
Sore hari terdengar suara teriakan Daffa dan Daffi,Davina yang sedang tidur siang terbangun dan tersenyum licik.
"Sepertinya sudah bekerja,,,,
ah nikmati kesengsaraan kalian selama tiga jam saja, ingin rasanya ku beri dosis tinggi, tapi aku takut mama akan shock dan itu berbahaya untuk adik kecil dalam kandungannya.
Aku jadi penasaran, bagiamana reaksi mereka????Bunny aktifkan CCTV di kamar kakakku" ucap davina.
Kaca meja rias di kamar Davina langsung menampilkan keadaan di kamar Daffa dan Daffi, Davina langsung menutupi matanya. ia mengumpat kesal, ia lupa jika pastinya baju dan celana mereka akan sobek karena tubuh mereka membesar.
terlihat Daffa dan Daffi hanya memakai ****** ***** yang ukuranya sempit
Keduanya kebingungan
"Daffi, bagaimana kamu bisa sebesar ini?????"
"Kau pikir aku saja, kau lihat dirimu, apa yang kita makan sebelumnya???? mengapa kita seperti balon yang di tiup, membesar secara instan????" tanya Daffa ngeri, baju nya sobek, begitu juga celana pendeknya, hanya pakaian dalam yang masih melekat, itupun terasa sesak.
"Daffa, Daffi kenapa kalian teriak???" tanya Ayudia mengetok pintu kamar anaknya
"Jangan kau sakiti, suaramu juga berubah, bisa-bisa mama mendobrak pintu kamar kita dan dia bisa pingsan melihat kita" ucap Daffa membuat Daffi langsung menutup mulutnya
"Diam saja" ucap Daffa kemudian berjalan mengambil ponselnya, lalu menyalahkannya.
beruntung ia pernah merekam suaranya sendiri
"Kami hanya bercanda"
"Kalian keterlaluan membuat orangtua khawatir saja" Dengus Ayudia terdengar langkah kaki menjauh.
Mereka berebut masuk ke dalam kamar mandi untuk melepaskan pakaian dalam mereka, sakit,dan sempit.
terpaksa mereka memakai sarung saja selama di dalam, karena mereka tak memiliki baju untuk ukuran tubuh mereka sekarang
"Kak Daffa, kak Daffi" panggil Davina di depan pintu kamar mereka
"hadeh kenapa dia sih yang kesini, runyam deh urusan
"Apa kata Valent? apa ada sesuatu yang mencurigakan?? bagaimana kita bisa besar dalam hitungan menit?" kalau kita gak bisa kembali, habislah.
Tamat riwayat kita" ucap Daffa panik
"Bukan tamat lagi, yang ada kita di kira maling" ucap Daffi sama stresnya
"Kakak, kakak, buka dong" teriak Davina masih setia di depan pintu kamar mereka
"Astaga, anak gendut itu gak pergi juga"
"Kakak buka dong, mau di bantuin gak?" tanya Davina ia melirik jam di pergelangan tangannya, setengah jam lagi mereka makan malam, bisa berabe jika kedua kakaknya masih dalam mode dewasa mereka
"Daffi membuka pintu, Daffa menarik dan membekap mulut Davina
"Kalian......."
"Diam kami tahu kamu terkejut" ucap Daffa mencoba menenangkan adiknya
"Kalian seperti orang kampung kwkwkw
pake sarung lagi"
"Kamu mengenali kami?"
"Tentu saja, nih minum.
Jangan tanya apa, kalau mau kembali segera minum.
Tadi ada yang memberikan padaku, katanya buat kalian, dah ya, aku mau kebawah" ucap Davina langsung keluar dari kamar Daffa dan Daffi.
"Davina....." panggil Daffi tanpa sadar
"Mpppphhhmmmmpppp" Daffi membekap mulut kakaknya, suara bas nya bisa terdengar orang rumah.
Setelah setengah jam keduanya kini sedang duduk sambil masing-masing memegang pil yang di berikan Davina,
"Apa loe yakin kita minum ini kak?"
"Gak ada pilihan, kalau racun paling kita mokad" ucap Daffa bertekad, ia memejamkan matanya.
"Ayo kita minum Sambil memejamkan mata" ucap Affan yang di balas anggukan Daffi.
"Daffa mengintip dan melihat Daffi dengan polos meminum obat tersebut, dan dalam beberapa menit ia melihat tubuh Daffi kembali ke ukuran semula
"Asikkkk, aku kembali kaya semula.
Kak kau... kau belum meminumnya?
ternyata kau licik kak, kalau itu beneran racun, aku mati lebih karena sebagai kelinci percobaan" teriak Daffi kesal
Daffa pura-pura tak mendengar lalu menelan pil nya, seperti Daffi, Daffa pun kembali ke wujud semula.
"Kau menyebalkan kan kak, kau tega mengorbankan adikmu sendiri"
Daffa ATAK mengindahkan Omelan Daffi, dahinya berkerut , ia mencurigai air putih di teko kaca, ia lalu mengambil plastik dan mengirimnya melalui ojek online, meminta Axel memeriksanya
"Apa kau curiga air itu telah di bubuhi sesuatu?"
"Aku hanya minum air putih setelah kita makan siang tadi, kemungkinan air itu penyebabnya"
"Ah aku baru ingat, aku juga" timpal Daffi
Keesokan harinya
Ayudia terus saja mengomel karena suaminya sepanjang hari memintanya memeriksakan kandungannya ke rumah sakit, ini semua karena ulah Davina , dan anehnya Arjuna percaya dan antusias.
Ayudia ingin sekali marah, tapi wajah polos Davina membuat ia tak tega memarahi si bungsu Davina, lagi pula itu hanya diperiksa, tak ada hal yang menyakitkan.
Adapun kedua putranya terlihat gelisah, mereka sepertinya keberatan sebelum tahu hasilnya.
Ayudia tak habis pikir bagaimana jika nanti mereka memiliki adik lagi, sedangkan si bungsu saja sering mereka bully,
"Ma, ayo kita masuk, itu nama mama sudah di panggil" ucap Davina yang ikut ke rumah sakit
Lamunan Ayudia buyar, ia mengangguk pada putrinya Adan tersenyum.
Davina terlihat tak jauh beda dengan Arjuna, antusias.
namun Ayudia harus memikirkan cara bagaimana menghibur mereka setelah mereka mendapatkan kabar bahwa ia benar tak hamil.
Sebenarnya, jauh di lubuk hati Ayudia belum ingin memiliki anak lagi, ia masih trauma saat mengandung si kembar, ya walau sekarang kondisinya berbeda, tetap saja kehamilan memberikan momok menakutkan untuknya.
Davina yang tahu mamanya tegang, menepuk tangan mamanya pelan dengan bola mata berbinar
"Aku yang akan menjaga adik-adik, karena kedua kakakku yang payah membenci anak kecil" ucap Davina yang membuat dokter serta suster tertawa tak terkecuali Arjuna
"Gadis pintar, kamu yang akan menjaga mama dan adik kecilmu ya?"
selain wajahnya yang seperti Barbie berjalan, rupanya ia gadis kecil yang baik.
"Mama, mama aku memang sengaja memberikan obat penyubur untukmu sebelum menikah, dan rencana ku berjalan mulus juga karena ulah kakek buyut.
aku hanya memberi jalan . adik-adik itu akan menjadi anak buahku nanti hehehe" seringai licik tersirat di bibir kecil Davina, hanya sekejap, sekejap kemudian ia tersenyum sangat manis.
Dokter mulai meletakkan alat USG di perut Ayudia, lalu tampaklah dua bola berdenyut sebesar biji kacang, itu adalah janin kembar.
"Lihat Bu, Anda hamil dan usia kandungan anda enam Minggu, dan janinya kembar" ucap dokter menjelaskan
"Dok ini bukan April mop kan?? dokter gak sedang bercanda kan???" tanya Ayudia menatap dokter wanita itu tak percaya.
si dokter menggeleng dan tersenyum.
itu kenyataannya
Ayudia mengerjap tak percaya dan beberapa detik kemudian ia tak sadarkan diri
"Bu, Bu Ayu,"
"Dok, kenapa istri saya dok?" tanya Arjuna yang terkejut
"Istri Anda tak sadarkan diri, mungkin karena shock dan bahagia.
saya baru menemukan orang yang shock karena hamil" ucap dokter tersebut meringis.
Sedang Davina tertawa kecil
"Adik kecil kenapa kamu tertawa sayang???" tanya suster yang melihat anak dari pasien tersebut tertawa
"Dokter, mama saya shock karena akan memiliki banyak anak, dua kali persalinan ia memiliki anak lima, satu persalinan pertama kembar tiga, dan ini kembar dua.
dua kali persalinan lagi keluarga kami akan membentuk team kesebelasan bola" Davina memegangi perutnya dan tertawa
"Anak nakal, mamamu pingsan kau malah menertawakannya" ucap Arjuna menjewer kuping putrinya.
ia bisa melihat dokter dan suster tersebut menahan tawa setelah mendengar penjelasan Davina.
dalam hati keduanya berkata" keluarga yang aneh"
Karena Ayudia pingsan dan pasien di belakang mereka masih banyak antri, terpaksa Ayudia di pindahkan ke ruangan persalinan yang berada di sebelah mereka.
Arjuna yang khawatir terus memegangi tangan istrinya.
Setelah lima belas menit Ayudia tersadar dari pingsannya, ia melihat sekeliling, semuanya putih
"Apa aku sudah mati???" gumam Ayudia lirih
"Kau hanya pingsan, belum mati" ucap Arjuna dari arah kamar mandi karena habis mencuci wajah Davina yang belepotan coklat, ia sengaja memberikan ice cream coklat agar anak nakal ini diam, karena ia terus mengoceh membuat Arjuna malu.
"Ah aku belum mati, bukankah aku sedang di periksa??? mas apa aku beneran mengandung???" tanya Ayudia langsung bangkit duduk"
"Terus aja benar, kembar dua.
kamu..."
BRUGH
Belum selesai Arjuna menjelaskan,
Ayudia kembali pingsan, ia terlihat sangat shock.
"Pa, sepertinya mama tidak senang ia hamil, kau sudah menghamilinya jadi kau harus bertanggung jawab" Ucap Davina mendongakkan kepalanya menatap papanya
"Bocah nakal, tentu saja papa tanggung jawab, lagi pula papa suaminya,, kau berfikiran aneh" Dengus Arjuna kesal.
Ia sedang panik karena Ayudia pingsan kembali, dan si kec Davina malah mengatakan hal yang tak masuk akal.
sepertinya ia harus mendatangi sekolahan anak-anak.
Apa yang mereka pelajari di sekolah.
terkadang mereka berbicara di luar akal pikiran.
Davina yang bosan melihat Ayudia masih pingsan sementara Arjuna yang panik berjalan keluar membeli teh hangat untuk istrinya
"Ah menyusahkan, kenapa keluargaku gampang sekali pingsan, ini bukan, ini bukan, ah ini terlalu kejam" ucap Davina menggerutu sambil mencari-cari sesuatu di tasnya, ia meletakkan lagi aroma kaus kaki yng ia buat untuk mengerjai Daffi, beberapa waktu lalu ia menyemprotkan aroma itu ke sepatu Daffi membuat Daffa membuang sepatu adiknya itu dari lantai dua karena bau dari sepatu Daffi.
Walau mereka merasa aneh hanya sebelah sepatu saja yang bau, mereka tak menemukan sesuatu yang janggal.
"Maaf ma, aku harus menonton drama Korea kesukaanku. kalau mama terus pingsan aku bisa melewatkannya" ucap Davina lalu menyemprotkan botol kecil berbentuk parfum ke arah Ayudia.
Tak lama Ayudia terbatuk-batuk dan bangun.
wajahnya sampai memerah dan terlihat mau muntah
"Davinaaa kamu kentut ya, bau banget" ucap Ayudia begitu terbangun
Davina langsung menyemprotkan parfum buah sehingga ruangan tersebut wangi jeruk, ia sekilas melihat pengharum ruangan aroma jeruk,dan kebetulan ia memilikinya di tas.
"Ih mama bangun pingsan nuduh anak tak berdosa ini" ucap Davina sedih
"Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang??? aku khawatir" ucap Arjuna.
Ayudia berlari ke kamar mandi dan muntah.
"Ma, kamu mual muntah kan, masa gak tahu kalau hamil, kamu kan pernah hamil" ucap Arjun. dengan Abar mengelus punggung istrinya
"Aku mual karen davina kentut pa"
"Mama hanya sensitif bau pa, menurut penelitian, wanita hamil memiliki kepekaan yang tinggi terhadap bau, mereka akan lebih sensitif pada bau di sekitarnya itu semua karena hormon kehamilan"ucap Davina menjelaskan dengan santai
"Tuh Davina cuma bilang kamu sensitif karena kehamilan"
"Sayang dari mana kamu bisa tahu?? papa aja gak tahu"
ucap Arjuna bangga mengelus puncak kepala putrinya
"Ya tahu lah, sekarang teknologi canggih, semua informasi bisa kita peroleh hanya dengan satu jari.
kalau papa kan pegang hape buat stalker cewe-cewe bohay" ucap Davina menyeringai lebar.
"Mas Arjunaaaaaa"
"Davina kamu membuat papa dalam bahaya" pekik Arjuna yang langsung kena cubit Ayudia.
Ayudia kesal sekaligus malu karena putrinya tahu kebiasaan Arjuna.
Ayudia pernah memergoki Arjuna yang membalas tweet seorang wanita sexy di akun twiternya
"Dasar mesum, ayo sayang kita cari papa baru" ucap Ayudia meninggalkan suaminya
"Sayang, sayang, kamu sedang hamil, pelan-pelan jalannya" teriak Arjuna mengekor di belakang istri dan anaknya.