
Di sebuah ruangan serba putih, nampak keluarga besar Davina berkumpul.
Wajah mereka terlihat tenggang dan sedih, terutama Baskoro yang terus menangis. Seorang pria tua yang tak malu menangis di depan anak, menantu dan cucunya.
Arjuna menepuk pundak papannya memberi kekuatan, walau ia sendiri meneteskan air mata, tak terkecuali Sebastian dan Willy.
Sementara William hanya menunduk sedih.
"Kenapa??? kenapa semua ini terjadi???
papa akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu padanya" ucap Baskoro tertekan
"Pa, ini bukan kesalahan papa.
Percayalah, adikku bisa melewati semua, dia anak yang tanggung" ucap Arjuna berusaha menghibur Baskoro namun wajah Baskoro terlihat makin sedih.
"Dia anak yang malang.
Tak pernah benar-benar mendapatkan kasih sayang dari mamanya. Dia korban dari keegoisan kami sebagai orangtua.
Vera anakku, maafkan papa" ucap Baskoro terisak.
Arjuna menelan Saliva nya sulit, ia tahu kehidupan Vera sangat keras. Ia bahkan di benci oleh Deswita yang kala itu dianggap mamanya.
Nyatanya kebencian Deswita Karen atau Vera bukan anaknya, namun Vera sangat menyayangi Deswita dan tak pernah membenci wanita itu.
Beberapa bulan ini Vera juga kerap ikut dengan Sebastian menjenguk Deswita
Deswita sudah meminta maaf pada Vera, dan hubungan mereka membaik, bahkan sangat baik.
Deswita tidak membuka rahasia siapa mama kandung Vera, sebagai balasan atas kelakuan buruknya, ia menyayangi Vera sepenuh hati, seperti sayangnya pada Sania putri kandungnya.
Deswita bahkan membuatkan sweater yang ia rajut sendiri untuk Vera, betapa bahagianya Vera mendapatkannya.
Bahkan Vera memakainya sampai dua Minggu tanpa ia cuci sangking bahagianya.
Berkat nasihat Deswita pula Vera belajar bersolek, sikap tomboy nya luntur seketika.
Deswita juga kerap mengajaknya berbincang dari hati ke hati, mereka layaknya ibu dan anak, sampai Sania yang berada di luar negeri merasa iri dengan saudarinya itu.
Namun, kejadian tak terduga terjadi.
Vera yang mencari keberadaan Baskoro tak sengaja membaca hasil test DNA yang menyatakan jika Vera Putri kandung Karen Chou.
Vera terguncang, ia merasa hancur berkeping-keping.
Vera membawa motornya keluar rumah dan mengendarainya dengan kecepatan maksimal hingga di sebuah pertigaan ia tak dapat menghindari sebuah mobil yang melaju.
Vera menabrak mobil tersebut dengan sangat kencang.
Tubuhnya terpelanting bersama motor sport nya dan menabrak pembatas jalan.
Ia tak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah.
Tentu saja kecelakaan itu mengejutkan semua orang, pasalnya Vera sudah tidak memakai motornya lagi sejak dua bulan lalu, ia berjanji pada Deswita akan menjadi anak perempuan yang Deswita inginkan.
betapa besar harapan Vera dapat di cintai membuat Deswita menangis dan memeluk sambil menciumi Vera.
Walau Deswita berkata akan tetap menyayangi Vera apa adanya, namun Vera tetap ingin yang terbaik untuk Deswita.
Sudah lima jam operasi berlangsung, namun belum tanda-tanda seorangpun keluar dari ruang operasi.
sementara Deswita yang mendengar kabar Vera kecelakaan menangis histeris hingga pingsan di dalam kamar tahanan nya. hatinya hancur dan sakit mendengar musibah yang menimpa Vera.
Sebastian berusaha mendengarkan mamanya melalui ponselnya.
beruntung penjaga lapas yang baik memberikan ponselnya karena melihat keadaan Deswita yang terlihat sangat terpukul.
Sebastian berjanji akan terus mengabari kondisi Vera pada mamanya.
"Veraaaa huhuhu...
Ya Allah ya Robb, tolong selamatkan Vera putriku. Aku rela menukar nyawaku dengan nya, tolong sembuhkan ia" gumam Deswita pilu.
Satu jam kemudian pintu ruang operasi terbuka, nampak wajah lelah beberapa dokter yang keluar dari ruang operasi, mereka terlihat tak berdaya
"Dokter. bagaiman kondisi adik saya???" tanya Arjuna
"Kondisinya masih kritis, kami sudah berusaha maksimal, banyak yang berdoa ya pak.
Adik anda terlalu banyak kehilangan darah dan luka di kepalanya sangat parah, jadi pasrahkan semua pada sang pencipta, karena Allah sebaik- baiknya penolong"
Terima kasih dok" ucap Arjuna lirih, dokter tersebut mengangguk sopan lalu berlalu menyusul rekannya.
Arjuna terpaku di tempatnya membuat semua orang terlihat sangat tegang,sampai bernafas pun terasa tercekat.
"Ba...bagaimana kondisi adikmu??" tanya Ratih yang juga ada di sana
"Vera....
Akhirnya Baskoro di rawat karena kondisi fisiknya yang lemah.
Bukan hanya Deswita yang mendapat kabar tentang kecelakaan Vera, Karen di tahanan nya juga mendengar berita itu, ia menangis, meraung histeris mendengar apa yang menimpa putrinya
"Putriku, veraaaaa, huhuhu" Isak Karen di sel tahanan
nya.
Sebulan Kemudian
Vera masih belum siuman sejak operasinya satu bulan yang lalu,
Ia masih dalam kondisi koma, alat batu pernafasan, selang infus, kateter air seni dan beberapa alat medis menempel pada tubuhnya, di sebelah tempat tidurnya terdapat monitor detak jantungnya yang terlihat beraturan.
"Mama,.... mama...." rintih Vera pertama kali sadar dari komanya.
"Ver, Vera...." panggil Arjun, namun mata Vera masih terpejam.
Arjuna segera menekan tombol , tak lama datanglah suster dan dokter, mereka dengan sigap memeriksa Vera, Matanya tak merespon cahaya
"Dok kenapa adik saya seolah tak peka cahaya??" tanya Arjuna tak sabaran
"Pak Arjuna silahkan ikut saya keruangan" ucap dokter tersebut meninggalkan ruang ICU.
"Vera, Vera. ini kakak.
Kak Arjuna" ucap Arjuna sedih melihat keadaan Vera
"Kak Arjun, Vera dimana??" tanya Vera lirih masih mengenali Arjuna. Namun tangannya meraba seperti orang tak melihat.
"Kak, kenapa gelap sekali??? kenapa gak menyalahkan lampunya??? Vera gak bisa lihat kak, kak Arjuna...
Vera takut" ucap Vera mulai histeris.
Arjuna memeluk adiknya, hatinya hancur, tanpa terasa air mata membasahi pipinya
"Ya Allah betapa besar cobaan yang kau berikan pada adik hamba, hamba mohon berikan Vera kekuatan menjalaninya " gumam Arjuna dalam hati
"Vera tenang ya, jangan panik.
Kak Arjun disini"
"Kak, Vera buta, Vera gak bisa melihat apapun kak.
Vera gak mau buta kak
Tuhan pasti marah karena Vera sudah menyusahkan semua orang.
Vera anak pembunuh, pasti karena itu Tuhan menghukum Vera" ucap Vera histeris
"Vera, istighfar.
Tuhan gak benci kamu, semua bukan kesalahan kamu.
hilangkan pikiran itu. Kau adalah adik kakak selamanya tak perduli siapa mama kandungmu" ucap Arjuna
"Ver, Vera...... veraaa...." Vera kembali tak sadarkan diri.
Arjuna kembali menekan tombol darurat.
Tak menunggu lama datanglah suster jaga, melihat kondisi Vera, suster langsung memanggil dokter yang bertugas.
Dokter kembali memeriksa Vera.
"Pasien hanya shock, untuk saat ini kondisi vitalnya stabil" ucap dokter menerangkan
"Mama Deswita......" ucap Vera di alam bawah sadarnya
"Jika pasien memiliki seseorang yang bisa membantunya tenang dan kembali optimis, saya sarankan anda membawa orang tersebut.
Kehadiran orangtua bagi Vera lebih penting saat ini.
"Tapi dok...."
"Singkirkan ego kalian demi adik anda" ucap dokter memotong ucapan Arjuna.
Sebenarnya Arjuna tak keberatan Deswita menemui Vera, hanya saja Deswita di penjara, bagaimana bisa mendatangkan Deswita.
Arjuna merasa pusing, ia akan segera menghubungi Davina nanti, ia tahu putrinya itu pasti punya solusi terbaik.
"kita keruangan saya untuk membahas kondisi adik anda" ucap dokter tersebut berjalan meninggalkan ruang ICU diikuti oleh Arjuna.
Setelah mendengar penjelasan Dokter Arjuna bisa sedikit lega, ia langsung menghubungi papanya yang kondisinya masih belum stabil.
Sejak Vera masuk ICU, Baskoro sudah tiga kali keluar masuk rumah sakit karena kondisinya yang drop.
Dalam waktu satu jam seluruh keluarga hadir, tak terkecuali Sarah dan Sania yang memilih kembali ke tanah air begitu mendengar kabar kecelakaan saudari mereka.