
"Apaaaaa??????” Jovanka sangat terkejut hingga bola matanya seakan hendak keluar, bagaimana bisa mereka tahu??? darimana mereka mengetahui jika ia pergi dengan Arjuna?"
"Maaf ma" ucap Daffi lirih mengira mamanya marah karena suara Jovanka naik satu oktaf
"Ah maafkan mama sayang, mama tidak memarahi mu.
Mama janji pada saat nya nanti kalian akan mama bawa menemui papa kalian, namun saat ini belum saat nya"
"Kapan itu ma???" tanya Daffi
"Jika semua sudah memungkinkan sayang, mama mohon kalian sabar ya"
"Baik ma, mama jangan lupa makan, selamat istirahat" ucap Daffa mengakhiri panggilan teleponnya.
Jovanka masih menatap ponselnya, ia sangat merindukan anak-anaknya, ini pertama kali nya ia jauh dari mereka, seakan sudah lama tak bertemu, rindu ini membuncah.
Jovanka rasanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya disini dan kembali pada anak-anaknya.
# lima hari kemudian
Tak terasa sudah lima hari mereka di pulau itu, semua pekerjaan juga sudah rampung.
Arjuna memberikan satu hari bebas untuk semuanya membiarkan mereka menikmati keindahan pantai atau sekedar membeli cenderamata untuk keluarga mereka
Jovanka lebih memilih menyusuri bibir pantai dengan bertelanjang kaki, ia menyukai kakinya tersapu ombak kecil yang terkadang menepi.
Sore nanti ia dan Willy akan kesebuah pusat oleh-oleh, ia berniat memberikan si kembar sesuatu yang unik, namun saat ini ia hanya mau menikmati lembutnya pasir putih sambil mendengarkan deburan ombak
"Kak, kakak gak mau berenang??" tanya Willy yang sudah memakai celana pendek dan kaos beserta pelampung, ia bersiap menaiki banana boat yang di persiapkan petugas resort, walaupun resort belum rampung semuanya, namun beberapa fasilitas sudah ada.
Jovanka sudah menyampaikan idenya yang langsung di terima baik oleh Arjuna, dan ia masih memiliki banyak ide yang mengalir.begitu saja begitu melihat resort ini.
"Enggak Willy, kamu aja, kakak mau jalan-jalan aja" ucap Jovanka menolak
"Mba, boleh aku ikut pak Willy?? aku belum pernah naik itu" ucap Susan malu-malu
"Pergilah, bersenang-senanglah. Willy ajak Susan ikut denganmu"
"Tapi kak???"protes Willy menatap tajam Susan,
masalahnya tidak ada seorangpun di sisi jovanka, walau Arjuna sedang meeting dengan Rendy dan beberapa klien, namun ia khawatir kakaknya itu akan mendekati Jovanka saat ia tak ada. Bisa fatal akibatnya jika papanya tahu.
Baskoro mengirim orang-orang terpilih untuk melindungi Jovanka dari jauh, namun orang tersebut bisa juga mengadukan dirinya pada papanya.
"Enggak pake tapi, sana jalan" usir Jovanka langsung mendorong mereka pergi, kini tinggal ia dan beberapa pekerja resort yang masih terlihat bekerja
"Kak, jika kakak merasa ada seseorang yang mencurigakan,Kakak teriak ya, aku tak akan lama hanya beberapa putaran"
"Astaga Willy, ini siang dan banyan orang, dia tak akan berbuat nekat di tempat umum.
lagi pula kakak tidka mudah di kenali" ucap Jovanka berusaha menenangkan Willy
"Baiklah kak, kami jalan
"Have fun semua" ucap Jovanka melambaikan tangan
Setelah kepergian Willy dan kawan-kawan, Jovanka duduk di tepi pantai, ia memilih duduk di sebuah ayunan di bawah pohon kelapa, matanya memandang lurus ke arah pantai memandang birunya laut yang terbentang luas, pikirannya melayang
"Ah apa yang harus aku lakukan jika mas Arjun atau jika aku adalah istrinya??? dan juga apakah ia bisa menerima anak-anak???
Kami menikah bukan berdasarkan cinta, dan kehamilanku juga karena kecelakaan, apa dia mau mengakui anak-anak???” gumam Jovanka dalam hati.
Sejak ucapan Davina tempo hari Jovanka terus memikirkannya, perkataan Davina sedikit banyak mempengaruhi perasaan Jovanka, hatinya sakit, ia ingin menjerit keras melihat kesedihan di mata anak-anaknya karena merindukan papa mereka.
Namun kehidupan nya rumit, ia masih harus bersembunyi dengan jati diri yang baru karena khawatir Deswita ataupun mama tiri serta kakak tirinya akan mencari cara lagi melenyapkannya.
"Jangan ngelamun, nanti di gondol setan gak tahu" ucap seseorang membuat lamunan Jovanka buyar, ia menoleh dan melihat Faisal yang tersenyum lebar
"Oh pak Faisal, bikin kaget aja"
"Maaf kalau mengganggu aktifitas ngelamunnya" Faisal tersenyum lebar, ia senang sekali bisa berbincang dengan Jovanka, bukan karena Jovanka cantik, namun wanita ini smart dan enak diajak bicara
"Hahaha ada-ada aja pak Faisal, saya lagi menikmati suasana sore di pantai, kapan lagi lepas dari rutinitas kantor" ucap Jovanka tertawa kecil
"Bener tuh Bu, jarang-jarang kita bisa santai gini" timpal Faisal
"Betul tuh pak, ngomong-ngomong kenapa bapak gak ikut sama yang lain baik banana boat?"
"Ibu juga kenapa gak ikut" ucap Faisal bertanya balik
"Saya sedang tak ingin, lebih enak berjalan di pinggir pantai merasakan butiran halus pasir pantai"
"Gak kreatif ah ikut-ikut"
"Lah emang bener Bu" ucap Faisal, mereka akhirnya ngobrol, sesekali di selingi tawa keduanya
Di kejauhan sepasang mata menatap tak suka ke arah kedua manusia yang sedang asik berbincang-bincang,
Ia beberapa kali menghela nafas dengan sorot mata yang tak hentinya memandang kearah mereka
"Woi combro, gue lagi ngomong mata loe kemana???
jangan bilang loe naksir doi???
bukanya loe bilang dia udah punya anak dan pernah lie lita suaminya jemput???
jangan gila loe Jun, istri orang tuh" cerocos Rendy membuat Arjuna makin kesal, ingin sekali rasanya Arjuna menyumpal mulut sahabatnya itu dengan cake slice yang ada di atas meja mereka.
Menyesal ia menceritakan kejadian saat ia melihat Jovanka di jemput, namun ia juga sangat penasaran dan berharap Rendy membantunya mencari tahu.
tapi malah jadi bumerang buat dirinya sendiri.
"Siapa yang naksir sama tuh cewe sih, gue cuma gak suka sama Faisal" ucap Arjuna mengalihkan pembicaraannya
"Gue yakin loe ada hati sama Jovanka, ya walau dia terlihat sedikit antik dengan kacamatanya, namun sedikit polesan gue yakin dia bakal cantik banget.
Lagi ya gue penasaran, itu orang minus berapa??? kenapa kacamatanya tebal banget kaya lensa pembesar " ucap Rendy tertawa geli sendiri menilai penampilan Jovanka
"Emang loe yakin dia cakep???" tanya Arjuna merasa penilaian sahabatnya itu berlebihan karena yang ia melihat wanita itu hanya terlihat manis.
Arjuna sebenarnya tak suka Rendy menjelek-jelekkan Jovanka, ia merasa hanya dirinya saja yang boleh.
namun jika ia mengatakan keberatannya, bisa jadi Rendy akan salah paham dan mulai mengoloknya.
cukup sudah Rendy selalu mengoloknya mengatakan ia tak normal, tidak bisa move on dan bla.bla.
Jika Randy mendapat satu lagi kelemahan Arjuna, habis perkara sudah.
Entah mengapa sejak melihat sosoknya, Arjuna seakan ingin selalu dekat, bahkan ia senang sekali melihat Jovanka yang marah padanya.
Ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada wanita yang terlibat bias. saja itu.
Sesuatu yang membuatnya merasa sudah mengenal wanita itu, suatu dorongan yang berasal dari alam bawah sadarnya, ya walau terkadang logikanya menentang itu, Karen ia tahu jika dalam resume nya Jovanka sudah menikah dan punya anak!!!
Arjun masih waras untuk mengganggu rumah tangga orang, tapi setiap kali melihat wanita itu tersenyum dan tertawa bahkan berbincang akrab dengan seorang pria, entah mengapa ia sangat tidak suka, apakah ia sudah Gila????