
Adhi sengaja meminta Khadijah datang karena ingin memberi kejutan padanya, karena bukan hanya dia yang terluka saat Ayudia di nyatakan hilang, namun wanita ini, wanita yang mengabdikan dirinya untuk mendiang istri tercintanya.
Adhi baru menyadari bahwa Lia bukan istri sekaligus ibu yang baik untuk putrinya setelah tanpa sengaja ia mendengar istri keduanya itu sedang berbicara dengan putrinya dan tertawa senang mengetahui Ayudia hilang.
Selama ini Adhi tertipu dengan kebaikan Lia, ia menyangka Lia bisa menjadi sosok pengganti Eldrea, di samping itu Ayudia sudah mengenal lama Lia karena Lia juga merupakan sahabat mamanya, namun....
Adhi yang merasa bersalah membuat tekanan darahnya tinggi dan terjatuh hingga ia stroke. dan menjalani hari-harinya di tempat tidur, saat itulah terbuka semua sifat asli Lia.
wanita yang ia kenal lemah lembut berubah perangai menjadi pemarah dan judes, awalnya Adhi terkejut, namun melihat kondisinya yang membutuhkan Lia, ia memilih mengalah.
Lia juga lebih sering keluar dengan teman-teman sosialitanya membuatnya membebani semua tanggung jawab pada Khadijah.
Awalnya Khadijah bingung mengapa majikanya itu meminta di bawakan seblak pedas, namun ia hanya menuruti berfikir jika mungkin saja Adhi sedang ingin yang segar setelah sekian lama di rawat di rumah sakit, namun ternyata ia memperoleh kejutan indah.
Ayudia begitu bahagia saat membuka ransum dari Bi Ijah berisi seblak, matanya berbinar senang seperti anak kecil yang memperoleh hadiah, ia mencium pipi BI Ijah lalu langsung makan dengan lahap nya
"Pelan-pelan nak, tak ada yang akan mengambil makananmu" ucap Bu Ijah lembut sambil membelai rambut panjang Ayudia
"Bi,. terima kasih.
Ayu rindu sekali masakan bibi"
"Dimasa mendatang bibi akan sering memasakkan makanan kesukaanmu"
"Bibi is the best, ayu sayang bibi" ucap Ayudia menyenderkan kepalanya di bahu Khadijah
Setelah itu Ayudia mulai menceritakan semuanya dari awal kejadian hingga akhirnya ia kembali ke kota ini.
di Sela-sela ceritanya bi ijah terkadang menghapus air matanya sambil tak henti-hentinya membelai rambut putri sahabatnya itu.
Pancaran kasih sayang terlihat jelas di sorot matanya.
"Bibi punya sesuatu untukmu, bisakah kita keluar sore ini???" tanya Bi Ijah pada Ayudia
"Tapi bi..."
"Pergilah nak, Khadijah juga rindu padamu, habiskan waktu bersama kalian. Papa sudah biasa sendiri, lagi pula papa kan sudah bisa jalan" ucap Adhi tersenyum lebar
"Tapi pa..."
"Tak ada tapi,tapi an, pergi lah" ucap Adhi tegas.
Khadijah menatap pria yang menjadi tambatan hati sahabatnya itu, tersenyum dengan sorot mata mengucapkan terima kasih
"Baiklah, tapi papa janji jangan turun dari tempat tidur. kalau ada apa-apa, papa kabari Ayu ya?
"Iya sayang" ucap Adhi mengelus puncak kepala putrinya.
Setelah makan, Ayudia menelpon Arjuna memberitahukan kepergiannya, bukan karena ia sudah mengakui Arjuna suaminya, namun ia khawatir papanya sendirian.
Masalah pernikahan kedua mereka memang sudah di utarakan oleh Baskoro, dan Baskoro berkoalisi dengan Adhi mendesak Ayudia mau menikah lagi dengan Arjuna, dengan alasan demi masa depan si kembar.
Ayudia hanya bisa pasrah menerima desakan dari dua orang yang amat ia hormati
Setelah berpamitan Ayudia dan bi Ijah pergi ke suatu tempat, di perjalanan Ayudia berulang kali bertanya namun bi Ijah tak mengatakan tujuan mereka, hingga mereka berhenti di sebuah rumah megah dengan keamanan lengkap.
Bahkan di setiap sudut terdapat CCTV dan penjaga
"Bi, rumah siapa ini??? apa rumah bibi???" tanya Ayudia.
Ayudia baru menyadari jika bi Ijah berpakaian lain, ia juga lupa menanyakan di mana wanita itu tinggal setelah ia hilang, namun kini semua ia telan dalam hati karena rasa penasarannya kini beralih.
"Nanti kamu juga akan tahu, ayo" ajak bi Ijah tersenyum lembut
"Rumah siapa ini??? bi Ijah???? apa bi Ijah sudah menikah??? siapa penghuni rumah ini??" tanya Ayudia dalam hati, ia hanya dengan patuh mengikuti bi Ijah masuk ke dalam rumah tersebut
Beberapa penjaga dan pelayan menunduk hormat hingga mereka di sambut oleh seorang pria muda tampan
"Selamat datang nona muda" sapa pria tersebut sopan
Ayudia tersenyum canggung
"Sayang, perkenalkan dia Dave, kepala pelayan di kediaman ini, " ucap Bi Ijah yang tahu arti tatapan Ayudia
"Hai Dave, aku Ayudia"
"Tahu??? bagaimana dia tahu aku? ketemu saja baru kali ini, aneh dasar" gumam Ayudia dalam hati
"Dave apa kau sudah melakukan yang aku perintahkan??
"Sudah nona Al Rasyid, beliau langsung terbang menuju ke mari begitu mendengar kabar dari anda"
"Baiklah Dave, terima kasih.
Tolong hantarkan minuman ke ruang kerja ya" ucap bi Ijah tanpa menunggu menggandeng tangan ayu menuju sebuah ruangan yang berpintu besar dan kokoh.
Ketika pintu di buka, sebuah meja kerja besar menghadap ke arahnya, di sisi kanan kiri berderet banyak buku-buku yang di tata rapih.
terdapat beberapa sofa juga dalam ruangan tersebut, mata Ayudia terpaku pada sebuah lukisan foto keluarga, ia seperti melihat seseorang yang tak asing di sana, lalu ke foto di sebelahnya matanya membelalak lebar, itu foto mendiang mamanya, Eldrea Inez Jovanka.
"Bi, mengapa foto mama ada di ruangan ini???" tanya Ayudia bingung
"Tentu saja, karena mamamu adalah anak dari pemilik rumah ini.
Pria itu adalah kakek mu, dan di sebelahnya adalah nenekmu"
"Bi, bibi lagi gak bercanda kan????
seingat ku mama dan papa ...."
"Mamamu dan papa mu kawin lari.
merek tak di restui oleh kakek mu.
terlebih karena mamamu menolak untuk menjadi penerus perusahaan keluarga, ia lebih memilih menjadi ibu rumah tangga dan menikahi pria Asia yang tak punya penghasilan besar.
kakek dan nenekku tak ingin putri mereka yang biasa hidup mewah menderita, namun mamamu memaksa dan akhirnya kakek mu mengusirnya" bi ijah menghentikan ceritanya membuatkan Ayudia mencerna cerita yang ia sampaikan
"Lalu...."
"Papa dan mama mu jatuh cinta saat Adhi menjadi mahasiswa dalam pertukaran pelajar, cinta Eldrea yang kuat membuat ia rela meninggalkan semua kekayaannya dan orangtuanya untuk bahagia dengan Adhi dan memilih menetap di Indonesia.
mamamu yang sejak belia sudah memiliki perusahaannya sendiri, menyuntikkan dana pada perusahaan suaminya hingga menjadi besar seperti saat ini. mereka sepakat mengatasnamakan saham mereka atas nama kamu.
Adhi Prakasa group dan Inez group adalah dua perusahaan atas namamu" terang bi Ijah
Selama ini Ayudia hanya di beritahu jika ia memiliki saham atas namanya dari mendiang mamanya, namun ia yang saat itu lugu, tak pernah menanyakan apapun.
"Mengapa mereka tak mencari ku??" tanya Ayudia penasaran
"Karena kami..., kami bersembunyi" ucap bi Ijah lirih.
Ada nada menyesal di akhir kalimatnya
"Selain itu kakek dan nenek mu bisa melacak kami, mereka lega karena putri mereka bahagia, namun saat mengetahui Eldrea meninggal saat melahirkan mu, kakek dan nenek mu shock, namun mereka selalu mengetahui perkembangan mu dariku.
hingga akhir hayatnya Eldrea tak mau kamu di ambil oleh mereka, karena ia tahu Adhi akan sangat terpukul jika setelah ia pergi, ia juga kehilangan anaknya, sehingga perjanjian itupun di buat.
Kakek dan nenekmu hanya bisa mengunjungimu beberapa kali namun tidak bisa mengambil hak asuh mu. kakek dan nenek mu datang ketika kamu berusia dua bulan, lalu saat berusia tiga tahun dan sepuluh tahun , dan tujuh belas tahun.
apa kau ingat sayang???" tanya Khadijah
"Samar BI" ucap Ayudia memegang pelipisnya.
Ayudia melupakan masa lalunya, sebuah insiden membuat ia melupakan memori masa lalunya
"Tak perlu berfikir terlalu jauh, sore ini mereka akan tiba.
aku sudah mengatakan akan memberimu sesuatu, ini" ucap bi Ijah menyerahkan sebuah map coklat dan dua buah flash disk
"Ini????"
"Bukalah" ucap bi Ijah penuh teka teki
Ayudia membuka map coklat tersebut, entah mengapa perasaanya berdebar tak karuan, setelah ia buka dan mengeluarkan isinya, bola matanya membulat sempurna
"Astaghfirullah BI, apa.... ini, ini mama Lia????
Bagaimana mungkin dia....." Ayudia meremas foto tersebut, air matanya berlinang