
"Hahahaha!!"
Seseorang dengan kekuatan Jindan awal tahap akhir tertawa dan mengangkat kapaknya ke arah Lin Tian.
"Tian Lin, kau benar-benar bodoh!"
"Kamu tahu kami sedang mengikutimu, dan kau malah memilih untuk berpisah dengan Pangeran kedua. Pada awalnya, kami masih ragu-ragu saat melihat Pangeran ada di sisimu, tapi kau malah memilih untuk pergi sendiri!"
"Seperti julukanmu, kau adalah babi bodoh, yang tidak tahu mati atau hidup!"
Mendengar itu, Lin Tian hanya memberi "o" panjang, dan menyeringai.
"Jadi, apakah kalian berpikir bahwa aku memilih untuk pergi sendiri bukanlah tanpa alasan?"
Tepat ketika mendengar ini, pria berotot dengan kapak di tangannya sedikit mengerutkan keningnya, dan bertanya, "Apa?"
Lin Tian menyeringai, dan dengan ringan berkata, "Itu simpel, karena aku tahu bahwa jika aku pergi sendirian, maka lalat seperti kalian akan muncul, dan akan mempermudahkan ku untuk membereskan kalian semua sekaligus."
"Apa katamu?!" Ada keterkejutan besar saat kata-kata Lin Tian jatuh.
Dari lima puluh orang itu, mereka saling memandang dengan bingung selama beberapa waktu, dan kemudian melihat ke arah Lin Tian.
Dalam pandangan mereka, kelompoknya Lin Tian sekarang hanya tiga orang, dan kelompoknya sendiri berjumlah lima puluh orang.
Lupakan untuk Ling Yanyue, tak ada seorangpun yang berpikir bahwa wanita cantik itu akan memiliki kekuatan yang kuat, apalagi bergabung dengan pertarungan.
Itu adalah Zhao Wuji, yang sedikit mereka perhitungkan, karena mereka semua tahu bahwa Tuan Muda dari Keluarga Zhao adalah seorang jenius.
Namun begitu, dengan empat puluh lima orang yang kesemuanya adalah Yuan Qi akhir tahap akhir, dan sisanya adalah Jindan, Zhao Wuji bukan lagi sebuah masalah.
Sedangkan untuk Tian Lin sendiri, siapa yang akan memikirkannya?
Menghitung kekuatan di atas kertas, jelas bahwa kelompok Lin Tian adalah yang terdesak.
Tapi Tian Lin ini berkata, bahwa berpisah dengan Pangeran kedua adalah keinginannya? Dia sengaja untuk memancing kelompoknya keluar?
Apakah otaknya sedang tertinggal di suatu tempat?
"Hahahaha,...!"
Jindan dengan kapak besar di tangannya tidak bisa menahannya dan mulai tertawa sangat keras.
"Hei, apa kalian mendengarnya?! Babi ini sebenarnya sudah merencanakan semuanya, dia memilih untuk berpisah dengan Pangeran kedua itu sebenarnya adalah karena ingin berniat mengalahkan kita semua!"
"Hahahaha!"
"Lelucon yang sangat besar!"
"Dengan hanya Yuan Qi akhir yang dia miliki, dia tampaknya sangat sombong dan tidak tahu ketinggian langit!"
"Mengalahkan kita semua? Hahahaha!"
"Babi ini benar-benar bodoh?"
...
"Sialan!" Di saat semuanya tertawa, wajah Zhao Wuji terlihat sangat suram.
Dia telah menghitung kekuatan semua orang di depannya, dan dia sangat marah saat mendengar apa yang mereka katakan, dan rencakan.
Di kekuatannya sekarang, Zhao Wuji memang bisa menghadapi seorang Jindan, tapi itu jika hanya satu lawan satu.
Tapi sekarang kondisinya ada lima.
Sebenarnya Zhao Wuji juga yakin jika Tuan bisa menghadapi Jindan, tapi berapa banyak yang bisa dia hadapi sekaligus?
Belum lagi Jindan, empat puluh lima Yuan Qi sisanya itu juga sudah mengerikan!
Wajah Zhao Wuji suram, dan melihat ke arah Lin Tian untuk menanyakan apa yang harus di lakukan.
Akan tetapi, saat dia melihat wajah Lin Tian sangat tenang setenang air tanpa riak, Zhao Wuji tiba-tiba mengingat sesuatu dan segera menoleh ke arah Ling Yanyue.
Benar! Bukankah Nyonya Ling ini memiliki kekuatan yang terduga?
Dengan pemikiran itu, dan melihat senyum lelucon di wajah Ling Yanyue, kemarahan Zhao Wuji tiba-tiba menghilang, dan dia kembali tenang.
Selain kembali tenang, saat melihat orang-orang yang masih tertawa di depannya ini, Zhao Wuji tiba-tiba menunjukkan senyum lucu di wajahnya.
Apa yang perlu di khawatirkan? Dengan Nyonya Ling Yanyue, yang bahkan membuat ular api tingkat Bawaan saja takut, apa yang perlu di khawatirkan?
Mengkhawatirkan lima puluh orang yang bahkan tidak bisa mengalahkan ular bawaan satupun, apakah itu perlu?
"Hahaha!"
Memikirkan semuanya, tiba-tiba Zhao Wuji tertawa dan menghentikan tawa kelompok lain.
Semua orang berhenti tertawa, dan melihat ke arah Zhao Wuji, tapi mereka tidak mengatakan apa-apa, karena memang bukan Tuan Muda dari Keluarga Zhao yang menjadi target mereka.
Itu adalah Lin Tian, yang tampaknya sangat tenang, dan tampak tidak pernah terpengaruh oleh apapun di sekitarnya.
Jindan dengan kapak di tangannya sedikit mengerutkan kening, dan dengan dingin berkata kepada Lin Tian, "Aku ingat, sepertinya kamu di sebut Tian Lin, benar?"
"Tidak! Sebaiknya dia juga pergi dan meninggalkan Dewi di sisinya, jika tidak, aku tidak akan pernah membiarkannya hidup."
"Ya, saudara! Kamu benar! Selain buah Taixun, dia juga harus meninggalkan Dewi di sisinya." Jindan lain memberitahukan Jindan yang pertama kali berbicara.
Saat Jindan dengan kapak itu mendengar usul itu, dia juga segera setuju, dan mengangguk.
Kemudian dengan dingin berkata dengan Lin Tian, "Apakah kau sudah mendengarnya? Jika sudah, sebaiknya segera berguling dan keluarkan Buah Taixun! Jangan biarkan kami membunuhmu!"
Di sisi lain, Lin Tian yang mendengar semua ancaman, dan menerima setiap tatapan dingin tiba-tiba mengangkat tangannya, dan satu jari masuk ke telinganya.
Sambil menutup mata, dan menggaruk telinganya yang tampak gatal, Lin Tian berkata, "Sangat berisik! Jika ingin mati, cepatlah datang."
"Kau!"
Wajah Jindan itu merah dan terlihat sangat marah. "Kau babi! Apa kau tidak akan menyerahkan buah Taixun dan De--"
"Kenapa begitu banyak omong kosong! Jika kalian memiliki kemampuan, datang dan ambil sendiri." Kata Lin Tian dengan tidak sabar.
"Sialan!"
"Bunuh dia!"
"Bunuh!"
Dengan teriakan itu, empat puluh lima orang segera bergegas ke arah Lin Tian.
Sambil memasang wajah dingin, dan senjata di tangan mereka, semuanya tampak memiliki momentum yang sangat kuat, dan sudah tiba di depan Lin Tian.
Melihat di matanya, Lin Tian samar-samar mencibir, dan mendengus.
"Bang!"
Tinju keluar, dan satu orang segera terbang dengan darah yang menyembur di mulutnya.
Saat jatuh ke tanah, dia tidak lagi bergerak dan bernafas.
Kemudian, dengan suara "bang" berturut-turut yang terdengar, semakin banyak jeritan, dan mayat yang tergeletak di tanah.
Tidak butuh waktu lama, mungkin hanya beberapa nafas, empat puluh lima Yuan Qi akhir semuanya telah tergelak di tanah dengan kondisi yang mengerikan, dan tidak bisa lagi mati.
"Kamu--- kamu---"
Melihatnya, mata dan mulut kelima Jindan yang tersisa segera melebar, dan melihat Lin Tian seperti melihat Monster. .
Perlu di ketahui, meskipun empat puluh lima Yuan Qi itu lebih lemah dari Jindan, mereka semua adalah orang yang kuat, dan sangat jarang di temui di jalan.
Biasanya, dengan kekuatan empat puluh lima Yuan Qi akhir tahap akhir keluar bersama-sama, mereka bisa menghancurkan sebuah kota, dan bahkan bisa membuat sebuah Sekte sedang sakit kepala.
Tapi begitu, saat mereka semua bersama-sama menyerang dan mencoba untuk membunuh Yuan Qi akhir yang sama, mereka semua mati, dan masih dalam hitungan detik.
Lebih parahnya lagi, sang pelaku tampak tidak mengeluarkan aura sedikitpun dari tubuhnya..
Itu berarti bahwa dia membunuh mereka semua hanya dengan kekuatan dagingnya!
Satu pukulan membunuh Yuan Qi di tahap yang sama. Dan masih beberapa detik.
Ini...ini...
Kelima Jindan itu benar-benar terkejut, dan mulai berpikir bahwa mereka sedang menendang pelat besi.
Pada awalnya mereka berpikir bahwa dia hanya adalah seekor babi gemuk dan bodoh. Tapi siapa yang mengira ternyata Tian Lin ini berpura-pura menjadi babi untuk memakan harimau.
"Menyesal? Tapi sayang sekali sudah terlambat!"
Lin Tian menebak pikiran mereka yang tersisa, tapi dia tidak akan terlalu peduli dan mengeluarkan tinjunya.
"Tinju Dunia: Hancurkan Gunung!"
Bersamaan dengan itu, Tinju besar turun dari langit, dan jatuh ke arah kelima Jindan yang tersisa.
Kelima Jindan itu menatap serangan yang datang, dan wajahnya berubah drastis.
Mereka tampak ingin menghindar, tapi seperti ada sebuah Dunia yang sedang menekannya, dan tubuh mereka di paku di tanah.
Dalam ketakutan, serangan itu akhirnya datang.
"Tidak!!"
"Boom!"
Tanah bergetar dan debu-debu berterbangan ke segala arah.
Butuh beberapa waktu untuk semuanya kembali normal, dan penampakan bekas tinju raksasa tertinggal di tanah.
Sedangkan untuk kelima Jindan yang sebelumnya masih sombong dan sengit, tidak ada lagi tanda-tanda tubuhnya yang tersisa.
Selain darah dan bau amis di udara, mereka berlima mati, dan telah menghilang dari dunia.