(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Mengembang Sempurna


KRUCUKKKKKK


Perut Daffi berbunyi, ia tersenyum malu pada adik dan kakaknya


"Kak aku lapar sekali, kalian teruslah mengobrol, aku mau makan" ucap Daffi memegangi perutnya yang keroncongan


"Dasar tukang makan" cibir Daffa pada adiknya


"Kak kau gak lapar gitu?" tanya Davina heran, pasalnya obat yg di berikan Davina adalah inti ekstrak dari obat penambah nafsu makan yang ia baru kembangkan beberapa bulan lalu, mencengangkan tak berpengaruh pada Daffa??? apa penelitiannya gagal????


"Kok kak Daffa gak terpengaruh sama khasiat obat itu ya??? apa aku gagal?


sial rugi waktu tidur ini mah jadinya" gerutu Davina yang melihat Daffa masih asik memainkan game di ponselnya


"Kak, aku mau makan dulu" ucap Davina.


Daffa hanya menengok sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya


Kini Davina sudah bergabung dengan kakaknya, Daffi.


Mereka duduk manis di sebuah meja dan sedang menikmati makanan mereka, kini Davina memiliki teman makan.


Daffi juga bingung mengapa selera makanya berubah.


ia memang tak seperti Daffa yang sangat sulit makan, namun ia juga bukan tergolong yang suka makan, hanya saja hari ini ia merasa sangat kelaparan dan sudah menghabiskan dua cup cake , dua mangkuk bakso dan tiga gelas oranye juice. di mejanya masih terdapat satu mangkuk ice cream dan satu gelas ice tea.


"Daffi?? apa perutmu ok???


Kau makan banyak sekali nak" ucap Ayudia khawatir melihat selera makan Daffi


"Apa kita perlu memanggil pak ustad ma??? Daffi seperti...."


"Kau pikir anakmu kesurupan??? dasar suami aneh" ucap Ayudia jengkel


"Itu benar sayang, anak kita kesurupan"


"Pa, kak Daffi mungkin sedang ingin makan, kan mama baru kasih obat cacing beberapa Minggu lalu, mungkin sekarang sudah gak cacingan" ucap Davina menahan tawa


"Sembarangan" Dengus Daffi kesal


Saat mereka sedang membicarakan Daffi, tiba-tiba Daffa datang, membawa sepiring nasi full dengan lauk, sementara di tangan sebelahnya semangkuk penuh bakso ,dua porsi bakso yang ia jadikan satu mangkuk


"Ma, sepertinya bukan hanya Daffi, Daffa juga kerasukan" ucap Arjuna menunjuk ngeri pada putranya yang menyeringai mendekati mereka dan langsung meletakkan makanan yang ia bawa


"Sayang, mungkin aku kelelahan dan halusinasi , bawa aku ke kamar" ucap Ayudia


"Mama kenapa?" tanya Daffa yang melihat kedua orangtuanya meninggalkan mereka


"Lupakan, sepertinya mama bahagia karena kita sekarang doyan makan, biasanya kan mama selalu memaksa kita makan" ucap Daffi santai meneruskan kegiatan makannya


Davina melirik sekilas ke arah kakak pertamanya, ia terlihat bingung


"Mari membulat berjamaah, bukankah rame-rame lebih indah daripada sendirian????" ucap Davina tersenyum lebar, ia bahagia


"Jangan melihat makananku, sana pergi" ucap Daffa langsung menarik makanannya mendekat padanya


"Sejak kapan perutmu gak ada porosnya kak???"


"Aku hanya melihatnya enak, belum tentu ku makan semua" ucap Daffa angkuh tak mau mengakui.


"Ya, ya aku percaya" ucap Davina memutar bola mata malas, walau sebenarnya ia bersorak bahagia dalam hati


"Seharusnya aku lakukan sejak dulu, kalian sih mengejek aku terus" seringai licik terlihat di wajah imut davina


Malam Harinya


Ayudia terbangun karena haus, ia tak tega membangunkan suaminya karena yang terlihat kelelahan.


Ayudia keluar dari kamarnya yang kini berpindah di lantai satu karena kehamilannya Arjuna jadi over protektif pada istrinya.


Namun ia mengerutkan dahinya heran melihat ruang makan yang masih menyalah terang dan terdengar suara berisik dari arah sana.


Ayudia ragu ingin mendekat, ia jadi merinding sendiri.


"Siapa di ruang makan????" teriak Ayudia yang berhenti di ruang keluarga, ia tak bisa melihat jelas karena terhalang sekat dari rotan


"kucing....."


"Kucing kok nyaut, siapa ????" teriak Ayudia mencari sesuatu di dekatnya, kebetulan ada pedang-pedangan si kembar di sana, ia langsung mengambilnya dan mengendap-endap mendekati meja makan


"Hehehe mama"


"Astaghfirullah kucing kepala hitam


Daffi, Daffa kalian membuat jantung mama copot" teriak Ayudia kesal, ia duduk dan langsung menenggak segelas air putih milik Daffi


"Maaf ma" ucap Daffi merasa bersalah


"Apa yang kalian lakukan malam-malam??? apa kalian gak tahu ini sudah jam satu malam???"


"Maaf ma kami kelaparan" ucap kedua anak kembarnya dengan mimik muka sedih


"Ah baiklah, makan, makan cepat tapi gak boleh langsung bobo ya, setengah jam sesudah makan baru boleh bobo"ucap Ayudia yang tak tega memarahi si kembar.


Akhirnya Ayudia ikut makan menemani si kembar, namun ia jadi ngeri melihat selera si kembar, walau senang juga


"Rupanya obat cacing itu manjur, tapi sepertinya agak-agak mengerikan ya cara makan mereka.


Apa sebelumnya di dalam perut mereka bukan cacing kecil tapi sebesar ular sehingga mereka kurus dan tak nafsu makan???


Aku senang tapi khawatir, rasanya dua tahun lagi baru ku beri obat cacing lagi, bisa bahaya mereka makan seperti ini, bisa obesitas" gumam Ayudia menatap kedua anaknya


"Mama kenapa kok kaya orang bingung gitu???"


"Ah enggak, cepat habiskan makan kalian" ucap Ayudia tersenyum


Kedua bocah kembar itu mengangguk patuh dan kembali makan.


untung sore tadi sisa makan malam mereka, Ayudia masukkan kulkas, sehingga kedua putranya bisa makan masakan rumahan bukan mie atau sesuatu yang instan yang memang juga tersedia di dalam lemari pendingin.


Keesokan harinya Ayudia menceritakan kekhawatirannya pada Arjuna, namun di luar dugaan Arjuna hany tersenyum lebar dan mengelus puncak kepala istrinya membuat Ayudia tak puas


"Sayang aku sungguh khawatir dengan Daffa dan Daffi"


"Aku tahu sayang, kau harus berkonsultasi dengan mama Ratna, seingat ku anak juga ada masa pertumbuhan, mereka butuh makan banyak untuk pertumbuhan mereka.


Kita hanya perlu konsen memeriksa dan mengontrol asupan makanan mereka, hindari yang berminyak dan lemak, jadi mereka tak kan menderita obesitas di usia mereka, karena itu berbahaya bagi kesehatan mereka"


"Sayang, aku banga padamu. kau suami yang pengertian" ucap Ayudia mendaratkan ciumannya di pipi suaminya


"Sayang, yang ini sama ini ngiri minta jatah juga" ucap Arjuna manja


"Dalam mimpimu" ucap Ayudia melemparkan bantalnya dan meninggalkan kamar tidur


"Sayang, tunggu aku"


"Kau mau ku tendang, mandi dan gosok gigi. namun seperti WC menguap" ucap Ayudia membuat langkah Arjuna terhenti dan mengendus baunya sendiri. ia mual dan berlari ke kamar mandi dan segera mandi.


Tak lupa Arjuna menggosok giginya, ia tak mau di usir oleh Ayudia lagi.


Entah mengapa Indra penciuman Ayudia meningkat drastis.


ia bahkan bisa mencium bau dari jarak lima meter, sungguh patut di acungi jempol


Arjuna jadi berfikir apakah semua wanita akan seperti istrinya saat hamil??? atau memang Ayudia saja yang seperti itu?


hai reader ku tersayang, terima kasih atas dukungan kalian semua ya dalam setiap karya author.


Author hanya akan menyampaikan bahwa mungkin besok tidak bisa upload di karenakan kesehatan author yang terganggu. Namun tak menutup kemungkinan akan tetap upload chapter terbaru


Salam sehat selalu


pooh**