(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Mencari Kebenaran


"Sebentar" ucap bi Atun,


Bi Atun keluar dari ruang kerja, sepuluh menit kemudian ia membawa beberapa barang.


Ini semua bukti kejahatan wanita itu" ucap bi Atun menyerahkan beberapa map usang, ponsel mangkuk dan alamat pak Anton"


"Bi ini???” Arjuna tak bisa berkata apa- apa, bukti yang memberatkan Deswita dengan mudah ia peroleh, seakan itu sudah di rencanakan Tuhan bahwa kehancuran Deswita semakin dekat, cepat atau lambat kejahatan kaan terungkap dan kebenaran akan menang, seperti itulah yang kini sedang terjadi.


Telah banyak orang yang menderita karena ulah Deswita, telah banyak pula hati yang ia sakiti.


"Bi makasih, makasih banyak" ucap Arjuna terharu


"Jangan berterima kasih, justru bibi yang meminta maaf karena diam terlalu lama, maaf kan bibi.


Bibi rela jika den Arjuna arau tuan memperkarakan bibi sekalipun, bibi siap den"


"Enggak bi, gak mungkin kami akan melakukan itu, justru kami berterima kasih sama bibi.


Kini tinggal menemukan pak Anton dan Minah,


Apa bibi tahu lagi siapa yang terlibat???" tanya Arjuna, karena ia yakin Deswita tidak akan sendirian melakukan semuanya


"Itu, sehari sebelum kejadian, tunangan den Arjuna datang.


Tidak seperti biasanya, mereka berbicara di ruang kerja.


Ya hanya dugaan saja, tidak ada bukti akurat, tapi tingkah laku mereka sangat mencurigakan" ucap Bi Atun menerawang tujuh tahun silam saat kakak tiri Ayudia datang ke kediaman mereka


"Maksud bibi Aurel???"


"Dugaan den, baru dugaan dia terlibat menilik dari kedekatan mereka"


"kecurigaan bibi beralasan.


Aku akan menyelidikinya" ucap Arjuna merasa jengkel.


ia ingat cerita William beberapa waktu lalu..


Flash Back On


Arjuna menatap tajam ke arah adik angkatnya yang ternyata adalah sepupunya itu, bukan karena kenyataan itu dia marah, namun ia kecewa adiknya itu berani menutupi informasi yang selama ini ia cari.


Informasi mengenai gadis di malam itu yang ternyata adalah istrinya sendiri.


"Jadi, apa loe gak merasa ada yang perlu loe jelasin sama gue Will??" tanya Arjuna memicingkan sebelah matanya


"Bukan maksud gue mau bohong bro, hanya..." ucap William bingung harus mengatakan apa.


Di satu sisi ia sudah berjanji pada papanya untuk merahasiakan semuanya, dan walaupun sudah terbuka semua, namun ia belum meminta izin pada Baskoro untuk menceritakan secara detail pada Arjuna.


"Hanya????" ulang Arjuna


"Papa yang meminta William tidak mengatakan padamu" ucap Baskoro membuka matanya.


Ya mereka lupa jika kini mereka sedang di ruang perawatan baskoro.


Baskoro yang terbangun karen haus mendengar percakapan mereka


"Jangan salahkan adikmu, papa yang memintanya merahasiakan darimu untuk sementara.


Papa ingin melihat apakah kau bisa bersikap tegas pada wanita itu.


Papa tahu jauh dalam lubuk hatimu kau merasa berhutang budi pada wanita itu karena sudah membesarkan mu, jadi papa tak yakin menceritakan keberadaan ayu dan cucu papa padamu.


Papa takut keselamatan mereka terancam di tambah kau terlalu mudah terbawa emosi, papa takut reaksi mu bahkan memicu bahaya untuk mereka berempat"


Arjuna diam, ia merasa kesal namun juga tak berdaya.


Apa yang papanya katakan ada benarnya, selama ini jika menyangkut pekerjaan ia bertangan dingin, namun jika menyangkut keluarga, ia mudah tersulut emosi.


"Lagi pula hal yang mendasari papa belum mengatakan padamu adalah karena papa tahu kamu tidak mencintai istrimu, bahkan kamu tidak menerima pernikahanmu.


Papa hanya tak yakin kamu akan berusaha melindunginya, mengingat sat awal menikah saja ia hilang kamu tak berusaha mencarinya" ucap Baskoro di penuhi penyesalan.


"Bagaimana dengan papa??? apa papa mencarinya?" tanya Arjun tak terima hanya dia yang di salahkan


"Papa ini mertuanya, dan kamu suaminya.


Kamu yang seharusnya punya tanggung jawab untuk melindunginya, membahagiakannya, menghargainya.


Tapi kamu pergi ke vila kita Maldives apa kau pikir papa tak tahu???


"Pa itu...."


"Kamu bisa tanyakan William apa yang papa lakukan setelah Ayu menghilang.


Saat ini jangan menyalahkan William karena ia hanya menuruti kemauan papa.


sebaiknya kalian keluar dari ruangan ini sekarang, papa pusing melihat kalian.


Minta Willy yang menjaga papa" ucap Baskoro kembali memejamkan matanya.


Setelah William dan Arjuna pergi, Willy masuk dan menggantikan mereka menjaga Baskoro


"Apa kak William akan aman pa???" tanya Willy sedikit khawatir


"Sepertinya" ucap Baskoro tak yakin


Di tempat lain, William mulai menceritakan semuanya dari awal bagaimana Ayudia bisa berkahir di kamarnya, sampai ia menghilang, semuanya lebih detail.


"Kau masih berani merahasiakan ini dariku, apa kau cari mati?" teriak Arjuna


"Aku akan mendepak mu dan menjadikan kau office boy" teriak Arjuna kesal


"Apa pria ini selalu kejam seperti ini Will?" tanya Ayudia yang entah kapan datangnya membuat Arjuna langsung menutup mulutnya


"Bu... bukan begitu, aku..."


"Dia adikmu mas, kau kejam.


Bagaimana jika anak-anakku punya papa seperti ini? astaga aku harus memikirkan lagi" ucap Ayudia membalikkan tubuhnya hendak pergi, namun sebelum pergi ia mengedipkan sebelah matanya sambil menyunggingkan senyum.


Ayudia membantu William, William tersenyum senang karena sekarang ada yang akan membantunya lepas dari cengkraman pria jahat itu.


Flash back off


Arjuna memilih duduk di ruang keluarga bermain PlayStation dengan kedua adik wanitanya, tawa mereka memenuhi ruangan hingga membuat Sebastian yang sedang menuruni tangga tertarik untuk melihatnya.


"Kak Tian sini, ikut kami bermain kita kalahkan kak Arjun" teriak Sarah


"Kak Arjun , kakak kapan sampai?" tanya Tian mendekati kakaknya dan bersalaman


"Baru beberapa waktu lalu, kakak pikir kau tidur karena kamarmu sepi" ucap Arjuna berbohong, ekspresi Tian berubah, ia terlihat terkejut dan buru-buru menutupi keterkejutannya


"Owh mungkin Tian lagi di toilet kak" ucap Sebastian.


Kamarnya tidaklah sepi, bagaimana kakaknya mengatakan ia tidur, apa Arjuna????


Sebastian menatap lekat kakaknya, wajah Arjuna biasa saja, mungkin benar ketika ia berada di toilet setelah memecahkan semua barang di kamar, ia mencuci mukanya


"Tian sini, malah bengong, kita bantai kedua anak cerewet ini" teriak Arjuna meminta Tian gabung ke teamnya


"Ahhh gakkkk, Tian masuk ke team kami, awas kalau ada pelajaran gak ngerti kakak g mau bantu" ancam Sarah yang suka membantu Tian menerangkan pelajarannya yang ia tak mengerti, Sebastian baru semester tiga, sementara sarah sudah semester akhir.


Sedangkan Vera karena kenakalannya ia masih semester enam, ia terllau banyak bolos kuliah


"Maaf kak Arjun, kak Sarah mengancam ku" ucap Tian melas


"Kakak akan lawan kalian bertiga" ucap Arjun penuh keyakinan.


"Ini minuman sama cemilan kalian" ucap bi Atun meletakkan nya di meja


"Bi, sini bantu Arjun" ucap Arjuna yang di balas tawa ketiga kedua adiknya, namun tidak dengan Vera, wajah Vera terlihat tak senang.


Wanita patuh baya yang merupakan asisten rumah tangga mereka, yang sudah seperti keluarga mereka sendiri itu.


Bik Atun walau sudah sepuh, namun ia gaul dan bukan buta game, terlebih Vera sering mengajaknya adu tanding game, dan bi Atun selalu menang


"Mereka akan menang telak" ucap Vera lirih


"Kau becanda? Bim Atun hanya tahu masak.


Ayo kita hajar mereka berdua. kita bertiga mengapa takut" ucap Sarah semangat


Setelah empat kali mengulang permainan, hasilnya mengenaskan dengan skor empal kosong, empat untuk team Arjuna, dan kosong buat team Sarah, tian.dan Vera


"Apa ku bilang, kalian tak percaya" ucap Vera kesal


"Dari mana bibi Atun bisa bermain game?" tanya Tian heran


Sementara Arjuna dan bi Atun tertawa senang


"BI TOS dulu kita menang"


"Yoi den , mereka noob" ucap bi Atun mengikuti ucapan Vera.


Vera menepuk dahinya karena sudah memberi pengaruh buruk pada wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri


"Aku tahu darimana bi Atun bisa main game" ucap Sarah melirik ke arah Vera, sementra Vera hanya mengangguk kepalanya yang tak gatal.


Saat Vera tak kuliah dan pekerjaan bi Atun sudah selesai memang bi Atun di minta menemani nya main, lama kelamaan Bu Atun malah menjadi lebih mahir.


"Astaga" pekik Tian terkejut lalu tertawa.


Boleh juga kalau bi Atun Tian ajarin nyanyi ya hi???"


"Enggggaaaaaaakkkk" teriak Arjuna, Vera dan Sarah serentak membuat Tian melonjak kaget.


Pasalnya bisa berantakan pekerjaan dapur jika bi Atun ikut belajar menyanyi, pasalnya bi Atun punya hobby menyanyi dan terkadang jika senggang ia menyanyi berjam-jam sampai dua album melalui aplikasi di ponselnya, bisa terbayangkan bagaimana keadaan rumah nantinya