Against Heaven'S Destiny

Against Heaven'S Destiny
Permintaan Lin Lin


Lin Tian tidak peduli dengan empat mayat di gang dan tidak repot-repot untuk membereskannya. Lin Tian juga tahu, bahwa seseorang akan datang dan membereskan masalahnya.


Ketika sampai di rumah, seperti biasa, Lin Tian memeriksa isi rumah dengan indera spiritualnya, dan menemukan Lin Lin sedang berada di dalam kamarnya. Dia sedang duduk di atas kasur kamar tidurnya sambil mengerutkan kening, seperti sedang memikirkan sesuatu, dan tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.


Lin Tian tersenyum, lalu membuka pintu kamar Lin Lin dengan lembut dan masuk.


Di dalam kamar, Lin Lin masih mengerutkan kening dan berpikir. Lin Lin tidak menyadari, bahwa ada orang yang masuk ke kamarnya secara diam-diam.


Setelah berjalan berjarak dua langkah dari Lin Lin, Lin Tian berhenti. Memandang Lin Lin di depannya, Lin Tian tersenyum dan tidak bersuara.


Penampilan Lin Lin yang dewasa saat berpikir saat ini sangat langka. Penampilan wajahnya yang sebenarnya terlihat imut dan polos, tapi saat ini dia membuat tampilan serius, seserius seperti orang dewasa yang sedang memikirkan dunia.


Melihat penampilan Lin Lin saat ini, Lin Tian tidak tahan untuk tidak menyentuh wajahnya.


"Batuk." Tapi Lin Tian tidak melakukannya dan hanya membuat suara untuk membangunkan Lin Lin.


Lin Lin yang sedang berpikir serius segera bangun ketika mendengar suara Lin Tian. Dia memutar kepalanya dengan cepat dan melihat Lin Tian sedang berdiri di depannya, sedang melihatnya sambil tersenyum.


Mengetahui Lin Tian memasuki kamarnya tanpa sepengetahuannya dan mengawasinya secara diam-diam, Lin Lin merasa terkejut dan malu.


"Apa Tuan Muda sudah kembali." Menundukkan kepalanya dengan rona merah di wajahnya, Lin Lin berkata dengan pelan.


"Apakah Lin Lin barusan sedang memikirkan masalah dunia?" Lin Tian mengangguk dan bertanya kepada Lin Lin dengan senyum main-main di mulutnya.


"Tidak, Lin Lin sedang memikirkan Tuan Muda." Dengan rona merah di pipinya, Lin Lin menggelengkan kepalanya dan berkata kepada Lin Tian dengan suara sangat pelan hampir tidak terdengar.


Tapi bagaimanapun Lin Tian masih mendengarnya dan membuatnya sedikit terkejut. Dia baik-baik saja hari ini dan tidak melakukan hal yang sangat serius yang membahayakan diri sendiri. Apa yang membuatnya berfikir sangat serius?


"Apa yang terjadi denganku?" Lin Tian bertanya dengan aneh.


Mendengar pertanyaan Lin Tian, Lin Lin ragu-ragu sejenak.


Setelah ragu-ragu sejenak, kemudian dia mengangkat kepalanya, melihat wajah Lin Tian di depannya dan dengan ketegasan yang terlintas di matanya, Lin Lin berkata: "Lin Lin merasa, selama ini Lin Lin tidak berguna bagi Tuan Muda dan hanya bisa merepotkan Tuan Muda. Apalagi akhir-akhir ini Lin Lin juga menyeret Tuan Muda dalam bahaya. Lin Lin takut, jika suatu hari nanti Tuan Muda tidak membutuhkan Lin Lin lagi dan akan meninggalkan Lin Lin sendirian." Setelah berkata, mata Lin Lin memerah dan air matanya seperti akan keluar.


Mendengar kata-kata Lin Lin, Lin Tian merasakan hatinya bergetar dan arus hangat mengalir di dalam hatinya.


Menatap wajah Lin Lin yang akan menangis, Lin Tian melangkah maju dua langkah ke depan, mengulurkan tangannya dan menyentuh kepalanya dengan lembut.


"Jangan khawatir, Tuan Muda janji tidak akan pernah meninggalkan Lin Lin dan akan selalu bersama dengan Lin Lin selamanya." Lin Tian berkata dan menenangkannya.


"Janji?" Mendengar janji Lin Tian, tatapan Lin Lin menjadi bersemangat dan bertanya.


"Janji." Lin Tian mengangguk dan menjawab dengan senyum tipis.


"Juga, Lin Lin punya permintaan." Lin Lin berkata lagi.


"Katakan," kata Lin Tian pelan.


"Lin Lin tahu bahwa Tuan Muda bukan manusia biasa seperti Lin Lin dan suatu saat pasti akan meninggalkan kota ini dan pergi ke tempat yang lebih besar seperti yang di lakukan Paman Nantian. Meskipun Tuan Muda berjanji tidak akan pernah meninggalkan Lin Lin, suatu hari Lin Lin pasti akan menyebabkan Tuan Muda menderita dan menyeret ke dalam bahaya.


Lin Lin hanya manusia biasa dan pasti tidak akan bisa selalu berada di samping Tuan Muda. Jadi, Lin Lin ingin berlatih dan menjadi kuat seperti Tuan Muda, agar tidak menyeret Tuan Muda dan dapat membantu Tuan Muda di masa depan."


Mendengar perkataan panjang lebar Lin Lin dan permintaannya, Lin Tian tersenyum dan merasa senang di dalam hatinya.


Awalnya Lin Tian juga memiliki rencana untuk membawa Lin Lin di jalan kultivasi. Tapi jalan praktisi bukanlah hal yang mudah, jalan itu penuh dengan intrik, pembunuhan dan kekejaman. Dengan sifat polos Lin Lin, Lin Tian awalnya berpikir bahwa Lin Lin tidak cocok berjalan di jalan ini dan bahkan mungkin dia tidak menginginkannya.


Secara tak terduga, ternyata Lin Lin bertanya terlebih dahulu dan membuatnya lebih mudah untuk memikirkan langkah selanjutnya.


"Jika Lin Lin menjadi kuat di masa depan, apa yang akan kamu lakukan?"


Melihat harapan besar di antara kedua mata Lin Lin, Lin Tian tidak segera menyetujuinya, tapi malah bertanya.


Tujuan seorang untuk praktisi sangat penting. Jika dia telah memilih tujuan awalnya, itu akan menjadi hati Tao-nya di masa depan dan dapat menentukan jalannya apakah bisa melangkah lebih jauh atau tidak.


Lin Lin mengerutkan kening untuk berpikir sejenak dan kemudian melihat wajah Lin Tian dan berkata: "Lin Lin hanya ingin selalu berada di sisi Tuan Muda."


Mendengar perkataan Lin Lin, Lin Tian hanya tersenyum dan tidak merasa terkejut.


Ini adalah kemauan Lin Lin yang Lin Tian tahu.


Lin Lin berbeda dengan wanita yang telah dia temui selama ini, misalnya seperti Lian Xiuying, wanita dewasa dengan pikirannya sendiri dan selalu ingin berada di atas semuanya. Tapi Lin Lin seperti ini, dari kecil dia selalu bersama dengan Lin Tian dan selalu mengikuti di belakangnya seperti ekor.


Jadi keinginan Lin Lin seperti yang di harapkan Lin Tian.


"Jalan untuk menjadi seorang praktisi sangat berbahaya dan kejam. Jika kamu telah berjalan di jalan ini, kamu tidak boleh menyerah dan menoleh ke belakang. Apakah Lin Lin bisa melakukannya?" Kali ini Lin Tian bertanya lagi kepada Lin Lin dengan nada serius.


"Asalkan Lin Lin bisa selalu bersama Tuan Muda, Lin Lin pasti bisa melakukannya." Tidak banyak berpikir lagi, Lin Lin segera berkata dengan lugas.


Lin Tian mengangguk dan tidak bertanya lagi.


Jika Lin Tian bertanya lagi, jawabannya pasti hampir sama, yaitu tentang selalu bersama dirinya.


Lin Tian merasa penasaran, dan ingin membuka isi kepala Lin Lin dan memastikan, apakah isi di kepala Lin Lin hanya ada tentang dirinya sendiri?