(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Sepupu


Davina terlihat sedang duduk dengan muka cemberut, sementara Mauren terus mengoceh tak jelas, saat melihat kedua kakaknya datang, Davina langsung berlari kearah mereka, alih-alih mendekati Daffa ia malah memeluk Daffi, pada Daffa sudah merentangkan tangannya karena melihat Davina berlari kearahnya, rupanya ia berbelok setelah dekat membuat Daffa mendengus kesal


"Dasar anak kecil" gerutu Daffa kesal


"kakak juga anak kecil" cibir Davina bergelayut manja di tangan kakaknya


"Ah kalian, ayo kita duduk di sana, lihat Tante Sania bawakan apa itu" tunjuk Daffi melerai kedua saudaranya


Melihat Sania membawa banyak makanan , Davina langsung berlari kearah Mauren


"Bocil, bocil gak bisa liat permen sama Chiki" ucap Daffa menggelengkan kepalanya


"Well, kita juga masih bocil kak, jika kau lupa"


"Aku ingin segera besar, " gerutu Daffa


"Makan permen dan Chiki yang banyak, maka kau akan membesar" ucap Daffi menahan tawa


"Kau becanda??? aku belum gila, besar yang ku maksud bukan gendut, aku gak mau otakku yang cemerlang dalam balutan tubuh bulat seperti babi" gerutu Daffa membuat Daffi tertawa terbahak-bahak


"Dasar adik gak punya akhlak" cibir Daffa langsung meninggalkan Daffi yang masih tertawa terbahak-bahak


"Kak, kau mau kemana???"


"Ke neraka, apa mau ikut???" ucap Daffa kesal


"Hahaha, tidak terima kasih, anak baik sepertiku masih betah di dunia fana ini" ucap Daffi tersenyum lebar


Bugh


"Aduh" Daffi memegangi dahinya yang terkena lemparan permen dari Daffa


"Kau kak, bagaimana jika otakku yang keren ini cidera???"


"Hiperbola, cangkang tengkorak mu yang menutup otakmu itu sekeras karang, jangan lebay. setidaknya benjol itu menandakan bahwa kau masih manusia bukan iblis kecil" ucap Daffa membuat Daffi tertawa terbahak-bahak kembali, namun begitu melihat kakaknya melotot ia langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya sendiri


"Kalau kak Daffi iblis kakak raja iblis" bela Davina membuat Mauren dan Daffi lepas kontrol dan tertawa terkekeh, Davina diam-diam bisa mencibir kakaknya, dari mana skill itu berasal??? Daffi menyadari jika mereka bertiga setan kecil yang menggemaskan.


"Kak atu bosan" ucap Davina meletakkan Chiki nya di meja


"Kenapa? gak suka cemilannya???" tanya Daffi lembut


"Manja..." cibir Daffa


"Atu kangen mama, hikhikhik" Davina mulai menangis


"Kau kak, disini gak ada balon" ucap Daffi marah


"Atu gak mau balon, aku mau mama" ucap Davina makin kencang menangis


"Ini gara-gara kau kak, Davina jadi menangis"


"Ku pikir gara-gara kau bilang tak ada balon" ucap Daffa tak mau di salahkan


"Aduhhh" pekik Dafa dan Daffi memegangi kuping mereka


"Kalian kakak apaan, adik nangis malah berdebat" ucap William menjewer kuping keponakannya


"Om kdrt laporin kak Seto" protes Daffi tak terima


"Hmmm" Daffa males berkomentar, ia hanya mengelus kupingnya yang di jewer


"Kak Seto sedang sibuk sama Susan, jadi kalian jangan banyak tingkah, ayo ikut om ke kantor kakek" ucap William langsung menggendong Mauren


"Apa pria tua itu sudah percaya???"


"Pria tua itu kakek kalian, jadi om harap kalian sopan, ok???" William menatap dua keponakannya yang pemberontak itu


"Iya, iya, kami mengerti" jawab keduanya merenggut tak senang


"Sayang, jangan menangis, mama kalian sedang dalam perjalanan ke sini" ucap William yang berhasil membuat tangis Davina berhenti


"Benelan om?"


"Huek" ucap Daffa dan Daffi mendengar gombalan om nya


"kalian syirik" ucap Mauren langsung mendekati William dan William menggandeng tangan keponakannya yang lain, dia jadi membayangkan bagaimana jika mereka.anak-anak William, pasti sangat menyenangkan punya anak, gumam William dalam hati.


Sesampainya di ruangan, terlihat Anjani yang masih menyeka air matanya, ia menangis


"Omaaaa, kenapa Oma menangis, apa kakek jahat padamu?" tanya Mauren langsung berlari ke arah Anjani


"Tidak sayang, Oma kelilipan tadi" ucap Anjani berbohong


Terlihat mata Baskoro pun berkaca-kaca


"Cucu-cucu kakek, maafkan kakek" ucap Baskoro langsung memeluk si kembar


"Kau beruntung kak, mereka kembar tiga" ucap Anjani terharu


"Cucu kakek yang paling cantik" ucap Baskoro merentangkan tangannya ingin menggendong Davina, namun Davina menatap William seakan meminta persetujuan. William mengangguk pelan. Davina lalu pindah dalam gendongan Baskoro.


Baskoro menangis bahagia membuat Davina bingung


"Maafkan kakek baru tahu keberadaan kalian, kakek janji akan membayar semua waktu yang hilang"


"Kakek jangan menangis, kata mama kalau banyak menangis nanti cepat tua.


Kakek sudah tua, nanti..." Davina bingung dan menggaruk kepalanya


Baskoro langsung tertawa mendengar ucapan Davina, tawa bahagia dan haru.


Kini gantian Anjani yang memeluk si kembar lalu mengelus kepala Davina


Mauren terlihat bingung melihat semua orang menangis sambil memeluk temannya


"Kalian cengeng, sudah tua tapi cengeng" ucap Mauren kesal karena dia abaikan


"Sayang sini, ini sepupu kalian, mereka saudaramu yang lama hilang"


"Sepupu??? apa sepupu tidak boleh nikah Oma???"


"Tidak sayang, karena kalian saudara" ucap Anjani lembut


"Kalau begitu aku gak mau sepupu , Daffa calon suamiku" teriak Mauren kesal


"Tapi sayang, Daffa tidak bisa menjadi suamimu"


Anjani menjelaskan pada cucunya, sungguh pemikiran anak kec yang aneh, uaisa.mauten abru tujuh tahun tapi memikirkan calon suami membuta kepala Anjani berdenyut


"Aku gak mau saudara, aku mau Daffa" teriak Mauren lalu berlari keluar pintu


"Mauren, sayaaang" Anjani panik lalu menyusul cucunya


"Apa dia cucuku??? kenapa pemikirannya sudah terkontaminasi????" tanya Baskoro yang di balas bahu William yang terangkat


Sementara Daffa dan Daffi saling pandang dengan senyum licik terpasang di bibir mereka


"Andai papa tahu bahwa iblis kecil yang terkontaminasi sebenarnya adalah cucu kandungnya sendiri, hahahaha sepertinya aku kali ini harus bersyukur karena mereka, aku jadi menayangkan papa yang di tindas cucu-cucunya ini" gumam William tertawa dalam hati


"Pada yang kau tertawaan Will??? mau ku kirim ke Pluto???" bentak Baskoro merasa senyum jahat pada wajah putra angkatnya


"Ia sedan melamun jorok kek" ucap Daffa membuat William melotot pada keponakannya itu


"Astaga, William, kau memberi pengaruh buruk untuk cucu-cucu ku yang masih seputih kapas ini, singkirkan pikiran mesum mu, apa kau sudah ingin menikah???"


"Dalam mimpimu kakek tua" ucap William langsung cabut dari ruangan itu, ia langsung menghubungi Jovanka mengabarkan jika si kembar sedang di ruangan Baskoro


Terdengar nada lega suara Jovanka yang lemah, setelah itu William mengakhiri panggilan teleponnya dan mengabarkan Willy, William khawatir kondisi mamanya yang shock karena si kembar hilang


William lalu kembali masuk ke dalam ruangan Baskoro, melihat si kecil yang duduk patuh dengan senyum di wajah mereka, bagaimana mereka bisa begitu patuh??? padahal William berharap mereka bisa rusuh dan membuat papanya pusing, namun...


"Anak-anak, kita pulang, mama kalian sudah menuju rumah, dan kalian sudah membuat nenek cemas dan menangis karena ulah kalian" omel William lupa menyebut Ratna


"Nenek???, nenek siapa???" tanya Baskoro menyelidik, alisnya naik sebelah