
Sejak kapan seorang Inez menjadi chicken????, dalam darahku mengalir seorang Inez" ucap Ernest menepuk dadanya.
Angelo menggaruk kepalanya yang tak gatal, siapa yang tak kenal keluarga Inez,
Keluarga paling berpengaruh dan kuat, bahkan semua keturunan keluarga Inez menepati posisi penting dalam pemerintahan. Hanya Ernest yang memilih menjadi ibu rumah tangga dan mendukung suaminya di balik layar.
ide-ide brilian dan siasat jitu terlahir dari otak Ernest.
Itulah mengapa ada pepatah yang mengatakan bahwa di balik pria sukses ada wanita hebat di belakangnya.
Davina lalu duduk di antara Angelo dan Ernest.
ia mulai menceritakan kelebihan yang di miliki sejak kecil, sampai disitu ia melihat reaksi kedua kakek dan nenek buyut ya, setelah dirasa aman, ia kembali bercerita tentang otaknya yang brilian sampai ia menyelesaikan studi nya, Davina kembali memberi waktu kedua orangtua sepuh itu mencerna.
tiba-tiba Angelo tertawa kencang dan menepuk lembut kepala cicit nya,
"Aku terhibur dengar dongeng mu nak" ucap Angelo tersenyum lebar.
Ernest menatap cicitnya, walau ia sulit percaya namun Davina bukan type pembohong, ia percaya semua yang di katakan cicitnya.
"Dasar kakek pikun, cepat panggil Arjuna dan Ayudia kesini, tak perlu ada yang di sembunyikan lagi" ucap Ernest memberi perintah, Angelo ingin membantah, namun Ernest memberi tatapan tajam pada Angelo, apa Ernest percaya semua yang dikatakan cicitnya????
"Ah siapkan juga dokter serta beberapa perawat serta bawa kesini tabung oksigen mu" ucap Ernest menambahkan.
"Aku segar bugar" ucap Angelo tak senang
namun ia menuruti perkataan istrinya
Kini semua orang sudah berkumpul, Davina mulai memberitahu semuanya perlahan, Ayudia melotot, menggeleng beberapa kali, mulutnya menganga lagi dan lagi, namun ia memilih diam dan mendengarkan.
Arjuna pun tak jauh beda ekspresinya
"Agatha adalah anak buah ku, ia yang selama ini mengelola perusahaannya" ucap Davina melempar pandang pada semua orang di ruangan itu, namun anehnya Angelo yang tadinya menertawakan Davina bungkam, ia sudah berbicara dengan Agatha sepertinya memang benar Agatha adalah anak buahnya, tapi bagaimana mungkin, dia ...
cicitnya masih seumur jagung, bagaimana dia bisa mendirikan perusahaan.
Arjuna dan Angelo saling menatap, mereka merasa ego dan kebanggaan mereka di tampar dan di rampas.
mereka berfikir bahwa mereka pengusaha yang hebat dan sukses di usia mereka, namun Davina sudah memulai kariernya di usia yang sangat belia saat mereka dulu masih asik bermain, Davina sudah pandai mengumpulkan pundi-pundi uang.
"Sayang, kamu sedang tidak bercanda kan???" tanya Ayudia yang tak percaya dengan ucapan putrinya, namun mata Davina terlihat bersungguh-sungguh.
Davina mengeluarkan ponselnya dan masuklah Agatha beberapa saat kemudian
"Ada yang bisa saya bantu bos??" ucap Agatha sopan membuat semua orang menelan Saliva dengan sulit.
"Jadi......." Arjuna tak bisa berkata-kata lalu tubuhnya terkulai lemas, ia pingsan, satu orang tumbang.
"Cih, ternyata suamimu lemah nak" cibir Angelo pada cucu menantunya
"Kakek tentu saja dia shock bagaimana putri kami seperti ini" ucap Ayudia yang juga shock namun juga bahagia.
Setelah Arjuna sadar Davina kembali membuat semua orang terkejut, ia meminum obat nya dan berubah jadi wanita cantik, membuat Angelo bahkan sesak nafas dan pingsan, begitu pula Ayudia dan Arjuna, hanya Ernest yang bertahan
"Astaga mereka pingsan berjamaah" ucap Ernest cekikikan
"Sayang, kau penuh kejutan, nenek buyut sangat bangga padamu. jadi waktu kau di culik???"
"Iya nek, aku sendiri yang melawan mereka, maaf membuat kalian khawatir" ucap Davina merasa bersalah
"Tidak,tidak nenek sampai speechless mendengar semua, ternyata ada berkah di balik musibah yang cucuku alami, kamu jadi super jenius.
Nenek buyut jadi penasaran apa kedua kakakmu????"
Davina mengerti kemana arah pembicaraan Ernest, ia mengangguk pelan,
"kami bertiga terlahir jenius nek, kak Daffa dan Daffi juga sama, hanya aku terlahir lebih jenius dari kedua kakakku" terang Davina dengan bangga
"Jadi selama ini????" Ernest kehabisan kata-kata
"Nenek, aku gadis kecil yang normal, aku ingin di manja, di sayang dan berprilaku layaknya anak gadis kecil seusiaku" Rajuk Davina membuat Ernest tersenyum canggung, ia memeluk Davina dan menciumi tirus Davina
"Aku tak akan berubah, aku akan menjadi anak baik yang imut" ucap Davina membuat keduanya tertawa
"Tahukah kau, wajah dewasanya persis seperti Eldrea, almarhumah nenekmu, anak nenek yang merupakan mama dari mamamu" ucap Ernest memeluk kembali Davina.
Davina pernah melihat foto neneknya di kediaman Adhi, tepatnya di kamar Ayudia, untuk menghormati Khadijah semua foto Eldrea di letakkan di sebuah kamar khusus yang tak lain adalah kamar Ayudia sendiri.
"Mama, papa," panggil Daffa dan Daffi dari luar kamar, lalu kepala keduanya menyembul masuk
"Oh maaf kami hanya khawatir dengan saudari kami, ternyata ada kakak cantik, kami kok gak melihat ante datang" ucap Daffi yang memang banyak bicara
"Anak nakal cepat kemari" ucap Davina menahan senyum
"Ini..." Ernest tidak meneruskan ucapannya karena Davina menggeleng memintanya diam
"Hai kak, apa kau datang untuk menjenguk adikku??" tanya Daffa sopan
"Tidak, aku datang untuk bertemu kalian.
Apa kalian khawatir dengan adik kalian???"
"Tentu saja, kami sangat menyayangi Davina, walau kami sering meledeknya tapi kami tak sungguh-sungguh, bagi kami Davina adik ter-imut yang kami kenal" ucap Daffi menjilat
"Owh begitu?" gumam Davina tersenyum licik
"Benar kak, ya walau dia tak sepintar kami tapi dia adik yang menggemaskan" timpal daffa membuat Davina ingin meloncat, kedua kakaknya akan muntah darah sebentar lagi
"Menurut kalian apakah adik kalian itu akan secantik aku jika besar nanti???"
"Gak mungkin ya kan Daffa??? Davina mungkin seperti nenek buyut" ucap Daffi lalu keduanya tertawa terbahak-bahak
"Benarkah??? tua sekali" ucap Davina yang dapat pelototan nenek buyutnya
"Gak sopan bawa-bawa nenek buyut"
"Hehehe maaf nenek sayang, kami hanya bercanda, nenek tetap cantik di usia nenek sekarang" puji Daffa membuat Ernest terkekeh
"Kalian cocok sekali menjadi cicit Angelo, mulut kalian manis tapi menyebalkan" ucap Ernest membuat Daffa dan Daffi tertawa
"Nek mengapa mama dan papa tiduran dan kakek buyut pakai di kasih oksigen, sebenarnya ada apa??? tanya Daffa mengerutkan alisnya
Ernest tak menjawab, ia malah menatap Davina seolah bertanya apa yang harus mereka jawab
"Kalian duduk manis lah, aku akan memperlihatkan sesuatu" ucap Davina tersenyum manis, Agatha menggelengkan kepalanya melihat keusilan bos nya, dengan patuh Daffa dan Daffi yang memang memuja Davina duduk di depan Davina.
Davina lalu meminta air pada Agatha dan meminum obat penetral sehingga dalam hitungan detik Davin kembali ke sosok aslinya
"Astaghfirullahaladzim" ucap Daffa dan Daffi meloncat lalu ...
"Bugh...,gedebug" keduanya sukses pingsan karena terkejut dan shock
Davina tertawa terpingkal-pingkal dengan pakaiannya yang kebesaran
"Kau, anak nakal" ucap Ernest menjawir hidung bangir cicitnya
Angelo terbangun dari pingsannya setelah Agatha mengoleskan minyak angin banyak ke hidung pria tersebut yng masih di beri oksigen, lalu kembali pingsan
"Nek, Bagaimana ini??? " ucap Davina panik
"Biarkan saja mereka pingsan masal, ayo nenek akan beri kamu ice cream kesukaanmu" ucap Ernest menuntun Davina keluar dari kamarnya
"Bos" panggil Agatha dengan wajah melas, ia harus mengurus begitu banyak orang di dalam sana
"Ayo ikut, biarkan dokter dan perawat mengurus mereka" ucap Davina membuat agatha langsung berlari kecil mengikuti Davina dengan wajah berbinar.
Agatha juga butuh sesuatu yang dingin dan menyegarkan untuk meringankan otaknya.
Dalam hati Agatha ia memiliki satu pemahaman lagi, ternyata ketegasannya berasal dari wanita tua ini, kejam!!!!