
Sandy langsung menuju ke rumah sakit, namun tanpa ia sadari rekannya mengikutinya dari belakang.
Jimmy Chou merasa curiga bagaimana Ratih bisa berada di rumah sakit yang jaraknya jauh dan yang terpenting berada di dekat pengadilan negeri tempat adik tirinya sidang perkara dugaan pembunuhan atas Ratih. Jika sampai semua orang dari keluarga Baskoro melihatnya, maka urusannya akan kacau.
Jimmy meminta anak buahnya melihat rekaman CCTV di daerah itu, tapi mereka tidak menemukan apapun, Karena Sandy sudah menghapus rekaman CCTV tersebut.
Jimmy yakin ada yang di sembunyikan oleh Sania dan Sandy.
Jimmy merasa kecolongan, ia melupakan masalah kecil yang mungkin tidak ia sadari namun imbasnya besar.
Seseorang yang di tugaskan terlalu lama di satu orang akan memiliki keterkaitan erat dengan orang tersebut, bahkan akan membuat orang tersebut tak setia dan mengkhianatinya.
Seperti apa yang ia duga saat ini, karena Sandy menuju rumah sakit di mana Ratih sebelumnya di rawat.
Sandy yang terlatih segera menyadari ada yang tidak beres, alih-alih menuju tempat yang di maksud, ia berbelok arah menuju tempat donor darah dan menyumbangkan darahnya.
Butuh setidaknya kurang lebih dua jam baru pendonor baru keluar dari tempat itu, karena bisanya pendonor akan di minta istirahat dan meminum susu atau sesuatu yang menambah tenaga mereka kembali. baru.
Dalam rentan waktu itu, ia yakin orang suruhan Jimmy akan bosan dan memilih merokok di luar.
Sandy hanya menghabiskan waktu satu jam, ia meminta suster menggunakan jarum yang paling besar, walau tak yakin suster melakukan permintaan Sandy, dengan wajah ngeri suster itu melihat darah yang di donor kan dengan cepat penuh. hanya dalam tiga puluh lima menit.
Sandy menyelinap keluar dari rumah sakit, walau kepalanya pusing, ia memaksa terus berjalan mengambil hasil test DNA lalu pergi.
Davina yang tak sengaja melihat Sandy mengerutkan alisnya, pasalnya pemuda itu terlihat pucat.
Davina melirik dari mana pemuda itu keluar dan langsung menanyai suster yang berjaga, setelah tahu kejadiannya Davina mengikuti Sandy keluar dari rumah sakit.
Beberapa orang mencurigakan sudah membuntuti Sandy kembali, tapi mereka kalah gesit, Sandy sudah berada di jalur berbeda setelah berbelok tajam balik arah. beruntung Davina bisa mengimbangi.
Davina hanya menunggu di luar sebuah rumah sakit, tak lama Sandy keluar dengan amplop.
Dugaan Davina sementara adalah Sania mengikuti sarannya, walau menolak Sania adalah gadis yang cerdas, yang bisa membaca situasi.
Namun sebelum Sandy masuk ia disergap oleh beberapa pria dan langsung di lumpuhkan.
Jika hanya tiga orang Davina yakin pria itu mampu menghadapinya, namun mereka berenam dan dengan mudah meringkus Sandy.
Davina menduga jika posisi sandy penting mengingat beladiri nya yang baik, sehingga Jimmy mengirim lebih banyak orang meringkus pria tersebut.
Sandy di seret masuk ke dalam mobil lalu mobil tersebut meninggalkan rumah sakit.
Davina mengikuti dua mobil di depannya dengan hati-hati, ia tak mau salah langkah.
Ia juga menghubungi Agatha untuk datang, mereka berdua cukup untuk membereskan tiga pria tadi.
Davina sudang menyalahkan GPS di gelang tangan ya, Agatha hanya mengikuti dimana Davina berada.
Setengah jam kemudian Agatha sampai. ia berjalan mendekati Davina.
"Bos kau memanggilku untuk olah raga, kebetulan badanku sudah lama tidak bergerak" ucap Agatha yang seperti mau ketempat fitnes, terlihat sexy dan stylis secara bersamaan dengan topi ala pemain golf bertengger manis diatas kepalanya
"Apa perlu persiapan seperti itu???? Dasar narsis" ucap Davina kehabisan kata-kata.
Mereka ingin meringkus penjahat, bukan mau mencuri pandang dengan instruktur senam
"Ih bos merusak suasana, aku hanya ingin menikmati saat tulang mereka patah" ucap Agatha mencebik lalu berlari kecil, bukan lari tapi lebih mirip berjalan cepat dengan langkah lebay menggeal-geolkan bokongnya yang super gede. Davina belum menjelaskan rencananya tapi cewek super genit itu sudah melancarkan aksinya.
Apa dia masih bos nya??? menyebalkan.
Davina lalu berjalan sambil membawa kotak berisi kue, ia memesannya saat menunggu Agatha datang.
Davina harus mendekati mereka, ia akan berpura-pura menjadi tetangga batu, sayangnya Agatha merusak rencananya. Agatha tak bisa di masukkan ke dalam team, ia team yang payah yang suka bereksploitasi sendiri.
Terlihat di kejauhan Agatha sudah dengan genit menggoda salah satu penjaga rumah tersebut.
Davina ingat jika mereka berenam tapi sepertinya kediaman ini di jaga lebih dari enam orang.
Beruntung Davina punya rencana cadangan.
Ia berhenti di sudut rumah sebelahnya dan menyemprotkan sesuatu sambil tersenyum lebar.
"Eksperimen 04" ucap Davina tersenyum licik. lalu meneruskan langkahnya
"Hai, saya tetangga di ujung rumah, saya ingin bertemu pemilik rumah"
"Maaf nona, pemilik rumah tidak ada di rumah saat ini" ucap pria itu tersenyum genit dan mengabaikan Agatha
"Ah baiklah, kalau begitu ini buat kalian.
"Tampan, gak baik nolak rezeki.
Lagian kan bos mu gak ada, itung-itung kalian yang mewakilkan" ucap Agatha mengompori, pria itu mengangguk lalu mengambil kue dan
berjalan menuju rumah
"Gadis tengik berapa yang kau lihat?"tanya Davina kesal melihat senyum Agatha
"Setidaknya ada dua belas orang, apa kau siap beraksi??
Atau bos takut?" goda Agatha mengedipkan sebelah matanya
"Dalam mimpimu" ucap Davina kesal, pria tadi sudah berjalan mendekati mereka, Davina mulai menghitung.
"1,2,3,4,5......"
"Wanita itu memberi racun pada makanan kita...." teriak seorang pria keluar dari dalam rumah lalu tumbang.
Agatha memanfaatkan keterkejutan pria itu dan menyerangnya dengan ganas, hanya dalam hitungan menit pria itu babak belur, lengannya patah oleh Agatha
"Kau harus lebih lembut, ikat pria itu, aku akan memeriksa keadaan di dalam" ucap Davina lalu mengeluarkan belati berbentuk sabit dari dalam jaketnya
"Bos kau curang bawa senjata, aku tak bawa" ucap Agatha mendengus kesal.
Davina memutar bola matanya malas.
Ia melepas ikat pinggangnya, lalu memberikannya pada Agatha
"Apa aku kau suruh memukul pantat para b*j*ngan itu dengan sabuk?? come on bos, itu hukuman buat anak nakal, dan hanya di lakukan oleh bapak-bapak saat anaknya nakal, enggak keren" protes Agatha.
Davina lalu menekan sudut ikat pinggangnya, benda tersebut langsung tegang lurus bak pedang tapi bisa lentur bak cambuk
"Sialan Aku suka ini" pekik agatha semangat.
Sementara pria yang di ikat oleh Agatha memandang ngeri wanita cantik di depannya.
Mereka memang sangat cantik tapi mereka lebih mirip bidadari dari neraka, kejam bengis dan cantik.
Beberapa orang keluar dari dalam rumah, empat diantaranya yang Davina lihat di parkiran rumah sakit.
"Agatha kau siap??? rupanya tikus tak semuanya memakan umpan" ucap Davina yang di balas anggukan Agatha, mereka lalu terlibat dalam perkelahian sengit, jelas kedua gadis tersebut lebih unggul dari mereka, hanya dalam hitungan setengah jam, keenamnya terkapar di lantai bersimbah darah, dan beberapa mengalami patah tulang.
Mereka terlalu meremehkan Davina dan Agatha karena gender mereka, dan berakhir naas.
Davina segera masuk ke dalam rumah, nampak beberapa pria tertidur pulas dengan kue yang belum habis sepenuhnya mereka makan.
Davina memeriksa setiap kamar dan akhirnya menemukan Sandy dengan kondisi mengenaskan.
Kaki dan tangannya di ikat, tapi oleh kawat duri, sementara wajahnya sudah babak belur
"Astaga, mereka bi*dap. lebih hina dari binatang" geram Davina dengan hati-hati membuka ikatan Sandy yang sedang tak sadarkan diri. Walau tak sadarkan diri saat Davina membuka kawat yang menebus pergelangan tangan Sandy pria itu mengerang kesakitan.
"Ya Allah, apa dia masih hidup???" tanya Agatha begitu selesai mengikat semua orang, ia memang membawa borgol dan tali ripet sehingga ia mengikat mereka jadi satu yang di kaitkan di borgol.
"Bantu aku melepaskan ikatan nya, perlahan, kawat ini berduri, siapapun orang yang melakukanya, mereka bukan manusia!!!" Davina terlihat sangat emosi, ia kehabisan kata-kata, bahkan matanya berkaca-kaca.
Agatha mengerti bahwa di usia Davina saat ini, ia belum memiliki pengalaman banyak dalam melihat kekejaman manusia.
Namun Agatha yang sudah banyak melihat bermacam orang dan kekejaman nya masih berfikir bahwa tindakan ini sungguh di luar batas.
Agatha dan Davina akhirnya baru selesai membuka semua kawat duri yang mengikat Sandy bertepatan dengan petugas keamanan dan ambulance yang datang, team medis langsung melakukan tindakan pertolongan pertama, secepat kilat Sandy di bawa ke rumah sakit terdekat. sementara pihak berwenang langsung olah TKP.
Davina meminta anak buahnya mengurus sisanya sementara ia dan Agatha ikut ke rumah sakit.
Sebelum mereka pergi, Agatha melihat berkas di meja dan langsung mengamankan nya.
Begitu sampai Sandy langsung di tangani dokter, dokter bahkan harus menjahit beberapa bagian di tubuhnya dan kakinya yang sobek dalam. beruntung tak ada yang mengenai pembuluh alteri sehingga Sandy masih bisa berjalan.
Davina duduk menatap dokumen di tangannya, dua dokumen tes dna, satu dokumen berasal dari rumah sakitnya dan ia sudah mendapatkan satu.
satu lagi dari rumah sakit lain rumah sakit dimana Jimmy di bekap beberapa waktu lalu, test DNA Jimmy Chou, Ratih dan Sania.
Davina membuka dan membacanya, bola matanya melotot sempurna, ia tak percaya dengan apa yang ia baca di kertas tersebut
"Ini gak mungkin.....
Mustahil" pekik Davina membuat Agatha penasaran dan mendekatinya dengan alis bertaut