
Mata Sania berkaca-kaca, ia merasa sangat bersalah pada Sandy, gara-gara permintaanya Sandy harus menderita luka separah ini.
Walau wajah Sania di dandani ala wanita tua, namun mata Sandy bisa mengenalinya.
masalah Davina dan Agatha langsung mengenalinya karena keduanya lebih ahli dalam menyamar.
"Maafkan aku" ucap Sania lirih
"Hei kenapa kau menangis, aku pria kuat.
Ini hanya beberapa luka kecil saja" ucap Sandy berusaha membuat lelucon
"Luka kecil tapi membuatmu tak berdaya.
Kau pembohong yang buruk"
"Sudah hapus air matamu, aku tak apa-apa.
Aku hanya sedikit ceroboh.
Aku mengira pria tua itu tak mencurigai ku dan masih percaya padaku sepenuhnya, nyatanya aku terlalu meremehkannya, ini pelajaran untukku agar selalu meningkatkan kewaspadaan ku kedepannya.
Beruntung Davina dan anak buahnya datang tepat waktu. kalau tidak mungkin aku tinggal nama terkubur bersama bukti itu" ucap Sandy menyesali diri
"Ya, Alhamdulillah kau selamat, tapi tetap saja ini karena salahku menyeret mu dalam masalah ini"
"Sudah tugasku melindungi mu" ucap Sandy membuat hati Sania terasa nyaman.
"Tolong buka nakas di sebelahku, disana Davina meletakkan test DNA nya"
"Aku, aku sudah tahu hasilnya" ucap Sania menunduk.
ia mulai menceritakan apa yang tak sengaja ia dengar di ruang kerja Aditya, air matanya meleleh, suaranya bergetar.
Sandy merasa sakit melihat wanita yang ia sayangi terluka.
"Apa kau merasa sedih karena bukan anak pria biadap itu???"
"Bukan, tidak seperti itu. Aku hanya sedih karena kau bukan anak mamaku" ucap Sania mulai menangis.
Sandy menarik Sania dalam dekapannya, ia meringis menahan sakit.
Namun Luka di tubuhnya tak seberapa dengan sakitnya perasaan Sania.
"Kita akan mencari orangtua kandungmu, Davina akan melakukan test DNA lain, tapi dengan persetujuan mu.
karena wajahmu mirip dengan Tante nya.
kemungkinan kamu masih ada sangkut pautnya dengan keluarganya"
"Benarkah??"
"Benar. sejak pertama bertemu aku pikir kamu kembaran Tante ku, tapi setelah tes DNA itu aku jadi bingung. Pasalnya kalian sangat mirip.
Maafkan aku karena membuka hasil test DNA mu tanpa izin mu" ucap Davina dan Agatha berjalan masuk
"Gak masalah. Terima kasih sudah menyelamatkan Sandy" ucap Sania mencoba tersenyum
"Santai saja, aku dan Agatha hanya tak sengaja lewat dan melihat Sandy di bawa paksa" ucap Davina tersenyum lebar.
Agatha memutar bola matanya malas.
Anak kecil ini sudah pandai berbohong.
"Aku harus kembali.
Aku bisa keluar karena bantuan sahabatku, aku takut jika terlalu lama di sana, papaku, ah maksudnya pria jahat itu tahu aku bermain-main dengannya"
"Sania.
Aku akan meminta anak buah ku ikut denganmu.
Walau terlihat lemah lembut, Jessy jago bela diri. ia akan melindunginya jika situasi membahayakan.
Terserah alasanmu apa.
tapi yang paling masuk akal adalah kau mencari seorang suster untuk membantu merawat mamamu.
Ini dokumen yang ku perlukan.
Disini tertulis jika ia berasal dari sebuah biro jasa pengadaan pembantu dan perawat.
jangan khawatir semua aku sudah atur"
"Baik, terima kasih banyak.
Aku masih harus merepotkan mu menjaga Sandy"
"Jangan khawatir.
Ia akan cepat sembuh karena di kelilingi wanita cantik" ucap Davina mengedipkan matanya.
Sandy speechless ia tak tahu harus berkomentar apa
"Aku yakin begitu.
Sandy cepat sembuh.
Aku akan cari cara untuk menjenguknya lagi.
Jangan tampakkan dirimu untuk saat ini, pria itu sedang mengerahkan anak buahnya mencari mu"
"Jaga dirimu juga.
"Baik.Oh ya, ambil rambutku untuk test DNA nanti.
tolong kabari aku hasilnya.
terima kasih" ucap Sania lalu keluar meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Jihan.
Sania kini bersama anak buah Davina bernama Lara yang memakai pakaian perawat.
Akhirnya mereka sampai di kediaman Jihan.
Jihan langsung berlari memeluk sahabatnya
"Aku sangat khawatir, akhirnya kau kembali.
Para penjaga menyebalkan itu membuat kegaduhan beberapa waktu lalu karena ingin mengajakmu pulang.
Kakak angkatnya sudah tiba dan mereka di minta pria tua itu membawamu" ucap Jihan
"Baik, aku pulang dulu.
Jihan thanks banget ya loe sahabat terbaik gue"
"Jangan sungkan, loe adalah adik gue kan.
Jadi tugas kakak melindungi adiknya" ucap Jihan sambil tersenyum lebar
"Baik kakak " ucap Sania membuat keduanya tertawa.
"Hapus dulu tuh make up. oh ya gue Ampe lupa.
"Dia ... perawat yang akan merawat mama gue.
kalau papa gue tanya bilang loe yang Carikan ya.
Ini dokumennya loe foto copy dulu" ucap Sania .
Jihan langsung meminta anak buahnya mem fotocopy, setelah wajahnya bersih, Sania pamit pulang ke rumahnya.
Sementara di rumah sakit Willy datang membawa sampel darah Sarah dan Baskoro.
tak lupa Deswita dan Sumiatun.
Davina melakukan itu semua untuk mencari tahu anak siapa Sania sebenarnya
kemungkinan besar anak Prakoso, namun ibu nya siapa Davina masih meraba.
Sani sudah sampai di kediamannya.
Terlihat Aditya sedang berbincang-bincang dengan seorang pria tampan, dia adalah Adrian, kakak angkat nya
"Kak Adriaaan" teriak Sania lalu memeluk Adria erat
"Hai gadis kecil kakak, astaga sudah besar dan cantik"
goda Adrian mencubit hidup Sania
"Emangnya mau kecil terus apa?.
Kakak paa kabarnya? gimana a? enakan jadi dokter atau pengusaha???" tanya Sania menggoda
"Enakan jadi dokter.
Bisa periksa wanita cantik"
"Ih dasar kakak genit.
makanya nikah kak. Mana kakak ipar ku yang waktu itu kakak ceritakan???"
"Ah sayangnya dia sudah menikah dan ku dengar ia sedang hamil " ucap Adrian santai tak terlihat sedih
"Kakak gak sedih??? gak kecewa??? gak marah???
apa kakak gak cukup mencintainya?" tanya Sania membrondong Adrian dengan pertanyaan
"Karena kakak mencintainya melihat ia bahagia itu merupakan kebahagiaan kakak.
sedih, marah, kecewa, sudah pasti.
Namanya juga manusia, tapi kita tak bisa memaksakan hati. Jika ia lebih bahagia dengan yang lain mengapa enggak kita lepaskan. Toh cinta tak harus memiliki" ucap Adrian
"Kakakmu terlalu naif. kali cinta ya harus kejar tak perduli Alang melintang di depan mata.
Karena cinta akan tumbuh seiring waktu" ucap Jimmy tak sependapat.
"Nah kalau papa Adrian ini type yang ngotot hahahhaa" ucap Adrian, Sania hanya bisa tersenyum walau dalam hatinya mencibir.
Adrian bisa merebut suami dan ibu dari anak lain.
itu bukan cinta, tapi keegoisan dan obsesi.
"Oh ya pa.
Aku meminta Jihan mencarikan seorang perawat, dan aku membawanya sekarang.
Ini dokumen pengalaman kerjanya dan background pendidikannya" ucap Sania menyodorkan map di tangannya
"Kenapa kau tak minta pada papa???
apa nanti tanggapan orang tua Jihan? mereka seorang diplomat "
"Papa tenang aja, itu atas usul mereka.
kalau papa gak percaya papa bisa telepon mereka.
Aku mau pamit ke kamar dulu, kak aku tinggal dulu ya
"Ok sampai ketemu makan malam"
Sania hanya mengangguk dan tersenyum, walau di hatinya dag Dig dug.
Saat menoleh ia melihat Lara di bawa masuk oleh seorang pengawal, ia terlihat sedang di tanyai oleh Adrian dan Aditya. Sania hanya berharap wanita itu tak salah bicara dan merusak situasi.
Rupanya Lara berhasil meyakinkan mereka. Terbukti Lara masih berada di sana dan terlihat sedang menyuapi Ratih di tempat tidurnya
"Mba lara apa semua lancar??" tanya Sania yang memiliki dua arti.
Lancar dari pertanyaan dan menghindari kecurigaan Adrian dan lancar merawat mama nya
"Alhamdulillah nona, nyonya tidak rewel, beliau juga makan cukup" ucap Lara menunjukkan bubur di tangannya yang tinggal seperempat.
Tanpa Sania ketahui. Lara adalah team khusus yang Davina latih sendiri.
Lara juga ahli dalam racun dan juga pengobatan.
Saat ini lara di tugaskan sebagai pengawal Sania dan juga merawat nenek dari bos nya yaitu Ratih.
sebelum pergi, Lara di beri beberapa obat kualitas super untuk kondisi Ratih.
mungkin dalam beberapa hari Ratih akan bisa berjalan dan tidak merasakan sakit kepala hebat lagi.
Keesokan paginya
# Di kediaman Angelo
Santri terserang demam sehingga ia tak bisa mengantar istrinya untuk memeriksakan kandungannya.
Davina menawarkan diri mengantar mamanya, akhirnya ibu dan anak itu pergi ke dokter kandungan di rumah alit milik Davina.
Di tempat lain Adrian juga membawa Ratih untuk melakukan pemeriksaan.
Adrian sudah menelpon dokter syaraf sahabatnya yang bekerja di rumah sakit, sehingga kini mereka menuju rumah alit di temani Sania dan Lara perawat baru mereka.
Setelah di periksa memang ada masalah di syarat Ratih. dan ada benjolan kecil di tulang tengkoraknya sehingga mungkin perlu di lakukan operasi.
mengenai memori Ratih yang terhapus, Adrian tak mau gegabah karena akibatnya bisa fatal.
Ratih bisa mengalami koma jika syarafnya tegang dan menyebabkan penyumbatan.
Davina berjalan menuntun mamanya, ia mendudukkan Ayu di kursi tunggu sementara ia mengantri obat.
Sosoknya menangkap seseorang yang sangat ia kenal.
Sesuai permintaan kalian author akan update double hari ini.
Jangan lupa like and coment nya ya, terima kasih
🤗🤗🤗🤗
pooh**