(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Fakta Tak Terduga


Setelah hampir dua bulan sidang yang mengagendakan pembunuhan Ratih di tunda beberapa kali karena alasan kesehatan Deswita.


Awalnya hakim mentolerir alasan tersebut atas nama hak asasi dan kemanusiaan, namun ini sudah ke empat kalinya Deswita mangkir dari panggilan pengadilan sehingga terpaksa pihak berwajib menjemputnya walau Deswita terlihat masih memakai pakaian rumah sakit dan dengan selang infus di tangannya, pihak hakim tak mau mundur lagi.


Mereka tak mau di nilai berat sebelah, namun mereka sudah berbaik hati menyiapkan tim medis jika sesuatu terjadi pada Deswita.


Mengapa hakim memberi toleran pada Deswita yang merupakan tahanan dan telah terbukti bersalah dalam dua sidang sebelumnya??


semua karena semata-mata yang namanya hak asasi.


bahkan orang yang bersalah di mata hukum pun masih di beri yang namanya hak asasi, jadi wajar hakim sebelumnya memberi Deswita toleransi, sayangnya hal tersebut malah di jadikan alasan untuk mangkir.


Sidang hari ini agendanya adalah mendengar pernyataan saksi menyangkut pembunuhan Ratih.


Semua saksi sudah di hadirkan, namun Deswita terus membantah keterangan saksi, ia tak mau hukumannya bertambah


kasus pertama dengan agenda percobaan pembunuhan saja ia di kenai hukuman lima belas tahun penjara, lalu sidang kedua dengan agenda pembunuhan dokter Anggara dan kecelakaan Ratna ia harus menerima hukuman penjara dua puluh tahun.


Deswita shock.


Ia bersikeras tak membunuh Ratih, karena memang begitulah kenyataanya.Ia memang meracuni Ratih, tapi sebelum Ratih mati keracunan,.wanita itu pergi.


Deswita saja baru tahu jika yang yang kecelakaan dengan anggara adalah Ratna, ia mengira itu adalah Ratih.


Akhirnya Deswita mengatakan sesuatu yang semua orang tak mengetahuinya, karena ia tak mau di tuduh membunuh yang pada kenyataanya ia memang tak membunuh Ratih.


"Keberatan pak hakim, saya beneran tak membunuh.


kali ini saya mengatakan yang sejujurnya"ucap Deswita penuh keyakinan membuat semua orang menatap jijik mata Deswita.


Dua kasus sebelumnya ia bersikukuh tak bersalah, namun bukti semua mengarah padanya dan pada akhirnya ia di nyatakan bersalah.


Kali ini ia menyangkalnya lagi??? siapa yang mau percaya dengan ucapan Deswita.


Dia bukan hanya tak merasa bersalah, tapi dia tak berubah tetap arogan, siapa yang mau bersimpati padanya?


"Pada sidang terdahulu, Mengapa anda langsung ketakutan ketika melihat kembaran Bu Ratih dan mengatakan Ratih sudah meninggal???" tanya jaksa penuntut menyudutkan deswita


"Saya memang tahunya wanita itu sudah mati, dan tak tahu jika ia punya kembaran.


saya...


Saya melihat wanita itu jatuh ke jurang" ucap Deswita membuat semua orang gempar, tak terkecuali Baskoro yang langsung bangkit dari duduknya dan berteriak marah


"Dasar wanita ******, kau membunuh istriku" ucap Baskoro penuh emosi


Tok tok tok


"Harap tenang, ini bukan pasar.


Jik anda tidak bisa menghormati proses persidangan silahkan keluar dari ruang sidang ini!!!!!" ucap hakim sambil mengetuk palu, ruang sidang langsung tenang kembali, semua memilih diam karena takut di keluarkan dari ruang sidang karena mengganggu jalanya sidang.


Hakim ketua mengedarkan pandangannya ke seluruh peserta sidang


"Lanjutkan" ucapnya kembali


"Apa maksud anda melihat korban jatuh ke jurang????" tanya jaksa penuntut


"Ada seseorang yang ingin membunuhnya, dan orang itu juga yang menyekap Ratih" ucap Deswita mengigit jari tangannya


"Siapa????" cecar jaksa


"Aku..., dia bi Atun" ucap Deswita lirih


"Gak mungkin, ini fitnah.


saya gak mungkin membunuh majikan saya sendiri" ucap bi Atun tak terima.


Bi Atun adalah orang yang sudah bekerja di kediaman Baskoro sejak ia baru menikah, perkataan Deswita membuat semua orang kesal.


Pasalnya Bi Atun terkenal baik dan perhatian.


Siapa yang sangka Deswita justru melimpahkan semua kesalahan padanya


"Kalian, Kalina semua sudah di tipu oleh BI Atun, dia lah dalang sebenarnya" ucap Deswita menunjuk bi Atun


Ruang sidang kembali gaduh, hakim ketua tak menyangka jika kasusnya akan melebar sampai ke sini sehingga mereka memutuskan akan menskorsing selama dua Minggu.


Di kursi roda Deswita menatap bi Atun yang melihatnya dengan wajah sedih.


wajah polos bi Atun membuat semua orang marah dan mencela Deswita, namun Deswita tak perduli, ia tak mau di kambing hitamkan untuk kejahatan yang tak ia lakukan.


sidang di bubarkan, Deswita di bawa kembali ke ruang sel nya walau ia masih di infus


"Kau membantu mereka menemukan semua bukti kejahatan ku? apa aku akan tinggal diam ????


jika aku ke neraka, kau harus ku seret serta!!!" ucap Deswita tersenyum licik


Semua orang kembali ke kediaman Baskoro, mereka shock dengan pernyataan Deswita, bagaimana Deswita bisa Setega itu menuduh wanita polos dan baik hati seperti bi Atun


"Tuan besar, den Arjun, den Willy, den william,


kenapa nyonya jahat sekali sama bibi huhuhu" ucap bi Atun menangis, Vera memeluk bi Atun, selama ini bi atun yang merawatnya, bi Atun pula yang banyak membantunya.


Vera merasa sangat marah dan kecewa pada mamanya


"Bi Atun gak usah khawatir, kami percaya bi Atun gak bersalah kok, ya kan pa? kak?"


"Benar kata Vera Atun, saya gak percaya apa yang di katakan Deswita, wanita itu penuh dengan tipu muslihat" ucap baskoro membuat tangis bi Atun sedikit reda


"Iya bi, saya juga gak percaya.


Saya juga yakin Willy dan william.juga tak akan percaya dengan ucapan wanita itu, kami sudah tak percaya apapun yang wanita itu katakan.


dia hanya berusaha lepas dari jerat hukum dan menjadikanmu kambing hitam" timpal Arjuna yang di angguki William


"Kami yang harusnya berterima kasih pada bi Atun.


Bibi lah yang selama ini membantu kami semua" ucap Ayudia menimpali. Sementara Emillia hanya diam karena tak tahu harus berkata apa.


Sementara di kembar Triple hanya diam menyimak perkataan orang dewasa.


mereka duduk tenang tanpa berkata apapun.


Davina bangkit dari tempat duduknya memberi kode tatapan mata kepada kedua kakaknya, mereka dengan patuh mengikuti Davina.


Sejak terungkapnya jati diri Davina yang sebenarnya, Daffa dan Daffi tidak pernah macam-macam lagi.


saat di beritahu semua, keduanya pingsan beberapa kali, mereka shock dan tak terima adik nya lebih hebat dari mereka.


Di tambah keduanya patah hati karena mengetahui wanita pujaannya teryata adiknya sendiri.


Keduanya merahasiakannya dari Davina, jika Davina tahu bisa jadi Davina akan terus membully mereka yang naksir pada dirinya yang dalam mode orang dewasa


"Anak-anak kalian mau kemana???" tanya Ayudia melihat ketiga buah hatinya berjalan menjauh


"Kami mau cari sesuatu di dapur ma, kami bosan" ucap Davina


"Baiklah, jangan keluar rumah ok????"


"Siap ma" jawab ketiganya


Setelah mereka duduk taman dan melihat situasi sepi, wajah ketiganya langsung serius


"Apa kau mengetahui sesuatu de? tanya Daffa menatap adiknya yang terlihat berfikir


"Ini hanya dugaan ku saja, aku perlu memastikan.


Deswita mengatakan sesuatu yang sangat tidak mungkin.


Deswita adalah penjahat yang secara terang-terangan, sifatnya yang arogan dan tak mau menyadari kesalahannya di kategorikan penjahat nyata.


Namun, ada beberapa orang yang justru sangat menakutkan, jika orang itu bermuka dua dan bisa berbaur dengan sempurna, menutupi keburukan hatinya"


"Apa kau?" Daffi menatap adiknya tak percaya


"Kita sama-sama berada di dunia bawah tanah, berapa banyak pengalaman kita dalam menilai orang.


Selama ini kita bertindak sesuai apa yang kita terima, bagaimana jika kita mendapatkan target dan target itu bersih dan tak punya celah???"


"Aku rasa kita harus meminta pendapat pria tua itu" ucap Daffa menghela nafas


"Maksudmu kakek buyut???" tanya Davina


"Lupakan, aku malas berurusan masalah seperti ini dengan kakek buyut, kau tahu? terakhir kali aku bertukar pikiran dengan kakek buyut, ia menghukum ku karena tak sesuai dengan pemikirannya.


Mengapa kita punya kakek buyut yang begitu menyebalkan" gerutu Daffi kesal yang di balas anggukan kedua kakaknya.


Rupanya mereka juga pernah di hukum karena tidak sejalan dengan pemikiran Angelo.


Sementara di kediaman Angelo


"Hatchimmmm, Hacimmmmmm"


"Sayang kau flu??? cepat pakai masker, dan pindah tidur di ruangan sebelah, aku tak mau tertular virus.


Virus mu untukmu jangan kau beri padaku" ucap Ernest menendang Angelo dari kasur, hilang sudah keinginannya untuk memeluk Ernest seharian karena cucu dan cicit mereka pergi.