
Ayudia menemui William, Willy dan samuel untuk membicarakan masalah pengajuan gugatan pada Jimmy, namun menurut Ayu, jika Jimmy duluan yang di ajukan, ia akan dengan mudah lepas mengingat betapa liciknya pria itu, Ayudia yakin pria itu punya seribu satu cara untuk lepas dari jerat hukum.
Ayudia memahami jika Samuel ingin segera secepatnya membalas dendam begitu juga William dan Willy, namun jika itu di lakukan secara terburu-buru maka ayudia khawatir malah akan meningkatkan kewaspadaan Jimmy dan berimbas pada gagalnya rencana mereka
Bukankah pembalasan yang indah itu adalah pembalasan yang di lakukan secara perlahan dan itu lebih menyakitkan.
"Kita mulai semuanya dari orang-orang di sekeliling Jimmy, orang-orang yang berkaitan erat dengan Jimmy.
Itu akan memudahkan kita menjatuhkannya.
Jika kita ingin merobohkan sebuah pohon besar, bukankah akan lebih baik kita rusak akarnya????" tanya Ayudia mengedarkan pandangan pada ketiga pria di depannya
"Menurutku masuk akal" ucap Samuel
"Ya walaupun aku ingin membalas dendam secepatnya, tapi apa yang ayu katakan itu juga bagus.
masuk penjara lebih baik untuknya, seharusnya mata di balas mata, kematian di balas kematian.
Tapi jika ada yang lebih kejam dari kematian, mengapa enggak.
Manusia yang putus asa dan berharap mati tapi tidak bisa mati, itu lebih menyakitkan" ucap Samuel dengan kilatan kebencian dimatanya.
William dan Willy merasakan bulu kuduknya meremang.
Kakak angkatnya itu terkenal pendiam dan jarang bicara, tapi kali ini ia terlihat dingin dan menakutkan.
willy dan William sadar, semua yang terjadi pada kehidupan Samuel itu karena ulah Jimmy.
Samuel harus kehilangan papanya, lalu di susul mamanya yang shock dan depresi karena ditinggal suami tercintanya, dan akhirnya ia pulang ke Indonesia untuk menyelamatkan Ratna, wanita yang sudah ia anggap mamanya sendiri.
"Aku ikut saja, apa yang terbaik buat kami"
"Bagus. kalau begitu kita fokus pada kejatuhan Deswita.
harusnya suamiku disini sekarang. pria itu makin hari makin menyebalkan" ucap ayudia memanyunkan bibirnya.
"Menyebalkan apa ngangenin hayo???"
"Tutup mulutmu Will, apa kau mau ku pinta papa untuk menjodohkan mu???" balas Ayudia pada William
"kau, kakak ipar yang kejam, kau tahu itu kak???
jangan sampai keponakanku yang lucu dan menggemaskan itu membawa gen mu" ucap William mendengus kesal.
kedua suami istri itu selalu mengancamnya dengan masalah yang sama, perjodohan dan William hanya bisa menggeletakkan giginya emosi
"Aku juga berfikir kau sudah cukup umur kak, atau kau gak ..." Willy terkekeh geli sendiri
Pletakk
sebuah jitakan keras mendarat di kepala Willy, siapa lagi pelakunya kalau bukan William
"William, kasian adikmu, kalau geger otak bagaimana?" ucap Ayu yang kasihan melihat Willy dianiaya oleh kakaknya
"Pada dasarnya Willy memang sudah geger otak, lihat saja pikirannya sudah gak jelas" ucap William kesal
"Biar kak Ayu, biar saja dia sendirian menjomblo selamanya. Aku akan menikah dengan kekasihku tahun depan dan Minggu ini aku akan membawa wanita itu untuk mengenalkan ya pada papa"
"Kau berani melangkahi aku menikah duluan???" William terkejut dan shock.
ia memang masih ingin sendiri, tapi bukan berarti Willy bisa melangkahi nya menikah, ini.....
terlihat seperti ia pria yang tak laku dan mungkin juga orang akan berfikir hal yang sama dengan Willy
"Aku pikir ucapan mu tadi masuk akal de, kakakmu gak normal" goda ayudia
"Kak Ayu, jangan sembarangan" ucap William makin kesal
"Uhmm, aku sependapat denganmu" timpal Samuel, ketiganya sengaja memojokkan William membuat William kalah telak dan langsung bangkit
"Mau cari cewe ya??? goda Ayudia membuat wajah tampan William merona merah
"Dalam mimpimu kak" Dengus William kesal
"Will, kakak Carikan ya" goda Ayudia saya William sudah menjauh
"Terserah kau saja kak, rusuh" ucapnya makin kesal.
Semua gara-gara Willy ia jadi di bully.
William kesal pada adiknya itu, kenapa ia harus menikah saat ia masih kecil, tidakkah ia menunggu kakaknya menikah dulu baru kepikiran menikah.
kini William merasa disudutkan.
Sebentar lagi pasti giliran Arjuna papanya yang mendesaknya
sebelum itu terjadi, ia harus mencari pacar, tapi dimana????
William merasa pikirannya kusut
Buggh
" Kalau jalan lihat-lihat dong, masa saya Segede gini kamu tabrak" ucap William yang kesal
"Pak William, anda yang menabrak saya, kok anda yang marah???" tanya Emillia mengusap sikunya yang membentur ubin parkiran, ada rasa perih terasa saat ia menyentuh sikunya sepertinya sikunya lecet karena terbentur tadi.
Emillia selalu sial jika bertemu dengan pria itu, pria yang ia sukai sejak pertama bergabung di perusahaannya.
"Tetap aja kamu yang salah, kamu kan bisa menghindar, apa kamu sengaja ya menabrakkan dirimu???" ucap William tak mau mengakui kesalahannya
Emilia sampai melongo tak percaya dengan perkataan pria pujaan hatinya itu, dia kesal tapi juga tak bisa berbuat apa-apa
"Apa kau merasa sebegitu menariknya???
come on bapak William, walau di masa lalu aku sangat mencintaimu, tapi apa kau pikir perasaan wanita tidak berubah?? terutama karena menghadapi sikapmu yang seperti anak-anak.
Jika seperti ini terus, aku khawatir sepanjang sisa hidupmu, kamu hanya akan menjomblo selamanya.
selamat siang" ucap Emillia bangkit dan berjalan tertatih meninggalkan area parkiran
mood nya hancur karena William
ia harus bangkit dan sadar diri jika ia memaksa terus menyukai William, ia akan terus berada di bayang-bayang sakit hati, ia tak punya energi untuk itu.
kedatanganya kali ini untuk berpamitan pada Ayudia.
Ia akan mengikuti kakaknya pergi ke luar negeri dan tinggal di sana.
ia tak mau berlama-lama lagi berada di negara ini.
tak ada alasan yang membuatnya harus bertahan disini.
cintanya pada William????
itu tak ada harapan.
William membeku di tempatnya, ia sangat terkejut mendengar ucapan Emillia.
William bukan tak tahu jika Emillia menyukainya, ia sangat tahu, bahkan ia risih melihat wanita itu selalu berusaha menempel padanya, namun saat wanita itu berkata seperti itu, ia merasa ada yang sakit di hatinya.
ada ketakutan akan sesuatu, tapi William tak tahu itu apa.
William juga melihat sikut gadis itu lecet, namun ia hanya diam dan melihat Emillia yang menghilang di balik pintu cafe tersebut.
"Apa yang terjadi pada diriku??? mengapa hatiku terasa ada yang hilang??? apa aku sudah jatuh hati padanya???
ah bukan, bukan, aku hanya sedikit kehilangan pengganggu, harusnya aku justru merasa senang karena tak ada lagi pengganggu sepertinya" gumam William masih menatap pintu cafe dimana Emillia beberapa waktu lalu memasukinya.
William lalu masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarainya meninggalkan tempat tersebut..
William tak sadar jika ia berpapasan dengan Arjuna di pintu keluar, Arjuna mengklason mobilnya, namun William tak mendengar dan melajukan kendaraannya berbaur dengan kendaraan lain yang berlalu lalang
"Dasar sepupu aneh, jelas-jelas dia kenal dengan mobilku, di tegur malah tetap cabut, aneh" gumam Arjuna lalu memasuki pelataran cafe, memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam cafe.
Ia sudah terlambat setengah jam lalu, itu semua gara-gara putri kesayangannya ngambek dan minta ia menjadi kerbau.
dengan santai Davina menaikinya dan memukulnya dengan salah satu tongkat Angelo yang memang sengaja di tinggal oleh kakek tua itu.
Entah berapa putaran Davina menjadikanya hewan tumpangan, yang jelas Arjuna tersiksa, lututnya sakit karena harus berakting seperti kerbau dan jangan tanya bagaimana nasib pinggangnya, ia merasa pinggangnya akan patah, bukan karena bobot Davina yang semok, namun jika dalam posisi itu dan dinaikin oleh Davina sampai satu jam, bisa terbayang sendiri bagaimana rasanya, satu kata, "Menyiksa!!!!"
Itupun ia selamat karena panggilan telepon Ayudia yang mengomelinya karena tak datang ke acara pertemuan itu, biasanya ia akan merasa pusing jika mendengar istrinya itu mengomelinya, tapi justru ia bersyukur Ayudia menelponnya dan mengomelinya, seperti mendengar nyanyian surga bahwa ia akan lepas dari jeratan siksaan putrinya.
Bagaimana tidak, setelah satu jam harus berkeliling, saat Daffi datang ia juga mengajak saudara nya itu naik, dua anak diatas tubuhnya yang di ubah menjadi kerbau, jangan tanya apa rasanya menyiksa, bagaimana jika di tambah satu lagi, tiga orang berada diatasnya???
yang ada masa muda nya akan hancur karena pinggangnya bermasalah dan ia tak bisa melakukan tugasnya sebagai suami karena encok.
Begitu mendengar suara mama mereka mengomeli papanya, keduanya langsung turun dan menyuruh Arjuna langsung pergi, karena mereka tak mau kena masalah gara-gara menahan papa mereka.
Kini Arjuna turun dari mobil, ia sudah mengoleskan obat gosok di pinggangnya, namun tetap saja ia masih sulit berjalan
"Aku harus berpikir lagi jika ingin punya anak kembar lagi, ini sangat menyiksa" gumam Arjuna memegangi pinggangnya sambil memasuki Cafe.
Saat memasuki Cafe, ia melihat wajah-wajah familiar, Arjuna hanya bisa memasang senyum dengan wajah menyesal
"Maaf sayang, Davina mengajakku bermain dan tidak melepaskan ku, ia terus merengek dan menangis" ucap Arjuna lirih
"Sudahlah, ayu mas duduk.
kenapa dengan pinggang mu??? apa kau terjatuh?" tanya Ayudia melihat suaminya terlihat kesakitan
"Anakmu menyiksaku, menjadikanku hewan tunggangan hingga rasanya pinggangku mau patah.
sehabis ini aku mau ronsen, aku khawatir pinggangku cidera" adu Arjuna membuat Samuel yang sudah memiliki putri tersenyum, ia juga pernah merasakan hal tersebut saat putri-putrinya masih kecil, kini si kembar sudah kelas dua sekolah dasar, mereka kini sudah besar dan tak mau bermain bersama papa mereka lagi.
terkadang Samuel merindukan momen di mana ia tersiksa saat kedua putrinya menyiksanya saat bermain dulu.
"Bro, gue cuma mau bilang, nikmati momen indah ini.
loe akan merasa kehilangan dan merindukannya saat mereka tumbuh besar nanti.
mereka akan tidak membutuhkan loe lagi karena merasa sudah dewasa." ucap Samuel mengulum senyum
"Nikmatin pinggang gue dan bikin gue encokan?? bagaimana gue bisa buat anak kloter ke dua kalau pinggang gue cider" ucap Arjuna tanpa malu-malu mengutarakan apa yang ada dipikirannya
"Kau, suami mesum dan sangat memalukan.
bisa-bisanya berkata seperti itu!!!" ucap Ayudia yang sudah membekap mulut Arjuna dengan wajah merona merah.
Samuel tertawa terkekeh melihat kelakuan Arjuna yang blak-blakan.
Sementara Willy dan Emillia menahan senyum, mereka malu sendiri dengan perkataan Arjuna yang vulgar.
" Jo, aku berharap punya suami seperti suamimu" ucap Emillia membuat Arjuna tersenyum puas
"Bukan mesumnya, tapi tekadnya membahagiakanmu.
pak Arjuna bisa berubah seratus delapan puluh derajat di depanmu, kau pasti ingat pria angkuh dan menyebalkan itu sebelum menjadi suamimu" ucap Emillia tertawa lepas.
Sudah lama sekali ia ingin mencibir bos nya itu, setidaknya itu salam perpisahan untuk Arjuna, bos nya yang terkenal galak, dingin dan otoriter.
"Hahaha, aku masih ingat betapa songong nya ia, kita selalu mengumpat di belakangnya" ucap Ayudia ikut terkekeh mengenang masa saat ia bekerja dalam satu ruangan dengan Emillia, bahkan sampai mereka beda ruangan, mereka masih saling berkomunikasi.
"Emillia, kau bosan bekerja di perusahaannya, bagaimana kau bisa mengatai bos mu sendiri, apa kau mau di pecat"ucap Arjuna yang awalnya senang di puji, tapi akhirnya di jatuhkan oleh Emillia.
"Hahaha tuan Arjuna, aku sudah tidak menjadi karyawan mu terhitung besok, aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku pagi ini" ucap Emillia membuat bola mata Ayudia membulat terkejut
"Emil, loe lagi gak bercanda kan??? tangan nge -prank gue, ini gak lucu.
lagian suami gue itu cuma bercanda, ya kan sayang???" tanya ayudia memandang tajam suaminya
"Tentu saja aku juga cuma becanda Emil, jangan di masukkan ke dalam hati" ucap Arjuna yang tahu bagaimana hubungan Emillia dan istrinya, Ayudia sudah menganggap Emillia adiknya sendiri dan Emillia Sudan banyak membantu Ayudia selama ini.
"Ini tak ada hubungannya dengan suamimu, aku memang mengundurkan diri karena kemauanku sendiri"
"Tapi mengapa??? kamu sangat menyukai pekerjaanmu.
apa gaji mu tak cukup atau bagaimana kalau kau pindah ke perusahaan ku???" tanya ayudia panik
"Bukan, bukan masalah gaji atau apapun, aku memutuskan akan tinggal di luar negeri dengan kakakku.
Selama ini aku tak pernah mengatakan jika aku punya seorang kakak, beberapa waktu ia datang dan memintaku ikut dengannya, dia keluargaku satu-satunya dan aku ingin tinggal dekat dengannya" ucap Emillia tersenyum lembut
"Ini.... mama pasti akan sedih jika tahu kamu akan tinggal jauh dan tidak bisa menemuinya" ucap Samuel akhirnya angkat bicara
"Iya kak, mama sangat menyayangimu" timpal Willy
"Aku akan datang mengunjunginya, bagaimana jika kita menginap di sana besok bersama anak-anak???" tanya Emillia
"Aku setuju, aku juga perlu berbicara padamu" ucap Ayudia menatap sahabatnya itu.
Emillia memang tersenyum dan berusaha menutupi kesedihannya, namun ia tahu jika ini pilihan terberat untuknya.
Ayudia yakin jika ada alasan kuat di balik semua keputusan Emillia.