi saat melihat ke arah kejauhan.
Dalam pandangan Lin Tian, semua boneka batu itu kini bergerak, dan menuju kearahnya, bersiap-siap untuk mengusirnya keluar.
"Bagus! Waktunya tepat untuk menguji kemampuan dagingku!"
Bukannya takut saat melihat seratus boneka itu mengelilingi dirinya, Lin Tian malah tersenyum, dan memancarkan aura pertarungan dari matanya.
"Bang!"
Setelah menghancurkan boneka di depannya, Lin Tian bersemangat, dan segera bergegas.
Lin Tian tidak mengeluarkan senjata apapun, dan hanya menggunakan tinju dan tendangan.
Dalam lorong yang gelap, Lin Tian seperti seekor singa dalam kawanan domba. Kemanapun dia pergi dan bergerak, akan ada suara batu yang hancur, dan potongan-potongan batu kecil berserakan di tanah.
Tapi, setelah menghancurkan lebih dari setengahnya, semua boneka itu tiba-tiba berkumpul kembali, dan membentuk wujud manusia lagi. Setelah itu, mereka bergegas kembali dan menyerang Lin Tian.
Sayangnya, Lin Tian tidak memperdulikannya, dan terus bergerak maju. Siapapun yang ada di depannya, Lin Tian akan menghancurkan dengan pukulan atau tendangannya.
Tepat saat melihat ada ruang kosong di belakang boneka-boneka itu, Lin Tian berhenti sejenak.
"Klik.. klik..."
Diikuti oleh suara tulang di jari-jarinya, Lin Tian bergumam, "Tinju Dunia: Hancurkan Gunung!"
"Booomm." Suara ledakan keras terdengar di dalam gua.
Bersamaan dengan suara itu, suara lain menyusul, dan semua boneka yang sebelumnya masih berdiri di sekelilingnya hancur menjadi berkeping-keping.
Lalu dengan cepat Lin Tian melompat kearah lebih dalam, dan berbalik.
Setelah kembali ke bentuk semula, mereka semua melihat Lin Tian beberapa waktu sebelum berjalan ke dinding-dinding gua dan diam. Tidak lagi bergerak atau mencoba untuk menyerang Lin Tian.
Semuanya kembali tenang, dan semua boneka itu kini telah menjadi patung manusia yang tidak berbahaya.
Ketenangan kembali ke semula.
Tapi Lin Tian tahu, jika ada yang mencoba masuk kedalam Gua, seratus boneka ini akan kembali hidup dan mencoba untuk mengusirnya.
"Seratus boneka Jindan digunakan untuk ujian di pintu masuk, pasti ada hal yang baik di dalamnya." Lin Tian tersenyum dan masuk lebih dalam.
Sepanjang lorong Gua, Lin Tian tidak menemukan apapun lagi. Lorong ini kosong, dan tidak ada apapun selain jalan menuju ke ruangan paling dalam.
Hanya ketika Lin Tian berjalan cukup lama, Lin Tian melihat sebuah ruangan kosong yang cukup besar.
Dari ruangan ini, di sekitar dinding ada beberapa patung humanoid yang berdiri rapi, dan menghadap ke satu arah. Dari pandangan patung yang beberapa memiliki kepala hewan, tapi tubuh manusia, dan beberapa terbalik ini, Lin Tian menemukan sebuah pintu batu besar.
"Ada sekitar 12 boneka humanoid, dan aku yakin mereka pasti berada di Alam Yuan Qi."
"Jika aku harus memasuki pintu itu, tampaknya harus mengalahkan mereka semua."
Lin Tian menganalisa sedikit, dan tersenyum.
"Meskipun mereka memiliki kekuatan Yuan Ying, mereka hanyalah sebuah patung."
Lin Tian melompat, dan berdiri di tengah-tengah ruangan.
Seperti yang sudah di perkirakan oleh Lin Tian, saat dia tiba di depan pintu, satu dari 12 patung bergerak, dan melompat di depan Lin Tian.
Patung yang ada di depan Lin Tian ini memiliki tinggi 3 meter. Dari kepala hingga perutnya, dia memiliki bentuk beruang, dan sisanya adalah manusia.
Lin Tian mengamatinya sejenak, dan tersenyum, "Ingin bertarung?"
"Raungan!!"
Raungan seperti suara beruang terdengar, dan tinju sebesar kepala manusia yang datang dan menjawab Lin Tian.
"Dengan senang hati." Lin Tian tersenyum, dan juga mengeluarkan tinjunya.
"Bang!"
Suara benturan dari tinju kedua sangat keras, dan membuat ruangan seakan-akan bergetar.
Tapi, tidak ada yang kalah dalam adu tinju manusia dan batu.
"Ya, kamu lebih kuat daripada boneka diluar. Ayo, berikan pukulan lebih kuat lagi!"
Selain tinju yang datang lagi, tidak ada jawaban lain yang Lin Tian dengar.
"Bang!"
Pukulan lain mengenai tinju Lin Tian, tapi kali ini Berbeda dari sebelumnya. Seluruh tubuhnya terlempar ke belakang dan menandakan jika dia kalah dalam kekuatan barusan.
"Bagus!" Lin Tian mengangguk.
Kata-kata Lin Tian yang sepertinya sedang menghina ini tampak membuat boneka itu marah, dan mengeluarkan raungan yang sangat keras. Lalu, mata yang sebelumnya terlihat hitam berubah menjadi merah, dan melihat kearah Lin Tian sambil menggeram.
"Wuuuss..."
"Sangat cepat!" Lin Tian terkejut.
Tapi, kaki boneka yang dua kali lebih besar daripada manusia biasa itu sudah tepat di depan mata Lin Tian.
Lin Tian tidak memiliki waktu untuk menghindar, dan hanya bisa menahannya menggunakan telapak tangan.
"Bang!"
Mengikuti suaranya, Lin Tian merasa seperti ada sebuah gunung menabrak tangannya, dan bersamaan dengan suara siulan angin, Lin Tian terbang jauh ke belakang.
"Boom!" Suara ledakan lain menyusul dari tubuh Lin Tian yang menabrak dinding ruangan.