
Setelah semua orang pulang, kini si kembar sedang berdiri berjejer menunduk, sementara di depan mereka Jovanka yang bersedekap dada sambil menatap ketiganya
"Ya Allah dosa apa aku sampai punya anak yang kelakuannya ckckck.
dua anak laki-laki seperti playboy, dan yang bungsu kenapa centil sekali, dari mana sifat itu????
Apa papa mereka sangat mata keranjang???
Ah aku harus membuat perhitungan pada Arjun karena memberiku tiga iblis kecil yang menguras pikiran namun sangat menggemaskan.
Bagaimana aku bisa marah melihat wajah imut mereka???" gumam Jovanka yang tak tega menghukum ketiga anak-anaknya
"Daffi, Daffa apa kalian sellau mengintip mama saat papa Adrian bersama mama????" tanya Jovanka penasaran, tidak mungkin jika mereka melakukan itu tanpa melihat seseorang melakukannya
"Daffi yang menyeret ku" ucap Daffa santai
"Kak kau menjerumuskan ku, kakak yang kejam.
Kenapa tidak kau katakan kita mengintip berdua?" tanya Daffi dengan wajah sedih
"Atu gak ma" ucap Davina membela diri
"Bisakah kian bersikap seperti anak kecil pada umumnya?? Davina sudah berapa kali mama liat kamu selalu mengikuti cowok tampan jika kamu bertemu mereka???"
"Atu penggemar cowok tampan" ucapnya ceria membuat Jovanka menepuk keningnya, bisa-bisanya anak ini?????
"Kalian ...." Jovanka kehabisan kata-kata
"Nenek...."panggil mereka serentak ketika melihat Ratna datang, mereka meminta bantuan Ratna untuk lepas dari hukuman.
Ratna mengedipkan sebelah matanya membuat ketiga bocah kecil itu tersenyum lega
"Jangan meminta pertolongan nenek" ucap Jovanka yang tahu arti senyuman itu
"Nak, ibu minta tolong, Kaki ibu pegal, ibu lagi goreng ayam di belakang "
"Ibu, ibu kalau sedang gak enak badan biar Jo aja yang ngerjain, mending ibu istirahat aja ya???
"Ibu mau makan puding sama dulu, anak-anak tadi om bawa puding, apa kalian mau juga???"
"Mau, mau, mau" jawab mereka bertiga, lupa jika sedang di hukum Jovanka, ketiganya mengekor Ratna menuju meja makan.
Jovanka hanya bisa menghela nafas, seperti ini lah kejadian kalau nenek terlalu sayang pada cucunya, ada saja akalnya untuk menyelamatkan cucu-cucunya dari hukuman mamanya.
Setelah Jovanka menuju dapur, ketiga bocah kembar itu memeluk Ratna dan mencium pipi Ratna bergantian
"Nenek terima kasih telah menolong kami"
"Makasih nek, atu sayang nenek" ucap Davina mendaratkan kecupan di pipi Ratna
"Makasih nek membuat kami lepas dari monster yang akan menekan kami" ucap Daffa hiperbola, namun kedua adiknya mengangguk menyetujui ucapan Daffa membuat Ratna tertawa terkekeh sambil menggeleng
"Makanya kalian jangan buat ulah lain kali, gak mau mengintip orang dewasa"
"Aku hanya gak mau mama menikah dengan orang yang tidak di cintai" ucap Daffa menundukkan kepalanya
"Kami mau papa kandung kami nek" timpal Daffi,membuat Ratna terenyuh ikut merasakan kesedihan anak-anak itu
"Aku mau papa Adrian" ucap Davina sambil menyendok puding ke mulutnya yang mungil
"Apa kau mau punya saudara tiri lalu kau di kurung di kamar???" ucap Daffi menakuti adiknya
wajah Davina ingin menangis
"Atu gak mau, atu mau punya adik" ucap Davina lirih.
Dibanding kedua saudaranya, Davina memang bersikap seperti layaknya anak kecil pada umumnya, hanya saja ia akan terlihat sangat genit ketika melihat pria tampan mengikutinya dan mengajak pria itu berkenalan, selebihnya tak ada yang aneh
"Dasar kebanyakan makan jadi otakmu di makan cacing pita" gerutu Daffa yang terkenal judes
"Daffa , gak baik seperti itu pada adikmu nak"
"Tapi nek, dia seperi komputer Pentium dua, lemot" gerutu Daffa
"Benar nek" timpal Daffi
Ratna memijit kepalanya yang tak sakit, kedua anak ini, kapan mereka bisa bersikap layaknya anak kecil.
Mereka terlihat manis saat makan katena mulut mereka sibuk mengunyah
"Suatu saat Kalina akan bertemu papa kalian, sampai saat itu tiba, nenek harap kalian patuhi mama kalian dan belajar yang giat, buat papa kalian bangga memiliki anak-anak hebat seperti kalian" ucap Ratna memberi motivasi
"Kapan kamu bisa bertemu papa nek??" tanya Daffa antusias
"Jika kondisinya sudah aman, saat ini papa kalian sedang mencari cara untuk menemui kalian"
"Apa kamu harus menemui papa lebih dulu nek?" tanya Daffi
"Eh, enggak. lebih asik jika papa kalian yang menemukan kalian, apa kalian mendengar ucapan nenek sayang???" tanya Ratna menatap satu persatu bocah kembar di depannya
"Iya nek" jawab mereka serentak
"Bagus, sekarang habiskan pudingnya, nenek masih punya cemilan lain untuk kalian"
Sementara Jovanka hanya menatap bingung melihat ketiga anaknya bersorak Sorai.
Jarak dapur dan ruang makan hanya beberapa meter, namun karena suara mereka kecil dan suara minyak menggoreng membuat Jovanka tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, Namun ada rasa bahagia melihat kebahagiaan terpancar di wajah tiga anak kembarnya.
Jovanka sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan Ratna, walau bukan orangtua suaminya, namun Bu Ratna seperti ibu sekaligus nenek untuk anak-anaknya.
Setelah mengetahui latar belakang Ratna, Jovanka sedikit lega. kini bukan hanya ketiga anaknya yang harus ia lindungi dan sayangi, namun Bu Ratna juga merupakan prioritas hidupnya.
Keesokan harinya
Jovanka sudah bersiap untuk pergi ke kantor, seperti biasa ia akan mengantar anak-anak ke sekolah dulu baru menuju tempat kerja.
Semua bekal untuk si kembar sudah masuk tas nya,. Jovanka lalu berpamitan pada Bu Ratna, namun begitu sampai di depan pintu, mobil Willy masuk, Willy turun dan melambai memasang senyum lebar.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'Alaikum salam" sapa semua orang, William mencium punggung tangan mama kandungnya dan Ayudia
"Kok pagi banget udah jalan kak??? naik apa???" tanya Willy celingak-celinguk
"Kakak naik taksi online, " ucap Jovanka singkat
Tak lama kemudian mobil William memasuki pelataran rumah Ratna, berbeda dengan Willy, William tidak pernah mengucapkan salah, bahkan Jovanka saja tak tahu apa agama William
"Pagi ma, kak Jo, and kutil loe udah di sini aja " sapa William pada adiknya
"Iya dong, mama suruh aku sarapan disini, jangan bilang kakak juga" ucap Willy meledek kakaknya
"Mau sih, tapi si kembar nanti telat" ucap William sambil menerima salam dari ketiga keponakannya
"Will, mama bungkusan bekal buat sarapan ya??? nanti makan di kantor" ucap Ratna
"Boleh ma, terima kasih"
"Tunggu sebentar ya" ucap Ratna masuk ke dalam rumah, diikuti Willy
tak lama kemudian ia kembali dengan kotak makan di tangannya
"Makasih ya ma, William pamit dulu, sekalian mau antar anak-anak sekolah"
"Bu kami pamit ya?"
"Iya sayang, hati-hati di jalan" ketiga anak Jovanka mengikuti William dan Jovanka berpamitan pada Ratna, setelah itu mereka duduk tenang di kursi penumpang, sementara Jovanka duduk di samping William
"Om, nanti pulangnya jemput ya om" ucap Daffi
"Iya om trus beli ice cream" ucap Davina
"Dasar perut buncit, pikirannya makan aja" cibir Daffa menatap adik bungsunya
"Davina mau ice cream???
"Atu mau, mau" ucap Davina semangat
"Ya nanti pulang sekolah, kita makan ice cream di mall"
"Asik, Daffi jangan kasih om, dia bilang pelut atu buncit" ucap Davina bersedekap dada membuang wajahnya ke arah lain
"Maafin de, Davina yang paling sexy" rayu Daffi membuat Davina berbinar senang
"Kalena kakak tahu aku sexy, kakak aku maafin" ucap Davina membuat tawa William pecah.
Kedua keponakanya ini,, benar-benar menggemaskan.
Namun si sulung hanya diam dan cuek melihat kedua adiknya bertengkar
"*Ya Tuhan, ternyata duplikat Arjun ada pada Daffa, seratus persen cold man" ucap William melirik ke arah Daffa melalui kaca spion mobil.
Daffa yang merasa di perhatikan oleh William menatap Bali dengan sudut alis di naikkan sebelah
"Fix, dia iblis kecil sebenarnya!!!!" pekik William dalam hati.
"Sebaiknya aku harus ambil hatinya agar dia bisa ku jadikan tameng melawan bapaknya yang menyeramkan itu, Arjuna, lawan bocah kecil ini!!!!" William tersenyum - senyum membayangkan Arjuna yang kalah dengan anaknya*
"Cih dasar aneh" ucap Daffa dari arah belakang kemudi
"Will, loe lagi gak stress kan?? serem juga liat loe mesam-mesem sendiri gitu" ucap Jovanka menggeser tubuhnya ke pintu mobil
"Haha, sorry, gue cuma lagi inget sesuatu yang lucu" kilah William
"Aku pikir om William kurang piknik ma, jadi pikiran dan kelakuannya tidak sinkron" ucap suara kecil di belakang kursi penumpang, imut tapi menyakitkan.
Pedas sepedas mulut papa kandungnya
"Daffaaaa" panggil Jovanka memperingati
"UPS, sorry om, om gak marah kan sama ucapan anak kecil" ucap Daffa santai, sementara William menggaruk kepalanya dengan senyum canggung
"Bocah sialan!!!"