
Sebastian menunggui jimmy hingga pagi, ia hanya pamit sebentar untuk pulang dan mandi dan tidur sejenak untuk kembali ke rumah alit setelah istirahat.
Jimmy merasa sangat bahagia, kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ketika sampai rumah terlihat semua orang sedang sarapan pagi, tak terkecuali Willy yang sedang sarapan dengan wajah kusut karena kurang tidur
"Tian?? dari mana kamu pagi-pagi begini baru pulang??? Papa gak pernah mengajarkanmu untuk kelayapan hingga pulang pagi" ucap Baskoro menegaskan aturan dalam keluarga mereka.
Walau Baskoro terlihat tak perduli, namun sebelum tidur ia selalu mengecek putra dan putrinya sebelum dirinya masuk ke kamar untuk tidur.
Ia ingat betul jika semalam Tian ada di kamar, apa dia keluar saat tengah malam???
"Pa, maaf Tian keluar gak izin dulu, Tian ada perlu yang mendesak" ucap Sebastian lirih
"Apapun itu, kamu harus beritahu papa.
Itu berlaku pada kalian semua.
Karena kalian tanggung jawab papa"
"Maaf pa" ucap Tian lagi
"Sudah sana mandi dan ganti pakaian lalu sarapan.
kita sarapan bareng" ucap Baskoro tegas.
Sebastian mengangguk lalu ia berjalan ke kamarnya.
Di dalam sana ia menangis.
Betapa Baskoro perduli padanya, Tian jadi merasa takut bagaimana jika pria itu membencinya, apa ia sanggup????
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian Tian langsung menuju meja makan, rupanya Baskoro meminta asisten rumah tangga mereka membuatkan bubur untuk Tian, mungkin Baksoro mengira Tian mabuk atau begadang dengan teman musiknya sehingga ia takut pencernaan Tian bermasalah
Terbukti hanya dia saja yang menu sarapannya berbeda.
"Makanlah selagi hangat.
Papa akan ke ruang kerja, sepertinya ada yang mau kamu sampaikan" ucap Baskoro lalu meletakkan sendok dan garpu ya.
Sebastian bangkit ingin membantu Baskoro menuju ke ruang kerjanya karena pria itu kini memakai kursi roda
"Tidak usah, ada kakakmu yang bisa mendorong kursi roda papa.
Sania, papa minta tolong nak" ucap Baskoro pada putrinya
"Iya pa" ucap Sania langsung menghampiri Baskoro dan mendorongnya menuju ruang kerja.
Sebastian masih membeku di tempatnya, ia jadi merasa khawatir memikirkan segala kemungkinan yang terjadi setelah ia memberitahu apa alasannya keluar dini hari
"Santai aja, loe gak akan di makan sama papa" ucap Willy santai
"Kak Willy mending jalan kerja deh, demen banget godain orang.
Jangan lupa tuh muka kompres , jelek bener kaya mumi. awas kak Agatha kabur karena punya laki kaya cacingan gitu" cibir Vera membela Tian
"Wah gak adil, Tian di belain.
Sarah belain kakak dong" ucap Willy dengan senyum lebar
"Emang bener kata Vera kok, ngaca sana. eh mbok masih ada kuah soup ayam gak???" tanya Sarah tiba-tiba
"Ih apa hubungannya muka kak Willy sama kuah soup ayam???
"Biar dia ngaca di kuah soup" ucap Sarah cekikikan sendiri, sementara Vera dan Sebastian saling pandang dengan tatapan bingung.
Berbeda wangian Willy yang langsung mendekati Sarah dan mengacak-acak rambut Sarah dengan gemas
"Kakak, kak Willy, rusak rambut aku" teriak Sarah marah
Namun bukanya berhenti Willy makin semangat mengacak-acak rambut adiknya.
Sarah paling menyayangi rambutnya yang hitam panjang, sehingga ia menjaga mahkota kepalnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Anak kecil lagi bertengkar" cibir Vera namun keduanya tak perduli.
Kini Sarah gantian menarik rambut Willy yang mulai panjang, keduanya berteriak-teriak
Sebastian hanya tertawa senang sambil memakan sarapan paginya.
sementara asisten rumah tangga mereka hanya menonton sambil cekikikan tertawa, pasalnya keduanya sering bertengkar layaknya anak kecil walau usia mereka sudah dewasa
Sampai Sebastian selesai makan, kedua nya masih saja tak mau mengalah, kini mereka bukan rambut lagi tapi saling menggelitik membuat kedua wajah mereka merah karena menahan geli
"Willy, apa kau tidak malu?? lihat kau memberi contoh buruk pada adik-adikmu" teriak Baskoro yang di dorong keluar ruang kerja oleh Sania
"Ma.. maaf pa, Sarah duluan" ucap Willy tak mau di salahkan
"Bohong pa, kak Willy duluan.
Liat nih rambut aku jadi kaya sarang burung
Papa marahin kak Willy pa" adu Sarah dengan muka mau menangis
"Gak ada yang benar, kalian berdua bersihkan piring bekas makan, awas saja kalau ada yang jatuh" ucap Baskoro menggelengkan kepalanya.
"Tian ikut papa" ucap Baskoro meminta Sania kembali mendorongnya ke ruang kerja
Di ruang kerja.
Baskoro duduk santai di sofa, sementara Sania duduk manis di samping Baskoro. Sania tersenyum dan mengangguk, seolah ia memberi kekuatan pada Sebastian bahwa semuanya akan baik-baik saja
"Maaf pa semalam Tian keluar tanpa izin
Tian menjenguk seseorang yang berada di rumah sakit" ucap sebastian tegang
"Teman? keluarga?" tanya Baskoro, ia sangat mengenal putra bungsunya.
Tian tak akan keluar rumah tanpa pamit jika tidak mendesak
"Pa, Tian mau mengatakan sesuatu sama papa.
sebabnya Tian semalam ke rumah alit karena papa kandung Tian sakit" ucap Sebastian lirih.
Baskoro dan Sania terkejut, namun Sania berusaha tenang, ia tak mau menyinggung perasaan papa kandungnya
"Nak, apa kau sudah tahu papa kandungmu?" tanya Baskoro lirih
"Iya pa, aku baru mengetahuinya dan untuk itu aku mau minta maaf sama papa, bukan aku ingin menyembunyikan nya, hanya saja....."
"Ya?" tanya Baskoro penasaran
"Pa, Tian pasrah jika papa membenci dan menjauhi Tian setelah tahu siapa papa kandung Tian, Tian tidak akan menyalahkan papa, pria itu adalah Jimmy Chou, musuh bebuyutan papa"
"Apa?????" Baskoro merasa nafasnya sesak.
Bagaimana takdir bisa mempermainkan mereka?
"Maaf pa"
"Kenapa kau minta maaf nak?? itu bukan salahmu" anak tak bisa memilih siapa orangtuanya" ucap Baskoro mencoba berlapang dada.
Toh jimmy sudah membesarkan putrinya dengan sangat baik walau ia seorang penjahat, ia juga seorang ayah.
"Papa gak membenciku??"
"Benci?? kenapa ? apa salahmu?
Papa akan benci jika kau menjauh dari papa hanya karena hal ini. Masalah apa yang terjadi antara papa dan papa kandungmu tidak ada kaitannya denganmu.
Lagi pula semua bukan murni kesalahan pria itu, papa juga ada andil dalam kehancuran keluarga papa"
"Pa..." Sebastian merasa tenggorokan nya tercekat, ia tak percaya Baskoro tak mempermasalahkan siapa orangtua kandungnya
"Sudah lebih baik kau istirahat, dan jika kau ingin menemuinya, temui la papa mengizinkan"
" papa terima kasih" ucap sebastian tak bisa membendung perasaanya, ia bersimpuh di kaki Baskoro
"Sudah ,sudah bangun nak. Anak laki harus kuat.
Kamu harus banyak belajar dari kehidupan, agar kamu tidak salah jalan seperti papa atau papa kandungmu di kemudian hari"ucap Baskoro bijak
"Tian akan ingat pa"
"Ajak Sania untuk menemui Jimmy" ucap Baskoro tiba-tiba membuat Sania yang sejak tadi diam memandang papanya penuh tanda tanya.
"Pria itu sudah berjasa membesarkan mu nak, itu bentuk rasa terima kasih papa karena dia membesarkannya menjadi gadis yang baik dan pintar"
"Papa, kami sayang papa" ucap keduanya memeluk Baskoro. Ikhlas adalah kunci agar hidup tenang.
Baskoro lelah memendam dendam, ia sudah mengikhlaskan semuanya.