
"Aku hanya tak suka terlihat menonjol, bukankah menjadi tak terlihat lebih menarik???
Lakukan sebisa mu, mohon bantuannya.
Aku akan menghubungimu lagi"
Klikkk
Panggilan berakhir
"Sayaaaang, ayo makan" Ayudia memanggil suami dan anak-anaknya untuk segera Sarpan pagi, ia sangat kesal karena mereka berempat harus di panggil baru keluar kamar, TKA terkecuali papa mereka
Ayudia lalu menyuruh seorang asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar mereka satu persatu, ia terllau lelah pagi-pagi harus berdebat dengan putra, putri dan suaminya yang sudah di atur.
"Akhirnya kalian datang juga, cepat habiskan sarapan kalian dan berangkat sekolah" ucap ayudia memandang satu persatu anaknya
"Mama, tolong ikat rambutku, aku mu di kuncir dua agar terlihat imut" ucap Davina sambil mengayun-ayunkan kakinya, karena ia duduk di kursi makan yang lebih tinggi.
ditambah ia memang memiliki tubuh yang lebih pendek dari ke dua kakaknya
"Baik, mama akan sisir kan, makna dulu sarapannya ok??"
"Uhmm" ucap Davina mengangguk lalu mulai menikmati sarapan paginya
Daffa mendorong piring nya, ia hanya memakan separuh dari sarapan paginya, dengan elegan ia mengelap mulutnya dan berdiri
"Mama terima kasih, aku sudah kenyang" ucapnya tersenyum
"Anak nakal, mengapa kau tidak menghabiskan sarapan mu??? sarapan bagus buat pertumbuhan mu, apa kau tidak tahu itu uhmm???
"Ma, ini Karbo, dan kebanyakan Karbo di pagi hari akan membuat aku mengantuk.
Aku lebih suka makan sereal dan dan buah, itu lebih sehat" ucap Daffa yang memang menjaga pola makannya
"Anak kecil, jangan terlalu pemilih, makan saja yang mama mu masakan, kau membuat mamamu sedih" ucap Arjuna memberi pengertian putranya
"Pa, aku kenyang, kalau di paksa ..."
"Susah tak apa, besok khusus untukmu mama siapkan sereal ok???" ucap Ayudia mengelus kepala putra sulungnya
"Terima kasih ma" ucap Daffa memeluk Ayudia
"Aku juga mau sereal, aku mau telor mata sapi, aku mau sosis , kentang dan Nugget" celoteh Davina membuat semua orang menggeleng, mereka heran bagaimana anak sekecil itu punya kantong penyimpanan yang buka
"Gadis cantik, mama gak akan kasih kamu makanan itu semua sering-sering, itu hanya sesekali boleh.
Jika terlalu sering tidak baik untuk kesehatanmu" ucap Ayudia mencolek hidung bangir Davina
"Hufh baiklah" ucap Davina parah.
Ayudia lalu menguncir rambut putrinya menjadi dua, ia terlihat sangat menggemaskan, terlebih rambut ikalnya jadi cantik terlihat
"Putri papa cantik sekali" puji Arjuna yang melihat putrinya sangat menggemaskan, perpaduan imut dan gen cantik dari Ayudia membuat Davina seperti boneka Barbie hidup
"Jelek gendut" ucap Daffi yang di balas Daffa dengan mengacungkan jempol
"Pa, dengar tuh mereka saudara yang kejam"
"Biarkan saja, mereka hanya iri padamu, ayo sekarang ambil tas kalian, papa yang akan antar" ucap Arjun membantu Davina turun dari kursi makannya
"Mama pa???"
"Mama masih ada urusan, cepat kita jalan, papa ada meeting pagi nih" ucap Arjuna menggiring ketiga buah hatinya naik ke dalam mobil.
Setelah semua suami dan anaknya berangkat, Ayudia bergegas menuju kamarnya, mandi dan berpakaian, pagi ini ia akan mengunjungi Emillia, ya mulai hari ini Emillia akan tinggal bersama Ayudia, awalnya Emil menolak, namun Ayudia memaksa, lagi pula papa dan mamanya. memilih tinggal di kediaman mereka sendiri sedangkan Angelo dan Ernest masih lama berada di luar negeri, mereka hanya akan datang sebulan sekali.
Sebenarnya Ratna sangat ingin Emillia tinggal dirumahnya, tapi ia belum menikah dengan William, itu tidak baik untuk Emillia mengingat statusnya.
Setelah mengantar Emillia sampai dirumahnya, Ayudia segera berangkat kerja, ia ingin mengatur pekerjaan untuk Emillia di perusahaanya, dan setelah itu ia juga harus berkunjung ke perusahaan kakeknya yang bercabang di Indonesia.
Selama Angelo pergi, ia memercayakan semuanya pada Ayudia. Biasanya Ayudia akan mengandalkan mamanya, namun karena Khadijah juga berada di luar negeri, dengan terpaksa Ayudia bekerja rangkap, di temani Jack yang kini merangkap asisten dan pengawalnya.
Menjelang makan siang, Ayudia di kejutkan oleh suara ponselnya yang berdering, terlihat nama Arjuna di sana.
Dengan segera Ayudia mengangkat telepon dari suaminya tersebut.
Setelah berbincang singkat, panggilan berakhir.
Rupanya Arjuna meminta Ayudia menuju sebuah restoran sederhana, karena semua orang sudah berkumpul di sana, termasuk William dan Willy tentunya
Ketika Ayudia sampai, Arjuna menjemputnya di pintu masuk dan ia segera bergabung dengan yang lainnya
"Tumben kalian mau ketemuan gak pake rencana, ad apa nih??" tanya Ayudia menatap bingung wajah-wajah tegang di depannya.
"Seseorang mengirimkan kami alamat Minah, asisten rumah tangga yang menghilang setelah percobaan pembunuhan mu" ucap Arjuna membuka percakapan.
"Itu bagus, lalu mengapa wajah kalian tegang?" tanya Ayudia makin bingung
"Masalahnya adalah saat siang ini William ke sana mereka mendapati Minah ternyata hilang akal, alias gila" ucap Willy membuat Ayudia menutup mulutnya terkejut
"Apa yang terjadi dengannya???" tanya Ayudia
"Entahlah, kami sudah meminta istri Samuel menghubungi rekannya yang seorang psikolog, sepertinya kondisi Minah berkaitan dengan kejadian itu.
"Mungkin juga"
"Kita hanya bisa berharap menunggu Minah sehat atau meneruskan gugatan"
"Padahal kita sangat berharap bisa menemukannya dan menyelesaikan semua kekacauan ini, tapi apa boleh buat.
Kita tunggu sampai dua bulan, jika dalam kurun waktu itu kondisi Minah masih seperti ini, kita tetap ajukan gugatan, walau tanpa kesaksian dari Minah."
"Aku setuju kak" ucap Samuel
"Bagaimana dengan yang lain???"
"Aku juga setuju" ucap Arjuna, dan William, sementara Willy mengacungkan jari jempolnya.
"Lalu ap yang akan kita lakukan pada Minah?"
"Seperti yang William katakan tadi, istriku memiliki seorang teman yang biasa menangani pasien rumah sakit jiwa, kita akan meminta bantuannya,
sementara biar dia tinggal di rumah mertuaku saja, agar istriku bisa dengan mudah merawatnya"
"Baik ku serahkan padamu, aku sudah kelaparan, ayo pesan makan siang kita" ucap Ayudia.
Mereka lalu makan siang dan setelahnya kembali ke kantor.
Sementara di sekolahan
Daffa dan Daffi terlihat sedang duduk di bawah pohon rindang, mereka tak bermain dengan anak yang lainnya.
"Sepertinya ada yang aneh, biasanya akan ada dua kekuatan yang saling menutupi, mengapa..."
"Aku juga sudah meminta vincen menyelusuri mya, mereka tak mendapatkan apa-apa, hanya...." Daffi menghentikan ucapannya
"Hanya????"
"Ada sebuah kekuatan bawah tanah yang baru di rintis beberapa bulan yang lalu, dan langsung menjadi kuat, karena ia berkolaborasi dengan beberapa informan kecil.
sepertinya pemain baru itu sudah memperhitungkan semuanya dengan masak,karena tak butuh waktu lama ia sudah menjadi pemimpin informan ternama dan klien kita ada beberapa yang bekerjasama dengan mereka.
Tapi bos mereka sangat misterius" ucap Daffi dengan wajah rumit
"Se-misterius apa mereka, harusnya kau bisa menyusup ke dalamnya"
"Kami sedang mengusahakannya, hanya saja orang kepercayaan ku tak kembali setelah ku kirim ke sana"
"Apa dia mati????" tanya Daffa terkejut, karena ia tahu dengan pasti anak buah Daffi terlatih dengan sangat baik, dalam ilmu beladiri atau senjata apalagi senjata api, mereka pasukan elit yang setara dengan tim khusus di angkatan darat. Karena ketua mereka merupakan seorang yang mengabdi di dunia itu.
"Tidak, tapi anak buah ku itu, tak mau kembali bekerja dengan kami" ucap Daffi kesal
"Apa kau sudah menyelidiki alasannya???"
"Entah, rekanya mengatakan jika ia terpikat seseorang di dalam organisasi itu.
mereka kebanyakan adalah wanita" ucap Daffi singkat
"Apa karena wanita??? rasanya terlalu naif, pasti ada suatu alasan yang masuk akal.
apalagi mereka terkenal loyal dan berdedikasi tinggi".
Selidiki secara menyeluruh semuanya, dan...
Wanita yang membantu Deswita memberi obat pada mama sudah di ketemukan secara aneh"
"Aku juga berfikir itu aneh, ada yang coba main-main dengan kita, entah lawan atau kawan kita harus waspada" Daffi mengangguk setuju, yang terpenting adalah waspada.
Sekecil apapun celah bisa membuat hancur semuanya.
"Kak, kakak, aku mau ke toilet dulu" ucap Davina menghampiri kakaknya
"Ayo ku antar" ucap Daffi bangkit
"Kakak aneh, apa kakak mau mengintip para gadis??? by the way, aku suka sendiri, aku sudah besar, bye bye hermano" ucap Davina mengedipkan matanya sebelah
"Apa itu Davina? adik kita?"
"Ku rasa kepalanya terbentur sesuatu dan tingkahnya astaga seperti tante-Tante girang
dan kau dengar ucapan terakhir ya, dia menggunakan bahasa Spain " ucap Daffa merinding
"Aku pikir juga iya, seperti ulat keket geal-geol" timpal Daffi sama pemikiran dengan kakaknya
"Huh kakak yang aneh" ucap Davina melirik kedua kakaknya dan mengibaskan rambut kuncir dua nya
walau terlihat genit tapi sangat imut, sehingga banyak pria kecil di kelasnya yang menyukai Davina, hanya saja pipi berlemak nya adalah maslaah buat Davina, tapi malah membuatnya terlihat manis.
Satu Minggu Kemudian
Sudah satu Minggu Mirna di rawat, namun belum menunjukkan perubahan, ia terkadang menangis , menggigil ketakutan atau berteriak histeris.
Namun kalimat yang ia ucapkan berulang-ulang kali.
Sahabat Anabel yang seorang psikolog menduga jika sakitnya Mirna bukan murni karena tertekan, tapi ada sebuah kejadian yang menjadi pemicu, mungkin Mirna di siksa!!!!