
Baskoro yang pingsan langsung di periksa oleh dokter Rahmat, Beruntung jantung Baskoro kuat, ia tidak mengalami serangan jantung.
Baskoro sangat shock.
Setelah bangun dari pingsan, ia langsung mencari Jovanka, ia langsung menggenggam tangan Jovanka meminta maaf.
Baskoro tak pernah menyangka,
walau Deswita memang licik dan suka bersikap semaunya, arogan, dan bermulut kasar, ia tak pernah menduga sama sekali jika Deswita akan melangkah sejauh ini, sampai menghilangkan nyawa seseorang.
Apakah ia tak pernah berfikir bagaimana jika posisinya yang di racun adalah anaknya??? ah tapi itu tak mengubah apapun, faktanya ia saja tak perduli pada anak-anaknya, jika terjadi sesuatu pada anaknya, ia sepertinya tak akan perduli.
bagaimana Deswita bisa senekat ini?? ia sampai bisa melenyapkan menantunya, dan merencanakan semuanya dengan matang, termasuk ia sudah mengantisipasi sikap Baskoro dan Arjuna, sehingga rencananya berjalan mulus tanpa ada yang curiga.
Dengan bantuan parno, wanita itu membuang tubuh Ayudia yang tak sadarkan diri dalam kondisi sekarat ke rawa-rawa di pinggir kota.
Satu hal yang terlintas di kepala Baskoro, Deswita sudah gila, hanya manusia yang hilang akal yang bisa bertindak demikian, menghilangkan nyawa orang dengan mudah seperti menepuk lalat, lalu ia bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa, bahkan ia sampai ikut menangis dan panik pada saat semua orang gempar Ayudia menghilang, Hanya orang gila yang bisa melakukan semua itu.
Baskoro jadi khawatir jika masih satu atap dengan Deswita, bisa-bisa ia yang akan jadi korban selanjutnya atau siapapun yang menyinggung Deswita pasti akan berakhir naas.
Baskoro harus segera menyingkirkan Deswita dari rumah itu, dan satu hal lagi, Jika Deswita tahu bahwa Ayudi. maish hidup, bisa terancam nyawa menantunya itu.
"Bukti apa yang kamu miliki sekarang, ynag bisaa menjebloskan wanit aiblis itu ke penjara??" tanya Baskoro pada Ayudia
"Aku, aku tak memiliki apapun pa, hanya surat keterangan aku di racun lewat makanan, surat itu aku simpan di tempat yang aman, selebihnya tak ada bukti apapun"
"Itu tak cukup kuat, kita perlu bukti tak terbantahkan"
"Parjo pa" ucap William tiba-tiba membuat smeua orang baru ingat Parjo saksi kunci sekaligus tersangka yang membantu Deswita melenyapkan korbannya
"Aku akan menyebarkan anak buahku untuk mencari orang itu" ucap William yang di balas anggukan Baskoro
"Apa kau mencurigia adanyanorang lain yang menjadi dalang dari tindakan Deswita nak???" tebak Baskoro yang melihat Ayudia seperti menyembunyikan sesuatu
"Itu belum pasti, tapi sebelum kejadian, kakak tiriku menemui mama Deswita" ucap Ayudia ragu, sebelum ada bukti, ia tak mau menuduh.
Namun sikap mama tiri dan kakak tirinya memang tak baik padanya, sehingga Ayudia yakin dalam hati mereka ikut andil dalam rencana Deswita
Baskoro mengangguk mendengar penuturan Ayudia
"Papa akan mengirim orang untuk menjagamu dari jauh, karena papa khawatir jika Deswita melihatmu, ia akan mencoba melenyapkan mu lagi, karena kamu Lilis dari maut dan membawa bukti nyata dosanya di masa lalu"
"William akan mengatur semuanya pa, papa tenang saja" timpal William
"Papa mengandalkan nak, ingat, rahasiakan apapun dari semua orang, termasuk pada Arjuna" ucap Baskoro mengingatkan William. Untuk sementara itu yang terbaik, sambil mencari bukti untuk menjebloskan Deswita ke penjara
"Siap pa papa gak usah khawatir, semua orang kepercayaan kita, mereka tahu konsekuensinya jika membocorkannya" ucap William yang di balas anggukan kepala Baskoro
"Ya Allah, aku telat. Pa, maaf Jo harus pergi, ada yang harus Jo lakukan" ucap Jovanka panik, pasalnya jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit, yang artinya anak-anaknya sudah keluar sekolah empat puluh menit lalu.
"Baiklah nak, jaga dirimu dan berhati-hatilah, jangan buka penyamaran sementra waktu, demi kebaikanmu.
Papa akaan mencari cara untuk membalaskan dendam mu. William akan mengantarmu, sepertinya kamunterburu-buru
"Tidak usah, Jo bisa naik ojek pa" tolak Jovanka tak mau William tah
"Terima kasih pa" ucap Jovanka ragu
"Satu lagi, lebih baik sementra waktu jauhi suamimu dulu"
"Suami???,"
"Aapa??? bertunangan dengan Aurel??" tanya Jovanka terkejut
"Iya nak, maafkan papa"
"Tak perlu pa, lagi pula, anak papa hanya suami dalam kertas, ia tak pernah menganggap ku ada.
Jovanka permisi dulu pa. Assalamu'alaikum" ucap Jovanka buru-buru meninggalkan ruangan tersebut, diikuti William
Dengan terpaksa Jovanka menuju sekolah anaknya untuk menjemput mereka
Sepanjang perjalanan Jovanka hanya diam, otaknya langsung berputar dan merangkai kejadian yang baru saja terjadi.
Baskoro papa mertuanya, jadi.....
"Astaga apa suamiku adalah Arjuna,
Whaaaatttt????pak Arjuna suamiku????” pekik Jovanka terkejut sendiri membuat William langsung mengerem mendadak karena terkejut
"Ada apa Jo??" tanya William menatap Jovanka yang melotot sambil memegang dadanya, ia mengatur nafasnya
"Pak William, eh maksud aku William, apa Arjuna suamiku??? apa dia suamiku?????" tanaya Jovanka tak sabaran
"Memang siapa lagi suamimu kalau bukan dia, apa kau punya suami lain selain dia??? pertanyaan aneh sekali Jo, seperti kau tak tahu wajah suamimu saja ckckck.
Apa kau sudah menikah lagi dan punya anak???" cerocos William dengan pandangan menyelidik.
Memang kenyataannya tak tahu wajah suaminya, sampai saat menikah pun ia memilih menunduk menutupi kesedihannya, dan begitu selesai acara pria itu meninggalkannya begitu saja dan kemudian ia tinggal di kediaman orangtua pria itu hingga insiden pembunuhannya
Jadi bukankah tidak aneh bahwa keduanya tak begitu memperhatikan wajah masing-masing karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Melihat Jovanka hanya diam dengan wajah sukar di mengerti, William menghela nafas
"Jadi beneran kau tidak tahu jika Arjuna suamimu??? kau tidka tahu wajah suamimu sendiri????
haha, Astaga ternyata ada ya manusia aneh model kalian.
aku juga yakin Arjuna tak tahu wajah istrinya, pasalnya aku dengan dari Willy jika mereka langsung pergi keluar negeri sehari setelah menikah.
Pernikahan kalian memang gila!!!!" pekik William membuat Jovanka menaikan sebelah alisnya, ia tak memprotes perkataan William, karena pada kenyataannya memang benar, pernikahannya dengan Arjuna adalah pernikahan teraneh yang pernah ada dimana suami dan istri tak tahu wajah pasangan mereka masing-masing.
"Aku rasa akan lebih mudah bersikap di depan Arjuna, ingat sembunyikan jati dirimu karena kehidupanmu mengancam orang-orang tertentu, termasuk mama angkat ku, Deswita.
ckckck sungguh sayang, takdir mempermainkan mu, orang yang sudah membunuhmu, orang itu pula yang sudah menerima darahmu.
kalau aku tahu dia yang merencanakan semua, aku tak Sudi mencari donor darah untuk wanita iblis itu, bir dia mati.
Ah jika dia mati enak sekali, semua berakhir, lebih baik dia busuk di penjara" ucap William berapi-api
"Hufh memang kadang takdir tak adil, namun aku juga tak bisa meminta darahku kembali.
Mungkin sudah suratan takdir harus begini" ucap Jovanka pasrah, i tak sengaja melirik pergelangan tangannya, jam menunjukkan pukul satu siang
"Ya Allah anak-anakku, ayo kita segera pergi ke taman kanak-kanak anak-anakku menanti ku" pekik Jovanka, ia lupa jika kini sedang bersama William, William terkejut, sehari ini ia sudah mendapat banyak kejutan, untung saja jantungnya elastis hingga ia tidak shock.
Sesampainya di sebuah taman kanak-kanak, Jovanka langsung keluar dari mobil meminta William menunggunya sebentar, tak lama ia kembali dengan tiga orang anak, satu wanita yang sedang dalam gendongannya, sementra dua pria kecik berjalan beriringan di sisi kanan dan kirinya
"Ya Tuhan....."