
"Hei, walaupun aku sudah tua, aku baru punya satu cucu" ucap Baskoro tak senang di panggil kakek oleh anak orang lain
"Itu karena anda memang kakek kami, huh apa anda tidak melihat jika wajah kami seperti anak anda???" ucap Daffa santai membuat bola mata semua orang membulat, Anak kecil ini.....
William dan Emillia kehabisan kata-kata untung menggambarkan Daffa, dia sangat....
"William, apa kau ingin menjelaskan sesuatu???"tanya Baskoro dingin.
"Ah bagaimana jika kita minum dulu" ucap Anjani berusaha mencairkan situasi, terutama ia juga butuh energi untuk mendengarkan Wiliam, karena ia yakin apa yang akan William sampaikan sesuatu yang penting.
"Sania, bawakan tiga gelas air putih" perintah Baskoro, entah untuk siapa air putih itu, yang jelas saat ini William butuh air minum untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan menurunkan ketegangan yang ia rasakan
"Om" Daffa menyodorkan soft drink yang belum ia minum pada William, tanpa basa basi William langsung meneguknya
"Daffi, duduk sini" perintah Daffa yang melihat adiknya masih berdiri seperti orang bodoh diambang pintu
Daffi dengan patuh mendekati kakaknya, sementara Davina sudah sejak tadi duduk dengan patuh di samping Daffa sambil meminum soft drink yang Daffa bukakan untuknya, mereka bertiga duduk di sofa panjang, membuat Baskoro menghela nafas.
Menduga, penasaran, marah, kesal, namun bahagia, semua campur aduk dalam pikirannya sehingga wajahnya saat ini sangat sulit di baca
"Kau, perhatikan wajahmu, kau sangat buruk, bisa-bisa bocah itu ketakutan melihat kakeknya sendiri" bisik Anjani yang duduk di samping Baskoro
"Kalau begitu saya pamit, pak Bu" ucap Emil tak enak hati masih di sana
"Tunggu anak-anak di lobby, ini tak akan lama" ucap William yang di balas Anggukan Emil.
Sania datang dengan tiga gelas air putih dan beberapa cemilan untuk anak-anak, ia meletakkannya di meja dan tersenyum manis pada keempat anak-anak itu
setelah itu ia keluar kembali ke meja kerjanya
"Kak, wajahmu,"tegur Anjani lagi melihat kakaknya berwajah buruk
"Anjani, berhentilah mendikte ku" keluh Baskoro karena adiknya terus saja mengingatkan dirinya tentang ekspresinya, bagaimana mungkin ia bisa berekspresi normal jika saat ini ia sangat kesal, anak nakal ini sudah menyembunyikan fakta
William meneguk air putih di depannya, menarik nafas lalu mulia bicara
"Mereka bertiga nak Jovanka alias Ayudia, aku belum mengatakan pada papa karena atas permintaan kak Ayu sendiri
"Apa ku bilang Will?? Ayudia?? bukankah dia istri kakakmu Arjuna???" sela Anjani terkejut
"Ya, Ayudia istri kakakku" ucap William lirih
"jadi, jadi mereka cucuku???" tanya Baskoro tak percaya dengan ucapan William,
Baskoro bangkit dan mendekati si kembar, senyumnya mengembang, matanya berkaca-kaca, namun ia sudah terlanjut membuat Davina takut sehingga Davina menarik tangan Daffa dan bersembunyi di balik punggung kakaknya
"Atu takut, kakek itu galak" ucap Davina membuat Baskoro langsung membeku, tangannya yang ingin mengelus cucunya menggantung di udara
"Dia hanya kakek tua yang ingin terlihat kuat" ucap Daffa menenangkan adiknya, namun kata-kata itu membuat Baskoro tertawa terbahak-bahak, sementara William dan Anjani menelan ludah mereka dengan susah
"Hahaha, mereka memang cucuku, cucu Baskoro yang selalu bicara apa adanya" ucap Baskoro bangga walau di hatinya terasa kecut, bisa-bisanya cucu kecilnya berkata demikian, sungguh anak Arjuna, makinya dalam hati
"Apa dia sungguh kakek kita kak?" tanya Daffi yang sejak tadi diam
"Entahlah, aku tak tahu harus berkata apa" ucap Daffa mengangkat bahunya
"Siapa namamu bocah???"
"Daffa, ini Daffi dan itu saudara kembar ku yang bungsu, Davina" ucap Daffa memperkenalkan dirinya dan saudaranya tanpa rasa takut sedikitpun
"Kau memang keturunan Smith, ketegasan keluarga Smith mengalir dalam darahmu" ucap Baskoro menepuk punggung Daffa
Baskoro lalu mengakar interkom ruangannya dan memanggil Sania, tak lama kemudian Sania masuk
"Sania, tolong bawa keempat cucu-cucu ku bermain, ingat jangan sampai mereka bahaya, minta beberapa staf membantu mengawasi mereka
"Ba..baik pak"
"Satu lagi, jangan keluar dari lantai ini!!!"
"Baik pak, ayo anak-anak" ucap Sania semangat, ia sudah jatuh hati pada pandangan pertama dengan ketiga bocah kembar ini, setelah tahu mereka cucu Baskoro, ia lebih penasaran, bagaimana atasannya itu punya cucu, sementara Arjuna yang sudah menikah, namun istrinya hilang entah mengapa, dan dua anak angkatnya itu lebih menyukai laptop mereka ketimbang wanita.
"Tante bolehkan aku dan saudaraku ke toilet?" tanya Daffa sopan membuat Sania makin suka pada bocah kembaran kecil CEO nya itu
"Toiletnya di sebelah sana" tunjuk Sania tersenyum
betapa menggemaskan kedua anak itu, wajah mereka yang identik membuat Sania bingung membedakan mereka
Daffa lalu menyeret saudaranya menuju toilet.
"Kak atu ikut"teriak Davina yang melihat kakaknya pergi
"Tunggu kakak mau ke toilet, apa seorang gadis ikut ke toilet pria??" tanya Daffa yang langsung mendapat gelengan pelan Davina
"Tunggu disini mainlah dengan Mauren, kakak gak akan akan lama" ucap Daffi yang selalu lembut pada adiknya.
"Uhm" Angguk Davina patuh.
Daffa lngsung menarik adiknya menuju toilet
Begitu mereka masuk, Daffi langsung menghempas tangan kakaknya kesal
"Kau memperlakukanku aku seperti anak bebek mau di potong kak, leherku hampir patah karena mu" ucap Daffi kesal
"Belum patah kan???, dengan kakak membawamu karena ada sesuatu" ucap Daffa entengnya tanpa perduli kekesalan saudara kembarnya
"Kau tahu, tadi Oma Anjani berkata mama menghilang, sepertinya keberadaan kita memang tidka di ketahui, pasti ada yang jahat pada mama" ucap Daffa membuka percakapan, Daffi yang tadinya kesal langsung memandang kakaknya meminta penjelasan.
"Benarkah????"
"Dugaan ku, kau tadi dengar sendiri, kini mama tidak sendiri , dia punya kita kekuatan sekaligus kelemahannya, seperti ini waktunya kita menggunakan orang-orang kita" ucap Daffa serius
"Maksud kakak???" Daffi masih belum mengerti maksud perkataan kakaknya
"Astaga, ku pikir kau berpura-pura bodoh selama ini membuatmu bodoh permanen, gerakkan orang-orang kita untuk berjaga di sekitar kita" ucap Daffa serius"
"Baiklah, apa kita harus membuat semuanya sekarang???" tanya Daffi pada kakaknya
"Tidak, belum saatnya, bagaimana jika mereka tau mister x pemilik perusahaan mereka hanya bocah seperti kita"
"Kau benar kak, aku akan menggerakkan beberapa orang untuk melindungi mama dan menjaga kita, pasti ada sesuatu yang tidak sesederhana terlihat" ucap Daffi serius
"Apa asisten Li sudah memberi kabar???" tanya Daffa kemudian
"Semua dalam kendali"
"Aku akan meluncurkan lagi program terbaru, kali ini aku akan menyusahkan asisten Li, Sampai saat itu tiba, rahasiakan semua, atau mama akan shock dan kena serangan jantung karena menyadari anaknya tidak seperti anak kebanyakan"
"Kak, kita memang tidak normal, seberapa kita menutupinya"
"Kau..., sudahlah, beruntung mama masih memiliki Davina yang normal, Jiak ketiga anak mama tidak normal, bisa kau bayangkan bagaimana ????"
"Apa kau sudah menyelidiki papa kita? bagaimana hasilnya?" tanya Daffi penasaran
"Aku ingin mengganti papa dengan papa yang lain"
"Kau, anak durhaka" ucap Daffi tak senang, ia sangat menginginkan seorang papa, kini usia mereka sudah tujuh tahun, tahun besok mereka akan masuk sekolah dasar, bisakah mereka melewati semua pendidikan itu??? berpura-pura bodoh itu sangat menyebalkan.
"Bagaimana seorang suami tidak tahu wajah istrinya, mama bekerja di samping pria itu.
Apa ia masih layak jadi papa kita?"
"Kau benar kak, apa perlu kita memberi pelajaran???" tanya Daffi bersemangat
"Itu pasti, kit ahrus lihat apa dia layak jadi papa kita" senyum sinis Daffa
"Papa Adrian menurutmu layak???" tanya Daffi tak senang
"Papa Adrian seorang yang lurus, baik hati, tapi apa artinya dia berada bersama kita jika mama tidka bisa menerimanya, mama hanya bersikap baik karena dia penyelamat mama" ucap Daffa di balas anggukan Daffi
"Namun papa Adrian lebih baik dari papa kita"
"Aku benci mengakui nya, tapi itu benar, papa kita tak berguna" ucap Daffi menimpali ucapan kakaknya
Jika saja ada orang disana yang mendengar percakapan mereka, pasti tidak akan pernah percaya bahwa itu percakapan anak usia tujuh tahun yang terkadang makan saja minta di suapi, namun tidka dengan mereka, karena suatu keajaiban mama mereka bangkit dari kematian setelah tersambar petir, mungkin ini lah yang membuat IQ mereka diatas rata-rata, jenius di usia belia